Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

IDENTIFIKASI PROFIL ASAM AMINO DAN LEMAK BLACK SOLDIER FLY LARVAE MENGGUNAKAN PAKAN BUNGKIL DAN SISA MAKANAN Zuliyan Agus Nur Muchlis Majid; Linda Rahmawati; Novianti Adi Rohmanna
Jurnal Teknologi Industri Pertanian Vol. 33 No. 1 (2023): Jurnal Teknologi Industri Pertanian
Publisher : Department of Agroindustrial Technology, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

As the world's largest palm oil producer, Indonesia has enormous potential for producing palm kernel expeller waste. Only 7% of Indonesia's palm kernel expeller (PKE) is processed into animal feed. It is necessary to utilize both wastes from palm oil processing and the workers' environment to support certification in palm oil plantations. This research aims to identify amino acid and lipid profile, total protein, fat, feeding rate, and survival rate BSFL using a palm kernel expeller for feed. The feed experiment in this research was PKE, fermented PKE, PKE with food waste, and fermented PKE with food waste as a control. The optimum result was fermented PKE with food waste with a protein total of 51.45%. Using BSFL for feed should have high protein content and low fat. The fat of BSFL fermented PKE with food waste is lower than BSFL with food waste. The feeding rate, survival rate, and BSFL mass are lower than BSFL with food waste. BSFL has the potential to reduce PKE waste and domestic food waste. The amino acid profile of BSFL PKE with household food waste consists of L-Glutamic Acid, L-Leucine, L-Arginine, L-Tyrosine, L-Valine, and L-Phenylalanine. L-Glutamic acid was the highest amino Acid in BSFL (36.396 g/kg). The type of amino Acid in BSFL is suitable for animal feed. The lipids in BSFL PKE with household food waste are lauric acid, oleic acid, unsaturated fat, monounsaturated fat, palmitic acid, myristic acid, and linoleic acid. The highest content of lipids is lauric acid (12.126%). The type of fat in BSFL can be used to produce biodiesel. Keywords: black soldier fly larvae, palm kernel expeller, amino acid profile, fat profile, household food waste
Introduksi Bahaya Penggunaan Pestisida Dan Pemanfaatan Daun Sirsak Sebagai Biopestisida Pada Masyarakat Palam Novianti Adi Rohmanna; Rila Rahma Apriani; Nurlaila Nurlaila; Nukhak Nufita Sari; Hikma Ellya; Rony Mulyawan; Zuliyan Agus Nur Muchlis Majid
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 8 No. 2 (2023): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v8i2.1197

Abstract

Desa Palam merupakan salah satu kecamatan Cempaka yang memiliki banyak rumah tangga petani, dan sebagian besar mata pencaharian masyarakatnya adalah petani. Pertanian menjadi salah satu sektor penting dalam menjaga stabilitas ketersediaan pangan. Permasalahan yang dihadapi oleh petani desa Palam adalah serangan hama dan penyakit tanaman. Hal tersebut mengakibatkan kerugian besar bagi. Untuk mengatasi hal tersebut, petani menggunakan pestisida kimia. Kegiatan pemberdayaan dilakukan untuk mengedukasi bahaya penggunaan pestisida kimia dan memperkenalkan daun sirsak sebagai bahan baku biopestisida. Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Juli 2021 di desa Palam, Kecamatan Cempaka, Banjarbaru dan melibatkan sekitar 20 peserta. Kegiatan ini terdiri dari 3 tahap yaitu tahap input (pendataan), proses (sosialisasi dan pendistribusian benih sirsak), dan tahap output. Hasil program menunjukkan bahwa indikator kegiatan telah tercapai. Setelah diberikan sosialisasi, sebanyak 90% peserta menjadi lebih memahami akan bahaya pestisida kimia terhadap lingkungan dan kesehatan. Selain itu, petani juga mengetahui potensi daun sirsak sebagai biopestisida. Kegiatan ini diharapkan dapat berkelanjutan dan mendapatkan pendampingan lebih intensif dari pemerintah. Introduction Of Pesticide Hazard And Utilization Of Soursop Leaves As Biopesticide In The Palam Society Palam Village is one of the Cempaka sub-districts, which has many farmer households, and most of the people's livelihoods are farmers. Agriculture is one of the crucial sectors in supporting the stability of food availability. Pests and plant diseases are a problem for farmers. It resulted in significant losses. To overcome this, farmers use chemical pesticides. Empowerment programs are carried out to educate the hazards of using chemical pesticides and introduce soursop leaves as biopesticides. This activity was held in July 2021 in Palam village, Cempaka district, Banjarbaru, and involved about 20 participants. This activity consists of 3 stages: the input stage (data collection), the process (socialization and distribution of soursop seeds), and the output stage. The results of the program indicate that the activity indicators have been achieved. After being given socialization, 90% audiens become more aware of the hazards of chemical pesticides to the environment and health. In addition, farmers also know the potential of soursop leaves as a biopesticide. This activity is expected to be sustainable and get more intensive assistance from the government.
Analisis pertumbuhan dan kemampuan reduksi limbah larva tentara hitam (Hermetia illucens) pada solid decanter, ampas kelapa, ampas sagu, dan limbah sisa makanan Novianti Adi Rohmanna; Dessy Maulidya Maharani; Zuliyan Agus Nur Muchlis Majid
AGROINTEK Vol 17, No 3 (2023)
Publisher : Agroindustrial Technology, University of Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrointek.v17i3.15598

Abstract

BSF larvae were the agents capable of breaking down large amounts of organic waste. These larvae were known to reduce organic waste effectively and produced larval biomass. The substrate type was one of the factors that could affect the larvae's performance. This study aimed to determine the effect of the type of substrate or organic waste on the growth and waste reduction performance of larvae. Larvae were reared for ten days on several organic wastes, including food waste, solid decanter, coconut pulp, and sago pulp. The growth rate, bioconversion rate, waste reduction index, and feed conversion ratio were analyzed. The larvae with the best reduction performance were then analyzed for protein and fat on days 7 and 10. The results showed that BSF larvae in food waste showed more growth than in other wastes. BSF larvae in food waste showed a high waste reduction performance, while BSF larvae in solid decanter showed poor waste reduction performance. The BSF larval biomass in food waste contained high levels of protein and fat (38.94 % and 42.86 %, respectively).
The potential source of natural antioxidant agent of Casia alata microgreen Novianti Adi Rohmanna; Ronny Mulyawan; Zuliyan Agus Nur Muchlis Majid
Agrovigor Vol 16, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrovigor.v16i2.19853

Abstract

Commonly, plant was cultivated by microgreen have potentially source of natural antioxidant agents. This study was conducted to utilize Cassia alata (C. alata) as a microgreen and evaluated the potential of Microgreen gelinggang as the source of natural antioxidant agents. The seed of Cassia alata was cultivated in Rockwool at room temperature (27±1oC). At the appearance of the first true leaves, about 21 days, microgreens were harvested from a triplicate of trays with sterilized scissors. The antioxidant activity assay using the DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) radical scavenging activity method. It was analyzed using spectrophotometry UV-VIS. The result showed that the IC50 values of Microgreen gelinggang were 1.789x103 ±0.0  µg/mL. It was a weak category antioxidant. This study indicated that the extract of Microgreen gelinggang has a potential source of natural antioxidant agents.
Pemberdayaan Kelompok Budidaya ikan Melalui Pembuatan Pelet Mandiri Berbasis Black Soldier Fly Larva Alan Dwi Wibowo; Novianti Adi Rohmanna; Zuliyan Agus Nur Muchlis Majid; Anida Anida; Musthafa Gyats; Muhammad Zaini; Dea Azizah Widyasari
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 8 No. 3 (2023): September
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v8i3.1415

Abstract

Limbah rumah tangga, khususunya sampah makanan merupakan salah satu sumber pencemar lingkungan. Pengelolaan sampah makanan dengan menggunakan BSFL dapat menjadi salah satu alternatif pengelolaan sampah organik. Disisi lain, proses biokonversi limbah organik menghasilkan biomassa serangga yang mengandung protein dan lemak cukup tinggi. Tujuan dari pengabdian ini adalah memberdayakan kelompok budidaya ikan melalui pengelolaan limbah sisa makanan dengan BSFL (black soldier fly larva) untuk dihasilkan pelet ikan. Pellet yang dihasilkan dapat menjadi alternatif pakan ikan. Kegiatan ini dilaksanakan di Kelurahan Syamsudin Noor, Landasan Ulin, Kalimantan Selatan. Kegiatan melibatkan 20 orang dari kelompok budidaya ikan. Tahapan kegiatan pengabdian dari Identifikasi masalah atau kebutuhan, analisis kebutuhan, persiapan kegiatan, pelaksanaan kegiatan, serta pendampingan dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pengelolaan limbah organik untuk dihasilkan bahan baku produksi pelet. Para petani ikan juga mampu melakukan produksi pelet mandiri dengan memanfaatkan biomassa BSFL. Empowerment of Fish Farming Groups Through Pellets Production Using Black Soldier Fly Larvae Household waste, especially food waste, was a source of environmental pollution. Food waste management using BSFL can be an alternative to organic waste treatment. Furthermore, it produced insect biomass high in protein and fat. This study aimed to authorize fish farming groups by food waste treatment using BSFL (black soldier fly larvae) to produce fish pellets. The pellet was used as alternative fishmeal. This activity was conducted in Syamsudin Noor Village, Landasan Ulin, South Kalimantan, and involved 20 farmers. The activity stage involved problem identification, needs analysis, preparation, implementation, assistance, and evaluation. The activity increased the community's knowledge and skills in managing organic waste to produce feedstock for pellet production. Fish farmers are also able to produce pellets using BSFL biomass.
Efikasi Asap Cair Hasil Pirolisis Pelepah Sawit untuk Pengendalian Kutu Kebul dan Pengaruhnya Terhadap Tanaman Cabai Merah Mila Lukmana; Linda Rahmawati; Isna Fazria; Indriani; Herry Iswahyudi; Zuliyan Agus Nur Muchlis Majid; Muhammad Helmy Abdillah
Agriprima : Journal of Applied Agricultural Sciences Vol 7 No 2 (2023): SEPTEMBER
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/agriprima.v7i2.517

Abstract

Bemisia tabaci Genn merupakan vektor hama begomovirus CMV, TMV, ChiVMV, PepYLCV pada tanaman cabai. Berbagai penelitian telah memastikan efektivitas asap cair menurunkan jumlah serangga dan mampu mengendalikan kerusakan yang diakibatkannya. Pelepah kelapa sawit merupakan bahan baku lokal yang melimpah yang dapat dipirolisis menjadi asap cair dan diduga dapat mengendalikan intensitas serangan serangga pada tanaman cabai. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh asap cair pelepah kelapa sawit terhadap jumlah nimfa kutu kebul, intensitas serangannya terhadap tanaman, mengetahui pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman, dan mengetahui hubungan dosis pemberian asap cair terhadap ketahanan tanaman. Penelitian ini dilakukan dalam rancangan acak lengkap dengan 32 percobaan ulangan di dalam screen UV Politeknik Hasnur dari Desember 2021 hingga Mei 2022. Analisis data menggunakan model uji Tukey's HSD dengan 5% α. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 15 mL per 1000 mL asap cair yang terbuat dari pelepah sawit mengurangi jumlah nimfa dan intensitas serangan, tetapi pertumbuhan tanaman menjadi tercekam dengan korelasi negatif (R2 = 35%) terhadap ketahanan tanaman pada setiap peningkatan dosis. Hasil ini menunjukkan bahwa penerapan asap cair harus bersentuhan langsung dengan organisme pengganggu tumbuhan.
The Potential Source of Natural Antioxidant Agent of Cassia alata Microgreen Rohmanna, Novianti Adi; Mulyawan, Ronny; Majid, Zuliyan Agus Nur Muchlis; Afrina, Dina
Journal of Applied Food Technology Vol 9, No 1 (2022)
Publisher : Dept. Food Technology, Faculty of Animal and Agricultural Sciences, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17728/jaft.11062

Abstract

This study aimed to utilize Cassia alata (C. alata) as a microgreen and evaluate its potential as a source of natural antioxidant agents. The seeds of Cassia alata were cultivated in Rockwool at room temperature (27±1oC). Uppon the appearance of the first true leaves, approximately 21 days after planting, microgreens were harvested from triplicate trays using sterilized scissors. The antioxidant activity was assessed using the DPPH radical scavenging activity method and analyzed via UV-VIS spectrophotometry. The results showed that the IC50 values of C. alata microgreens was 1.789x103 µg/mL, categorizing it as a weak antioxidant. This study indicates that the extract of C. alata microgreens has the potential to be a natural source of antioxidant agents.
Inovasi Kemasan Saset untuk Meningkatkan Penjualan Produk Cabai Hiyung di Kelompok Tani Karya Baru Purba, Febriani; Saputra, Riza Adrianoor; Majid, Zuliyan Agus Nur Muchlis; Rohmanna, Novianti Adi; Kastalani, M. Abral; Hakim, Muhamad Karim Abdillah; Prayogo, Joni Yogo; Najwa, Nugraha Anthoni
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 4 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v9i4.2270

Abstract

Karya Baru merupakan kelompok tani di desa Hiyung tapin yang bergerang dalam budidaya cabai Hiyung dan pengolahan produk turunananya. Kelompok tani ini mengelola sekitar 450 ha lahan pertanian cabai Hiyung dan telah menghasilkan berbagai produk turunan yang dijual secara komersil seperti benih, cabai kering, saos dan aneka jenis sambal. Cabai Hiyung merupakan komoditi unggulan di Kabupaten Tapin yang memiliki tingkat kepedasan 17 kali lebih pedas dari cabai pada umumnya. Namun demikian kelompok tani Karya Baru menghadapi tantangan dalam proses pemasarannya. Produk yang saat ini dijual dalam kemasan botol ukuran 100mL belum mampu menjangkau pasar yang luas terutama untuk kalangan konsumen yang baru ingin mencoba dan ibu rumah tangga yang menginginkan ukuran yang ekonomis. PkM ini dilakukan melalui serangkaian kegiatan yang terdiri dari survey awal, sosialisasi, pelatihan dan penerapan teknologi serta pendampingan dan evaluasi. Seluruh peserta telah menghasilkan desain kemasan saset untuk produk sambal. Seluruh peserta juga telah mampu menerima proses alih teknologi yang tercermin dari kemapuan dalam mengoperasikan mesin pengemas saset otomatis. Hasil penerapan PkM ini telah mampu meningkatkan 53.11% penjualan produk sambal di kelompok tani Karya Baru pada periode Juli-Agustus 2024. Innovative Saset Packaging to Enhance Sales of Hiyung Chili Products from Karya Baru Farmers Group Abstract Karya Baru is a farmer group in Hiyung Tapin village that cultivates Hiyung chili and processes its derivative products. This farmer group manages around 450 ha of Hiyung chili farming land. It has produced various derivative products sold commercially, such as seeds, dried chili, sauce and various types of chili sauce. Hiyung chili is a superior commodity in Tapin Regency, exhibiting a spiciness intensity 17 times more than typical chili. However, the Karya Baru farmer group faces challenges in its marketing process. The product, presently available in 100mL bottles, has not attained a broad market presence, particularly among consumers experiencing it for the first time and homemakers seeking an economical size. This PkM was carried out through a series of activities consisting of an initial survey, socialization, training and application of technology, mentoring, and evaluation. Training has been conducted, and a packaging design for chili sauce items has been created. In addition, technology transfer has been carried out using an automatic sachet packaging machine. Training has been conducted on utilizing the Shopee e-commerce platform for sales and Instagram for product promotion. Implementing PkM has increased chili sauce product sales in the Karya Baru farmer group.
Pengoptimalan UMKM Jengkol Saus Lalaan Di Desa Pingaran Ulu, Kalimantan Selatan Rohmanna, Novianti Adi; Millati, Tanwirul; Agustina, Lya; Susi, Susi; Hakim, Hisyam Musthafa Al; Majid, Zuliyan Agus Nur Muchlis; Akbar, Arief RM; Saufi, Ahmad; Khusna, Lailil; Khairina, Mahfuzhah; Aristya, Muhammad Nabil Raihan; Azizah, Nur; Sari, Nur Sinta
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 4 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v9i4.2369

Abstract

Kalimantan Selatan merupakan wilayah pengolah jengkol atau dikenal dengan jaring, salah satu produk olahan jengkol yang terkenal adalah jengkol saus lalaan. UMKM Jaring Acil Ina merupakan salah satu UMKM yang menjual produk Jengkol saus lalaan. Akan tetapi dalam penjualan dan produksinya, UMKM Jaring Acil ina memiliki beberapa kendala diantaranya daya simpan yang relatif singkat. Secara garis besar, metode pengabdian ditentukan dalam penyelesaian permasalahan berdasarkan dengan apa yang dibutuhkan mitra. Proses penyelesaian masalah dilakukan dengan pemberian teknologi, sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan kemudian dilakukan evaluasi pelaksanaan program keberlanjutan. Hasil dari evaluasi digunakan untuk menentukan tindak lanjut agar program yang sudah diberikan dapat terus berlanjut bahkan dapat diadopsi oleh kelompok tani lain. Berdasarkan hasil pengamatan, bahwa pengawetan jengkol yang paling efektif untuk memperpanjang masa simpan jengkol adalah dengan metode vakum pada proses pengemasan. Selain itu, proses penyimpanan dalam vacuum dan freezer dapat meningkatkan daya simpan produk (1 bulan) dibandingkan tanpa vacuum (3 hari). Selain masa simpan yang lebih lama, sifat organoleptic dari produk juga dapat bertahan lebih lama dibandingkan dengan metode vacuum dan metode penyimpanan lain. Berdasarkan hasil kegiatan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa produk jengkol saus lalaan dengan cita rasa uniknya, dapat memiliki nilai jual yang tinggi jika di kemas dengan tepat. Pengoptimalam kemasan tidak hanya dapat meningkatkan daya tarik visual, melainkan juga dapat memperpanjang masa simpan dan menjaga kulitas produknya. Hal ini menandakan adanya peluang besar UMKM untuk mengembangkan produk jengkol saus tahi lala menjadi oleh-oleh khas Kalimantan Selatan atau produk unggulan dengan kualitas yang baik. Optimization of MSMEs Jengkol Lalaan Sauce in Pingaran Ulu Village, South Kalimantan  Abstract South Kalimantan is a Jengkol processing area or known as netting, one of the famous Jengkol processed products is Jengkol saus lalaan. MSMEs Neting Acil Ina is one of the MSMEs that sells Jengkol saus lalaan products. However, in sales and production, Neting Acil ina MSMEs have several obstacles, including a relatively short shelf life. Broadly speaking, the method of service is determined in solving problems based on what the partners need. The problem-solving process is carried out by providing technology, socialization, training, and mentoring and then evaluating the implementation of sustainability programs. The results of the evaluation are used to determine follow-up so that the program that has been given can continue and can even be adopted by other farmer groups. Based on the observation results, the most effective preservation of Jengkol to extend the shelf life of Jengkol is by the vacuum method in the packaging processor. In addition, the vacuum and freezer storage have more shelf life of the product (1 month) than no-vacuum (3 days). In addition to a longer shelf life, the organoleptic properties of the product can also last longer compared to vacuum and other storage methods. Based on the results of the activities that have been carried out, it can be concluded that Jengkol saus lalaan products with their unique taste, can have a high selling value if packaged properly. Packaging optimizers can not only improve visual appeal, but also extend shelf life and maintain product quality. This indicates a great opportunity for MSMEs to develop Jengkol saus lalaan sauce products into souvenirs typical of South Kalimantan or superior products with good quality.
Pengembangan Usaha Produksi Olahan Sagu Di Desa Pemakuan Kecamatan Sungai Tabuk Linda Rahmawati; Zuliyan Agus Nur Muchlis Majid; Dewi Amelia Widiyastuti; Baimy Alexander
Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service) Vol. 4 No. 3: August 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/sasambo.v4i3.777

Abstract

Salah satu mata pencaharian warga desa Pekauman Kecamatan Sungai Tabuk adalah sebagai petani sagu sekaligus memproduksi tepung sagu dan pengolah tepung sagu menjadi produk sagu setengah jadi. Petani sagu banyak dipilih sebagai alternatif jika warga belum memiliki pekerjaan, hal ini disebabkan melimpahnya tanaman sagu di desa Pemakuan. Namun karena kemasan yang sangat sederhana dan tidak tahan lama, maka konsumen pun kurang tertarik untuk membeli olahan sagu setengah jadi tersebut. Tujuan dari pengabdian pengembangan usaha ini adalah untuk menjadikan produk sagu dapat bertahan lama dan struktur amilum tidak rusak maka sagu dikeringkan pada suhu < 600C dan kemas menggunakan plastik vakum, dengan alat pengering berupa box yang terbuat dari aluminium dilengkapi dengan elemen pemanas di bagian bawah dan samping, pengatur suhu serta kipas exhaust di bagian atas. Box pengering berukuran panjang 100m, lebar 80cm dan tinggi 80cm dengan rak berjumlah 5 tingkat. Sosialisasi pada pengembangan usaha produksi olahan sagu ini dihadiri oleh 23 orang peserta yeitu, petani dan pengolah sagu, ibu rumah tangga dan mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN). Metode pelaksanaan yang dilakukan adalah survey lokasi, survey terhadap warga pembuat sagu, pembuatan/rancang bangun alat, uji coba alat, sosialisasi dan pemasaran. Hasil pada pembuatan rancang bangun alat pengering dan kemasan secara keseluruhan adalah pada tahap uji coba alat, pemanas tidak mencapai suhu maksimal yaitu 400C dan kipas mengalami kerusakan. Untuk itu dilakukan penggantian kipas. Pada uji coba suhu menggunakan 300C, bau, warna, bentuk dan rasa sagu tidak berubah dan masih bisa langsung direbus untuk dilakukan pengolahan lebih lanjut. Sagu Processed Production Business Development  In Pemakuan Village, Sungai Tabuk District  One of the livelihoods of being a resident of Pekauman Village, Sungai Tabuk Subdistrict, is as a sago farmer as well as producing sago flour and processing sago flour for semi-finished sago products. Many sago farmers are chosen as an alternative if residents do not have jobs, this is due to the abundance of sago plants in Pemakuan village. However, because the packaging is very simple and not durable, consumers are less interested in buying the semi-finished sago processed product. The purpose of this service is to make sago products durable and the starch structure is not damaged, so it is dried at a temperature of < 600C and packaged using vacuum plastic, with a dryer in the form of a box made of aluminum equipped with heating elements at the bottom and sides, temperature control and an exhaust fan at the top. Drying Box measuring 100m long, 80cm wide, and 80cm high with shelves opened 5 levels. The socialization on the business development of processed sago production was attended by 23 participants, namely, sago farmers and processors, housewives, and real work college students (KKN). The method of implementation carried out is a site survey, a survey of the residents of sago makers, the manufacture/design of tools, testing of tools, socialization, and marketing. The results in the overall design of the drying and packaging equipment are at the testing stage of the tool, the heater does not reach the maximum temperature of 400C and the fan is damaged. For this reason, a fan was replaced. In the temperature test using 300C, the smell, color, shape, and taste of sago did not change and could still be directly developed for further processing