Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Hubungan Tingkat Kekambuhan Pasien Skizofrenia Dengan Peran Kader Jiwa Di Masyarakat Ardika, Noviana Ayu; Margatot, Didik Iman; Drajad Pamukhti, Bagas Biyanzah
Zaitun : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 11, No 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31314/zijk.v11i2.2442

Abstract

Kesehatan jiwa masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang signifikan di Dunia. WHO 2021, orang dengan gangguan jiwa terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21 juta terkena skizofrenia, serta 47,5 juta terkena dimensia. Mental Health berdasarkan hasil sensus penduduk Amerika Serikat tahun 2021 bahwa ada sebanyak 44,7 juta orang dewasa berusia 18 tahun atau lebih mengalami gangguan jiwa. Seseorang yang pernah mengalami gangguan skizofrenia akan kembali kambuh karena kondisi yang tidak terkontrol dan tidak meminum obat secara rutin Pemberdayaan masyarakat seperti kader kesehatan jiwa bermanfaat untuk mengidentifikasi dan mengatasi masalah serta mempertahankan kesehatan jiwa masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan peran kader kesehatan jiwa dengan kekambuhan skizofrenia. Metode menggunakan Literature Review yaitu dengan pencarian melalui database elektronik, Pubmed, Google Schoolar dan Elsevier. Kriteria inklusi yang digunakan adalah artikel pada tahun 2013-2023 dan menghasilkan 5 artikel penelitian yang signifikan. Hasil dari literature yang didapat ada hubungan antara peran kader kesehatan jiwa dengan menurunnya kekambuhan pasien gangguan jiwa, oleh sebab itu kader diharapkan lebih aktif dalam memotivasi pasien agar melakukan kunjungan ke puskesmas secara berkala dan tidak mengalami kekambuhan.
Pencegahan Seks Bebas dan Pernikahan Dini Melalui Edukasi Kesehatan Reproduksi Pamukhti, Bagas Biyanzah Drajad
Jurnal Pengabdian Harapan Ibu (JPHI) Vol. 7 No. 3 (2025): Jurnal Pengabdian Harapan Ibu (JPHI)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Harapan Ibu Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30644/jphi.v7i3.1004

Abstract

Fenomena seks bebas dan pernikahan dini pada remaja dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain kurangnya komunikasi antara remaja dengan orang tua maupun keluarga tentang sistem reproduksi. Maraknya seks bebas di kecamatan Selo menyebabkan banyaknya remaja menikah lebih cepat, kehamilan yang tidak diinginkan menjadi salah satu alasan seringnya terjadi pernikahan dini dimana remaja belum siap baik secara fisik, mental maupun ekonomi. Tujuan Pengabdian Kepada Masyarakat ini untuk memberikan edukasi dalam manajemen pencegahan seks bebas dan pernikahan dini. Kegiatan ini dilaksanakan menggunakan model pelaksanaan penyuluhan sekaligus skrining tingkat pengetahuan siswa terkait kesehatan reproduksi remaja. Hasil dari pengabdian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan siswa tentang kesehatan reproduksi remaja mengalami peningkatan setelah diberikan penyuluhan. Pengabdian ini menunjukkan pentignya program penyuluhan rutin untuk meningkatkan pengetahuan siswa-siswi tentang kesehatan reproduksi remaja untuk mengurangi kejadian seks bebas dan pernikahan dini di masyarakat. Pengabdian Kepada Masyarakat ini berkontribusi pada peningkatan pengetahuan siswa-siswi tentang Manajemen Pencegahan Seks Bebas dan Pernikahan Dini di SMP Negeri 1 Selo, Kabupaten Boyolali. The phenomenon of premarital sex and early-age marriage in adolescents can be caused by several factors such as lack of communication between adolescents and parents or families about the reproductive system. The rampant free sex in the Selo sub-district has caused many adolescents to marry early, unwanted pregnancies are one of the reasons for the frequent occurrence of early-age marriages where adolescents are not ready either physically, mentally, or economically. The purpose of this Community Service is to provide education in the management of preventing premarital sex and early-age marriage. This activity was carried out using a counseling implementation model and screening the level of student knowledge related to adolescent reproductive health. The results of the community service showed that the level of student knowledge about adolescent reproductive health increased after being given counseling. This community service shows the importance of routine counseling programs to improve student's knowledge about adolescent reproductive health to reduce the incidence of premarital sex and early-age marriage in the community. This Community Service increased students' knowledge about the Management of Preventing premarital sex and Early-age Marriage at SMP Negeri 1 Selo, Boyolali Regency.
Gambaran Faktor Penyebab Stunting Pada Balitas di Desa Mranggen Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo Aditiya, Siska; Drajad Pamukhti, Bagas Biyanzah
Jurnal Pakar Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2025): December
Publisher : Utami Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37676/jpk.v1i2.1131

Abstract

Stunting is one of the major nutritional problems that has become a global concern. In 2024, there were 4,113 cases of stunting among toddlers in Sukoharjo, accounting for 9.42%. The highest number of stunting cases among toddlers was recorded at the Polokarto Public Health Center, with 640 cases, where Mranggen Village contributed 80 cases in 2025. Objective: To determine the description of factors causing stunting among toddlers in Mranggen Village, Polokarto Subdistrict, Sukoharjo Regency. Method: This study used a descriptive quantitative design with a total sampling technique involving 80 mothers of stunted toddlers as respondents. Data were collected using a questionnaire and analyzed through frequency distribution. Results: The results show that the majority of respondents were aged 20–35 years, totaling 59 respondents (73.8%). Most of the mothers were housewives, amounting to 58 respondents (72.5%). The majority of infants had a birth weight  ≥ 2500 grams, with 70 respondents (87.5%). Respondents with an income below the regional minimum wage (Rp. 2,359,488.00) totaled 59 respondents (73.8%). Mothers who provided exclusive breastfeeding for six full months were 52 respondents (65.0%). In terms of education, most mothers had completed senior high school, totaling 50 respondents (62.5%). Meanwhile, the level of knowledge was categorized as good in 26 respondents (32.5%), moderate in 38 respondents (47.5%), and poor in 16 respondents (20.0%). Conclusion: The factors influencing stunting among toddlers in Mranggen Village, Polokarto District, Sukoharjo Regency include maternal age, occupation, birth weight (BBL), income, exclusive breastfeeding, education, and maternal knowledge. Nutritional education and economic support need to be strengthened to reduce the prevalence of stunting.