Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Comparison of Antibiofilm Activities of Green Coffee Beans (Coffea Canephora P.) and Roasted Robusta Coffee (Coffea Canephora L.) Against Staphylococcus Aureus ATCC 25923 Wicahyo, Septian Maulid; Wardani, Tatiana Siska; Erikania, Susanti
Proceedings of the International Conference on Nursing and Health Sciences Vol 5 No 1 (2024): January-June 2024
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/picnhs.v5i1.2794

Abstract

Biofilm is a collection of microbial cells that are irreversibly attached to a surface and encased in an EPS matrix (Extracellular Polymeric Substances). One of the infectious bacteria that produce biofilms is Staphylococcus aureus. Coffee contains compounds that are responsible for antibacterial activity, including alkaloids, flavonoids, phenolics, terpenoids/steroids and saponins among others. The purpose of this study was to determine the activity of the antibiofilm between Green Coffee (Coffea canephora P.) and Robusta Coffee (Coffea canephora L.) against Staphylococcus aureus bacteria. Extraction of green coffee beans and robusta coffee beans was carried out by maceration method, fractionation was carried out by liquid-liquid extraction method using water, ethyl acetate and n-hexane as solvents. Inhibitory activity and biofilm degradation were carried out using the crystal violet staining method which was read at a wavelength of 595 nm. Obtained inhibition and degradation were analyzed using the ANOVA statistical test. The method for testing anti-biofilm activity was determined by testing the inhibition of biofilm formation and biofilm degradation using extracts and fractions robusta green coffee bean (Coffea canephora P.) and roasted robusta coffee beans (Coffea canephora L.) at various concentrations of 2, 4, 8 and 16 mg/ml. Robusta roasted coffee bean extract has the greatest anti-biofilm inhibition effectiveness with IC50 biofilm inhibition of 2.13 ppm. The ethyl acetate fraction from roasted robusta coffee beans has the greatest effectiveness in destroying (degrading) anti-biofilms with the EC50 biofilm degradation of 1.93 ppm.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI SEDIAAN SERUM ANTIJERAWAT EKSTRAK DAUN KERSEN (MUNTINGIA CALABURA) TERHADAP BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS ATCC 25923 hanif fathur rohman, muhammad; maulid wicahyo, septian; Wardani, Tatiana Siska
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 3 (2024): SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i3.34152

Abstract

Jerawat (acne) adalah suatu keadaan dimana pori-pori kulit tersumbat sehingga timbul beruntus-beruntus dan abses (kantong nanah) yang meradang dan terinfeksi pada kulit.Telah banyak penelitian yang dilaporkan tentang kandungan metabolit sekunder daun kersen diantaranya flavonoid, saponin, dan tanin.  Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui ekstrak daun kersen dengan perbandingan 3%, 4% dan 5% dapat di formulasikan dengan bentuk sediaan serum dan mengetahui uji aktivitas terhadap bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923. Metode  peneletian yang digunakan yaitu Difusi Agar menggunakan kertas cakram, dengan menaruh kertas cakram yang sudah di rendam pada sediaan Formulasi 1, 2, 3 dengan konsentrasi ekstrak 3%, 4% ,5% , kontrol positif dan kontrol negatif, pada media agar yang sudah di olesi dengan suspense bakteri. Di tunggu selama 1 x 24 jam dan di letakana dalam incubator. dilihat apakah ada zona hambat pada sekeliling cakram. Dilakukan  uji mutu fisik sediaan serum. Hasil  pengukuran zona hambat bakteri menggunakan jangka sorong menunjukan hasil bahwa formulasi 3 sediaan serum dengan konsentrasi 5% memiliki zona hambat paling baik dengan hampir menyamai control positif (sediaan komersial ). Dan uji mutu fisik sediaan serum dari ke tiga formulasi sudah memenuhi syarat. Konsentrasi dari ketiga formulasi sediaan serum ekstrak daun kersen yang paling baik dan cukup sebanding dengan kontrol positif yaitu formulasi 3 dengan konsentrasi ekstrak 5%, hal ini didapat dibuktikan dengan ada nya zona hambat pada sekeliling kertas cakram dengan ukuran rata-rata zona hambat 8,2 mm. hal ini dapat dikatak bawasan nya formulasi 3 termasuk kategori yang sedang
Peningkatan Pengetahuan Lansia tentang Manajemen Diabetes Mellitus Melalui Penyuluhan di Desa Polan, Klaten, Jawa Tengah Artini, Kusumaningtyas Siwi; Wicahyo, Septian Maulid
Inovasi Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 2 No 3 (2024): IJPM - Desember 2024
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/ijpm.647

Abstract

Diabetes mellitus merupakan penyakit degeneratif yang terjadi karena gangguan metabolisme glukosa ditandai dengan tingginya glukosa dalam darah. Laporan Hasil Riset Dasar Kesehatan (RISKESDAS) tahun 2018 yang dilakukan oleh Kementrian Kesehatan diketahui bahwa prevalensi diabetes melitus terjadi peningkatan menjadi 10,9% dengan prevalensi kejadian diabetes melitus disemua umur di Provinsi Jawa Tengah sebesar 1,6%. Berdasarkan laporan Kesehatan dinas Kesehatan Klaten Tahun 2024, terdapat 1061 jiwa pasien diabetes mellitus di Kecamatan Polanharjo. Diabetes yang tidak terkontrol akan mengakibatkan berbagai macam komplikasi dan penurunan kualitas hidup pasien. Kejadian komplikasi dan penurunan kualitas hidup pasien dapat dicegah dengan dilakukannya manajemen diri untuk pasien diabetes mellitus. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan lansia tentang manajemen diabetes mellitus melalui penyuluhan kepada anggota PKK Desa Polan, Klaten, Jawa Tengah. Metode yang digunakan meliputi pemberian materi edukasi, diskusi dan penggunaan media leaflet. Hasil dari pengabdian masyarakat ini adalah peningkatan pengetahuan lansia yang diukur melalui pre-test dan post test. Dampaknya, kegiatan ini memberikan pemahaman yang lebih baik tentang manajemen diabetes mellitus sehingga mendukung peningkatan kualitas hidup lansia.
FORMULASI SEDIAAN HAIR TONIK DARI KOMBINASI EKSTRAK ETANOL DAUN SELEDRI (APIUM GRAVEOLENS L.) DAN DAUN PANDAN WANGI (PANDANUS AMARYLLIFOLIUS ROXB.) SEBAGAI PERANGSANG PERTUMBUHAN RAMBUT PADA KELINCI (NEW ZEALEND WHITE) tri Mastuti, eni; Maulid Wicahyo, Septian; Wardani, Tatiana Siska
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 4 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i4.34122

Abstract

Kerontokan rambut lebih dari 100 helai setiap harinya yang berakhir dengan kebotakan merupakan problema estetis yang banyak dialami oleh orang dewasa. Daun seledri dan pandan wangi telah dikenal memiliki aktivitas penyubur rambut karena mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tannin hingga saponin. Mengetahui ekstrak etanol daun seledri dan daun pandan wangi dengan perbandingan kosentrasi (2,5%:7,5%), (5%:5%) dan (7,5%:2,5%) dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan hair tonic dan mengetahui formula yang paling baik dalam memicu pertumbuhan rambut selama 28 hari. Penelitian ini menggunakan rancangan The Experimental laboratory. Pengujian aktivitas pertumbuhan rambut dilakukan dengan metode Tanaka yaitu mencukur rambut kelinci pada bagian punggung dengan pembagian 6 area kelompok perlakuan yang sesuai dengan dosis ±1 ml setiap hari. Area perlakuan dibagi menjadi 6 kelompok secara berurutan dari FI, FII, FIII, F0, K(+) dan VI: K(N). Pengukuran panjang rambut menggunakan jangka sorong dilakukan tiap 7 hari selama 28 hari. Penelitian ini menunjukkan bahwa formula II sediaan hair tonic kombinasi ekstrak etanol daun seledri dan pandan wangi dengan perbandingan kosentrasi (5%:5%) menunjukkan aktivitas yang paling baik dengan pertumbuhan rambut yang hampir menyamai kontrol positif (minoxidile 2%). Seluruh formulasi memiliki aktivitas dalam mempercepat pertumbuhan rambut. Namun, hanya formulasi II yang menunjukkan aktivitas yang hampir sama dengan kontrol positif (minoxidile 2%).
FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIFUNGI PADA SEDIAAN HAIR TONIC EKSTRAK DAUN PEPAYA (CARICA PAPAYA L.) TERHADAP PERTUMBUHAN JAMUR CANDIDA ALBICANS uswatun hasanah, alfiana; Maulid Wicahyo, Septian; Ardiyantoro, Bagas
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 4 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i4.34753

Abstract

Kulit kepala merupakan habitat terbaik bagi pertumbuhan jamur karena kondisi lembab. Jamur yang terdapat pada kulit kepala yaitu Candida albicans, Aspergillus niger, Criptococcus spp, dan Penicillum spp. Daun pepaya dapat digunakan sebagai antifungi terhadap Candida albicans karena memiliki senyawa alkaloid, flavonoid, saponin dan tanin. Penggunaan daun pepaya secara langsung pada kulit dinilai kurang efektif sehingga perlu diformulasikan menjadi sediaan topikal yaitu hair tonic. Penelitian ini merupakan metode eksperimental untuk mengetahui ekstrak daun pepaya pada sediaan hair tonic memiliki aktivitas antifungi dan mencari konsentrasi ekstrak paling kuat pada sediaan terhadap jamur Candida albicans. Penelitian ini menggunakan kontrol (-), kontrol (+), F1 (15%), F2 (20%), dan F3 (25%). Dilakukan pengujian mutu fisik meliputi organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, bobot jenis dan aktivitas antifungi terhadap jamur Candida albicans dengan metode difusi. Pengolahan data dengan SPSS 26 menggunakan one way ANOVA untuk uji aktivitas antifungi. Penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi ekstrak dalam sediaan dapat mempengaruhi peningkatan viskositas, bobot jenis dan zona hambat jamur, namun terdapat penurunan pada pH. Hair tonic dengan variasi ekstrak daun pepaya memiliki aktivitas antifungi terhadap jamur Candida albicans.
FORMULASI DAN UJI EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI SEDIAAN PASTA GIGI EKSTRAK DAUN KETUL (BIDENS PILOSA) TERHADAP BAKTERI STREPTOCOCCUS MUTANS ATCC 25175 Fitriani, Noviana; Artini, Kusumaningtyas; Wicahyo, Septian Maulid
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 4 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i4.34814

Abstract

Penelitian ini untuk mengevaluasi potensi ekstrak daun ketul (Bidens pilosa) dalam formulasi pasta gigi dan menilai efektivitas antibakterinya terhadap bakteri Streptococcus mutans ATCC 25175. Tujuan penelitian meliputi formulasi daun ketul menjadi pasta gigi, penentuan efektivitas antibakteri sediaan pasta gigi ekstrak daun ketul terhadap Streptococcus mutans ATCC 25175, serta identifikasi konsentrasi ekstrak daun ketul yang menghasilkan zona hambat terbaik. Penelitian ini menggunakan metode difusi cakram. Metode ekstraksi yang digunakan adalah maserasi. Formulasi sediaan pasta gigi dengan beberapa konsentrasi ekstrak yaitu basis, 10%, 15%, dan 20%. Evaluasi sediaan pasta gigi yang pada penelitian ini meliputi uji organoleptis, uji pH, uji homogenitas, uji tinggi busa, dan uji efektivitas antibakteri terhadap bakteri Streptococcus mutans ATCC 25175. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun ketul dapat diformulasikan menjadi pasta gigi yang stabil. Uji antibakteri mengungkapkan bahwa sediaan pasta gigi ekstrak daun ketul memiliki aktivitas antibakteri terhadap Streptococcus mutans ATCC 25175. Pasta gigi dengan konsentrasi ekstrak 20% menunjukkan zona hambat yang paling signifikan dibandingkan dengan konsentrasi lainnya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak daun ketul memiliki potensi sebagai bahan aktif dalam formulasi pasta gigi dengan efektivitas antibakteri yang signifikan terhadap Streptococcus mutans ATCC 25175. Konsentrasi ekstrak daun ketul sebesar 20% memberikan hasil terbaik dalam menghambat pertumbuhan bakteri.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL PELEPAH NIPAH (NYPA FRUTICANS. WURMB) TERHADAP KADAR GLIKOGEN HATI TIKUS DIABETES JANTAN GALUR WISTAR Wicahyo, Septian Maulid; Raharjo, Danang; Fadilla, Fitri Hansa
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 2 (2025): JUNI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i2.45638

Abstract

Definisi diabetes melitus yakni suatu penyakit menyerang metabolisme melalui kondisi glukosa darah yang mana melebihi batasan normal ataupun hiperglikemia. Tumbuhan nipah (N. fruticans) umumnya dimanfaatkan menjadi bahan obat tradisional misalnya obat sakit perut, diabetes serta obat penurun panas dalam bagi kalangan masyarakat. Glikogen yakni cadangan karbohidrat berwujud glukosa pada dalam tubuh yang mana dijadikan bahan bakar ataupun sumber energi. Tujuan penelitian ini guna menemukan dampak atas perbedaan dosis ekstrak etanol etanol pelepah nipah akan terjadinya peningkatan glikogen hati tikus diabetes. Metode yang digunakan adalah eksperimental. Sampel yang dimanfaatkan pada penelitian berikut yakni tikus jantan galur wistar yang diklasifikasikan enam kelompok, yakni tikus normal, kontrol negatif, kontrol positif, dosis 125 mg/kg, dosis 250 mg/kg, dan dosis 500 mg/kg. Glikogen hati tikus di uji menggunakan spektrofotometer, dan data diuji dengan menggunakan SPSS yaitu uji normalitas, homogenitas, one way anova, tukey dan duncan. Temuan hasil penelitian menegaskan bahwasanya pelepah nipah memiliki efek terhadap glikogen hati, dengan dosis 500 mg/kg dapat meningkatkan glikogen hati tikus. Ekstrak etanol pelepah nipah menunjukkan efek yang signifikan dalam menurunkan glikogen hati pada tikus diabetes
Peningkatan Pengetahuan Pembuatan Lilin Aromaterapi Kombinasi Minyak Atsiri Lavender (Lavandula officinalis) Dan Serai (Cymbopogon citratus) Pada Pkk Kebayanan Watuburik, Kelurahan Wonorejo Maulid Wicahyo, Septian; Nur Hikmah, Siti
Majalah Cendekia Mengabdi Vol 3 No 3 (2025): Majalah Cendekia Mengabdi
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/mcm.v3i3.818

Abstract

Lilin aromaterapi memiliki manfaat yang luas, baik untuk kesehatan fisik maupun mental. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan holistik, penggunaan lilin aromaterapi sebagai alat untuk relaksasi dan terapi semakin populer. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan pembuatan produk lilin aromaterapi bunga lavender terhadap PKK Kebayanan Watuburik, kelurahan Wonorejo dalam memanfaatkan hasil bahan alam dan keterampilan baru untuk membuat produk kesehatan berbahan dasar produk alam yang memiliki nilai ekonomi. Program ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Ibu-Ibu anggota PKK Kebayanan Watuburik dalam membuat lilin aromaterapi yang berkualitas. Kegiatan ini akan melibatkan pelatihan tentang bahan-bahan alami, seperti minyak atsiri, dan teknik pembuatan lilin yang aman dan efektif. Program ini akan memperkenalkan cara penggunaan bahan baku seperti parafin dan minyak atsiri agar memberikan pengetahuan tambahan dalam pembuatan produk dengan nilai tambah ekonomis bagi Peserta. Ibu-ibu PKK diharapkan dapat menciptakan peluang usaha baru yang berkelanjutan, seperti produksi dan penjualan lilin aromaterapi melalui berbagai platform, termasuk media sosial. Program ini tidak hanya akan memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga akan mendukung kesejahteraan emosional.
FORMULASI SEDIAAN GEL MOISTURIZER EKSTRAK DAUN KIRINYUH (Chromolaena odorata) DENGAN UJI ANTIOKSIDAN, UJI MUTU FISIK DAN UJI STABILITAS FISIK rani, fahrenza meta; Wicahyo, Septian Maulid; Wardani, Tatiana Siska
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i3.49009

Abstract

Pendahuluan: Antioksidan berperan penting dalam menangkal radikal bebas penyebab stres oksidatif yang dapat merusak sel kulit. Daun kirinyuh (Chromolaena odorata L.) diketahui mengandung senyawa flavonoid, tanin, dan fenol yang memiliki potensi sebagai antioksidan alami. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan gel moisturizer berbahan ekstrak etanol daun kirinyuh serta mengevaluasi mutu fisik, stabilitas, dan aktivitas antioksidannya. Metode: Gel diformulasikan dengan variasi konsentrasi Carbopol, dan dilakukan uji mutu fisik (organoleptik, pH, viskositas, daya sebar, dan daya lekat), stabilitas suhu ekstrem selama 3 siklus, serta uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa formulasi F2 (Carbopol 1%) merupakan formula terbaik dengan mutu fisik stabil, pH 5,67–5,92, dan viskositas dalam rentang ideal. Uji antioksidan menunjukkan ekstrak daun kirinyuh memiliki nilai IC₅₀ sebesar 44,27 ppm, sedangkan sediaan gel moisturizer F2 sebesar 90,28 ppm, yang termasuk kategori aktivitas antioksidan kuat. Nilai ini lebih baik dibandingkan kontrol negatif dan mendekati kontrol positif (moisturizer vitamin C). Kesimpulan: Dengan demikian Carbopol 1% merupakan formulasi gel terbaik, dan ekstrak daun kirinyuh memiliki sifat antioksidan yang sangat kuat, bahkan setelah diformulasikan mendapatkan hasil antioksidan yang kuat
FORMULASI DAN EVALUASI SPRAY GEL DARI EKSTRAK DAUN SAWO MANILA (Manilkara zapota (L.) Van Royen) SEBAGAI ANTIOKSIDAN DENGAN METODE DPPH Safitri, Ratna; Wicahyo, Septian Maulid; Listyani, Tiara Ajeng
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i3.49627

Abstract

Radikal bebas dapat merusak sel dan jaringan sehingga memicu berbagai penyakit degeneratif. Senyawa antioksidan dibutuhkan untuk menetralisir radikal bebas tersebut. Daun sawo manila (Manilkara zapota (L.) Van Royen) mengandung flavonoid, fenol, dan tanin yang berpotensi sebagai antioksidan. Namun, pemanfaatannya masih terbatas, sehingga perlu dikembangkan dalam bentuk sediaan topikal modern seperti spray gel, yang praktis, higienis, serta mudah diaplikasikan. Ekstraksi: Daun sawo manila diekstraksi menggunakan metode maserasi. Formulasi: Ekstrak diformulasikan dalam bentuk sediaan spray gel dengan variasi konsentrasi. Evaluasi fisik: Meliputi organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, dan uji semprot. Uji stabilitas: Dilakukan pada penyimpanan suhu ruang. Uji aktivitas antioksidan: Menggunakan metode DPPH untuk mengetahui nilai IC₅₀ ekstrak Uji keamanan & penerimaan: Melalui uji iritasi kulit dan uji hedonik. Ekstrak daun sawo manila menunjukkan aktivitas antioksidan dengan nilai IC₅₀ sebesar 39,32 µg/mL (kategori sangat kuat). Sediaan spray gel yang diformulasikan memenuhi persyaratan fisik (pH, homogenitas, viskositas, daya lekat, daya sebar, semprotan). Hasil uji stabilitas menunjukkan tidak ada perubahan signifikan pada sifat fisik selama penyimpanan. Uji iritasi menunjukkan sediaan aman digunakan pada kulit. Uji hedonik menunjukkan responden dapat menerima sediaan spray gel dengan baik (warna, aroma, kenyamanan). Ekstrak daun sawo manila memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat dan dapat diformulasikan menjadi sediaan spray gel yang stabil, aman, serta disukai oleh pengguna. Sediaan ini berpotensi dikembangkan sebagai produk topikal alami untuk membantu menangkal radikal bebas. Kata kunci: Antioksidan, daun sawo manila, DPPH, Manilkara zapota (L.) Van Royen, spray gel