Claim Missing Document
Check
Articles

The Integration of Local Values into the Spatial Behavior of Traditional Architecture: A Case Study of the Traditional House of Ponorogo, East Java Josephine Roosandriantini; Y.A. Widriyakara Setiadi; Veronica Sinawan
Local Wisdom Jurnal Ilmiah Kajian Kearifan Lokal Vol. 18 No. 2 (2026): July 2026
Publisher : University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Traditional architecture is not merely a physical manifestation of spatial needs; it also reflects the cultural and social values of the community through its spatial patterns. The aim of this research is to explore the integration of local values into spatial behavior within the traditional architecture of the rumah adat (traditional house) of Ponorogo, East Java. The presence of the traditional Ponorogo house serves as a representation of local wisdom that continues to endure amidst the dynamic changes of time. This study identifies and analyzes the relationships between local values—such as customary norms, Javanese cosmology, and social structures—and the spatial usage patterns and behaviors of the inhabitants. The research employs a qualitative-descriptive approach, using data collection techniques including direct observation, in-depth interviews with residents, and literature studies on the traditional architecture of Ponorogo and the behavioral patterns occurring within these traditional houses. The research findings reveal that spatial division in the Ponorogo traditional house is not merely functional but carries strong symbolic meanings. Spaces such as jogan, omah mburi, gandhok, pawon, senthong, and emperan illustrate social hierarchies and ritual functions in the lives of the Ponorogo community. Moreover, the building’s orientation, spatial forms, and layout reflect a deep connection with nature and Javanese spiritual teachings. This study focuses specifically on the Sinoman and Joglo Bucu house types. The research affirms that traditional architecture possesses complex behavioral dimensions that cannot be separated from the cultural context surrounding it. Understanding the integration of local values into spatial behavior in traditional architecture is expected to serve as a foundation for the preservation and development of architecture with strong local identity amid the currents of modernization
Revitalization of Environmental Aesthetics Through Mural Activities at the RT Community Hall of Kampung Deles IV, Surabaya Josephine Roosandriantini; Anas Hidayat; Yohanes Kristianus Harianto; Sultan Agni Setyawan; Jason Rivaldy Tanaya; Widriyakara Setiadi
ABDIMAS TALENTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 11 No. 1 (2026): ABDIMAS TALENTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/abdimastalenta.v11i1.23387

Abstract

Environmental aesthetic revitalization is a crucial effort in creating a comfortable, green, and functional public space for the community. Mural art, as a form of visual expression, holds great potential in beautifying the environment and reinforcing local identity. This community service program was conducted at the RT Hall of Kampung Deles IV, Surabaya, an area experiencing visual degradation due to dull and poorly maintained walls. Through a participatory approach, the service team and local residents collaboratively planned, designed, and implemented mural artworks that highlight local wisdom and communal values. The results showed significant improvement in environmental aesthetics, a strengthened sense of belonging among residents, and increased motivation to maintain the RT hall as a hub for social activities. This project demonstrates that mural art can serve as an effective medium for community-based empowerment and environmental revitalization.
Kajian Elemen Arsitektur Modern berdasarkan teori Vitruvius Yusnia Hanna Yulistya; Josephine Roosandriantini
Jurnal Lingkungan Karya Arsitektur Vol. 1 No. 2 (2022): Architecture, Room, Structure, Material
Publisher : Darma Cendika Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37477/lkr.v1i2.253

Abstract

Arsitektur modern adalah masa arsitektur yang mulai meninggalkan persolekan yang rumit sebagai estetika sehingga bangunan arsitektur modern cenderung polos dan simple. Arsitektur modern menganut form follow function sehingga desain bentukan bangunannya mengikuti fungsi. Setiap bentuk yang dimainkan dalam arsitektur modern selalu memiliki fungsi tersendiri. Penelitian ini merupakan kajian teori vitruvius yang muncul pada jaman arsitektur klasik terhadap arsitektur modern. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan studi literatur pada trilogi vitruvius dan arsitektur modern. Aspek yang diteliti adalah venustas, utilitas dan firmitas mulai dari estetika dari fungsionalisme bentuk, struktur sebagai kekokohan, dan bahan yang mulai beralih kematerial pabrikasi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa teori trilogi vitruvius masih relevan pada penerapan arsitektur modern meskipun kemunculan teori tersebut jauh sebelum munculnya peradaban arsitektur modern. Makna utilitas terlihat pada setiap bentuk bangunan yang pada setiap bentuk atau lekukannya pasti memiliki fungsi untuk bangunan tersebut. Sedangkan venustas terdapat pada permainan geometri pada fasad bangunan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan tolak ukur teoritis penerapan trilogi Vitruvius terhadap arsutektur modern
Kajian Penerapan Arsitektur Modern pada Bangunan Villa Savoye Nurul Febriyanti; Josephine Roosandriantini
Jurnal Lingkungan Karya Arsitektur Vol. 2 No. 2 (2023): Architecture, Room, Structure, Material
Publisher : Darma Cendika Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37477/lkr.v2i2.491

Abstract

Arsitektur Modern adalah gaya atau konsep bangunan yang mengutamakan bentuk bangunan dibandingkan ornamen hias. Dengan kata lain, estetika desain modern adalah kelanjutan dari bangunan penuh ornamen seperti desain Gothic dan Victorian. Sebaliknya, desain modern memilih tema arsitektur yang dibangun dengan material tertentu, demi menjamin kesederhanaan dan fungsionalitas sebuah bangunan. Era desain modern datang bersamaan saat sumber daya manusia digantikan dengan mesin industrial. Salah satunya adalah villa Savoye yang merupakan karya ciptaan arsitek terkenal Le Corbusier. Villa Savoye merupakan bangunan yang sangat berpengaruh pada arsitektur modern. Villa ini memiliki tema desain The House Is A Machine For Living yang berarti rumah adalah tempat untuk hidup, dengan menggunakan tema tersebut Le Corbusier berusaha menyampaikan makna tersendiri di dalam bangunan tersebut yang dipadukan dengan halaman rumah yang hijau, sehingga memberikan kesan yang cukup sejuk. Analisa bangunan Villa Savoye sendiri patut di pertanyakan karena merupakan bangunan dengan konsep arsitektur modern atau postmodern. Hasil penelitian dengan menggunakan metode analisa kualitatif ditemukan data yang sesuai dengan prinsip arsitektur modern, sehingga dapat disimpulkan bahwa bangunan Villa ini merupakan salah satu desain dari arsitektur modern.
Penerapan “Guna dan Citra” dalam Arsitektur Nusantara Studi Kasus: Uma Mbatangu, Tongkonan, dan Sulah Nyanda Krisnina Dohan Limantara; josephine roosandriantini
Jurnal Lingkungan Karya Arsitektur Vol. 3 No. 1 (2024): Architecture, Room, Structure, Material
Publisher : Darma Cendika Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37477/lkr.v3i1.552

Abstract

Konsep berarsitektur yang berpijak pada “guna dan citra” adalah romo Mangunwijaya, melalui suatu objek arsitektur dianalogikan sebagai suatu esensi yang berkaitan dengan makna. Sehingga, suatu bangunan diandaikan sebagai suatu yang mempunyai jiwa dan daya bagi penghuninya. Hal tersebut berhubungan dengan faktor seni dan teknis dari tektonika yang terdapat pada bangunan, contohnya seperti pada bangunan rumah adat. Arsitektur nusantara berasal dari kekreatifan masyarakat setempat. Suatu konsep dalam arsitektur yang banyak mencerminkan kebudayaan setempat dan lingkungan alam sekitarnya menjadi landasan utama dari arsitektur nusantara, yang digambarkan dalam nilai-nilai dan makna yang tersembunyi dibalik bentuk rupa fisiknya. Tujuan dari penelitian ini untuk lebih memberi gambaran bahwa dalam wujud fisik arsitektur nusantara juga memiliki sebuah aspek citra dan aspek guna. Obyek penelitian yang digunakan yaitu rumah adat Sumba (Uma Mbatangu), rumah Adat Toraja (Tongkonan), dan rumah adat Baduy (Sulah Nyanda). Metode penelitian yang dilakukan menggunakan metode kualitatif deskriptif didukung dengan pengumpulan data melalui studi literatur. Hasil dari penelitian ini dapat memperlihatkan walaupun arsitektur nusantara cenderung terlihat sebagai bangunan yang tidak modern, tetapi dapat memperlihatkan aspek guna dan citra yang masih memunculkan kenyamanan penghuni
Penerapan Prinsip Desain D.K. Ching pada Bangunan Sessat Agung Ilham Bani Safari; Josephine Roosandriantini
Jurnal Lingkungan Karya Arsitektur Vol. 4 No. 1 (2025): Architecture, Room, Structure, Material
Publisher : Darma Cendika Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37477/lkr.v4i1.729

Abstract

Bangunan Sessat Agung adalah pusat komunitas budaya di Islamic Center yang berada di Tubaba, Tulang Bawang Barat, Lampung. Bangunan ini merupakan salah satu contoh arsitektur tradisional yang kaya akan nilai-nilai budaya lokal. Penelitian ini berfokus pada penerapan prinsip-prinsip desain D.K. Ching, yang terdapat pada bangunan Sessat Agung. Penerapan prinsip desain D.K. Ching menjadi landasan penting dalam memahami kualitas visual dan fungsional sebuah karya arsitektur. Prinsip D.K. Ching merupakan salah satu pemikiran teori barat yang cenderung penerapannya pada Arsitektur modern. Sehingga apakah pada bangunan Sessat Agung tidak ada penerapan prinsip desain D.K. Ching? Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan Teknik pengumpulan data menggunakan studi literatur terutama tentang penerapan prinsip desain arsitektur D.K. Ching. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penerapan prinsip desain D.K. Ching yaitu, keseimbangan, proporsi, kontras, dan kesatuan yang terdapat dalam bangunan Sessat Agung. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan lebih dalam tentang menghubungkan teori desain modern dengan warisan arsitektur tradisional Indonesia.
Analisis Atap Pada Pagoda Dan Pura Meru Lusia Dessy Arfiyanti; Odo Grean Kaesar Putra Wardhana; Josephine Roosandriantini
Jurnal Lingkungan Karya Arsitektur Vol. 4 No. 2 (2025): Architecture, Room, Structure, Material
Publisher : Darma Cendika Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37477/lkr.v4i2.803

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk, struktur, dan makna simbolik atap pada bangunan tradisional Pagoda di kawasan Asia Timur dan Pura Meru di Bali, Indonesia. Fokus utama terletak pada perbandingan karakteristik arsitektural kedua bangunan tersebut, khususnya pada elemen atap yang memiliki peran penting dalam aspek estetika, spiritual, dan konstruktif. Metode yang digunakan adalah studi literatur, dengan menelaah berbagai sumber sekunder seperti buku arsitektur, jurnal ilmiah, dokumen pelestarian cagar budaya, serta artikel terkini yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun Pagoda dan Pura Meru berasal dari latar budaya yang berbeda, keduanya memiliki kesamaan dalam bentuk atap bertingkat sebagai representasi nilai spiritual dan kosmologis. Namun, terdapat perbedaan signifikan dalam aspek struktur, teknik konstruksi, dan penggunaan material yang dipengaruhi oleh konteks geografis serta perkembangan zaman. Studi ini juga menyoroti pentingnya pelestarian arsitektur tradisional melalui pendekatan dokumentasi yang mutakhir. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi terhadap pemahaman lintas budaya dalam arsitektur tradisional Asia serta menjadi referensi dalam upaya konservasi dan pengembangan desain arsitektur berkelanjutan berbasis kearifan lokal.
Penerapan Elemen dan Prinsip Desain Menurut David Lauer Pada Bangunan Art Science Museum Salman Muthahari; Josephine Roosandriantini
Jurnal Lingkungan Karya Arsitektur Vol. 5 No. 1 (2026): Eksplorasi Teori, Budaya, dan Inovasi dalam Arsitektur Kontemporer
Publisher : Darma Cendika Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37477/lkr.v5i1.874

Abstract

Penelitian ini menganalisis penerapan elemen dan prinsip desain menurut kerangka teori David A. Lauer pada bangunan ArtScience Museum di Marina Bay Sands, Singapura. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keunikan bentuk bangunan yang tidak hanya berfungsi sebagai institusi budaya, tetapi juga menjadi ikon arsitektural yang kuat. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan bagaimana elemen-elemen visual seperti bentuk, ruang, garis, tekstur, dan warna, serta prinsip-prinsip desain seperti kesatuan, keseimbangan, ritme, penekanan, dan proporsi, termanifestasi dalam desain museum tersebut. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis visual, di mana data diperoleh melalui observasi langsung terhadap bangunan dan studi literatur terkait. Hasil analisis menunjukkan bahwa desain ArtScience Museum yang menyerupai “teratai” secara konsisten menerapkan teori Lauer. Bentuk biomorfik yang organik menciptakan kesatuan dan keharmonisan dengan lingkungan perairan sekitarnya. Keseimbangan asimetris tercapai melalui komposisi “jari-jari” atau kelopak yang dinamis namun stabil. Ritme tercipta dari pengulangan bentuk kelopak dan struktur siripnya, sementara penekanan (fokus) secara alami tertuju pada bagian puncak dan atrium tengah yang dramatis. Proporsi dan skala bangunan yang monumental dikombinasikan dengan tekstur material beton dan kaca, serta permainan cahaya alami, memperkaya pengalaman visual. Simpulan penelitian mengonfirmasi bahwa keunggulan estetika dan daya tarik visual ArtScience Museum tidak terlepas dari penerapan elemen dan prinsip desain secara komprehensif dan terintegrasi, sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh David Lauer. Studi ini memberikan perspektif baru dalam menilai karya arsitektur ikonik melalui lensa teori desain dasar.
Penerapan Prinsip Desain Friedrich Silaban Pada Bangunan Masjid Istiqlal Gabriella Stephanie Grimaldi; Josephine Roosandriantini
Jurnal Lingkungan Karya Arsitektur Vol. 5 No. 1 (2026): Eksplorasi Teori, Budaya, dan Inovasi dalam Arsitektur Kontemporer
Publisher : Darma Cendika Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37477/lkr.v5i1.905

Abstract

Masjid Istiqlal merupakan mahakarya Friedrich Silaban, seorang arsitek Indonesia yang berhasil menciptakan bangunan ikonik dengan prinsip desain yang melampaui zamannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan prinsip-prinsip desain khas Friedrich Silaban pada bangunan Masjid Istiqlal, yang meliputi aspek proporsi geometris, responsivitas terhadap iklim tropis, serta sintesis antara nilai modernitas, nasionalisme, dan spiritualitas. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus, melalui observasi elemen arsitektural dan telaah dokumen historis bangunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Silaban menerapkan prinsip proporsi geometris yang sarat makna simbolis, terbukti pada diameter kubah 45 meter (melambangkan tahun 1945), tinggi menara 6.666 cm (merepresentasikan jumlah ayat Al-Qur'an), serta 12 tiang penyangga dan 5 lantai bangunan yang bermakna filosofis. Pada aspek tropis, Silaban mendesain plafon tinggi, koridor lebar, dan bukaan besar yang memungkinkan sirkulasi udara alami, menciptakan kenyamanan termal tanpa pendingin buatan. Sementara itu, sintesis modernitas, nasionalisme, dan spiritualitas terwujud melalui penggunaan bahasa arsitektur modern yang sederhana namun monumental, pemilihan nama dan simbol-simbol kebangsaan, serta integrasi nilai-nilai Islam secara fungsional dan simbolis. Ketiga prinsip tersebut saling terkait dan memperkuat, menjadikan Masjid Istiqlal sebagai karya arsitektur yang holistik dan visioner. Penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya khazanah arsitektur Nusantara dan menjadi landasan bagi perancangan masjid kontemporer yang berakar pada nilai-nilai lokal dan kearifan iklim tropis Indonesia.
Eksplorasi Spasial dan Pengalaman Pengguna dalam Penerapan Arsitektur Fungsionalisme pada Bangunan Spazio Surabaya Andreas Andika; Josephine Roosandriantini
Jurnal Lingkungan Karya Arsitektur Vol. 5 No. 1 (2026): Eksplorasi Teori, Budaya, dan Inovasi dalam Arsitektur Kontemporer
Publisher : Darma Cendika Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37477/lkr.v5i1.906

Abstract

Arsitektur Fungsionalisme, dengan semboyannya "form follows function", telah lama menjadi landasan dalam perancangan bangunan modern. Prinsip ini mengedepankan efisiensi dan kegunaan sebagai penentu utama bentuk arsitektur. Namun, sejauh mana penerapan prinsip fungsionalis tidak hanya menciptakan ruang yang efisien, tetapi juga membentuk pengalaman dan persepsi penggunanya? Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan arsitektur fungsionalisme pada bangunan komersial Spazio di Surabaya, dengan fokus utama pada bagaimana relasi antarruang yang tercipta memengaruhi pengalaman pengguna (pengunjung dan pelaku usaha). Menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan pendekatan studi kasus, penelitian ini melakukan observasi spasial, pemetaan perilaku, dan wawancara singkat dengan pengguna bangunan. Analisis difokuskan pada tata letak vertikal dan horizontal fungsi komersial (retail, F&B, hiburan), sirkulasi, serta elemen arsitektural seperti void, jembatan penghubung, dan materialitas. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Spazio Surabaya menginterpretasikan fungsionalisme secara dinamis. Efisiensi fungsi terwujud melalui zonasi vertikal yang jelas dan sirkulasi yang terintegrasi. Lebih dari sekadar efisiensi, relasi spasial yang tercipta—terutama melalui void sentral yang menghubungkan seluruh lantai dan permainan bidang transparan—mampu menciptakan pengalaman visual yang interaktif, rasa keterbukaan, dan orientasi ruang yang kuat bagi pengguna. Hal ini menghasilkan sebuah "fungsionalisme pengalaman", di mana desain yang berpusat pada fungsi justru secara tidak langsung membentuk kualitas pengalaman spasial yang kaya, memfasilitasi interaksi sosial, dan memperkuat identitas bangunan sebagai ruang publik di Surabaya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan fungsionalisme pada Spazio melampaui aspek tek semata dan berhasil menciptakan dialektika antara ruang, fungsi, dan pengalaman pengguna.
Co-Authors Alvin Widyadhana Kosman Amstrong Hayong, Emanuel Anas Hidayat Anas Hidayat Anas Hidayat Anas Hidayat, Anas Andreas Andika Andriani, Celine Angelina Novemita Santoso Antonius Sachio Troy Wijaya Anugerah Putra, Heristama Bryan Richard Bryan Richard Catherina Novita Ambarwati Celine Andriani Christela Oktaviani, Yohana D.C., Vebyola Indah Daniel Gentario Denny Jean Cross Sihombing Desrina Yusi. I Efandaru, James Ferdinard Boli Ferdinard Hendra Setiawan Ferdinard Hendra Setiawan Fernanda Yosefi Meilan Fransiska Maria Regina Gabriella Stephanie Grimaldi Handayani Asriningpuri Harianto, Yohanes Kristianus Hdayat, Anas Heristama Anugerah Putra Ibadi, Raden Mohamad Wisnu Ilham Bani Safari James Efandaru James Efandaru Jason Rivaldy Tanaya Jessica Aprilia Poernama Jessica Aprilia Poernama Johana Raycia Aramus Putri Josef Prijotomo Kalvin Setiawan Salim Kharisma Ziliwu Krisnina Dohan Limantara Krisnina Dohan Limantara Krisnina Dohan Limantara Lucia Ina Trisjanti Lucia Ina Trisjanti Lucia Ina Trisyanti Lusia Dessy Arfiyanti Lutters, Emmanuelle Litania Mahdani, La Ode Meilan, Fernanda Yosefi Michel Dio Susanto Moh Rizal Moris, Diyan Nia Yunia Lestari Nurul Febriyanti Odo Grean Kaesar Putra Wardhana Odo Grean Kaesar Putra Wardhana Phoebe S.P., Bernadeth Chiquita Poernama, Jessica Aprilia Prabani Setio Hastorahmanto Regina, Fransiska Maria Richard, Bryan Salman Muthahari Seanivenna F. Hondo Selvia Devy Tiorma Setiadi, Widriyakara Setiadi, Y.A Widriyakara Setiawan, Ferdinard Hendra Setiawan, Valerio Sultan Agni Setiohastorahmanto, Prabani Siriman, Fernando Edward Stefanus Prabani Setio Sultan Agni Setyawan Sultan Agni Setyawan, Valerio Utomo, Ariel Suryo Valerio Sultan Agni Veronica Sinawan Wahyuningsih, Yulia Widriyakara Setiadi Widriyakara Setiadi Wijaya, Antonius Sachio Troy Y.A Widriyakara setiadi Y.A. Widriyakara S Y.A. Widriyakara Setiadi Y.A. Widriyakara Setiadi Yohanes Kristianus Harianto Yulia Wahyuningsih Yulistya, Yusnia Hanna Yuniardi, Dimas Yusnia Hanna Yulistya Yusnia Hanna Yulistya