Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

INOVASI SENSOR NANOPARTIKEL PERAK UNTUK ANALISIS MERKURI SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV/VIS DALAM KRIM PEMUTIH WAJAH DI KECAMATAN JULOK KUTA BINJEI Silalahi, Yosy Cinthya Eriwaty
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 8 No. 1 (2025): Volume 8 No. 1 Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v8i1.42259

Abstract

Merkuri merupakan salah satu bahan berbahaya yang sering ditambahkan pada krim pemutih wajah. Keberadaan logam merkuri dalam produk krim pemutih dalam jangka panjang dapat menimbulkan kerusakan pada organ tubuh dan juga bersifat toksik dan merupakan zat karsinogenik (menyebabkan kanker) pada manusia. Pemilihan nanopartikel perak sebagai produk hasil biosintesis berdasarkan potensinya yang luas untuk di kembangkan dalam berbagai bidang aplikasi. Perak merupakan salah satu logam yang memiliki kualitas optik yang cukup baik setelah emas dengan harga yang lebih terjangkau. Sehingga dapat dijadikan sebagai sensor berbagai logam berat seperti merkuri secara Spektrofotometri UV/Vis. Penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan merkuri pada kosmetik krim pemutih wajah yang dipasarkan di Kecamatan Julok Kuta Binjei di Aceh Timur. Penelitian ini adalah secara deskriptif yang dilakukan dengan analisa kualitatif dan kuantitatif. Sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 5 sampel krim pemutih wajah, pengambilan sampel dilakukan dengan purpossive sampling. Analisa kualitatif dilakukan dengan uji KI, NaOH, HCl, dan analisa kuantitatif dilakukan dengan Spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan ke lima sampel positif mengandung merkuri. Dari hasil validasi, didapatkan persamaan regresi dan kurva kalibrasi Y = -0,00783x + 0,6763 dengan koefisien r = -0,9713. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kadar merkuri dari lima sampel yang diteliti kadar tertinggi terdapat pada sampel krim A (669,6396 µg/kg) dan kadar merkuri terendah terdapat pada sampel krim C (240,6843 µg/kg). Menurut Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia nomor 17 tahun 2014 tentang Perubahan atas Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan nomor HK.03.1.23.07.11.6662 Tahun 2011 Tentang Persyaratan Cemaran Mikroba dan Logan Berat dalam Kosmetik bahwa jenis cemaran merkuri (Hg) tidak lebih dari 1 mg/kg atau 1 mg/L (1 bpj). Walaupun hasil penelitian menunjukkan nilai di bawah ambang batas yang ditetapkan Peraturan Badan POM, tetapi karena karena logam merkuri dapat terakumulasi dalam tubuh, maka kosmetik yang positif mengandung merkuri harus dihindari. Maka dari hasil penelitian ini disarankan kepada konsumen agar lebih teliti dalam membeli kosmetik, khususnya kosmetik yang tidak memiliki izin edar BPOM dan kosmetik yang cepat memberikan efek putih dalam waktu yang tidak lazim dan secara instan.
FORMULASI NANOPARTIKEL DARI LIMBAH EKSTRAK KULIT NANAS (Ananas comosus L.) DALAM BENTUK TEH SEDUHAN Rahmi, Sofia; Sari, Rika Puspita; Harahap, Nurul Dahlia; Siahaan, Jekson Martiar; Mega, Juli Yosa; Silalahi, Yosy Cinthya Eriwaty
JURNAL FARMASI, SAINS, dan KESEHATAN Vol. 5 No. 2 (2026): FARMASAINKES: JURNAL FARMASI, SAINS dan KESEHATAN
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32696/farmasainkes.v5i2.6263

Abstract

Limbah kulit nenas memiliki kandungan gizi karbohidrat, protein, gula reduksi, serat kasar dan air. Kulit nenas juga memiliki metabolit sekunder alkaloid, flavonoid, saponin dan tanin. Spesifikasi dari senyawa flavonoid ekstrak kulit nenas yaitu senyawa kuersetin. Limbah kulit nenas jika dikonsumsi dalam bentuk rebusan kurang diminati karena berbau langu atau jamu. Penelitian ini dilakukan untuk memanfaatkan limbah kulit nanas menjadi sediaan nanopartikel dalam bentuk teh seduhan. Pembuatan nanopartikel ekstrak diawali dari pembuatan ekstrak dan kemudian dilakukan pencampuran dengan bahan kitosan serta NaTPP dengan perbandingan (1:1:1; 1:5:1 dan 1:10:1), kemudian dihomogenizer dengan kecepatan 4000 rpm selama 90 menit dan freeze drying selama 1x24 jam untuk mendapatkan nanopartikel kering. Dilakukan evaluasi sediaan seperti organoleptis, ukuran partikel, dan zeta potensial. Hasil yang pada organoleptis yaitu berwarna coklat, berbau khas dan berbentuk bubuk. Hasil ukuran partikel diperoleh F3 memiliki ukuran partikel terkecil (145,267±0.06) nm dan zeta potensial (30.27±0.12) mV. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu F3 (ekstrak:kitosan:NaTPP dengan perbandingan 1:10:1) memiliki hasil terbaik dibandingkan formula lainnya.
Standardization of Rhizome Simplicia from the Zingiberaceae Family in Terms of Methods and Quality: A Review Silalahi, Yosy Cinthya Eriwaty; Surbakti, Christica Ilsana; Suharyanisa, Suharyanisa; Suryani, Monica; Ulfata, Zikri; Panjaitan, Grace Emmas Sondang; Marbun, Eva Diansari
NSMRJ: Nusantara Scientific Medical Research Journal Vol. 3 No. 02 (2025): NSMRJ: Nusantara Scientific Medical Research Journal
Publisher : CV. Nusantara Scientific Medical

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58549/nsmrj.v3i02.128

Abstract

Simplicia rhizomes from the Zingiberaceae family are important raw materials in the traditional medicine industry, as they contain bioactive compounds such as flavonoids, alkaloids, and tannins. The quality of simplicia is strongly influenced by post-harvest processing methods, particularly drying. This study aims to systematically review the quality of Zingiberaceae rhizome simplicia based on ten national scientific journals published between 2015 and 2024. The method employed was a literature study using a qualitative descriptive approach, evaluating specific quality parameters (organoleptic characteristics, solubility, and phytochemical tests) and non-specific parameters (moisture content, ash content, and microbial contamination) according to the Indonesian Herbal Pharmacopoeia. The results indicate that oven drying at 50–60 °C for 24–48 hours produces the best-quality simplicia, characterized by moisture content below 10%, ash content within acceptable limits, and high flavonoid levels. Other drying methods, such as sun drying and natural air drying, showed more variable outcomes and in some cases exceeded standard limits, particularly in acid-insoluble ash levels and microbial contamination. Several simplicia samples obtained from traditional markets did not meet quality standards due to suboptimal washing and storage processes. This study concludes that simplicia quality standardization must comprehensively address technical stages from washing to drying. The use of extracts is more strongly recommended than raw simplicia to ensure consistency, stability, and safety of herbal products. Strict quality standards are essential to support the effectiveness of traditional medicines derived from Zingiberaceae.