Pudjiastuti, Titik
Departemen Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia

Published : 22 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Manuskripta

Naskah-naskah Moloku Kie Raha: Suatu Tinjauan Umum Titik Pudjiastuti
Manuskripta Vol 6 No 1 (2016): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7456.994 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v6i1.62

Abstract

Moloku Kie Raha is a term used for referring the four local authorities in Maluku that known as Kolano: Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo. As a key region in the shipping lanes during the "Silk Road" era, the presence of immigrants (Javanese, Chinese, Arab, and European) in the 14-17 centuries who brought their cultures and languages and interacted with local culture had established the local written culture. The scribe of the the Ternate sultanate said that since the past the palace also served as the scriptorium, which is where the hikayat, treaty, political documents, genealogy, and folklore which are associated with the sultanate, was written. This article is the result of codicological research that examines the physical manuscript as a focus. This research has inventoried the existence of 67 manuscripts of 12 owners that have been successfully recorded and digitized. When reading the content, the manuscripts were written about Islamic doctrines, king's letter, sufism order, hikayat, genealogy, history, laws of inheritance, horoscope, and levo-levo (amulet) while they are written in the Arabic and Jawi scripts in Arabic and Malay languages. --- Moloku Kie Raha adalah istilah untuk menyebut empat penguasa daerah di Maluku yang disebut kolano: Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo. Sebagai sebuah titik penting dalam jalur pelayaran pada zaman ‘jalur sutra’, kehadiran orang asing (Jawa, Cina, Arab, dan Eropa) pada abad ke-14-17 yang membawa budaya dan bahasanya serta berinteraksi dengan budaya lokal telah membentuk budaya tulis setempat. Juru tulis kesultanan Ternate menyebutkan, bahwa sejak masa lalu istana juga berfungsi sebagai skriptorium, yakni tempat hikayat, perjanjian, dokumen politik, silsilah dan cerita rakyat yang berhubungan dengan kesultanan ditulis. Artikel ini merupakan hasil penelitian yang bersifat kodikologis dengan obyek kajian pada fisik naskahnya. Penelitian ini berhasil menelusuri keberadaan 67 naskah kuno dari 12 orang pemilik naskah yang berhasil didata dan didigitalkan. Ditilik dari isinya, naskah-naskah itu berisi tentang ajaran Islam, surat raja, tarekat, hikayat, silsilah, sejarah, hukum waris, primbon, dan levo-levo (ajimat) sedangkan teksnya ditulis dengan aksara Arab dan Jawi dalam bahasa Arab dan Melayu.
Naskah-Naskah Kuno di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan: Sebuah Tinjauan Awal Titik Pudjiastuti
Manuskripta Vol 9 No 1 (2019): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.881 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v9i1.137

Abstract

This article outlines an initial description of ancient manuscripts found in Central and South Kalimantan. The texts originating from these two regions consist of a variety of texts. The manuscripts stored in Mangkubumi Palace, In Pagar, Gajah Baliku Traditional House, Banjar Bumbungan Tinggi Traditional House, South Kalimantan Language Hall, Pesantren Hidayatul Insan fi Ta'limddin, and some of the manuscripts stored in Astana Al Nursari are Islamic influences, but the manuscript the books stored at the Lambung Mangkurat Museum are literary in nature, and most of the manuscripts of the Astana Al Nursari collection and the Balanga Museum are of letter type. To obtain accurate data, all manuscripts obtained were reviewed using a codicological approach. The purpose of the Central and South Kalimantan old manuscript research is not merely to preserve it but more importantly to save it from extinction so that it can be benefited by the people of today for the development and advancement of science, such as philology, linguistics, history, and culture . --- Artikel ini menguraikan gambaran awal naskah-naskah kuno yang ditemukan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Naskah-naskah yang berasal dari dua wilayah ini terdiri dari beraneka ragam teks. Naskah-naskah yang tersimpan di Istana Mangkubumi, Dalam Pagar, Rumah Adat Gajah Baliku, Rumah Adat Banjar Bumbungan Tinggi, Balai Bahasa Kalimantan Selatan, Pesantren Hidayatul Insan fi Ta’limddin, dan sebagian naskah yang tersimpan di Astana Al Nursari bernuansa Islam, tetapi naskah-naskah yang tersimpan di Museum Lambung Mangkurat bersifat sastra, dan sebagian besar naskah koleksi Astana Al Nursari serta Museum Balanga bergenre surat. Untuk memperoleh data yang akurat, semua naskah yang diperoleh dikaji dengan pendekatan kodikologi. Tujuan dari penelitian naskah lama Kalimantan Tengah dan Selatan bukan hanya semata-mata untuk melestarikannya melainkan yang lebih penting lagi untuk menyelamatkannya dari kepunahan agar dapat diambil manfaatnya oleh masyarakat masa kini untuk pengembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan, seperti filologi, ilmu bahasa, sejarah, dan kebudayaan.
Serat Baron Sakendher dalam Pusaran Naskah Babad: Negosiasi Kultural Penguasa Jawa Pascaperang Diponegoro 1830 Widodo Widodo; Titik Pudjiastuti; Priscila Fitriasih Limbong; Sudibyo Sudibyo
Manuskripta Vol 12 No 2 (2022): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v12i2.214

Abstract

This article discusses historical construction of Baron Sakendher manuscripts in the collection of Yogayakarta Sonobudoyo Museum. Serat Baron Sakendher (SBS) was written in the main frame of Babad Tanah Jawi. Various stories frame SBS distinctively based on each manuscript. This study proposes to explain the position of SBS in the Javanese authority domain under the Colonial—which was increasingly entrenched. The study used historical philological research methods, namely by selecting manuscripts and tracing their historical backgrounds to discuss the contents. The results point out that there are six manuscripts containing SBS stories. Four are included in the big frame of Babad Tanah Jawi, one is in Babad Selahardi, and one is in Pakem Ringgit. None of the six was written as a single stand; they were always integrated with the monumental Javanese genealogical story and believed by the Javanese people. As a means of cultural arrangement, stories in SBS are incorporated in the midst of Javanese legendary figures or rulers with different secondary stories. Conquest and cultural approach through genealogy pedigree are crucial in babad (chronicle stories). --- Artikel ini membahas konstruksi historis naskah-naskah Baron Sakendher koleksi Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Naskah SBS ditulis dalam bingkai utama yakni naskah Babad Tanah Jawi. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan posisi naskah SBS dalam lingkaran kekuasaan Jawa di bawah bayang-bayang Kolonial yang semakin kuat mengakar. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian dilakukan dengan metode penelitian filologi historis, yaitu pemilihan naskah, kemudian penelusuran latar belakang sejarah naskah untuk membahas isi teks. Hasil penelitian menunjukkan terdapat enam naskah yang memuat cerita SBS. Empat naskah masuk dalam bingkai besar Babad Tanah Jawi satu naskah Babad Selahardi dan satu naskah masuk dalam bingkai Pakem Ringgit. Kelima naskah tidak ada yang ditulis berdiri tunggal tetapi, selalu menyatu dengan cerita genealogi Jawa yang monumental dan dipercaya kebenarannya oleh masyarakat Jawa. Sebagai sarana penataan kultural, cerita SBS dimasukan dalam lingkaran tokoh legenda penguasa Jawa dengan cerita penyerta yang berbeda-beda. Penaklukan dan pendekatan kultural melalui silsilah genealogi menjadi penting dalam cerita babad.