Claim Missing Document
Check
Articles

Pembangunan Fasilitas Umum Dan Menjaga Kesehatan Lingkungan Dalam Pencegah Penyebaran Virus Covid – 19 Josephine Roosandriantini; Johana Raycia Aramus Putri
ABIDUMASY Vol 2 No 2 (2021): ABIDUMASY : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33752/abidumasy.v2i2.1952

Abstract

In 2019, the country of Indonesia experienced a period of the Covid-19 virus pandemic, which prompted the government to make new policies to prevent the spread of Covid-19. Since 2020, Indonesia has implemented a normal and health protocol called 5M (the mandatory wearing of masks, mandatory washing of hands with soap and running water, obligatory distancing, avoiding crowds, and limiting mobilization and interaction). Protecting the environment, building village public facilities, and re-implementing health protocols are one of the steps in preventing the spread of the Covid-19 virus and producing a healthy environment. By using the method of interaction between residents related to the covid-19 virus, this activity is expected to be able to prevent the spread of the covid-19 virus and produce a healthy environment. This community service activity carried out spraying of disinfectants, fogging, distribution of masks and antiseptic handwashing soap, making hand washing stations, and also painting roads to beautify the village..
PENGEMBANGAN PUSAT KEGIATAN WARGA ASEM PAYUNG KEL. GEBANG PUTIH SURABAYA Josephine Roosandriantini; Lucia Ina Trisjanti; Y.A. Widriyakara Setiadi; Anas Hidayat; Stefanus Prabani Setio; Heristama Anugerah Putra
ABIDUMASY Vol 3 No 2 (2022): ABIDUMASY : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33752/abidumasy.v3i2.3338

Abstract

The Gebang Putih area is a fairly densely populated settlement because each residence does not have an open yard. The activities of the youth or local residents are limited to gathering at locations outside the RW 003 environment. The results of observations and interviews with community leaders in RT. 02, it was found that residents of RW 003 needed a place for sports activities, gatherings, and discussions for residents of RW 003. The purpose of this community service was so that residents had a new activity center that was able to accommodate gathering, exercise, and socializing activities. This community service is expected to enable residents to carry out activities in a sustainable manner around their homes, thereby creating a friendly atmosphere and increasing a sense of brotherhood and harmony among residents. Community service activities carried out were utilizing the sewer side as a place for sports activities, and discussions for residents of RW 003. The method used was an observation, and interviews with the chairman of RW 003 and also residents of 003 Asem Umbrella. As a result of this community service, Asem Payung RW 003 village has infrastructure for joint activities between residents, such as ping pong, table tennis, or a gathering area.
APPLICATION OF PETER ZUMTHOR'S MULTISENSORY PRINCIPLE IN THE DESIGN OF NATURE SCHOOLS PENERAPAN PRINSIP MULTISENSORI PETER ZUMTHOR PADA PERANCANGAN SEKOLAH ALAM Wijaya, Antonius Sachio Troy; Setiadi, Y.A Widriyakara; Anugerah Putra, Heristama; Roosandriantini, Josephine
JURNAL ARSIP UNPAND Vol 5 No 2 (2025): JURNAL ARSIP UNPAND
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/arsip.v5i2.143

Abstract

Sekolah alam merupakan konsep pendidikan yang mengintegrasikan lingkungan sebagai bagian dari proses belajar, sehingga menciptakan pengalaman ruang yang erat dengan alam. Pendekatan multisensori dalam arsitektur, sebagaimana dikemukakan oleh Peter Zumthor, menekankan bagaimana elemen-elemen arsitektur dapat membangkitkan pengalaman inderawi yang mendalam, menciptakan suasana yang kaya akan makna, dan memperkuat keterhubungan antara manusia dengan ruang. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan prinsip multisensori Peter Zumthor dalam desain Sekolah Alam, dengan fokus pada elemen materialitas, pencahayaan alami, suara, aroma, dan tekstur ruang. Sekolah alam yang akan digunakan sebagai objek pengecekkan prinsip Peter Zumthor adalah sekolah alam yang berada pada Pulau Jawa, Lebih spesifiknya ada di kota Surabaya, Yogyakarta, Malang dan Krian. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, mencakup observasi lapangan, dan wawancara serta analisis terhadap elemen arsitektural yang terkait dengan prinsip Peter Zumthor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan prinsip multisensori dalam Sekolah Alam dapat meningkatkan kualitas pengalaman belajar siswa, menciptakan ruang yang lebih intuitif, nyaman, serta merangsang eksplorasi dan kreativitas. Elemen-elemen seperti penggunaan material alami, keterbukaan terhadap lingkungan, dan keberlanjutan desain berperan penting dalam mendukung prinsip multisensori yang diusung oleh Peter Zumthor. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perancangan sekolah berbasis alam yang lebih humanis dan memperkaya pengalaman belajar berbasis inderawi.
Guna dan citra sebagai wujud kreativitas dalam arsitektur nusantara: Studi kasus arsitektur Tongkonan Toraja, Mamasa dan Batak Toba Roosandriantini, Josephine
EMARA: Indonesian Journal of Architecture Vol. 6 No. 1 (2020): EIJA | August ~ October 2020 Edition
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29080/eija.v6i1.898

Abstract

Nusantara architecture, which is the result of creative ideas from the Nusantara people, tends to be created with simple materials and equipment. However, the Nusantara architecture, which comes with its ancient identity, does not mean that it has no creative value. This study explores the application of Mangunwijaya's "Use and Image" theory in seeing the form of creativity in Nusantara architecture. The data was collected through various literature reviews to conclude how the "Use and Image" theory was applied in Nusantara architecture. Two traditional architectural objects, namely the Tongkonan in Toraja and Mamasa, and the Batak Toba architecture were chosen as study objects. The study results show that the Guna aspect's application lies in the architectural details of the construction, the roof appearance, and materials function-related. Meanwhile, the application of image lies in describing the meaning associated with the building finishing. This further study strengthens the fact that Nusantara architecture is the result of the Nusantara creative ideas in adapting to geographical and climatic conditions
Penerapan Elemen dan Prinsip Desain Menurut David Lauer Pada Bangunan Art Science Museum Muthahari, Salman; Roosandriantini, Josephine
Jurnal Lingkungan Karya Arsitektur Vol. 5 No. 1 (2026): Architecture, Room, Structure, Material
Publisher : Darma Cendika Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37477/lkr.v5i1.874

Abstract

Penelitian ini menganalisis penerapan elemen dan prinsip desain menurut kerangka teori David A. Lauer pada bangunan ArtScience Museum di Marina Bay Sands, Singapura. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keunikan bentuk bangunan yang tidak hanya berfungsi sebagai institusi budaya, tetapi juga menjadi ikon arsitektural yang kuat. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan bagaimana elemen-elemen visual seperti bentuk, ruang, garis, tekstur, dan warna, serta prinsip-prinsip desain seperti kesatuan, keseimbangan, ritme, penekanan, dan proporsi, termanifestasi dalam desain museum tersebut. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis visual, di mana data diperoleh melalui observasi langsung terhadap bangunan dan studi literatur terkait. Hasil analisis menunjukkan bahwa desain ArtScience Museum yang menyerupai “teratai” secara konsisten menerapkan teori Lauer. Bentuk biomorfik yang organik menciptakan kesatuan dan keharmonisan dengan lingkungan perairan sekitarnya. Keseimbangan asimetris tercapai melalui komposisi “jari-jari” atau kelopak yang dinamis namun stabil. Ritme tercipta dari pengulangan bentuk kelopak dan struktur siripnya, sementara penekanan (fokus) secara alami tertuju pada bagian puncak dan atrium tengah yang dramatis. Proporsi dan skala bangunan yang monumental dikombinasikan dengan tekstur material beton dan kaca, serta permainan cahaya alami, memperkaya pengalaman visual. Simpulan penelitian mengonfirmasi bahwa keunggulan estetika dan daya tarik visual ArtScience Museum tidak terlepas dari penerapan elemen dan prinsip desain secara komprehensif dan terintegrasi, sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh David Lauer. Studi ini memberikan perspektif baru dalam menilai karya arsitektur ikonik melalui lensa teori desain dasar.
Penerapan Prinsip Desain Friedrich Silaban Pada Bangunan Masjid Istiqlal Stephanie Grimaldi, Gabriella; Roosandriantini, Josephine
Jurnal Lingkungan Karya Arsitektur Vol. 5 No. 1 (2026): Architecture, Room, Structure, Material
Publisher : Darma Cendika Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37477/lkr.v5i1.905

Abstract

Masjid Istiqlal merupakan mahakarya Friedrich Silaban, seorang arsitek Indonesia yang berhasil menciptakan bangunan ikonik dengan prinsip desain yang melampaui zamannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan prinsip-prinsip desain khas Friedrich Silaban pada bangunan Masjid Istiqlal, yang meliputi aspek proporsi geometris, responsivitas terhadap iklim tropis, serta sintesis antara nilai modernitas, nasionalisme, dan spiritualitas. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus, melalui observasi elemen arsitektural dan telaah dokumen historis bangunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Silaban menerapkan prinsip proporsi geometris yang sarat makna simbolis, terbukti pada diameter kubah 45 meter (melambangkan tahun 1945), tinggi menara 6.666 cm (merepresentasikan jumlah ayat Al-Qur'an), serta 12 tiang penyangga dan 5 lantai bangunan yang bermakna filosofis. Pada aspek tropis, Silaban mendesain plafon tinggi, koridor lebar, dan bukaan besar yang memungkinkan sirkulasi udara alami, menciptakan kenyamanan termal tanpa pendingin buatan. Sementara itu, sintesis modernitas, nasionalisme, dan spiritualitas terwujud melalui penggunaan bahasa arsitektur modern yang sederhana namun monumental, pemilihan nama dan simbol-simbol kebangsaan, serta integrasi nilai-nilai Islam secara fungsional dan simbolis. Ketiga prinsip tersebut saling terkait dan memperkuat, menjadikan Masjid Istiqlal sebagai karya arsitektur yang holistik dan visioner. Penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya khazanah arsitektur Nusantara dan menjadi landasan bagi perancangan masjid kontemporer yang berakar pada nilai-nilai lokal dan kearifan iklim tropis Indonesia.
Eksplorasi Spasial dan Pengalaman Pengguna dalam Penerapan Arsitektur Fungsionalisme pada Bangunan Spazio Surabaya Andika, Andreas; Roosandriantini, Josephine
Jurnal Lingkungan Karya Arsitektur Vol. 5 No. 1 (2026): Architecture, Room, Structure, Material
Publisher : Darma Cendika Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37477/lkr.v5i1.906

Abstract

Arsitektur Fungsionalisme, dengan semboyannya "form follows function", telah lama menjadi landasan dalam perancangan bangunan modern. Prinsip ini mengedepankan efisiensi dan kegunaan sebagai penentu utama bentuk arsitektur. Namun, sejauh mana penerapan prinsip fungsionalis tidak hanya menciptakan ruang yang efisien, tetapi juga membentuk pengalaman dan persepsi penggunanya? Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan arsitektur fungsionalisme pada bangunan komersial Spazio di Surabaya, dengan fokus utama pada bagaimana relasi antarruang yang tercipta memengaruhi pengalaman pengguna (pengunjung dan pelaku usaha). Menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan pendekatan studi kasus, penelitian ini melakukan observasi spasial, pemetaan perilaku, dan wawancara singkat dengan pengguna bangunan. Analisis difokuskan pada tata letak vertikal dan horizontal fungsi komersial (retail, F&B, hiburan), sirkulasi, serta elemen arsitektural seperti void, jembatan penghubung, dan materialitas. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Spazio Surabaya menginterpretasikan fungsionalisme secara dinamis. Efisiensi fungsi terwujud melalui zonasi vertikal yang jelas dan sirkulasi yang terintegrasi. Lebih dari sekadar efisiensi, relasi spasial yang tercipta—terutama melalui void sentral yang menghubungkan seluruh lantai dan permainan bidang transparan—mampu menciptakan pengalaman visual yang interaktif, rasa keterbukaan, dan orientasi ruang yang kuat bagi pengguna. Hal ini menghasilkan sebuah "fungsionalisme pengalaman", di mana desain yang berpusat pada fungsi justru secara tidak langsung membentuk kualitas pengalaman spasial yang kaya, memfasilitasi interaksi sosial, dan memperkuat identitas bangunan sebagai ruang publik di Surabaya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan fungsionalisme pada Spazio melampaui aspek tek semata dan berhasil menciptakan dialektika antara ruang, fungsi, dan pengalaman pengguna.
Penerapan Teori Bigness dan Programmatic Architecture pada Bangunan Seattle Central Library Moh Rizal; Josephine Roosandriantini
Jurnal Anggapa Vol 5 No 1 (2026): ANGGAPA Volume 5 No 1 April 2026
Publisher : Faculty of Engineering, Widya Kartika University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61293/anggapa.v5i1.925

Abstract

Perkembangan teknologi digital dan kompleksitas fungsi dalam arsitektur kontemporer menuntut pendekatan desain yang revolusioner. Jurnal ini membahas penerapan dua konsep arsitektural yang saling terkait, yaitu Teori Bigness yang diperkenalkan oleh Rem Koolhaas/OMA dan Arsitektur Programmatik (Programmatic Architecture), pada studi kasus Perpustakaan Pusat Seattle (Seattle Central Library). Melalui metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis, penelitian ini mengkaji bagaimana bangunan tersebut mewujudkan prinsip-prinsip inti Teori Bigness, seperti otonomi elemen, disintegrasi skala, dan ketidakterikatan antar bagian untuk menampung program yang sangat kompleks dan dinamis. Selanjutnya, jurnal ini menganalisis bagaimana kurasi dan organisasi program-program yang beragam (seperti ruang baca, koleksi, area publik, parkir, dan fasilitas administratif) tidak hanya memengaruhi bentuk dan sirkulasi, tetapi juga menciptakan pengalaman spasial yang baru dan tak terduga bagi pengunjung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Seattle Central Library merupakan manifestasi fisik dari sintesis antara teori dan pemrograman fungsional, di mana "bigness" memungkinkan terciptanya suatu "mesin sosial" yang efisien, fleksibel, dan ikonik. Kesimpulannya, penerapan kedua konsep ini berhasil mengangkat perpustakaan dari sekadar wadah buku menjadi sebuah landmark urban yang responsif terhadap tuntutan abad ke-21, sekaligus memberikan kontribusi signifikan terhadap wacana arsitektur terkini mengenai bangunan berskala besar dan berfungsi kompleks.
Akulturasi Arsitektur Kolonial terhadap Perbedaan Iklim di SDN Ditotruman Lumajang dan Rumah Dinas Bakorwil Madiun Roosandriantini, Josephine; Poernama, Jessica Aprilia; Setiawan, Ferdinard Hendra; Limantara, Krisnina Dohan
Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan Vol 21, No 1 (2023): Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan
Publisher : Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/arst.v21i1.62585

Abstract

The phenomenon of acculturation between Dutch and Indonesian cultures occurs a lot in colonial cultural heritage objects. This condition is a description of a Dutch building during the colonial period. Differences in climate are fundamental between the Netherlands and Indonesia, colonial buildings in Indonesia exist as a form of adaptation to the climate in Indonesia. Adaptations to colonial buildings in the form of openings, roof shapes, and ceiling heights. Acculturation can be seen in spatial patterns, and column shapes. The method in this study is descriptive qualitative, and data collection is a literature study related to colonial architecture. The objects in the field have colonial architectural characteristics in the exterior and interior elements. The purpose of this research is to analyze the architectural elements of colonial architecture in Indonesia. The results of the research can add insight into the forms of adaptation to climate in colonial architecture.
Co-Authors Alvin Widyadhana Kosman Amstrong Hayong, Emanuel Anas Hidayat Anas Hidayat Anas Hidayat Anas Hidayat, Anas Andika, Andreas Andriani, Celine Angelina Novemita Santoso Antonius Sachio Troy Wijaya Anugerah Putra, Heristama Bani Safari, Ilham Bryan Richard Bryan Richard Catherina Novita Ambarwati Celine Andriani Christela Oktaviani, Yohana D.C., Vebyola Indah Daniel Gentario Denny Jean Cross Sihombing Desrina Yusi. I Dessy Arfiyanti, Lusia Efandaru, James Febriyanti, Nurul Ferdinard Boli Ferdinard Hendra Setiawan Fernanda Yosefi Meilan Fransiska Maria Regina Handayani Asriningpuri Harianto, Yohanes Kristianus Hdayat, Anas Heristama Anugerah Putra Ibadi, Raden Mohamad Wisnu James Efandaru James Efandaru Jessica Aprilia Poernama Johana Raycia Aramus Putri Josef Prijotomo Kaesar Putra Wardhana, Odo Grean Kalvin Setiawan Salim Kharisma Ziliwu Krisnina Dohan Limantara Krisnina Dohan Limantara Limantara, Krisnina Dohan Lucia Ina Trisjanti Lucia Ina Trisjanti Lucia Ina Trisyanti Lutters, Emmanuelle Litania Mahdani, La Ode Meilan, Fernanda Yosefi Michel Dio Susanto Moh Rizal Moris, Diyan Muthahari, Salman Nia Yunia Lestari Odo Grean Kaesar Putra Wardhana Phoebe S.P., Bernadeth Chiquita Poernama, Jessica Aprilia Prabani Setio Hastorahmanto Regina, Fransiska Maria Richard, Bryan Seanivenna F. Hondo Selvia Devy Tiorma Setiadi, Widriyakara Setiadi, Y.A Widriyakara Setiawan, Ferdinard Hendra Setiawan, Valerio Sultan Agni Setiohastorahmanto, Prabani Siriman, Fernando Edward Stefanus Prabani Setio Stephanie Grimaldi, Gabriella Sultan Agni Setyawan, Valerio Utomo, Ariel Suryo Valerio Sultan Agni Wahyuningsih, Yulia Widriyakara Setiadi Widriyakara Setiadi Wijaya, Antonius Sachio Troy Y.A Widriyakara setiadi Y.A. Widriyakara S Y.A. Widriyakara Setiadi Y.A. Widriyakara Setiadi Yohanes Kristianus Harianto Yulia Wahyuningsih Yulistya, Yusnia Hanna Yuniardi, Dimas Yusnia Hanna Yulistya Yusnia Hanna Yulistya