Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Upaya Peningkatan Pelayanan Orientasi Pasien Baru di Rumah Sakit Melalui Pengembangan Media Edukasi Berbasis Video QR Code Rauf, Syamsiah; Patima; Amal, Andi Adriana; Abidin, Andi Mustika; Prasetya, Khoirunnisa Qurratul Aini
Omni Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2026): Maret
Publisher : Bantayang Omni Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65277/opm.v3i1.169

Abstract

Proses orientasi pasien yang masih manual dan tidak konsisten menjadi hambatan dalam pelayanan rumah sakit. Salah satu pendekatan inovatif yang dapat diterapkan adalah penggunaan video orientasi pasien berbasis QR code sebagai sarana informasi mandiri bagi pasien dan keluarga yang dapat diakses kapan saja, guna mengatasi keterbatasan komunikasi petugas. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mengimplementasikan media orientasi pasien baru berbasis video QR code dengan metode edukasi yang dievaluasi melalui observasi, wawancara, dan pengisian kuesioner pre-test dan post-test pada 12 orang pasien baru yang dirawat di ruang perawatan Pusat Jantung Terpadu Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa intervensi berupa video orientasi pasien baru terbukti efektif meningkatkan pemahaman pasien, dibuktikan oleh peningkatan signifikan skor dari pretest ke posttest. Berdasarkan hasil evaluasi kasus, dapat disimpulkan bahwa pemberian edukasi melalui media video berbasis QR code terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman pasien baru terkait orientasi penerimaan di rumah sakit. Disarankan agar rumah sakit mengimplementasikan secara berkelanjutan video orientasi pasien berbasis QR code sebagai bagian dari standar pelayanan, serta mengoptimalkan pemanfaatannya melalui pengembangan konten dan sosialisasi kepada tenaga kesehatan.
NURSES’ PERCEPTIONS OF SPIRITUAL CARE Amal, A.Adriana; Risnah, Risnah; Hidayah, Nur; rifky, muh; yusuf, saldi; Sumarmi, Sumarmi; Mbukwane, Gcinile
NurseLine Journal Vol. 11 No. 1 (2026): May 2026
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/nlj.v11i1.60002

Abstract

Background: Holistic nursing care includes spiritual dimensions that are essential to patient well-being. However, spiritual nursing care is still not optimally implemented in daily clinical practice. Many nurses experience challenges in providing spiritual care, such as lack of training, psychological barriers, and minimal institutional support. Objectives: This study aimed to examine nurses' perceptions of spiritual nursing care in inpatient wards at a hospital. Method: This study used a quantitative descriptive design and was conducted at Haji Hospital Makassar. A total of 81 inpatient ward nurses were selected using stratified random sampling. The instrument used was the Indonesian version of the Spiritual Care-Giving Scale (SCGS), which has been validated for validity (CVI > 0.8) and reliability (Cronbach’s Alpha = 0.97). Data analysis was conducted descriptively across five domains of perception: attributes, perspectives, definitions, attitudes, and values in spiritual care. Results: Overall, nurses had a positive perception of spiritual nursing care, with an average total SCGS score of 5.51. The domain with the highest score was “defining spiritual care” (mean = 5.56), reflecting nurses' understanding that spiritual care is an empathetic, culturally sensitive, and patient-centered process. The lowest score was found in the domain of “spiritual service values” (mean = 5.48), indicating that the internalization of broader spiritual values beyond religious practices remains limited. Psychological barriers and conceptual confusion between spirituality and religiosity were also identified. Conclusion: Although nurses recognize the importance of spiritual care, there remains a gap in the internalization of its values and their implementation in clinical practice. Structured training, cultural competency enhancement, and institutional support are needed to improve nurses' readiness and competence in providing meaningful spiritual nursing care. Keywords: spiritual care, nurses’ perceptions, spirituality, professional competence
Dukungan Pelayanan dengan Pemenuhan Kebutuhan Spiritual Pasien di Ruang Perawatan Kritis Eva Yustilawati; A.Adriana Amal; Nurul Khusnul Khotimah; Rosdatun Rosdatun
An Idea Health Journal Vol 5 No 01 (2025)
Publisher : PT.Mantaya Idea Batara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53690/ihj.v5i01.365

Abstract

Fulfillment of patients' spiritual needs is crucial in the nursing care process. Therefore, nurses, as the front line in providing nursing care, need to perform care holistically, including biological, psychological, social, and spiritual needs of patients. The purpose of this research is to determine the factors related to the fulfillment of patients' spiritual needs in the critical care unit of Labuang Baji Hospital, Makassar. The method used is quantitative with a cross-sectional approach. The population in this study is 63 respondents, consisting of 56 samples, using a cluster random sampling technique. The results of the study, using the Spearman rho test, obtained a p-value of 0.014, which means that the better the service support, the better the fulfillment of patients' spiritual needs in the hospital. To ensure the fulfillment of patients' spiritual needs, service support must be improved. Additionally, spiritual care training will enhance the soft skills of nurses in critical care in fulfilling spiritual needs
HUBUNGAN PERAN KELUARGA DENGAN DEPRESI PADA LANSIA DI DESA CARIGADING KECAMATAN AWANGPONE KABUPATEN BONE Amal, Andi Adriana
Journal of Islamic Nursing Vol 2 No 1 (2017): Journal Of Islamic Nursing
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.721 KB) | DOI: 10.24252/join.v2i1.4967

Abstract

Menua adalah proses alami yang disertai penurunan fungsi organ tubuh, perubahan emosi secara psikologi dan kemunduran kognitif sehingga untuk menjalankan aktivitas lansia sering mengalami hambatan. Keluarga yang mempunyai lansia, perlu meningkatkan kepedulian dan perannya dalam melayani agar mereka agar lansia bisa nyaman dan bahagia dalam hidupnya sehingga terhindar dari depresi. Peranan keluarga dalam pembinaan lansia berupa memenuhi kebutuahan ekonomi, psikososial dan kesehatan fisik, nutrisi, serta berupaya untuk mendorong lansia agar tetap berperilaku hidup sehat sehingga tercapai kualitas hidup sehat baik fisik maupun mental.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara peran keluarga dengan depresi pada lansia di desa Carigading Kecamatam Awangpone, Kabupaten Bone. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 48 orang dan teknik sampling purposive sampling. Data diambil dengan menggunakan kuesioner.Desain penelitian yang digunakan cross sectional dilakukan untuk mengetahui hubungan peran keluarga dengan depresi pada lansia. Setelah dianalisis dengan uji Chi square, hasil yang diperoleh menunjukkan hubungan bermakna antara peran keluarga dalam pemeliharaan kesehatan dan peran keluarga dalam mencegah menarik diri dengan nilai p masing-masing 0,02 dan 0,000. Sedangkan peran keluarga dalam pemenuhan kebutuhan perawatan diri, pemenuhan kebutuhan nutrisi dan pencegahan potensi kecelakaan tidak menunjukkan hubungan bermakna dengan depresi.Dari penelitian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara peran keluarga dalam pemeliharaan kesehatan dan pencegahan menarik diri dengan depresi pada lansia. Bagi peneliti selanjutnya, disarankan agar ruang lingkup penelitiannya lebih mendalam lagi untuk hasil yang lebih akurat dimana dalam penelitian ini hanya mengukur peran keluarga menurut keluarga sendiri dan tidak melibatkan lansia.
The Correlation Between Gender and the Risk of Stunting in Toddlers: An Empirical Study in Enrekang Regency, South Sulawesi Arbianingsih; Huriati Bahuddin; A. Adriana Amal
Jurnal Studi Gender dan Anak Vol 8 No 01 (2026): SETARA: Jurnal Studi Gender dan Anak
Publisher : Center of Gender Studies and Child of State Islamic Institute of Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/af15kp55

Abstract

Stunting among children under five remains a major chronic nutritional problem in Indonesia. Previous studies suggest that boys may be more vulnerable to stunting than girls. This study aimed to examine the correlation between gender and stunting incidence among children under five in Enrekang Regency, South Sulawesi Province. A quantitative cross-sectional design was employed involving 100 children under five selected through purposive sampling. Data were collected using anthropometric measurements, and height-for-age status was determined based on WHO Z-score standards. The association between gender and stunting was analyzed using the chi-square test. The findings revealed that 76.7% of boys and 64.9% of girls were classified as stunted. Although boys showed a higher prevalence of stunting, the statistical analysis indicated no significant association between gender and stunting incidence (p = 0.201). These results suggest that stunting is influenced not only by biological characteristics such as gender but also by broader determinants, including socioeconomic conditions, parenting practices, parental education, and access to health services. Therefore, stunting prevention requires a comprehensive and multidimensional intervention approach. [Stunting pada anak balita masih menjadi masalah gizi kronis utama di Indonesia. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa anak laki-laki cenderung lebih rentan mengalami stunting dibandingkan anak perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara jenis kelamin dan kejadian stunting pada anak balita di Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang (cross-sectional) yang melibatkan 100 anak balita yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui pengukuran antropometri, sedangkan status tinggi badan menurut umur ditentukan berdasarkan standar Z-score WHO. Hubungan antara jenis kelamin dan kejadian stunting dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 76,7% anak laki-laki dan 64,9% anak perempuan mengalami stunting. Meskipun prevalensi stunting pada anak laki-laki lebih tinggi, hasil analisis statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dan kejadian stunting (p = 0,201). Temuan ini mengindikasikan bahwa stunting tidak hanya dipengaruhi oleh faktor biologis seperti jenis kelamin, tetapi juga oleh faktor lain, seperti kondisi sosial ekonomi, pola asuh, tingkat pendidikan orang tua, dan akses terhadap layanan kesehatan. Oleh karena itu, upaya pencegahan stunting memerlukan pendekatan yang komprehensif dan multidimensional].
Peningkatan Kualitas Perencanaan Pulang Pasien di Rumah Sakit Syamsiah Rauf; Nur Hidayah; A. Adriana Amal
Bhakti Patrika Vol. 1 No. 2 (2025)
Publisher : Pubfine Media Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64408/bp.2025.1226

Abstract

Pendahuluan: Discharge planning merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk memastikan kesinambungan perawatan pasien setelah keluar dari rumah sakit. Namun, pelaksanaannya sering kali belum optimal, ditandai dengan tidak terisinya lembar discharge planning dan minimnya edukasi kepada pasien serta keluarga. Kondisi ini berdampak pada kualitas layanan dan risiko perawatan berulang. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan pendekatan Community-Based Learning (CBL). Intervensi dilakukan melalui sosialisasi kepada perawat pelaksana dengan menggunakan media edukatif berupa leaflet digital yang dimodifikasi dalam bentuk QR code. QR code berisi informasi edukatif terkait perawatan pasien setelah pemulangan, dan dibagikan kepada perawat sebagai alat bantu dalam proses edukasi. Hasil: Pelaksanaan kegiatan mendapatkan respon positif dari peserta. Perawat menyatakan bahwa penggunaan QR code memudahkan penyampaian informasi kepada pasien dan keluarga, terutama dalam situasi keterbatasan waktu atau beban kerja tinggi. Inovasi ini juga mendorong pemahaman yang lebih baik terhadap pentingnya discharge planning dalam menjamin kesinambungan perawatan pasien. Kesimpulan: Sosialisasi discharge planning berbasis media QR code terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman dan keterlibatan perawat dalam proses perencanaan pulang pasien. Penggunaan media digital tersebut mendukung efisiensi, aksesibilitas informasi, serta memperkuat kualitas pelayanan keperawatan secara berkelanjutan.