Articles
STUDI BANDING ANTARA PEMBIAYAAN MUDHARABAH PADA BPR SYARI’AH VERSUS KREDIT USAHA PADA BPR KONVENSIONAL
Marlina, Asti
MONETER Vol 1 No 1 (2013): APRIL
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Ibn Kahldun Bogor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (517.285 KB)
|
DOI: 10.32832/moneter.v1i1.210
Kondisi perbankan Indonesia yang mengkhawatirkan akibat adanya krisis ekonomi yang melanda Indonesia berdampak negatif bagi para pengusaha yang membutuhkan modal untuk memperluas dan mempertahankan usahanya, khususnya para pengusaha menengahh ke bawah. Suku bunga yang tinggi yang ditetapkan oleh Bank membuat para pengusaha menengah ke bawah tersebut kesulitan mendapatkan modal tambahan untuk usahanya.BPR Syari’ah yang menerapkan sistem bagi hasil berusaha memberikan solusi kepada para pengusaha tersebut. Hanya sayangnya, banyak para pengusaha yang belum mengetahui tentang cara pembagian hasil usaha, baik dari segi perhitungan, maupun segi prosedurnya.Sistem bagi hasil yaitu suatu sistem yang meliputi tata cara pembagian hasil usaha antara penyedia dana dan peminjam dana, yang terjadi antara Bank dengan penyimpan dana maupun antara Bank dan penerima dana.Cara perhitungan bagi hasil pada pinjaman adalah dengan menghitung hasil usaha perbulan dan bagi hasil berdasarkan proporsi yang telah disepakati bersama.Misalnya 25 % : 75% dimana 25 % adalah untuk bank sebagai penyedia dana dan 75 % adalah untuk nasabah sebagai pengelola dana Bagi hasil ini diambil dari laba bersih usaha debitur setelah dikurangi biaya-biaya. Termasuk biaya penyusutan apabila modal tersebut termasuk investasi, seperti membeli gedung atau kendaraan.Namun penggalangan dana dari pihak ketiga pun memegang peranan penting. Pembagian hasil usaha antara bank dengan pihak ketiga dilakukan setiap awal bulan dengan cara menghitung terlebih dahulu saldo rata-rata penabung kemudian dibagi dengan jumlah tabungan dan pemodal dikalikan dengan pendapatan bank dan nisbah bagi hasil. Untuk tabungan nisbah bagi hasilnya 40 % : 60 % dimana 40% adalah untuk penabung dan 60 % adalah untuk bank.Sistem bagi hasil ini cenderung lebih menguntungkan para debitur. Pada sistem bunga, apabila deitur terlambat membayar cicilan maka akan dikenakan denda atau dikenal dengaan sistem bunga berbunga sedangkan pada sistem bagi hasil hal itu tidak ada. Apabila debitur mengalami kerugian, BPR Syari’ah memberikan keonggaran tanpa ada denda. Sedangkan pada BPR Konvensional, tidak peduli debitur mengalami kerugian atau untung, debitur tetap harus membayar cicilan yang telah ditetapkan dimuka.
METODE BAYES UNTUK MENENTUKAN KELAYAKAN CALON TENAGA KERJA LUAR NEGERI
Marlina, Asti
MONETER Vol 1 No 2 (2013): OKTOBER
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Ibn Kahldun Bogor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1393.538 KB)
|
DOI: 10.32832/moneter.v1i2.516
Tenaga kerja Indonesia merupakan potensi yang sangant besar bagi kemajuan Negara dan devisa Negara. Namun susahnya lapangan pekerjaan mengharuskan sebagian orang untuk mencari pekerjaan sampai keluar negeri. Demi meningkatkan taraf ekonomi, mereka rela meninggalkan keluarganya. Sebagian besar pekerja yang bekerja diluar negeri bekerja pada sektor informal. Kurang terseleksinya dengan baik mengakibatkan terjadi permasalahan, seperti tindak kekerasan, gaji yang tidak dibayar dan lain sebagainya. Untuk itu perlu adanya penelitian mengenai kelayakan tenaga kerjaDalam penentuan kelayakan tenaga kerja terdapat beberapa kriteria untuk menentukannya. Penilaian kriteria berdasarkan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan. Demi efisiensi dan efektifitas kerja maka pengambilan keputusan yang tepat sangat diperlukan. Banyak permasalahan yang dialami oleh tenaga kerja Indonesia, hal tersebut diakibatkan Karena kurang terseleksi dengan baik calon tenaga kerja luar negeri sehingga kualitas tenaga kerja masih kurang di bandingkan dengan Negara lain. Dengan mengukur kelayakan tenaga kerja ini di harapkan dapat memberikan efek positif bagi kemajuan tenaga kerja untuk dikirimkan ke luar negeri agar tidak terjadi lagi hal yang tidak diinginkan. Pada penelitian ini digunkan metode bayes untuk menganalisa data yang berdasarkan kriteria. Kriteria tersebut diolah dengan menggunakan metode bayes sebagai analisa datanya. Sistem Pendukung Keputusan ini mampu memberikan penilaian terhadapa tenaga kerja dan menentukan apakah tenaga kerja tersebut layak atau tidak layak bekerja diluar negeri. Hal ini berguna untuk memudahkan pengambilan keputusan terhadap kelayakan tenaga kerja
SISTEM PENGALOKASIAN DAN PENGENDALIAN OPERASIONAL PADA PT TELKOMMETRA
Nirmawati, Rina;
Marlina, Asti
MONETER Vol 2 No 2 (2014): OKTOBER
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Ibn Kahldun Bogor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (352.836 KB)
|
DOI: 10.32832/moneter.v2i2.943
Dalam melakukan kegiatan operasionalnya setiap perusahaan besar,menengah dan kecil akan berusaha untuk dapat memperoleh keuntungan yangmerupakan selisih antara pendapatan dan pengeluaran dalam jangka waktutertentu. Pengeluaran merupakan biaya operasional yang harus dikeluarkan olehsebuah perusahaan. Biaya operasional yang dialokasikan dengan sistem yang baik menjaditanggung jawab yang harus dengan konsisten dilakukan. Karena, menyangkutkepuasaan para pelanggan terhadap pelayanan sebuah perusahaan jasa. Dalamperanannya yang sangat penting ini, pengalokasian biaya operasional dengancepat dan tepat sangat berpengaruh terhadap kegiatan kerja sebuah perusahaan.Begitupun pada perusahaan jasa seperti PT TelkomMetra.
ANALISIS AKAD PEMBIAYAAN MUDHARABAH PADA BANK BTN SYARIAH
., Rohman;
Marlina, Asti
MONETER Vol 3 No 1 (2015): APRIL
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Ibn Kahldun Bogor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (448.53 KB)
|
DOI: 10.32832/moneter.v3i1.952
Bank syariah atau bank Islam juga berfungsi sebagai lembaga intermediasi yakni menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kembali kepadamasyarakat yang membutuhkannya dalam bentuk fasilitas pembiayaan dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat.Sistem dari pembiayaan mudharabah ini merupakan akad kerja sama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama sebagai shahibul maal yang menyediakan seluruh modalnya, sedangkan pihak kedua sebagai mudharib (pengelola). Sedangkan keuntungan usaha ini dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak KJKS-BMT Ummat Sejahtera Abadi ini merupakan salah satu lembaga keuangan alternatif yang bernafaskan Islam yang sesuai dengan misinya yakni berupaya meningkatkan kesejahteraan para anggota dan mewujudkan masyarakat dalam perekonomian yang maju, adil dan makmur
PROSES PERHITUNGAN SURAT SETORAN BUKAN PAJAK LELANG FIDUSIA PADA KANTOR PELAYANAN KEKAYAAN NEGARA DAN LELANG BOGOR
solihat, Mia mar’atus;
Marlina, Asti
MONETER Vol 3 No 2 (2015): OKTOBER
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Ibn Kahldun Bogor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (351.855 KB)
|
DOI: 10.32832/moneter.v3i2.957
Pengertian Lelang adalah di Indonesia dapat ditemukan dalam pasal 1 Vendu Reglement yang saat ini masih berlaku. Lembaga lelang di Indonesia sendiri mengharapkan masyarakat dapat memanfaatkan lembaga ini untuk melakukan lelang salah satunya yaitu lelang fidusia. Lelang fidusia ini sudah jarang diminati oleh masyarakat, lelang fidusia adalah lelang benda bergerak baik yang berwujud maupun tidak berwujud, benda bergerak dan tidak bergerak yang tidak dibebankan hak tanggungan.Ketidaktahuan masyarakat akan lelang mengakibatkan apa yang diharapkan pemerintah yaitu masyarakat memanfaatkan lembaga lelang kurang tercapai dan mengakibatkan kebaikan atau manfaat lelang tidak dapat pula dirasakan oleh masyarakat.
PENGARUH PELAYANAN NASABAH TERHADAP REALISASI PENCAPAIAN TARGET FUNDING OFFICER PADA PT. BPR SYARIAH AMANAH UMMAH LEUWILIANG BOGOR
Indrawan, Husni;
Marlina, Asti
MONETER Vol 4 No 2 (2016): OKTOBER
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Ibn Kahldun Bogor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (367.725 KB)
|
DOI: 10.32832/moneter.v4i2.964
Kepiawaian pegawai bank tersebut atau yang biasa disebut Funding officer dalam melakukan pekerjaannya harus ditunjang oleh pengetahuan mengenai karakteristik calon nasabah, produk yang akan ditawarkan dan kemampuan membangun kepercayaan dan ketertarikan calon nasabah akan kualitas produknya.Dalam mencapai suatu target, bank memiliki beberapa sasaran yang hendak dicapai. Artinya, nilai penting dalam mencapai suatu target terletak dari tujuan yang ingin dicapai, seperti meningkatkan mutu pelayanan dan menyediakan ragam produk yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan nasabah. “Para petugas Funding Officer ini harus lebih banyak memahami hal-hal lain diluar sekedar menjual produk. Mereka membutuhkan kemampuan untuk membangun hubungan dengan nasabah, menentukan kebutuhan nasabah, dan kejelian memadukan bagaimana dan mengapa jasa dan produk bank tersebut dapat menjadi solusi bagi permasalahan yang sedang dihadapi oleh setiap nasabah.
STRATEGI PEMASARAN KUR PADA PT.BANK RAKYAT INDONESIA Tbk. CABANG BOGOR PAJAJARAN
Irawati, Anita;
Marlina, Asti
MONETER Vol 5 No 1 (2017): APRIL
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Ibn Kahldun Bogor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (240.206 KB)
|
DOI: 10.32832/moneter.v5i1.975
Dalam peranan strategisnya, pemasaran mencakup setiap usaha untuk mencapai kesesuaian antara perusahaan dengan lingkungannya dalam rangka mencari pemecahan atas masalah penentuan dua penentuan pokok yaitu. Pertama, bisnis apa yang digeluti perusahaan pada saat ini dan jenis bisnis apa yang dapat dimasuki dimasa yang akan datang. Kedua, bagaimana bisnis yang telah dipilih tersebut dapat dijalankan dengan sukses dalam lingkungan yang kompetitif atas dasar perspektif produk, harga, promosi, dan distribusi (bauran pemasaran) untuk melayani pasar sasaran.Bank Rakyat Indonesia sebagai salah satu bank pemerintah yang memiliki fasilitas kredit yang bisa mendukung para pengusaha mikro, kecil, menengah dan koperasi yaitu melalui program KUR (Kredit Usaha Rakyat) yang penyalurannya dilaksanakan melalui BRI unit yang tersebar di tingkat Kecamatan di seluruh Indonesia agar pelaku usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi dapat lebih mudah memperoleh KUR untuk menambah modal usahanya.
ANALISIS KEMAMPUAN MEMBAYAR ( CAPACITY TO REPAYMENT ) DALAM MENGAMBIL KPR BTN BERSUBSIDI iB DI BANK TABUNGAN NEGARA KANTOR CABANG SYARIAH BOGOR
Marlina, Asti;
., Oki
MONETER Vol 6 No 1 (2018): APRIL
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Ibn Kahldun Bogor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (462.037 KB)
|
DOI: 10.32832/moneter.v6i1.2401
Pembiayaan merupakan aktivitas bank Syariah dalam menyalurkan dana kepada pihak selain bank berdasarkan prinsip Syariah. Penyaluran dana dalam bentuk pembiayaan didasarkan pada kepercayaan yang diberikan oleh pemilik dana kepada pengguna dana. Dalam mengajukan pembiayaan, perlu dilakukan analisis terhadap kemampuan nasabah dalam melakukan pembayaran.Analisis yang dilakukan adalah berprinsip 6 C, yaitu Character, Capacity, Capital, Collateral, Condition of economi, Constraint. Salah satu analisis yang dianggap penting adalah penilaian tentang kapasitas Kemampuan Membayar ( Capacity to Repayment ) Nasabah. Untuk melakukan analisis ini,yang dilakukan oleh bagian financing analyst dalam menganalisis Kemampuan ( Capacity ) Nasabah adalah dengan cara melihat KTP untuk mengetahui karakter nasabah dari hasil IDEB / BI Checking / ID BI dan untuk mengetahui jumlah angsuran perbulan berdasarkan pembiayaan yang telah diterimasebelumnya, melihat Kartu Keluarga untuk mengetahui jumlah tanggungan, sehingga bisa memperkirakan pengeluaran pribadi / keluarga dalam 1 bulan, melihat buku nikah untuk mengetahui status pernikahan, melihat Slip Gaji + copy rekening koran untuk mengetahui dan memastikanNominal Gaji / Penghasilan yang diterima perbulan, melihat Surat keterangan kerja untuk memastikan Posisi, Jabatan dan Tempat kerja Nasabah.
PERAN DIGITAL BANKING DALAM MENINGKATKAN KEPUASAN NASABAH KREDIT (STUDI KASUS PT.BANK TABUNGAN NEGARA SYARIAH)
Marlina, Asti;
Humairah, Fanny
MONETER Vol 6 No 2 (2018): OKTOBER
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Ibn Kahldun Bogor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (562.376 KB)
|
DOI: 10.32832/moneter.v6i2.2409
Perkembangan teknologi saat ini sangat pesat. Hampir semua aspek kehidupan menggunakan teknologi. Begitu pula dalam dunia perbankan. Era digital telah mengubah pola bisnis di area perbankan. Kemudahan teknologi yang digunakan diharapkan mampu memberikan kemudahan dankecepatan dalam bertransaksi yang dikenal dengan digital banking. Digital banking merupakan layanan perbankan dengan memanfaatkan teknologi digital untuk memenuhi kebutuhan nasabah demimewujudkan ekonomi digital seperti yang dicita-citakan dengan banyaknya produk baru yang dikeluarkan oleh perbankan melalui teknologi yang mungkin mempermudah transaksi nasabah. Hal ini diharapkan akan memberi kepuasan kepada nasabah dan nasabah menjadi loyal serta tidak mudahberpindah ke bank lain. Terlebih saat ini salah satu kebutuhan nasabah dalam penggunaan kredit cukup tinggi dan sekarang pemberian kredit tersebut sudah bisa didapatkan melalui aplikasi-aplikasi e-commerce dan layanan teknologi yang dimiliki bank lah yang akan mempermudah dalammelakukan transaksi pembayaran tersebut. Tidak terkecuali di BTN Syariah cabang Bogor.Berdasarkan hasil analisa deskriptif kepuasan nasabah atas layanan digital banking BTN Syariah, didapati jumlah dengan rata-rata 3,55 dari hasil ini nasabah masuk kedalam kategori setujuatas ada nya layanan digital banking ini karena nasabah cukup merasa puas dan terbantu. Dari segi usia para pengguna layanan ini banyak terdapat pada rentang usia 31-50 tahun dan nasabah laki lakilah yang dominan, khusus nya dalam menggunakan layanan E-Banking. Walaupun saat ini sudah mencapai 50% nasabah merasa puas dengan layanan yang telah diberikan, namun pihak perbankanharus tetap meningkatkan dan memperbaiki kualitas pelayanannya.
PROSEDUR PEMBIAYAAN CICIL EMAS DI BANK SYARIAH MANDIRI Kcp SUDIRMAN BOGOR
Marlina, Asti;
Hartati, Yuninda
MONETER Vol 7 No 1 (2019): APRIL
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Ibn Kahldun Bogor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (636.949 KB)
|
DOI: 10.32832/moneter.v7i1.2511
Bank Syariah Mandiri adalah salah satu lembaga keuangan syariah yang berfungsi sebagai lembaga intermediasi untuk menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali dana tersebutkepada masyarakat. Salahsatu produk BSM yang cukup diminati adalah produk BSM Cicil Emas. Hal ini dikarenakan produk tersebut sangat menguntungkan bagi masyarakat yang menginginkaninvestasi dan harga emas yang relatif stabil. Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari sumber primer dan sumber sekunder yang diperoleh melalui wawancara dan dokumentasi. Data-data yangsudah terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif analisis. Dari penelitian ini dihasilkan temuan sebagai berikut. Pertama, mekanisme pembiayaan produk BSM Cicil Emas di BSM Kantor Cabang Pembantu Sudirman Bogor terdiri dari beberapa tahapan mulaidari syarat pengajuan, penilaian agunan, pemutusan pembiayaan, pelaksanaan akad dan pencairan pembiayaan. Dalam proses pembiayaan cicil berpedoman pada Fatwa No: 77/DSN- MUI/V/2010 tentang Jual Beli Emas secara tidak tunai. Kedua, akad yang digunakan menggunakan akadmurabahah(jual beli) dimana bank sebagai pihak penjual yang menalangi pembelian emas terlebih dahulu dan nasabah sebagai pembeli, membayar dengan cara menyicil selama kurun waktu 2-5 tahun.BSM berpedoman pada DSN MUI No: 04/DSN-MUI/IV/2000 Tentang murabahah. Pengikatan agunan atau emas menggunakan akad rahn(gadai) dimana bank menangguhkan emas selama kurunwaktu yang telah disepakati sesuai dengan Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No: 26/DSN- MUI/III/2002 tentang Rahn