Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Potential Drug-drug Interactions Analysis in Children Out-patients with Bronchopneumonia Medication Prescriptions Ilil Maidatuz Zulfa; Fitria Dewi Yunitasari; Susanty Kartika Dewi
Borneo Journal of Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2020): Borneo Journal of Pharmacy
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjop.v3i2.1316

Abstract

Drug-drug interactions (DDIs) is defined as the alteration of efficacy and toxicity of some drugs in the presence of other drugs. In the treatments of bronchopneumonia in outpatient settings, there is a lack of documentation of DDIs. This study was aimed to observe the potential DDIs on the prescriptions of children with bronchopneumonia. An observational and cross-sectional study was conducted on outpatient children with bronchopneumonia prescriptions during 2017. Potential for DDI was identified by online drug interaction checkers. The potential DDI then classified based on its severity (minor, moderate, and major) and mechanism (pharmacokinetic and pharmacodynamic). Among 86 prescriptions analyzed, potential DDIs observed at 48.84% of it. Of that, there were 67 potential DDIs where 72.34% of it were categorized as moderate. The majority of potential DDIs was pharmacodynamic interaction (76.12%) with the most frequently involved drug pair was Ephedrine-Salbutamol (29.85%). Children outpatients with bronchopneumonia are at risk of potential DDIs, especially to minor and moderate potential DDIs. Prescriptions screening for potential DDIs followed by monitoring of therapeutical effects and associated adverse drug events will optimize patient safety.
Patient’s Compliance with Oral Antibiotics Treatments at Community Health Centers in Surabaya: A 20-KAO Questionnaire Development Ilil Maidatuz Zulfa; Widya Handayani
Borneo Journal of Pharmacy Vol. 3 No. 4 (2020): Borneo Journal of Pharmacy
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjop.v3i4.1660

Abstract

The irrational and incompliance use of antibiotics has been correlated to bacterial resistance. Several methods evaluated patients' compliance with oral antibiotics have been conducted. However, a standard questionnaire for evaluating oral antibiotics compliance in Indonesian has not been developed yet. This study was conducted to record the content validity of the developed questionnaire called 20-KAO to assess compliance with oral antibiotics. The validity content test was conducted through six experts review using the Item Content Validity Index (I-CVI) and Scale-Content Validity Index (S-CVI). The experts were also requested to provide recommendations for each item, whether revisions or deletion. After the review process, the number of questions remains unchanged. A total of 19 out of 20 items had an I-CVI of 1.00, and S-CVI was calculated at 0.98. Therefore, 20 items of the 20-KAO questionnaire have excellent content validity. However, future construct validity and reliability test to analyze the responses of targeted respondents and the questionnaire's consistency are needed.
POTENSI INTERAKSI OBAT PADA PERESEPAN DI POLIKLINIK DIABETES RAWAT JALAN DI RS X SURABAYA Zulfa, Ilil Maidatuz; Hapsari, Badrahini Tri; Anastasia, Laurin
Jurnal Farmasi Medica/Pharmacy Medical Journal (PMJ) Vol. 7 No. 1 (2024): Volume 7, No 1, Tahun 2024
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pmj.v7i1.51274

Abstract

Diabetes mellitus (DM) adalah penyakit metabolik kronis yang meningkatkan kadar glukosa darah sebagai akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Seringkali, pengobatan farmakologis DM membutuhkan polifarmasi yang mengarah pada peningkatan potensi interaksi obat. Interaksi obat adalah efek suatu obat akibat obat lain yang diberikan lebih awal atau diberikan secara bersamaan atau ketika dua atau lebih obat berinteraksi. Akibatnya, efektivitas atau toksisitas obat mungkin terpengaruh. Penelitian ini bertujuan untuk mengobservasi interaksi obat yang berpotensi terjadi pada resep DM. Data dikumpulkan secara retrospektif dari catatan resep pada bulan Januari hingga September 2021. Analisis potensi interaksi obat dilakukan menggunakan aplikasi medscape dan halaman web drugs.com. Sebanyak 73 resep dianalisis dalam penelitian ini, Dari jumlah tersebut, 48 interaksi obat potensial ditemukan menggunakan aplikasi medscape dan 80 interaksi obat potensial diperoleh dari drug.com. Potensi interaksi obat yang paling sering berdasarkan mekanismenya adalah interaksi farmakodinamik sebanyak 68,75% (medscape) dan 70,00% (drugs.com) dengan tingkat keparahan paling banyak adalah interaksi yang membutuhkan monitoring lebih dekat (medscape) dan kategori sedang (drugs.com) sebanyak masing-masing 100,00% dan 92,75%. Interaksi obat potensial yang paling banyak diobservasi adalah antara metformin dan glimepiride sebanyak 31,17% yang dapat menyebabkan risiko hipoglikemia. Oleh karena itu, untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan, disarankan untuk memperkuat kerjasama antara dokter dan staf farmasi untuk meminimalkan interaksi obat selama pengobatan dan pasien disarankan untuk rutin memeriksakan gula darahnya minimal 3 bulan sekali.
Kajian potensi interaksi obat pada peresepan diabetes melitus Zulfa, Ilil Maidatuz; Rumangkang, Rizky Kurnia
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v8i1.940

Abstract

Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit degeneratif dengan prevalensi yang terus meningkat. Komplikasi dan komorbid yang = banyak muncul pada penderita DM menyebabkan pengobatan dengan polifarmasi tidak dapat dihindari. Adanya polifarmasi akan meningkatkan potensi interaksi obat (IO) yang kemungkinan dapat meningkatkan reaksi obat merugikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi kejadian IO pada peresepan DM di salah satu apotek di Kota Surabaya, Jawa Timur. Potensi IO dari 116 lembar resep dianalisis menggunakan online interaction checker drugs.com. Prevalensi, keparahan, mekanisme, serta manifestasi potensi IO dianalisis secara deskriptif. Dari jumlah lembar resep tersebut potensi IO ditemukan pada 67 lembar resep (57,7%) sebanyak 124 potensi kejadian. Mayoritas potensi IO adalah interaksi farmakodinamik (93,6%) dan memiliki keparahan moderat (87,1%). Kombinasi obat berpotensi IO yang paling banyak diresepkan adalah metformin dan glimepiride yaitu sebanyak 32,3% yang memiliki manifestasi peningkatan hipoglikemi. Pengontrolan kadar gula darah pasien DM secara rutin sangat diperlukan untuk mencegah timbulnya resiko yang tidak diinginkan karena hipoglikemia. Selain itu, dalam pelayanan resep diabetes hendaknya informasi tentang monitoring kadar gula darah dan gejala hipoglikemia disampaikan kepada pasien terkait tingginya potensi IO dengan manifestasi peningkatan resiko hipoglikemia. Kata kunci: Diabetes melitus; interaksi obat; peresepan.
RISK FACTORS OF ADVERSE EFFECTS IN ACTIVE PULMONARY TUBERCULOSIS PATIENTS WITH CATEGORY 1 TREATMENT Zulfa, Ilil Maidatuz
Acta Holistica Pharmaciana Vol 1 No 2 (2019): Acta Holistica Pharmaciana
Publisher : School of Pharmacy Mahaganesha (Sekolah Tinggi Farmasi Mahaganesha)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62857/ahp.v1i2.12

Abstract

Category 1 treatment of active pulmonary tuberculosis (TB) takes 6-8 months that can expose patients to adverse effects. The severity of adverse effects occur can affects patients adderence that lead to loss to follow-up. The recent study was aimed to analyze risk factors that might have contribution to the occurence of adverse effects in active pulmonary TB patients received category 1 treatment. A cross sectional study with open questionnaire was conducted to active pulmonary TB patients who undergo treatment follow-up at RS Paru Karang Tembok Surabaya. Gender, ages, diabetes melitus status, body weight, and length of treatment were analyzed as potential risk factors of the number of adverse effects occur through poisson regression The result derived from 41 patients analyzed showed that gender (OR: 0,842, 95% CI: 0,550-1,287, p>0,05), ages (OR: 0,997, 95% CI: 0,986-1,009, p>0,05), body weight (OR: 0,992, 95% CI: 0,976-1,010, p>0,05), diabetes melitus status (OR: 1,197, 95% CI: 0,773-1,856, p>0,05), and length of treatments (OR: 1,007, 95% CI: 0,989-1,025, p>0,05) have no significant risk to the number of adverse effects patients suffered from In the present study , gender, age, body weight, diabetes mellitus status, and the length of TB treatments have being taken have no significant contribution to the number of adverse effects occured. However, further study with higher sample size to confirm the result need to be conducted.
PENGARUH FAKTOR DEMOGRAFI DENGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGANAN DIARE PADA BALITA Zulfa, Ilil Maidatuz
Acta Holistica Pharmaciana Vol 3 No 1 (2021): Acta Holistica Pharmaciana
Publisher : School of Pharmacy Mahaganesha (Sekolah Tinggi Farmasi Mahaganesha)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62857/ahp.v3i1.35

Abstract

Diare pada balita merupakan kondisi serius dan mengancam jiwa. Penyebab kematian yang tinggi pada balita disebutkan karena penanganan yang terlambat pada kondisi dehidrasi. Penanganan yang terlambat pada kondisi dehidrasi terkait dengan pengetahuan ibu atau pengasuh yang kurang terhadap pananganan diare. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan ibu dan pengasuh pada pencegahan dan penanganan diare pada balita. Studi observasional secara cross sectional dilakukan pada ibu usia 20-56 tahun yang pernah atau sedang mengasuh balita. Tingkat pengetahuan diukur melalui kuesioner. Faktor demografi meliputi usia, status asuh balita, pendidikan terakhir, dan pekerjaan dianalisis sebagai faktor yang mungkin mempengaruhi tingkat pengetahuan ibu tentang pencegahan dan penanganan diare balita. Sebanyak 65 Ibu bersedia terlibat dalam penelitian. Hasil menunjukkan Sebagian besar ibu telah memiliki pengetahuan yang baik tentang pencegahan dan penanganan diare pada balita (89,23%). Usia, status asuh balita, pendidikan terakhir, dan pekerjaan Ibu dalam penelitian ini tidak terkorelasi signifikan dengan tingginya pengetahuan Ibu tentang pencegahan dan penanganan diare. Selain itu, edukasi tentang kaitan MPASI dan penggunaan botol susu terhadap diare pada balita serta komposisi dan cara pembuatan oralit masih perlu ditingkatkan di kalangan Ibu sehingga pananganan diare yang tepat dengan cairan oralit di rumah dapat dengan tepat dilakukan oleh ibu.
KAJIAN POTENSI INTERAKSI OBAT DALAM PERESEPAN ANTIHIPERTENSI DI SALAH SATU APOTEK DI SURABAYA Zulfa, Ilil Maidatuz
Acta Holistica Pharmaciana Vol 3 No 2 (2021): Acta Holistica Pharmaciana
Publisher : School of Pharmacy Mahaganesha (Sekolah Tinggi Farmasi Mahaganesha)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62857/ahp.v3i2.51

Abstract

Hipertensi adalah salah satu dari faktor resiko dari penyakit kardiovaskular. Tatalaksana farmakologi hipertensi yang direkomendasikan seringkali merupakan kombinasi beberapa obat serta polifarmasi yang berpotensi menimbulkan interaksi antar obat. Potensi interaksi antar obat (PIAO) merupakan masalah terkait obat yang dalam kondisi tertentu dapat merugikan dan membahayakan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis PIAO pada peresepan pasien hipertensi di salah satu apotek di Kota Surabaya. Identifikasi PIAO dilakukan melalui Medscape online. Hubungan antara faktor usia, jenis kelamin, dan jumlah item obat yang diresepkan dianalisis menggunakan uji regresi logistik biner. Sebanyak 118 resep dianalisis dalam penelitian ini. Dari jumlah tersebut, 33,05% diantaranya memiliki PIAO. PIAO paling sering adalah antara amlodipin dan metformin serta amlodipin dan simvastatin masing-masing sebanyak 29,72% yang merupakan jenis PIAO farmakodinamik dengan manifestasi gangguan kadar gula darah serta peningkatan resiko miopati yang membutuhkan monitoring secara ketat. Faktor jumlah obat yang diresepkan paling berhubungan dengan munculnya PIAO (p-value 0,000). Dari hasil penelitian, dalam pelayanan resep hipertensi perlu diperhatikan faktor jumlah obat yang diresepkan karena semakin banyak jumlah obat yang diresepkan semakin besar potensi muncul PIAO. Selain itu, hendaknya informasi tentang monitoring kadar gula darah dan gejala miopati disampaikan kepada pasien terkait seringnya PIAO antara amlodipin dan metformin serta PIAO antara amlodipine dan simvastatin.
Penyuluhan dan Pembudidayaan Tanaman Bunga Telang (Clitoria ternatea L.) di Krian, Sidoarjo Yuliarni, Floreta Fiska; Imtihani, Hilya Nur; Zulfa, Ilil Maidatuz; Permatasari, Intan Kurnia
Jurnal Pengabdian Masyarakat Progresif Humanis Brainstorming Vol 7, No 4 (2024): Jurnal Abdimas PHB : Jurnal Pengabdian Masyarakat Progresif Humanis Brainstormin
Publisher : Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/japhb.v7i4.7437

Abstract

Clitoria ternatea L. memiliki bunga berwarna biru, ungu, dan putih. Tanaman tersebut mengandung metabolit sekunder diantaranya fenol, flavonoid, tanin, alkaloid, terpenoid, steroid, dan cardiac glycosides. Bunga telang memiliki potensi farmakologis diantaranya sebagai antikanker, antidiabetes, antiparasit, anti-inflamasi, antibakteri, dan antioksidan. Tanaman telang relatif mudah ditanam dan tidak memerlukan perawatan yang rumit sehingga mudah dipelihara. Kegiatan pengabdian masyarakat memiliki tujuan untuk mengenalkan, memberi pengetahuan dan mempraktekkan cara budidaya tanaman bunga telang pada santri dan santriwati Madrasah Aliyah di Pondok Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi. Metode pada kegiatan ini terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama adalah tahap perencanaan yang meliputi survei lokasi dan permohonan izin. Tahap kedua adalah tahap pelaksanaan yang meliputi penyuluhan dan praktek penanaman tanaman bunga telang. Tahap ketiga evaluasi dengan memberikan soal pre-test kepada peserta. Kegiatan ini dilaksanakan oleh dosen dan tim mahasiswa (9 orang). Kegiatan tersebut dihadiri oleh 157 orang. Peserta antusias dengan memberikan pertanyaan ketika penyuluhan dan praktek langsung untuk menanam tanaman bunga telang. Kesimpulan dalam kegiatan ini adalah terjadi peningkatan pemahaman dan pengetahuan mengenai tanaman bunga telang dan cara pembudidayaannya. Rata-rata nilai pre-test yang didapatkan sebesar20,95 dan rata-rata nilai post-test sebesar 57,14. Persentase peningkatan sebesar 36,19%.
Public Knowledge, Attitude and Stigma Towards Tuberculosis In Surabaya, Indonesia: Determining Associated Factors For Poor Attitude Maidatuz Zulfa, Ilil; Dewi Yunitasari, Fitria
International Journal of Health and Pharmaceutical (IJHP) Vol. 5 No. 1 (2025): February 2025 (Indonesia - Turkey - Malaysia - Australia - Iran)
Publisher : CV. Inara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51601/ijhp.v5i1.389

Abstract

Tuberculosis (TB) is one of infectious disease that still remains a public health concern. Various factors affecting the TB treatment success rate including public knowledge, attitude, and stigma. Public knowledge and attitude directly associated with individual awareness that impacts TB transmission and early screenings for TB. This study aimed to assess public knowledge, attitude and stigma regarding TB in Surabaya, Indonesia and specifically analyzed the associated factors of having poor TB attitude. An observational, cross-sectional study was conducted using self-administered online questionnaire. Individuals age 18 years old or above were recruited at six different pharmacies in Surabaya during their visit and those who decided to withdraw after fulfilling the questionnaire were excluded. A total of 436 participants were recruited for this study. Of them, females were predominant (71.3%) and the majority of them were in the age groups of 18 to 30 years (69.3%). They were mostly had graduated from secondary school (60.3%). Concerning income, most of participants earned less than 1 million IDR. Regarding their levels of knowledge, attitude and stigma, the majority of them had good knowledge (50.7%), moderate attitude (47.5%), and positive stigma (93.1%). The significant associated factor of having poor attitude was knowledge which participants with good knowledge were less likely to have poor attitude (b= -1.103; OR = 0.332; p-value 0.000). Therefore, increasing level of public knowledge related to TB will significantly increase their attitude towards TB.