Claim Missing Document
Check
Articles

PERTENTANGAN ANTARA CHRISTIAN SNOUCK HURGRONJE DAN JOHANES BENEDICTUS VAN HEUTSZ DALAM PENETAPAN KEBIJAKAN KOLONIALISME BELANDA DI ACEH (1898-1904) Irfan Dame; Teuku Junaidi; Sukirno Sukirno
SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Kependidikan Vol 1 No 1 (2014): Seuneubok Lada
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah - Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.586 KB)

Abstract

Johanes Benedictus van Heutsz menerapkan perang frontal yang kejam dan mulanya hal ini mendapatdukungan Christian Snouck Hurgronje. Namun Christian Snouck Hurgronje mengajukan perubahanstrategi penaklukkan dengan menerapkan kebijakan politik Asosiasi untuk meredam perlawanan rakyatAceh. Perbedaan pandangan antara Christian Snouck Hurgronje dan Johanes Benedictus van Heutsztelah dimulai dengan munculnya usulan politik asosiasi ini.Tujuan dalam penelitian ini adalah Untuk mengetahui latar belakang munculnya pertentangan antaraChristian Snouck Hurgronje dan Johanes Benedictus Johanes Benedictus van Heutsz dalam menetapkanKebijakan Kolonial Belanda di Aceh. Untuk mengetahui dampak terjadinya pertentangan dalam bidangPolitik, Militer dan Sosial di Aceh.Penelitian ini memperoleh hasil bahwa Yang melatarbelakangi pertentangan antara Christian SnouckHurgronje dan Johanes Benedictus van Heutsz adalah disebabkan oleh latar belakang profesi yangberbeda antara keduanya dimana Christian Snouck Hurgronje memiliki dasar profesi ilmuwan yangbekerja dalam bidang orientalisme. Sementara itu Johanes Benedictus van Heutsz memiliki dasar profesimiliter, keras, kejam, sadis adalah bagian dari konsep pemikirannya. Dampak dalam bidang Politikadalah munculnya perpecahan, politik saling meninggalkan, menjatuhkan antara keduanya. Dampakdalam bidang militer adalah merajalelanya agresifitas pasukan militer Belanda yang tidak terkontrol.Dampak dalam bidang sosial adalah munculnya suatu kondisi yang tidak aman bagi masyarakat Aceh.
MALAISE DAN PENGARUHNYA TERHADAP GERAKAN NASIONAL INDONESIA Teuku Junaidi; Bachtiar Akob
SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Kependidikan Vol 1 No 2 (2014): Seuneubok Lada
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah - Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.606 KB)

Abstract

Sepanjang sejarah perekonomian, malaise merupakan krisis ekonomi dunia yang memuncak pada tahun 1929 sebagai dampak dari Perang Dunia I (1914-1918). Hancurnya tatanan ekonomi dunia berdampak langsung terhadap Hindia Belanda, baik dalam bidang sosial, ekonomi, maupun politik. Fenomena ini berpengaruh pada organisasi-oerganisasi Pergerakan Nasional dalam melawan penguasa. Artikel ini menggunakan metode historis melalui penelahan bubu-buku yang dilakukan secara bertahap. Dari pengumpulan sumber, kritik sumber, interpretasi hingga historiografi. Terjadinya malaise dilatar belakangi oleh Perang Dunia I. Banyak negara menjadi miskin, lenyapnya daerah-daerah pemasaran, daya beli lemah, kelebihan produksi, dan pengangguran bertambah. Sejalan dengan peristiwa sejarah tentang inflansi ini mulailah krisis ekonomi melanda dunia. Di Indonesia, Fenomena ini dijadikan peluang oleh organisasi Pergerakan Nasional untuk menghimpun kaum buruh melakukan aksi-aksi politik sebagai bentuk perlawananan terhadap Pemerintah Hindia Belanda dalam mewujudkan Indonesia merdeka.
Landasan Futuralistik Pendidikan Abad 21: Menghadapi Tarik Menarik antara Modernisme dan Postmodernisme Teuku Junaidi
SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Kependidikan Vol 2 No 2 (2015): SEUNEUBOK LADA
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah - Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.003 KB)

Abstract

Modernisasi pada awalnya dianggap sesuatu yang wajar dan memiliki optimisme terhadap perbaikan sosial dan moral dengan bertumpu pada kebaikan ilmu pengetahuan dan teknologi (informasi), namun dalam perkembangnnya modernisasi mengakibatkan berbagai konsekuensi. Atas dasar konsekuensi-konsekuensi tersebut, modernisasi melahirkan gerakan yang menyebutnya dirinya sebagai postmodern. Modernism dan postmodern dalam perjalanan sejarah disebut sebagai pertumbuhan. Postmodern merupakan kelanjutan daari modernism. Namun para pemikir modernism kontemporer seperti Karl Popper, Houston Smith dan Habermas, tidak menganggap penting soal timbulnya gerakan postmodernisme. Mereka tetap yakin akan kekuatan gerakan modernisme bahwa : modernitas masih mampu membimbing kehidupan kontemporer sampai jangka waktu yang tidak bisa ditentukan. Sementara itu, postmodernisme merupakan antithesis dari modernisme. Pada abad 21 dalam kondisi pendataran dunia, kedua aliran ini terlibat tarik menarik kekuatan yang menyebabkan kebingungan individu dan masyarakat dunia. Dalam kondisi inilah, pendidikan diharapkan dapat membantu menyiapkan individu dunia untuk dapat bertahan dan turut mengambil bagian. Jalan yang dapat ditempuh bagi pendidikan adalah dengan merenungkan ulang atau menyiapkan landasan pendidikan yang bersifat futuralistik untuk menghadapi tarik menarik antara modernisme dan postmodernisme.
RAGAM HIAS ACEH Teuku Junaidi; Mufti Riyani
SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Kependidikan Vol 4 No 1 (2017): SEUNEUBOK LADA
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah - Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1302.336 KB)

Abstract

Ragam hias sebagai identitas budaya telah melalui proses lahir, tumbuh dan berkembang dengan tidak meninggalkan corak khas atau corak aslinya. Dalam sisi yang positif, perkembangan ini dapat menjadi indikator dinamisnya suatu kebudayaan. Pada sisi yang lain, perkembangan corak identitas dalam kurun waktu yang panjang, telah melahirkan gaya corak atau langgam-langgam baru. Perkembangan ragam hias identitas sebagai proses kreativitas dan persentuhan budaya, menuntut usaha untuk tetap menjaga dan melestarikan ragam hias dalam bentuknya yang asli. Penelitian ini bermaksud untuk menelusuri kembali ragam hias identitas pada Masyarakat Aceh khususnya masyarakat nelayan dan masyarakat peladang dengan local genius-nya masing-masing. Hasil penelitian menunjukan bahwa ragam hias identitas masyarakat nelayan dan Peladang dapat diamati melalui motif dasar yang berkembang pada wilayah geografis tersebut. Di wilayah pantai dengan pengaruh budaya islam yang lebih kuat maka untuk menghindari ikonoklasme, seni hias muncul dalam bentuk kaligrafi dan arabesk. Aarabesk merupakan pengembangan rasa keindahan yang bebas dari mitos alam dan dilakukan dengan mengembangkan pola-pola abstrak yang diambil dari pengolahan motif bunga-bungaan, daun-daunan dan poligon-poligon. Pada masayarakat peladang motif dasar yang ada selain menunjukan kekayaan geografis yang bersifat setempatan juga menunjukan motif alam yang didominasi dengan bentuk dasar awan dan bintang. Pemaknaan ragam hias banyak dihubungkan dengan tata nilai dan sistem adat yang berlaku dalam masyarakat peladang. Temuan di lapangan menunjukan pemanfaatan ragam hias pada produk ekonomi kreatif tidak menunjukan kekayaan ragam hias identitas pada masing-masing wilayah. Pengembangan motif diwilayah pesisir justru banyak mengambil motif dasar milik masyarakat peladang. Sehingga disarankan agar motif dasar pada masing-masing wilayah dapat dikonservasi melalui berbagai kegiatan.
KESENIAN BEJAMU SAMAN SEBAGAI SIMBOL PERSAHABATAN ANTAR KAMPUNG KECAMATAN PUTRI BETUNG KABUPATEN GAYO LUES Semah Semah; Teuku Junaidi; Madhan Anis
SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Kependidikan Vol 7 No 1 (2020): SEUNEUBOK LADA VOL 7 NOMOR 1 2020
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah - Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.817 KB) | DOI: 10.33059/jsnbl.v7i1.2245

Abstract

Bejamu Saman adalah sebuah acara kesenian masyarakat Gayo Lues, bejamu saman ini dilakukan dengan cara mengundang masyarakat kampung lain agar datang untuk sama-sama menampilkan tarian saman secara bergantian, namun dalam pelaksanaannya kedua kampung ini akan mempertunjukkan kehebatannya dalam memainkan saman secara bergantian. Tujuan diadakan acara bejamu saman dari dulu hingga kini adalah sebagai pemerkuat ikatan tali silaturrahmi antara sesama serinen saman, ikatan yang terjalin di acara bejamu saman bisa terjalin sangat kuat, ikatan bejamu saman tidak hanya terjadi diantara sesama serinen bejamu saman saja akan tetapi ikatan tersebut bisa berlangsung atau turun temurun kepada keluarga dari kedua serinen saman ini bahkan ke anak-anak mereka. Hal ini yang menyebabkan acara bejamu saman terus dilaksanakan di kampung-kampung di Kabupaten Gayo Lues hingga saat ini.
PERANAN ORGANISASI SANGGAR SENI RAMPAI TAMIANG DALAM PELESTARIAN KEBUDAYAAN MASYARAKAT ACEH TAMIANG (TAHUN 2003 – 2018) Dwi Annisa Fitri; Teuku Junaidi; Mufti Riyani
SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Kependidikan Vol 7 No 2 (2020): Jurnal Seuneubok Lada
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah - Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.836 KB) | DOI: 10.33059/jsnbl.v7i2.2263

Abstract

Kebudayaan tradisional dapat tetap bertahan dan bersaing dengan kebudayaan modern. Salah satu faktor pendukung yang dapat mempertahankannya yakni partisipasi masyarakat melalui organisasi pelestari budaya dan seni seperti halnya sanggar. Sanggar merupakan tempat bernaungnya kebudayaan yang ada di masyarakat. Aceh Tamiang memiliki sanggar “RAMPAI” yang merupakan akronim dari Riset Adat Melayu Peradaban Tamiang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejarah berdirinya Organisasi Sanggar Seni Rampai Tamiang dan peran Organisasi Sanggar Seni Rampai Tamiang dalam pelestarian kebudayaan masyarakat Aceh Tamiang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian historis terdiri dari 4 langkah yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Sumber yang digunakan adalah sumber primer berupa tuturan lisan para pelaku dan saksi sejarah yang terkait tema dan dokumen-dokumen serta dibantu dengan sumber sekunder lainnya yang berasal dari buku, jurnal dan bahan lainnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sejarah Organisasi Sanggar Seni Rampai berawal dari perkumpulan remaja mesjid yang dulunya mengikuti pekan remaja mesjid se-Aceh di Banda Aceh. Membawa nama Kabupaten Aceh Tamiang dari Kecamatan Seruway, remaja mesjid ini menampilkan adat yang berbentuk teater. Peristiwa tersebut merupakan toggak awal munculnya ide pendirian sanggar. Setelah berjalannya waktu tepatnya tanggal 22 Agustus 2003 perkumpulan remaja mesjid ini berkembang dan menjadi Organisasi Sanggar Seni yang bernama “Rampai Tamiang” merupakan singkatan dari Riset Adat Melayu Peradaban Budaya Tamiang dan sudah dilegalkan pada tanggal 14 Juli 2014. Peranan yang dilakukan Organisasi Sanggar Seni Rampai Tamiang dalam Pelestarian Kebudayaan Masyarakat Aceh Tamiang adalah dengan menjaga, merawat, mengembangkan dan menyebarkan kepada masyarakat Aceh Tamiang melalui pelatihan, pementasan, ajang perlombaan, riset kebudayaan, dan program edukasi.
Problematika dan Tantangan Pengembangan Industri Akuakultur di Desa Panembangan Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas dalam Mewujudkan Smart Fisheries Villages Taufik Budhi Pramono; Teuku Junaidi; Agung Cahyo Setyawan; Norman Arie Prayogo; Endang Hilmi; Hamdan Syakuri; Nur Wijayanti; Purwandaru Widyasunu; Undiono Undiono; Mas Yedi Sumaryadi
Proceedings Series on Physical & Formal Sciences Vol. 5 (2023): Prosiding Seminar Nasional Fakultas Pertanian dan Perikanan
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pspfs.v5i.717

Abstract

Salah satu strategi pengembangan industry akuakultur adalah dengan menerapkan program smart fisheries villages (SFV) di perdesaan. Pencapaian target dan indikator keberhasilan di lapangan tidaklah mudah, banyak problematika dan tantangannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis problematika dan tantangan desa Panembangan Kecamatan Cilongok Banyumas dalam mewujudkan smart fisheries villages. Pelaksanaan penelitian dilakukan dengan survey aktif. Penggalian informasi data primer dilakukan menggunakan kuisioner, wawancara mendalam dengan pemerintah desa, dinas perikanan dan peternakan, kelompok pembudidaya, kelompok pengolah pemasar, koperasi dan bumdes serta focus group discussion (FGD) dengan multi stakeholder. Problematika dan tantangan yang dijumpai antara lain pengembangan sumberdaya manusia, kelembagaan, teknologi, bisnis, ekonomi, infrastruktur, ekonomi dan lingkungan. Permasalahan yang dijumpai merupak masalah fundamental yang harus diselesaikan. Penyelesaian masalah dan menjawab tantangan SFV tersebut perlu dilakukan dengan beberapa strategi pengembangan yang komprehensif, terarah, dan terukur.
PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN PEMBUATAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIMEDIA INTERAKTIF DENGAN METODE DIGITAL STORY Muhammad Taufik Hidayat; Teuku Junaidi; Muhammad Yakob; Azrul Rizki; Nuriana Nuriana; Darwan Darwan
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 8 (2023): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v6i8.2649-2660

Abstract

Program ini bertujuan untuk memberikan pelatihan dan pendampingan pembuatan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif dengan metode digital story, Buku “Media Pembelajaran Digital Story Berbasis Kearifan Lokal” merupakan buku hasil kolaborasi antara guru dan tim pengusul yang memuat tentang perihal pembelajaran digital story. Hasil kajian dalam kegiatan pengabdian yang dilakukan bersama guru di MGMP dijadikan poin utama dalam buku sehingga permasalahan guru dalam pengajaran teks di sekolah dapat teratasi. Peserta pengabdian adalah 15 orang guru MGMP Bahasa Indonesia yang berada di Kota Langsa. Metode realisasi dan pelaksanaan kegiatan pengabdian dilakukan dengan 3 tahapan, yaitu tahap persiapan, tahap pelatihan penggunaan media digital story, dan tahap monitoring serta penilaian. Hasil yang diperoleh pada kegiatan ini adalah guru MGMP Bahasa Indonesia Tingkat M.A Kota Lanngsa memberikan respon yang positif dalam kegiatan ini dibuktikan dengan praktik digital story pada perkenalan teks prosedur dan teks narasi. Dari pelaksanaan kegitan program PKM ini dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan Media Digital Story sangat membantu guru dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia dan mudah diaplikasikan di dalam kelas.
PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN PEMANFAATAN PLATFORM MERDEKA MENGAJAR (PMM) BAGI GURU MGMP BAHASA INDONESIA TINGKAT MADRASAH ALIYAH KOTA LANGSA Muhammad Taufik Hidayat; Azrul Rizki; Teuku Junaidi; Nuriana Nuriana; Aisyah Aisyah
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 1 (2024): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v7i1.63-73

Abstract

Program ini bertujuan untuk memberikan pelatihan dan pendampingan pemanfaatan Platform Merdeka mengajar (PMM) bagi guru bahasa Indonesia di Kota Langsa khususnya di Madrasah Aliyah masih mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan media pembelajaran berbasis IT. Tujuan yang hendak dicapai dari kegiatan pengabdian ini adalah untuk meningkatkan kompetensi guru Bahasa Indonesia di Madrasah Aliyah dalam melaksanakan pembelajaran dengan media berbasis IT dengan memanfaatkan Platform Merdeka Mengajar (PMM) dalam langkah pembenahan yang sesuai kebutuhan peningkatan kualitas pembelajaran siswa dengan peningkatan rapot pendidikan. Mteri ini dianjurkan untuk seluruh satuan Pendidikan yang mengimplementasikan kurikulum Merdeka baik mandiri belajar, mandiri berubah, maupun mandiri berbagi. Peserta pengabdian ini berjumlah 17 orang. Pelaksanaan kegiatan pengabdian dilakukan melalui tiga Langkah yaitu persiapan, tahap pelatihan dalam penggunaan Platform Merdeka Mengajar, dan tahap pemantauan serta evaluasi. Hasil dari pelaksanaan program PKM ini menunjukkan bahwa pelatihan Pemanfaatan Platform Merdeka Mengajar memiliki manfaat besar dalam pembelajaran dapat dengan mudah.
Peningkatan Pemahaman Masyarakat dalam Membangun Konservasi Mangrove di Segara Anakan Cilacap Endang Hilmi; Norman Arie Prayogo; Teuku Junaidi; Arif Mahdiana; Rose Dewi; Lovine Khoirunisa
Jurnal Komunitas : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 6, No 1: Juli 2023
Publisher : Institut Ilmu Sosial dan Manajemen Stiami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31334/jks.v6i1.3376

Abstract

Communities in the Segara Anakan Lagoon area of Cilacap still do not firmly understand the services of mangrove ecosystems and the impacts that will occur due to the loss and destruction of mangrove ecosystems for people's lives, the sustainability of community economic activities, and the existence of habitat organisms in Segara Anakan. For this reason, it is necessary to conduct socialisation activities on the importance of mangrove ecosystems to maintain their ecosystem services through mangrove conservation activities. This activity was attended by fishermen, stakeholders, boat drivers, kerrang collectors, pond farmers, nipah craftsmen, nifah sugar makers, and so on. The socialisation resulted in an increased understanding of the importance of mangroves, mangrove ecosystem services, and the impacts that will occur if mangroves are damaged. For this reason, the community is also willing to conserve and rehabilitate mangrove ecosystems in Segara Anakan.  
Co-Authors ., Mauliza ., Nuriana Abdullah Abdullah Adiyanto, Fajar Agung Cahyo Setyawan Aisyah Aisyah Aisyah Aisyah Al Furqan, Al Furqan Aminuyati Amiruddin . Ani Suryanti Anis, Madhan Ardiyanto, Anjalli Tasha Arif Mahdiana Arif Mahdiana Arif Mahdiana, Arif Aristi Dian Purnama Fitri Aulia Rahman Azrul Rizki Azrul Rizki Bachtiar Akob Bella, Sita Bella Benny Diah Madusari Cahyo, Tri Nur Condro, Abi Damara, Risti Darwan Darwan Deby Sintiya Dwi Annisa Fitri Effendi, Desy Irafadillah Endang Hilmi Endang Hilmi Endang Hilmi Endang Hilmi Endang Hilmi Fianjani, Ajeng Sekar Fikriyya, Nabela Firdaus, Abdul Malik Hanif Harahap Hanifa, Irfan Hastuti, Dewi Wisudyanti Budi Hidayat, Muhammad Taufiq I Gede Suweda Anggana Putera Irfan Dame Jatmoko, Bambang Eko Lilik Kartika Sari Lilik Kartika Sari, Lilik Kartika Lovine Khoirunisa M. Haris Williansyah Madhan Anis Mahardhika Nur Permatasari Makhroji Mas Yedi Sumaryadi Mufti Riyani Muhamad Baedowi Muhammad Jafar Muhammad Taufik Hidayat Muhammad Taufik Hidayat Muhammad Taufik Hidayat, Muhammad Muhammad Yakob Muhammad Yakob Muhammad Yakob Muslih Muslih Nasikhah, Ais Lulu Norman Arie Prayogo Norman Arie Prayogo Norman Arie Prayogo Norman Arie Prayogo, Norman Arie Nuning Vita Hidayati Nur Wijayanti Nuriana Nuriana Nuriana Nuriana, Nuriana Nurmasyitah Okhaifi Prasetyo Philipus Uli Basa Hutabarat Purwandaru Widyasunu Putra, Rifky Raihady Danu Putri, Indah Karunia Raharja, Ferry Cahya Ramazan Ramazan Riyani, Mufti Rizkei Kurniawan Rizki, Azrul Rizkiana, Fidia Indah Rose Dewi Rose Dewi Rosyid MA, Ikhsan Salsabila, Sahda Saprudin Saprudin, Saprudin Sari, Fitra Amalia Semah Semah Sesilia Rani Samudra Setyawan, Agung Cahyo Situmorang, Sawitania Christiany Dwi Utami Boru Sri Marnani SRI RAHAYU Sugeng Hartono Sukirno Sukirno Suweda Anggana Putera, I Gede Syahrial Fuadi Syakuri, Hamdan Taufik Budhi Pramono Taufik Budhi Pramono Tri Nur Cahyo Undiono Undiono Usman Winarno, Gunardi Djoko Windiarta, Talitha Putri Wulan, Triana Sri Wulanda, Wulanda Yakob, Muhammad