Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Metahumaniora

MITOS DAN REPRESENTASI DEWI SRI DALAM RITUAL SINOMAN UPACARA ADAT MAPAG SRI DI DESA SLANGIT KABUPATEN CIREBON: KAJIAN SEMIOTIKA Faza Fauzan Azhima; Aquarini Priyatna; Teddi Muhtadin
Metahumaniora Vol 10, No 2 (2020): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v10i2.25733

Abstract

Artikel ini memaparkan kegiatan upacara adat Mapag Sri dengan berfokus pada mitos dan representasi Dewi Sri dalam ritual sinoman pada upacara adat tersebut. Dengan menggunakan kajian semiotika penelitian ini membahas mitos dan makna dari ritual upacara adat Mapag Sri. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang menghasilkan data-data hasil wawancara dan observasi lapangan. Hasilnya didapatkan bahwa Dewi Sri yang direpresentasikan sebagai perempuan yang disimbolkan juga pada tanaman padi mengindikasikan bahwa upacara adat Mapag Sri merupakan penghormatan kepada perempuan dan kepada padi sebagai hasil panen. Upacara adat ini juga menunjukan hubungan antara perempuan dengan alam. Perempuan berperan signifikan dalam ritual upacara adat ini seperti yang terlihat pada kegiatan sinoman yang merupakan salah satu rangkaian pokok dari upacara adat Mapag Sri. Sinoman merupakan representasi dan analogi dari pola siklus kehidupan manusia, tempat awal dan akhir kehidupan manusia merupakan tempat yang sama yakni di akhirat. Upacara adat ini dilangsungkan setiap tahun untuk menyambut masa panen padi dapat diargumentasikan sebagai sebuah representasi dari kearifan lokal yang bersifat ekologi karena kegiatan ini berfokus pada partisipasi dan kedekatan masyarakat dengan alam, terutama dalam konteks ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan. Kata kunci: upacara adat, Mapag Sri, sinoman, Dewi Sri, semiotika
NOVEL BABALIK PIKIR KARYA SAMSOEDI SEBAGAI BILDUNGSROMAN SUNDA PADA MASA PRAKEMERDEKAAN Liska Puri; Teddi Muhtadin; Ari Jogaiswara Adipurwawidjana
Metahumaniora Vol 11, No 1 (2021): METAHUMANIORA, APRIL 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v11i1.31943

Abstract

Penelitian ini berupaya memetakan karya Samsoedi pada masa prakemerdekaan sebagai Bildungsroman yang diduga dibuat untuk memberikan figur baru untuk anak-anak di lingkungan masyarakat penutur bahasa Sunda pada waktu itu. Kemudian isu-isu sosial dan politik yang dimunculkan  pada karya-karya Samsoedi itu, diduga sengaja dimunculkan untuk memberikan pandangan baru pada anak-anak mengenai modernitas atau pendidikan tertentu yang diusung oleh pemerintah untuk kaum pribumi. Kebijakan pemerintah kolonial dengan meresmikan politik etis, memberikan kesempatan bagi anak-anak  pribumi untuk mengenyam pendidikan. Dengan kesempatan itu, anak-anak pribumi mempunyai kesempatan baru untuk mengetahui pengetahuan dunia melalui bacaan. Bacaan merupakan salah-satu sarana yang dipilih oleh Belanda untuk menjaga kestabilan kekuasaan mereka juga sebagai upaya untuk membentuk masyarakat pribumi seperti pemikiran mereka, sehingga Balai Pustaka diciptakan untuk mendukung itu semua. Pembacaan terhadap lima novel Samsoedi ini didudukan dalam kerangka teoritis sastra anak khususnya Hunt dan Bildungsroman khususnya Jeffers.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola bildungsroman telah difungsikan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat penutur bahasa Sunda, khususnya anak-anak.