Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Hubungan Lama Menjalani Hemodialisis dengan Efikasi Diri pada Pasien yang Menjalani Hemodialisis: Hubungan Lama Menjalani Hemodialisis dengan Efikasi Diri pada Pasien yang Menjalani Hemodialisis Aulia Fahmi Alfarizi; Taufan Arif; Sulastyawati; Naya Ernawati
Jurnal Keperawatan Terapan Vol 12 No 1 (2026): Jurnal Keperawatan Terapan (E-Journal)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31290/jkt.v12i1.6232

Abstract

Abstract: Introduction: Self-efficacy plays a crucial role in the success of therapy because it is related to patients’ confidence in adhering to treatment. Consequently, low self-efficacy may result in suboptimal treatment adherence. During the initial phase of hemodialysis, patients commonly experience difficulties in adapting, but this adaptive ability tends to improve as they gain more experience and understanding of the therapy. Objective: This study aims to examine the relationship between the duration of hemodialysis treatment and self-efficacy among hemodialysis patients. Methods: A quantitative correlational design with a cross-sectional approach was employed. The study sample consisted of 100 hemodialysis patients selected through purposive sampling. The independent variable was the duration of hemodialysis, while the dependent variable was self-efficacy. Self-efficacy was measured using the General Perceived Self-Efficacy questionnaire, and patient medical records were used to determine the duration of hemodialysis. Data analysis was performed using the Spearman Rank correlation test. Result: The results indicated a significant relationship with moderate strenght between the duration of hemodialysis and self-efficacy, with a p-value of 0.000 and a correlation coefficient of 0.448. Conclusion: These findings suggest that the longer patients undergo hemodialysis, the higher their self-efficacy levels. A longer duration of hemodialysis allows for the accumulation of experience and information from healthcare professionals and fellow patients, which contributes to enhanced cognitive functioning. This cognitive improvement supports patients’ understanding, adaptation, and coping abilities, thereby increasing their confidence in managing therapy as reflected in improved self-efficacy.
Hubungan Paparan Gadget Dengan Perilaku Makan Pada Anak Usia Prasekolah (3-5 Tahun) Di Posyandu Kampung Sanan Kota Malang Jihan Triamanda Valentine; Esti Widiani; Naya Ernawati; Tri Nataliswati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1057

Abstract

Gangguan perilaku makan yang sering terjadi pada anak usia prasekolah yaitu perilaku makan negatif, akan berdampak negatif bagi keseimbangan gizi dan pertumbuhan anak. Salah satu faktor penyebabnya yaitu tingginya paparan gadget yang membuat anak cenderung tidak peka terhadap rasa kenyang atau lapar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan paparan gadget dengan perilaku makan pada anak usia prasekolah (3-5 tahun) di Posyandu Kampung Sanan, Kota Malang. Desain penelitian ini kuantitatif korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan pada 16 Oktober 2025. Sampel terdiri dari 70 responden yang diambil menggunakan teknik total sampling. Data dianalisis menggunakan uji Spearman’s Rho dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar anak memiliki paparan gadget tinggi (47%), sedangkan perilaku makan negatif ditemukan pada hampir seluruh responden (92,9%). Uji statistik menghasilkan nilai r = –0,144 dengan p = 0,234, yang menandakan tidak adanya hubungan signifikan antara kedua variabel. Perilaku makan pada anak prasekolah dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk personal preference, status sosial ekonomi, budaya, rasa lapar, kenyang, nafsu makan, kesehatan dan paparan gadget. Paparan gadget berlebihan juga berpotensi mengganggu proses makan anak, anak cenderung tidak peka terhadap rasa lapar dan kenyang. Meskipun hubungan statistik tidak signifikan, kontrol penggunaan gadget tetap diperlukan karena mekanisme-mekanisme tersebut dapat berkontribusi pada pembentukan perilaku makan negatif dalam jangka panjang.
HUBUNGAN MOTIVASI KERJA PERAWAT PERIOPERATIF BERDASARKAN TEORI Mc-Clelland DENGAN PENERAPAN SASARAN KESELAMATAN PASIEN: THE RELATIONSHIP BETWEEN PERIOPERATIVE NURSES' WORK MOTIVATION BASED ON Mc-CLELLAND'S THEORY AND THE IMPLEMENTATION OF PATIENT SAFETY GOALS Nahla Esella Septiana Dasa; Tri Anjaswarni; Imam Subekti; Naya Ernawati
Quality: Jurnal Kesehatan Vol 20 No 1 (2026): Quality: Jurnal Kesehatan
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes RI Jakarta I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36082/qjk.v20i1.3122

Abstract

Nurses' motivation in working is for achievement, power, and affiliation, in addition to financial needs. Nurses' motivation for patient safety has not been evaluated and is still inconsistently implemented. During surgical procedures, patients still use personal items that pose a risk of infection, cotton or gauze is left behind, and many other post-surgical incidents occur due to negligence. Therefore, the consistency of nurses' motivation, particularly in maintaining patient safety during surgical procedures, needs to be evaluated. This study aims to analyze the relationship between perioperative nurses' work motivation based on McClelland's theory and the implementation of 6 patient safety goals at Karsa Husada Batu Regional Hospital. This study used a correlational design with a cross-sectional approach. The study sample was all 37 perioperative nurses (Operating Room and Edelweiss Room A) at Karsa Husada Batu Regional Hospital. Data analysis used the Spearman Rank correlation test. The results of the statistical test showed a significant relationship between perioperative nurses' work motivation and the implementation of 6 patient safety goals (p-value = 0.001; r = 0.541). The relationship is classified as moderate with a positive direction, meaning that the higher the nurse's work motivation, the better the implementation of the 6 patient safety goals. The contribution of research in the field of nursing, particularly in the perioperative area, is to provide information that the implementation of the 6 patient safety goals requires high motivation for nurses to be consistent in their implementation. The work motivation of perioperative nurses must be continuously improved, one way of which is by referring to McClelland's theory. High awareness is needed in monitoring patient safety and it is necessary to improve the competence of nursing staff in a program to implement good practices through training and ensuring nurses' compliance with patient safety standards.
Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Kesulitan Makan pada Anak Usia Prasekolah di PAUD Kasih Bunda Kota Malang Yusnia Alfiah Zumroh; Naya Ernawati; Fitriana Kurniasari Solikhah; Erlina Suci Astuti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.764

Abstract

Latar Belakang: Kesulitan makan pada anak usia prasekolah merupakan masalah yang dapat berdampak pada pertumbuhan, perkembangan, serta status gizi anak. Penyebab kesulitan makan meliputi faktor anak (usia, jenis kelamin, riwayat kesehatan, sensitivitas sensorik, temperamen) maupun faktor orang tua (pendidikan ibu, keterlibatan orang tua, lingkungan makan). Tujuan Penelitian: Menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kesulitan makan pada anak usia prasekolah di PAUD Kasih Bunda Kota Malang. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi sebanyak 65 orang ibu yang memiliki anak usia prasekolah (3–6 tahun). Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling sebanyak 39 responden. Teknik pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan uji Chi- square. Hasil Penelitian: Terdapat hubungan signifikan antara riwayat kesehatan anak (P-Value = 0,012), sensitivitas sensorik (P-Value = 0,010), dan pendidikan ibu (P-Value = 0,018) dengan kesulitan makan pada anak usia prasekolah. Sedangkan faktor usia anak, jenis kelamin, temperamen anak, keterlibatan orang tua, dan lingkungan makan tidak berhubungan signifikan (P-Value > 0,05). Hasil analisis multivariat dengan regresi logistik ganda menunjukkan sensitivitas sensorik merupakan faktor dominan yang memengaruhi kesulitan makan pada anak usia prasekolah (P-Value = 0,030). Anak dengan gangguan pemrosesan sensorik memiliki peluang tiga kali lebih tinggi untuk mengalami kesulitan makan dibandingkan anak dengan fungsi sensorik normal (Exp (B) = 3,030; 95% CI: 1,110–8,260). Kesimpulan: Ada hubungan faktor riwayat kesehatan, sensitivitas sensorik, dan pendidikan ibu dengan kesulitan makan. Sensitivitas sensorik menjadi faktor dominan yang memengaruhi kesulitan makan pada anak usia prasekolah di PAUD Kasih Bunda Kota Malang.
Hubungan Perilaku Self Management Dengan Kadar Gula Darah Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Di Wilayah Kerja Puskesmas Cisadea Kota Malang Kharisma Rindi Fitriani; Erlina Suci Astuti; Supono Supono; Naya Ernawati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1045

Abstract

Pengendalian kadar gula darah pada pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 masih menjadi tantangan di Puskesmas Cisadea. Studi pendahuluan menunjukkan banyak pasien datang dengan gula darah tinggi akibat pola makan yang tidak teratur, rendahnya frekuensi kontrol kesehatan, ketidakpatuhan konsumsi obat, serta kurangnya pemantauan gula darah mandiri. Aktivitas fisikyang minim juga memperburuk kondisi pasien. Permasalahan-permasalahan ini mengindikasikan bahwa perilaku self management pasien belum optimal sehingga berdampak pada tidak terkendalinya kadar gula darah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara perilaku self management dengan kadar gula darah pada pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 di wilayah kerja Puskesmas Cisadea Kota Malang. Metode: Penelitian menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 115 responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitianberupa kuesioner DSMQ serta pemeriksaan gula darah sewaktu menggunakan glukometer digital. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square pada tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki perilaku self management baik (81,7%), dan 65,2% di antaranya memiliki kadar gula darah terkontrol. Uji Chi-Square menghasilkan nilai p = 0,002 yang menunjukkan hubungan signifikan antara perilaku self management dan kadar gula darah. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku self management dengan kadar gula darah pada pasien Diabetes Mellitus Tipe 2. Pasien dengan perilaku self management yang baik cenderung memiliki kadar gula darah yang lebih terkontrol. Peningkatan edukasi dan pendampingan pasien perlu dilakukan untuk memperkuat perilaku self management sebagai bagian dari pengendalian penyakit diabetes secara berkelanjutan.