Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

ROKAT PANḌHÂBÂ SEBAGAI PERTUNJUKAN BUDAYA MASYARAKAT MADURA DI KABUPATEN SUMENEP Rahayu, Eko Wahyuni; Ch.R., Wisma Nugraha; Kusmayati, A.M Hermien
GETER Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rokat pan?hâbâ adalah ritual tradisi dalam kehidupan masyarakat Madura yang diselenggarakan bagi orang pan?hâbâ, yaitu orang-orang yang kelahirannya identik dengan pandawa (Jawa: wong sukerta). Dalam mitos masyarakat Madura, orang-orang yang termasuk dalam kategori orang pan?hâbâ diyakini dalam perjalanan kehidupannya akan mendapatkan kesialan atau tertimpa kemalangan. Rokat pan?hâbâ dilaksanakan pada intinya bertujuan untuk membebaskan orang pan?hâbâ dari ancaman yang dapat mengganggu kehidupan, baik kehidupan secara individu maupun keluarga. Tulisan ini akan mengungkap keunikan penyelenggaraan rokat pan?hâbâ sebagai peristiwa budaya masyarakat Madura khususnya di wilayah Kabupaten Sumenep. Hasil analisis menunjukkan, bahwa pelaksanaan rokat pan?hâbâ dalam tradisi masyarakat Madura di Sumenep dilakukan dengan rangkaian bermacam ritual dan perlengkapan sesaji baik berupa bahan-bahan makanan yang masih mentah, makanan siap saji, perlengkapan rumah tangga dan perlengkapan busana, serta menghadirkan seni pertunjukan sebagai sarana ritual utama. Adapun rangkaian kegiatan ritual secara inti meliputi empat tahap yaitu, (1) pergelaran topèng ?hâlâng lakon Murwakala (Bathara Kala), (2) ritual bersuci, (3) ritual pembayaran ijab kabul, dan (4) ritual penebusan. Penyelenggaraan rokat pan?hâbâ dengan berbagai elemen pendukung dan segala tata cara pelaksanaannya merupakan gejala sosial atau sebuah peristiwa ?pertunjukan? atau lebih tepatnya sebagai ?pertunjukan budaya? sebagaimana yang terkonsepsikan oleh Milton Singer.Kata kunci: rokat pan?hâbâ, pertunjukan budaya, Madura.
ROKAT PANḌHÂBÂ SEBAGAI PERTUNJUKAN BUDAYA MASYARAKAT MADURA DI KABUPATEN SUMENEP Rahayu, Eko Wahyuni; Ch.R., Wisma Nugraha; Kusmayati, A.M Hermien
GETER Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/geter.v1n1.p9-22

Abstract

Rokat panḍhâbâ adalah ritual tradisi dalam kehidupan masyarakat Madura yang diselenggarakan bagi orang panḍhâbâ, yaitu orang-orang yang kelahirannya identik dengan pandawa (Jawa: wong sukerta). Dalam mitos masyarakat Madura, orang-orang yang termasuk dalam kategori orang panḍhâbâ diyakini dalam perjalanan kehidupannya akan mendapatkan kesialan atau tertimpa kemalangan. Rokat panḍhâbâ dilaksanakan pada intinya bertujuan untuk membebaskan orang panḍhâbâ dari ancaman yang dapat mengganggu kehidupan, baik kehidupan secara individu maupun keluarga. Tulisan ini akan mengungkap keunikan penyelenggaraan rokat panḍhâbâ sebagai peristiwa budaya masyarakat Madura khususnya di wilayah Kabupaten Sumenep. Hasil analisis menunjukkan, bahwa pelaksanaan rokat panḍhâbâ dalam tradisi masyarakat Madura di Sumenep dilakukan dengan rangkaian bermacam ritual dan perlengkapan sesaji baik berupa bahan-bahan makanan yang masih mentah, makanan siap saji, perlengkapan rumah tangga dan perlengkapan busana, serta menghadirkan seni pertunjukan sebagai sarana ritual utama. Adapun rangkaian kegiatan ritual secara inti meliputi empat tahap yaitu, (1) pergelaran topèng ḍhâlâng lakon Murwakala (Bathara Kala), (2) ritual bersuci, (3) ritual pembayaran ijab kabul, dan (4) ritual penebusan. Penyelenggaraan rokat panḍhâbâ dengan berbagai elemen pendukung dan segala tata cara pelaksanaannya merupakan gejala sosial atau sebuah peristiwa “pertunjukan” atau lebih tepatnya sebagai “pertunjukan budaya” sebagaimana yang terkonsepsikan oleh Milton Singer.Kata kunci: rokat panḍhâbâ, pertunjukan budaya, Madura.
KREATIVITAS JAJULAIDIK DALAM PENCIPTAAN KARYA TARI BANYUWANGI Anggraini, Estu Candra; Rahayu, Eko Wahyuni; Yuwana, Setya; Sabri, Indar; Suryandoko, Welly
Joged Vol 23, No 2 (2024): OKTOBER 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v23i2.14161

Abstract

RINGKASANProses berkarya seorang seniman tidak akan terpisah dari sebuah proses kreativitas. Jajulaidik merupakan salah satu seniman Banyuwangi yang dikenal akan konsistensi dan kreativitasnya dalam menciptakan karya tari kreasi yang bersumber dari tradisi dan nilai kearifan lokal Banyuwangi. Karya dan sanggar seninya sering mewakili Banyuwangi dan menjuarai berbagai kompetisi tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional. Sebagai seniman Banyuwangi yang sudah berpengalaman, menarik minat peneliti untuk mengkaji tentang biografi, prestasi karya tari, proses kreatif, dan konsep kekaryaan Jajulaidik. Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan penelitian ini tentunya untuk mendeskripsikan dan menganalisis lebih dalam terkait biografi, prestasi karya tari, proses kreatif, dan konsep kekaryaan dari Jajulaidik. Hal ini akan dikaji menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif beserta pendekatan fenomenologi. Didukung dengan teknik pengumpulan berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitiannya yaitu kreativitas dan penghayatannya dalam berkarya telah membawa karyanya memperoleh berbagai kejuaraan di tingkat kabupaten, provinsi, dan nasional. Konsistensi berkaryanya di bidang seni pertunjukan juga membawa Jajulaidik diamanahi untuk mengemban berbagai tanggung jawab di beberapa pertunjukan yang ada di Banyuwangi. Potensi seni yang ada dalam dirinya juga dipengaruhi oleh faktor genetik keluarganya. ABSTRACT Jajulaidik’s Creativity in Banyuwangi Dance Creation. The creative process of an artist cannot be separated from the creative process. Jajulaidik is one of the Banyuwangi artists who is known for his consistency and creativity in creating creative dance works that originate from the traditions and values of local Banyuwangi wisdom. His works and art studios often represent Banyuwangi and win various district, such a provincial and national competitions. As an experienced Banyuwangi artist, it attractedresearcher’s interest in studying Jajulaidik's biography, dance performance, creative process and concept of work. Based on the problem formulation, the aim of this research is of course to describe and analyse more deeply the biography, dance achievements, creative process and concept of Jajulaidik's work. This will be studied using descriptive qualitative research methods along with a phenomenological approach. The data collection techniques in the form are observation, interviews and documentation. The results of his research are his creativity and appreciation for his work, have brought his work to various championships at district, provincial and national levels. The consistency of his work in the field of performing arts has also led to Jajulaidik being entrusted with various responsibilities in several performances in Banyuwangi. His artistic potential is also influenced by his family's genetic factors.
Kecerdasan Musikal melalui Multimedia sebagai Stimulan Aspek Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini Wicaksono, Pramudya Arif; Rahayu, Eko Wahyuni
Journal of Islamic Education for Early Childhood Vol. 7 No. 1 (2025): Volume 7, No 1 (2025) JIEEC : Journal of Islamic Education for Early Childhood
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/jieec.v7i1.9216

Abstract

Abstrak Istilah "PAUD" mulai dikenal secara resmi pada kisaran tahun 2000 ketika pemerintah Indonesia mengadopsi program pendidikan Anak Usia Dini yang lebih terpadu. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengakui PAUD sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. Dalam Pasal 28, disebutkan bahwa PAUD adalah pendidikan yang ditujukan kepada anak sejak lahir hingga usia enam tahun. Penelitian ini dikaji dalam perspektif sejarah pendidikan melalui metode observasi dan wawancara. Data deskriptif didapatka dengan tujuan untuk pendataan solusi terkait dinamika pendidikan non formal khususnya jalur pendidikan Satuan PAUD Sejenis (SPS) dalam tantangan kontemporer. Dengan harapan emoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan terkhusus bagi para pemberi kebijakan untuk perbaikan pendidikan non formal khususnya SPS demi Indonesia Maju. Kata Kunci : Sejarah, tantangan kontemporerl, Pendidikan non formal PAUD-SPS yg
Kolaborasi seniman dan kecerdasan buatan (AI) dalam membangkitkan gelombang kreativitas di era revolusi seni digital Anggraini, Devi; Handayaningrum, Warih; Rahayu, Eko Wahyuni; Suryandoko, Welly; Sabri, Indar
Imaji: Jurnal Seni dan Pendidikan Seni Vol. 22 No. 2 (2024): October
Publisher : FBSB UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/imaji.v22i2.69734

Abstract

Dunia seni telah berubah secara signifikan akibat dari kemajuan teknologi, khususnya dalam bidang kecerdasan buatan/artificial intelligence (AI). Seniman melihat teknologi sebagai alat yang dapat membantu dalam proses kreatif. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis bagaimana dampak kehadiran AI dalam membangkitkan gelombang kreatif di era revolusi seni digital, ditinjau dari algoritma yang digunakan AI, pemanfaatan AI sebagai pendukung munculnya kreatifitas, hingga pemanfaatan AI sebagai media seniman dalam proses kreatif. Metode penelitian menggunakan studi literatur dengan analisis data dari berbagai literatur yang relevan terkait seniman dan AI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seniman dan AI telah berkolaborasi untuk menghasilkan gelombang kreatif yang mengubah dunia seni. Misalnya, AI dapat membantu seniman memahami preferensi audiens, menganalisis tren seni, atau bahkan membuat karya seni yang dapat berinteraksi dengan masyarakat dengan memanfaatkan teknologi modern seperti AR atau VR. Kolaborasi ini memberikan akses seniman untuk mengeksplorasi konsep dan ekspresi yang sebelumnya belum atau sulit dicapai. Dengan adanya AI, proses kreatif menjadi lebih mudah, dan memungkinkan seniman untuk melihat seni dengan cara yang lebih kontekstual serta berkelanjutan. Seniman dapat menciptakan karya yang relevan dan resonan di tengah dinamika masyarakat digital dengan merespons secara dinamis terhadap perubahan budaya dan sosial berdasarkan algoritma dan data.Kata kunci: Kecerdasan buatan (AI), kreativitas, seniman, seni digital Collaboration between Artists and Artificial Intelligence (AI)in Generating a Wave of Creativity in the Era of Digital Art Revolution AbstractThe art world has changed significantly as a result of technological advancements, particularly in the field of artificial intelligence (AI). Contemporary artists see technology as a tool that can assist in the creative process. The purpose of this research is to analyze the impact of AI in generating creative waves in the era of the digital art revolution, in terms of the algorithms used by AI, the use of AI as a support for the emergence of creativity, and the use of AI as a medium for artists in the creative process. The research method uses a literature study with data analysis from various relevant literature related to artists and AI. The results showed that artists and AI have collaborated to produce creative waves that change the art world. For example, AI can help artists understand audience preferences, analyze art trends, or even create artworks that can interact with society by utilizing modern technologies such as AR or VR. This collaboration gives artists access to explore concepts and expressions that were previously unattainable or difficult to achieve. With AI, the creative process becomes easier, and allows artists to look at art in a more contextualized and sustainable way. Artists can create work that is relevant and resonant in a dynamic digital society by responding dynamically to cultural and social changes based on algorithms and data.Keywords: Artificial Intelligence (AI), creativity, artists, digital art
Proses Mewarnai Gambar Oleh Siswa Tunagrahita:: Tinjauan Psikoanalisis Saputri, Supeni; Handayaningrum, Warih; Rahayu, Eko Wahyuni
CILPA Vol 9 No 2 (2024): July
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v9i2.16574

Abstract

Abstrak Penelitian ini menjelaskan pentingnya pendidikan seni dalam pengembangan kreativitas siswa tunagrahita. Pendidikan seni memberikan ruang ekspresi dan pertumbuhan emosional yang vital bagi siswa berkebutuhan khusus. Psikoanalisis, terutama konsep ketidaksadaran dan dinamika psikologis menjadi landasan dalam memahami sumber daya kreativitas manusia, terutama dalam konteks seni. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus pada siswa SLBN Gedangan Sidoarjo yang terlibat dalam kelas mewarnai. Hasilnya menunjukkan bahwa setiap siswa tunagrahita mengekspresikan kreativitasnya dengan karakteristik yang unik. Ada yang memilih warna secara acak, ada yang menunjukkan preferensi warna yang cerah sesuai dengan kepribadiannya yang ceria. Bahkan ada yang lebih suka menggambar saja tanpa mau mewarnai. Temuan ini menekankan bahwa pendidikan seni bukan hanya tentang hasil akhir dari karya seni, tetpai juga tentang proses kreatif yang memengaruhi perkembangana siswa secara menyeluruh. Ini menegaskan bahwa melalui seni dan pemahaman psikoanalisis, pendidikan seni dapat menjadi sarana penting untuk meningkatkan ekspresi diri, interaksi sosial, dan pengembangan keterampilan siswa tunagrahtia dalam konteks psikomotorik mereka. Abstract This research explains the importance of arts education in developing the creativity of students with intellectual disabilities. Arts education provides a vital space for emotional expression and growth for students with special needs. Psychoanalysis, especially the concepts of the unconscious and psychological dynamics, is the basis for understanding the resources of human creativity, especially in the context of art. This research uses a qualitative method with a case study approach on SLBN Gedangan Sidoarjo students who are involved in coloring classes. The results show that each mentally retarded student expresses his creativity with unique characteristics. Some choose colors at random, while others show a preference for bright colors to suit their cheerful personality. There are even those who prefer to just draw without coloring. These findings emphasize that arts education is not only about the end result of the work of art, but also about the creative process that influences students' overall development. This confirms that through art and psychoanalytic understanding, arts education can be an important means to improve self-expression, social interaction, and skill development of students with intellectual disabilities in their psychomotor context.
Proses Mewarnai Gambar Oleh Siswa Tunagrahita:: Tinjauan Psikoanalisis Saputri, Supeni; Handayaningrum, Warih; Rahayu, Eko Wahyuni
CILPA Vol 9 No 2 (2024): July
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v9i2.16574

Abstract

Abstrak Penelitian ini menjelaskan pentingnya pendidikan seni dalam pengembangan kreativitas siswa tunagrahita. Pendidikan seni memberikan ruang ekspresi dan pertumbuhan emosional yang vital bagi siswa berkebutuhan khusus. Psikoanalisis, terutama konsep ketidaksadaran dan dinamika psikologis menjadi landasan dalam memahami sumber daya kreativitas manusia, terutama dalam konteks seni. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus pada siswa SLBN Gedangan Sidoarjo yang terlibat dalam kelas mewarnai. Hasilnya menunjukkan bahwa setiap siswa tunagrahita mengekspresikan kreativitasnya dengan karakteristik yang unik. Ada yang memilih warna secara acak, ada yang menunjukkan preferensi warna yang cerah sesuai dengan kepribadiannya yang ceria. Bahkan ada yang lebih suka menggambar saja tanpa mau mewarnai. Temuan ini menekankan bahwa pendidikan seni bukan hanya tentang hasil akhir dari karya seni, tetpai juga tentang proses kreatif yang memengaruhi perkembangana siswa secara menyeluruh. Ini menegaskan bahwa melalui seni dan pemahaman psikoanalisis, pendidikan seni dapat menjadi sarana penting untuk meningkatkan ekspresi diri, interaksi sosial, dan pengembangan keterampilan siswa tunagrahtia dalam konteks psikomotorik mereka. Abstract This research explains the importance of arts education in developing the creativity of students with intellectual disabilities. Arts education provides a vital space for emotional expression and growth for students with special needs. Psychoanalysis, especially the concepts of the unconscious and psychological dynamics, is the basis for understanding the resources of human creativity, especially in the context of art. This research uses a qualitative method with a case study approach on SLBN Gedangan Sidoarjo students who are involved in coloring classes. The results show that each mentally retarded student expresses his creativity with unique characteristics. Some choose colors at random, while others show a preference for bright colors to suit their cheerful personality. There are even those who prefer to just draw without coloring. These findings emphasize that arts education is not only about the end result of the work of art, but also about the creative process that influences students' overall development. This confirms that through art and psychoanalytic understanding, arts education can be an important means to improve self-expression, social interaction, and skill development of students with intellectual disabilities in their psychomotor context.
Instrumen Saron dan Angklung (Sarlung) sebagai Proses Kreatif di Komunitas O.M.C Production Banyuwangi Alhaqqi, Soumi Aulia; Handayaningrum, Warih; Rahayu, Eko Wahyuni; Sabri, Indar
Grenek: Jurnal Seni Musik Vol. 14 No. 1 (2025): Grenek: Jurnal Seni Musik (June)
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/grenek.v14i1.65649

Abstract

Sarlung adalah alat musik dolanan yang terbuat dari bambu berbentuk seperti saron. Proses kreatif dalam pembuatan alat musik Sarlung melibatkan serangkaian langkah yang kompleks, yang tidak hanya menggabungkan keterampilan teknis tetapi juga imajinasi dan inovasi. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap tahapan-tahapan dalam proses kreatif pembuatan alat musik Sarlung di komunitas O.M.C Production, dengan mengacu pada teori-teori kreativitas seperti yang diajukan oleh Graham Wallas. Dimulai dengan tahap persiapan (preparation), yaitu riset dan pengumpulan informasi tentang bahan, desain, dan prinsip dasar suara, dilanjutkan dengan tahap inkubasi (incubation) yang melibatkan pemikiran bawah sadar yang memunculkan solusi kreatif. Tahap berikutnya adalah iluminasi (illumination), di mana ide-ide baru muncul secara tiba-tiba, dan diakhiri dengan verifikasi (verification), yang menguji dan menyempurnakan ide melalui eksperimen dan pengujian praktis. Penekanan pada integrasi pengetahuan teknis, kreativitas musikal, serta motivasi eksplorasi memungkinkan penciptaan alat musik yang tidak hanya fungsional tetapi juga inovatif. Artikel ini juga membahas bagaimana proses kreatif dalam pembuatan alat musik dapat berkontribusi pada perkembangan dunia musik, serta pentingnya peran eksperimen dan refleksi dalam menghasilkan karya yang orisinal.
Social Construction of Dangdut Lamongan: Identity and Performance of Dangdut Lamongan Setiyawan, Dimas Bagus; Juwariyah, Anik; Rahayu, Eko Wahyuni
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya Vol. 9 No. 1 (2025): GONDANG: JURNAL SENI DAN BUDAYA, JUNE 2025
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gondang.v9i1.63759

Abstract

Lamongan has two different characteristics based on its territory, namely the North dominated by the culture of the Islamic Mataram Kingdom and Demak Kingdom, and South Parts dominated by Ancient Mataram culture. This cultural diversity has a significant impact on the development of dangdut music in Lamongan. This study was carried out to determine the characteristics of dangdut music in Lamongan based on the cultural backgrounds and the characteristics of the people in each region. The method used in this study is a qualitative approach with phenomenology and social construction methods. The results of this study show how public construction is formed through thought that produces a social construction. The social construction process of dangdut Lamongan music can be seen through three stages, namely internalization, objectification, and externalization. Internalization occurs when a culture are penetrated on dangdut music, adopted and becoming part of the social identity of society. The music not only represents entertainment but also cultural values and social norms lowered from generation to generation. Objektivication is visible in objective elements such as musical instruments, and stage performances which form the typical identity of the dangdut Lamongan. Musical instruments such as drum, suling and electronic musical elements in modern dangdut collaborate with traditional musical instruments. Finally, Externalization occurs when people create in accordance with the form of serving their respective regions. Through the three processes, dangdut music in Lamongan becomes a social space where people interact, communicate, and reinforce their cultural identity through music.
TEKNIK SULAM FANTASI KARYA SENIMAN VERA SHIMUNIA 2017 – 2025 TERHADAP ESTETIKA BENTUK Adawiyah, Saffa’ Rabi’atul; Mariasa, I Nengah; Rahayu, Eko Wahyuni; Trisakti, Trisakti
Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa Vol. 17 No. 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/brikolase.v17i1.7087

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi karya sulam fantasi Vera Shimunia dengan fokus pada penggunaan teknik sulam modern dan penerapan nilai budaya dalam karya seni tekstil kontemporer. Mengintegrasikan teknik tradisional dengan elemen-elemen kontemporer dalam menciptakan karya yang relevan dengan perkembangan seni saat ini. Konteks masalahnya berkaitan dengan perkembangan seni sulam dalam dunia digital dan media sosial, serta perannya dalam pendidikan budaya dan ekonomi kreatif. Penelitian ini berposisi pada analisis estetika dan sosial dari karya Vera Shimunia, dengan pendekatan kualitatif melalui kajian visual dan wawancara terkait proses kreatif seniman. Pembahasan dilakukan dengan mengidentifikasi teknik sulam yang digunakan, serta mengkaji dampak karya tersebut terhadap penikmat dan kontribusinya terhadap seni tekstil modern. Hasil penelitian ini menunjukkan penggabungan teknik tradisional dengan inovasi yang sesuai dengan perkembangan zaman, menciptakan karya yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi memberi dampak sosial yang signifikan dalam memperkenalkan budaya dan membuka peluang ekonomi kreatif. Selain itu, penggunaan media sosial sebagai platform untuk memperkenalkan karya-karyanya memberikan kontribusi dalam penyebaran apresiasi terhadap seni tekstil kontemporer.