Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Kurios

Kecakapan Lulusan Pendidikan Tinggi Teologi Menghadapi Kebutuhan Pelayanan Gereja dan Dunia Pendidikan Kristen Gidion Gidion
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i1.144

Abstract

The stakeholder of college graduates oftenly complained about the low skills possessed by the graduates. The same thing is experienced in the world of church service and Christian education, that there are still many theological scholars who lack the skills or expertise in their fields.This study aimed to determine how well the graduates of theological college having skills which answer the needs in the Church and Christian educational institutions. The results of the study concluded that the skills of the graduates of theological college are still not optimal. There are five skills that have a fairly low assess-ment, namely skill of leadership, servants, service experience, theological knowledge, and English ability. Abstrak Para pengguna lulusan perguruan tinggi mengeluhkan masih rendahnya kecakapan yang dimiliki oleh para lulusan terebut. Hal serupa juga dialami dalam dunia pelayanan gereja dan pendidikan Kristen, bahwa masih banyak sarjana teologi yang kurang memiliki kecakapan atau keahlian dalam bidangnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa baik kecakapan lulusan STT dalam menjawab kebutuhan pelayanan di gereja dan lembaga pendidikan Kristen. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa kecakapan lulusan STT masih belum maksimal. Ada lima kecakapan yang memiliki penilaian yang cukup rendah yaitu kecakapan sebagai pemimpin, sebagai pelayan, pengalaman pelayanan, pengetahuan teologi, dan kemampuan berbahasa Inggris.
Keluarga sebagai ecclesia domestica: Fondasi teologis-biblis pengembangan kecerdasan emosional anak dalam pengasuhan kristiani Gidion; Poroe, Herman
KURIOS Vol. 11 No. 2: Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i2.1014

Abstract

The crisis of emotional regulation in the contemporary generation demands a reconceptualization of the Christian parenting paradigm. This research examines the concept of ecclesia domestica as a theological foundation for the development of children's emotional intelligence. Through a practical and constructive theological approach, this study synthesizes patristic thought on the family as a "little church" with contemporary emotional intelligence theory. Analysis focuses on four dimensions: the sacramentality of domestic space, koinonia as a matrix for emotional formation, family liturgy in affective regulation, and the missio Dei in transformative parenting. Findings indicate that the ecclesia domestica conception provides a robust theological framework for integrating spirituality and emotional development. Practical implications include reorienting parenting from an instructive to a formative-relational model, where the family functions as a hermeneutical community, facilitating children's encounter with God's love through secure attachment experiences. This research contributes to the development of holistic and contextual family theology for the digital era.   Abstrak Krisis regulasi emosional pada generasi kontemporer menuntut rekonseptualisasi paradigma pengasuhan Kristiani. Penelitian ini mengeksplorasi konsep ecclesia domestica sebagai fondasi teologis untuk pengembangan kecerdasan emosional anak. Melalui pendekatan teologi praktis-konstruktif, studi ini mensintesiskan pemikiran patristik tentang keluarga sebagai "gereja kecil" dengan teori kontemporer emotional intelligence. Analisis difokuskan pada empat dimensi: sakramentalitas ruang domestik, koinoniasebagai matriks pembentukan emosi, liturgi keluarga dalam regulasi afektif, dan missio Dei dalam pengasuhan transformatif. Temuan menunjukkan bahwa konsepsi ecclesia domestica menyediakan kerangka teologis yang robust untuk mengintegrasikan spiritualitas dan perkembangan emosional. Implikasi praktis mencakup reorientasi pengasuhan dari model instruktif menuju formatif-relasional, di mana keluarga berfungsi sebagai komunitas hermeneutis yang memfasilitasi perjumpaan anak dengan kasih Allah melalui pengalaman kelekatan yang aman. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan teologi keluarga yang holistik dan kontekstual untuk era digital.