Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Keloid Pasca Pemasangan Gips: Laporan Kasus Fortuna, Fory; Kartikasari, Salsabilla Desy
Scientific Journal Vol. 1 No. 3 (2022): SCIENA Volume I No 3, May 2022
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (573.353 KB) | DOI: 10.56260/sciena.v1i3.50

Abstract

Pendahuluan: Keloid adalah salah satu manifestasi penyembuhan luka yang terjadi secara abnormal berupa jaringan parut yang timbul atau tumbuh melebihi batas luka. Angka kejadian keloid memiliki distribusi jenis kelamin yang sama, baik pada laki-laki maupun perempuan, dan angka kejadian tertinggi adalah pada usia dekade kedua dan ketiga, serta peran predisposisi genetik. Keloid pada umumnya terjadi akibat luka pada area predileksi. Keloid pada area antebrachii jarang terjadi. Kasus yang kami laporkan merupakan kasus keloid area antebrachii setelah pemasangan gips untuk immobilisasi patah tulang. Metode: Pada laporan kasus ini akan dicantumkan tinjauan kepustakaan mengenai keloid, serta laporan kasus dan diskusi. Pasien laki laki berusia 12 tahun datang ke poliklinik Bedah Plastik Rumah Sakit Universitas Andalas dengan keluhan kulit yang menebal dan menggelap pasca pelepasan gips. Hasil: Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, pasien didiagnosis dengan keloid pada regio antebrachii kanan. Pasien kemudian dilakukan eksisi keloid dan direncanakan untuk terapi ajuvan untuk mencegah kekambuhan. Pada pasien ini terapi post operatif skin tapping dan balutan kompresi menggunakan elastic verband kemudian disarankan untuk kontrol setiap bulannya untuk mencegah kekambuhan.
Rekonstruksi Ruptur Kartilago Aurikula Fortuna, Fory; Febranambela Jovie, Indah
Scientific Journal Vol. 1 No. 3 (2022): SCIENA Volume I No 3, May 2022
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.445 KB) | DOI: 10.56260/sciena.v1i3.51

Abstract

Ruptur kartilago aurikula merupakan salah satu kasus defek yang sering terjadi karena trauma pada area kepala. Hal ini disebabkan oleh posisi telinga yang menonjol di sisi kepala dan hanya tertutup oleh struktur kulit yang tipis. Seorang pasien laki-laki, 17 tahun datang ke Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Universitas Andalas karena luka robek di telinga kiri 30 menit sebelum masuk rumah sakit akibat terkena stang sepeda motor. Pada pemeriksaan fisik, kami dapatkan adanya luka robek dengan avulsi kulit berukuran 2 cm pada area tragus aurikula hingga lobulus dengan ruptur kartilago yang tidak beraturan. Berdasarkan hasil pemeriksaan telinga dalam tidak didapatkan kelainan. Kami lakukan pembersihan luka, perbaikan tepi luka, repair kartilago, dan flap lokal untuk menutup jaringan kartilago, kemudian kami lakukan balut tekan untuk mencegah hematom. Hasil 7 hari setelah dilakukan tindakan tidak ditemukan adanya tanda radang ataupun infeksi, bentuk telinga tampak mendekati struktur normal, skar tampak datar dan samar.  
Autologous Fat Grafting on the Right Leg : Sebuah Laporan Kasus Fortuna, Fory; Rasikarahma, Raina
Scientific Journal Vol. 1 No. 5 (2022): SCIENA Volume I No 5, September 2022
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v1i5.74

Abstract

Pendahuluan: Autologous fat grafting menjadi semakin populer beberapa tahun terakhir dengan banyaknya aplikasi rekonstruksi pada payudara, wajah, pasca radiasi dan luka bakar, anomali kongenital, serta berbagai aplikasi estetika. Keuntungan prosedur ini adalah menggunakan bahan dari tubuh sendiri sehingga kecil kemungkinan terjadi reaksi alergi, jumlah lemak donor yang cukup banyak tersedia, serta dapat bertahan dalam beberapa tahun. Prosedur ini merupakan prosedur berisiko rendah dengan potensi komplikaisi seperti nekrosis lemak, pembentukan kista, selulitis, serta ketidakteraturan kontur. Metode: Pada laporan kasus ini akan dicantumkan tinjauan kepustakaan mengenai autologous fat grafting, serta laporan kasus dan diskusi. Pasien perempuan berusia 25  tahun datang ke poliklinik Bedah Plastik Rumah Sakit M.Djamil Padang dengan keluhan bekas luka pada betis kanan dan kulit terlihat mencekung pada bekas luka. Hasil: Pasien kemudian dilakukan liposuction dan fat graft pada cruris dextra dan diberikan obat pulang berupa antiyeri. Pada pasien ini terapi post operatif luka ditutup dengan menggunakan kasa dan plester kemudian disarankan untuk kontrol setiap bulannya.
Aplikasi Erich Archbars sebagai Intermaxillary Fixation (IMF) pada Fraktur Kompleks Zigomatikomaksilaris: Laporan Kasus Fortuna, Fory; Aryan Abdillah, Hafidz
Scientific Journal Vol. 2 No. 3 (2023): SCIENA Volume II No 3, May 2023
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v2i3.98

Abstract

Intermaxillary Fixation screw telah digunakan dibeberapa center akibat teknik pemasangannya yang lebih singkat dan mudah. Namun terkadang, ketersediaannya terbatas di beberapa Rumah Sakit, dan harganya yang relatif lebih besar daripada achbar. Tulisan ini melaporkan seorang laki-laki 25 tahun yang terlibat kecelakaan lalu lintas satu hari sebelum masuk rumah sakit. Pasien mengeluhkan nyeri pada regio wajah disertai adanya deformitas berupa asimetri wajah. Pada pemeriksaan fisik regio midface terdapat adanya edema, hematoma pada area palpebra inferior kanan dan depresi malar eminens kanan. Pada pemeriksaan CT-Scan didapatkan fraktur zygomatikomaksilla kompleks kanan Tindakan operatif dilakukan dalam general anestesia dengan untuk pemasangan internal fiksasi, dan Gillie’s technique. Pasca operasi didapatkan nyeri berkurang, malar eminens simetris. Gangguan bentuk wajah pasien membaik.
V-Y FLAP pada Squamous Cell Carcinoma Mandibula: Laporan Kasus Fortuna, Fory; Fasril, Thira
Scientific Journal Vol. 2 No. 4 (2023): SCIENA Volume II No 4, July 2023
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v2i4.122

Abstract

Karsinoma sel skuamosa (SCC) merupakan kanker kulit non-melanoma. Karsinoma sel skuamosa adalah karsinoma keratinosit yang menjadi penyebab sebagian besar penyakit metastasis dan kematian akibat kanker kulit nonmelanoma. Histopatologi dan eksisi bedah yang benar tetap menjadi standar emas untuk diagnosis dan pengobatan SCC. Karsinoma sel skuamosa diklasifikan  menjadi  SCC in situ dan bentuk invasif. Peningkatan resiko SCC adalah usia lanjut, eksposur matahari, imunosupresi, dan riwayat kanker kulit sebelumnya. Histopatologi merupakan pemeriksaan untuk dasar tegaknya diagnosis SCC. Tulisan ini melaporkan seorang perempuan berusia 64 tahun dengan keluhan benjolan disekitar mulut dan rahang bawah. Benjolan dirasakan semakin membesar dalam tiga bulan terakhir. Pasien memiliki riwayat penurunan berat badan 10 kg dan merupakan seorang petani. Saat, dilakukan pemeriksaan fisik, pada regio mentalis ditemukan benjolan berukuran 6x4x3 cm. Pada pemeriksaan biopsi   diagnosis   pasien   adalah   keratinized   squamous   cell   carcinoma   moderate   to    poorly differentiated. Pada pasien dilakukan mandibulektomi dan dilanjutkan rekontruksi V-Y flap. Tahap pertama adalah membuat sayatan berbentuk huruf V. Tahap kedua bertujuan untuk membentuk bagian mandibular dengan menggeser membentuk huruf Y.
Teknik Millard Modifikasi pada Labiopalatoskizis Komplit Unilateral: Case Report with Literature Review Fortuna, Fory; S, Rahmawati
Scientific Journal Vol. 3 No. 2 (2024): SCIENA Volume III No 2, March 2024
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v3i2.133

Abstract

Labiopalastokizis atau yang biasa dikenal di masyarakat dengan sebutan bibir sumbing atau celah bibir, baik ada atau tanpa celah langit – langit. Labiopalastokizis merupakan kelainan kongenital kraniofasial, yang bersifat unilateral atau bilateral. Seorang pasien perempuan berusia 10 bulan datang ke Poliklinik Bedah Plastik Rumah Sakit Universitas Andalas, karena terdapat celah pada bibir dan langit-langit sejak lahir, pasien sering tersedak saat minum karena ada celah tersebut. Salah satunya teknik millard yang sudah banyak dipakai pada kasus ini. Ide inovatif Millard berdampak besar pada operasi bibir sumbing, tetapi melalui kegigihan dan tinjauan kritis terhadap hasil pasca operasi, modifikasi muncul. Labiopalastokisis merupakan masalah yang harus dihadapi dengan melakukan pembedahan.
Analisis Perbedaan Tarif Riil dengan INA-CBG'S Pelayanan Operasi Bedah Plastik di Rumah Sakit Universitas Andalas Fortuna, Fory; Yurniwati, Yurniwati; Semiarty, Rima
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 10 (2024): Volume 4 Nomor 10 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i10.15099

Abstract

ABSTRACT Since BPJS Kesehatan and INA-CBG’s were being applied in Indonesia, various groups were worried about the difference phenomenon with the real rates invented by previous researchers. Plastic surgery services at UNAND Hospital have fluctuated in the last three years. The phenomenon of the difference between the real RS rates and the large INA-CBG's rates was also found. The purpose of the study was to see and to describe the differences between real rates and INA-CBG's in reconstructive plastic surgery patients at UNAND Hospital. This study used secondary data from medical records of 72 cases. The independent variables consist of age, gender, insurance class, action class, length of stay, service, drugs/BMHP, real hospital rates and INA-CBG's rates. The variable that depends on this research is the difference between the real RS rate and the INA-CBG's rate. Characteristics of respondents with an average age of 28,20 ± 19,88 years, more men than women (59.7%:40.3%, n=72), average length of stay was 2,34±1,95 days, average cost of medicine/BMHP was Rp. 884,968, -, average services cost was Rp. 2,393,800. The most treatment class used was class 3, with the most treatment done was khusus 1. Length of stay, operation class and drug/BMHP were significantly related to the difference in both rates (p=0.00, p=0.012, p=0.00). The conclusion that there was a significant difference between the real hospital rates and INA-CBG's rates in plastic surgery cases at UNAND Hospital. Length of stay, class of operation and drug/BMHP were significantly related to the difference in rates. Keywords: Real Rates, INA-CBG's Rates, Service Cost Component  ABSTRAK Sejak BPJS kesehatan dan INA-CBG’s diberlakukan, berbagai kalangan khawatir karena ditemukannya beberapa fenomena selisih tarif oleh peneliti terdahulu. Pelayanan bedah plastik di RS UNAND mengalami fluktuasi tiga tahun terakhir. Ditemukan juga fenomena selisih antara tarif riil RS dengan tarif INA-CBG’s yang besar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat perbedaan antar tarif riil dan INA-CBG’s pada pasien bedah plastik rekonstruksi di RS UNAND. Metode penelitian: Penelitian ini menggunakan data sekunder yaitu sebanyak 72 kasus. Variabel independen terdiri atas umur, jenis kelamin, kelas jaminan, kelas tindakan, lama rawat, jasa pelayanan, obat/BMHP, tarif riil RS dan tarif INA-CBG’s. Variabel dependen pada penelitian ini adalah selisih tarif riil RS dengan tarif INA-CBG’s. Hasil pada penelitian ini didapatkan rerata umur dalam tahun yaitu 28,20 ± 19,88, laki-laki lebih banyak dari perempuan (59,7%:40,3%, n=72), rerata lama rawat 2,34±1,95 hari, rerata biaya obat Rp.884,968,-, rerata jasa pelayanan Rp.2,393,800. Kelas rawatan terbanyak adalah kelas 3, dengan tindakan terbanyak adalah khusus 1. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan bermakna antar rerata tarif riil dengan INA-CBG’s (p=0,00). Lama rawat, kelas tindakan dan obat/BMHP berhubungan signifikan dengan selisih tarif. Kata Kunci: Tarif Riil, Tarif INA-CBG’s, Komponen Biaya Pelayanan 
Granulation Red Index To Assess Pressure Ulcer Granulation Tissue Quality Treated By Honey Gauze Dressing By Digital Image Analysis Fortuna, Fory; Putri, Nandita Melati; Sudjatmiko, Gentur
Jurnal Plastik Rekonstruksi Vol. 6 No. 2 (2019): Jurnal Plastik Rekonstruksi
Publisher : Lingkar Studi Bedah Plastik Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.459 KB) | DOI: 10.14228/jpr.v6i2.284

Abstract

Background : Good formation of granulation tissue in the ulcer bed is regarded as one of the indicators of pressure ulcer healing. Granulation red index (GRI) had been published as an objective parameter to assess the quality of granulation tissue. Honey stimulates granulation of tissue and creates a moist healing environment. However, the assessment of granulation tissue quality of pressure ulcers treated by honey has yet to be proven in clinical settings. In this study, we evaluate the granulation tissue quality of pressure ulcers treated by honey using granulation red index by digital image analyses. Method: There were 12 subjects who fulfill inclusion criteria treated by honey gauze dressing and were evaluated every week for three times measurements of %GRI and DESIGN-­?score. Parameters of this study were the delta %GRI80 and DESIGN-­?R score. Correlations were evaluated by Spearman’s correlation coefficient. Result : The correlation of delta GRI80% and DESIGN-­?R score was statistically significant from baseline measurement to first week of treatment and to second week of treatment (r1=0.65, p1=0.02 and r3=0.832, p2=0.001). The correlation of delta GRI80% and DESIGN-­?R score from first to second week therapy was not statistically significant (r=0.23, p=0.47), but the GRI80% from first week therapy to second week of therapy was increasing and DESIGN R score was decreasing. Conclusion:This study shows the correlation of %GRI80 and DESIGN-­?R score of pressure ulcer after the treatment of honey gauze dressing. This study hopefully assists further study for wound bed preparation assessment and treatment of pressure ulcer for surgical intervention.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KETERLAMBATAN PASIEN KANKER PAYUDARA DATANG KE RSUP DR. M. DJAMIL PADANG Narulita, Jaesica Salsabila Dwi; Fortuna, Fory; Semiarty, Rima; Lestari, Yuniar; Oktavenra, Ari; Welan, Rahmani
EMPIRIS : Jurnal Sains, Teknologi dan Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2025): EMPIRIS : Jurnal Sains, Teknologi dan Kesehatan, Maret 2025
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/empiris.v2i1.972

Abstract

West Sumatra ranks third as the province with the highest incidence of breast cancer in Indonesia. Breast cancer is an uncontrolled growth of cells in breast tissue that requires immediate management. Most breast cancer patients seek medical care late, leading to the majority of cases being diagnosed at an advanced stage with a poorer prognosis. Identifying the factors contributing to this delay is crucial. This study aims to examine the relationship between various factors and the delay in patients seeking healthcare services. This research is an analytical observational study with a cross-sectional approach, conducted at RSUP Dr. M. Djamil Padang from August to October 2022, with a total sample of 72 respondents. Data were collected through questionnaires and analyzed using the chi-square test. The results indicate a significant relationship between education level (P = 0.009), knowledge (P = 0.000), fear (P = 0.000), socioeconomic status (P = 0.000), healthcare accessibility (P = 0.000), and the use of alternative medicine (P = 0.000) with delays in seeking healthcare services. However, no significant relationship was found between health insurance (P = 0.499) and social support (P = 0.139) and delays in seeking healthcare services. This study concludes that the factors associated with delays in seeking healthcare services among breast cancer patients include education, knowledge, fear, socioeconomic status, healthcare accessibility, and the use of alternative medicine
Karakteristik Pasien Fraktur Tulang Wajah di RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2020-2022 Alhakim, Hafidh Taufiq; Saputra, Deddy; Hendriati, Hendriati; Fortuna, Fory; Windasari, Noverika; Elmatris, Elmatris
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 4 (2024): Desember 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v5i4.1369

Abstract

Latar Belakang: Angka kejadian cidera pada bagian kepala dan wajah terus meningkat tiap tahunnya. Fraktur tulang wajah terkait dengan morbiditas dan mortalitas yang signifikan karena regio tersebut memiliki fungsi vital seperti, otak, rongga mulut, hidung, dan saluran napas. Keadaan cidera wajah yang berat dapat berisiko menyebabkan kecacatan seperti gangguan fungsi dan estetika wajah. Objektif: mengetahui karakteristik pasien fraktur tulang wajah di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Sampel penelitian diambil dengan Teknik simple random sampling. Sampel penelitian ini adalah data sekunder pasien fraktur tulang wajah di RSUP Dr. M. Djamil pada tahun 2020-2022. Sebanyak 99 sampel memenuhi kriteria. Hasil analisis data disajikan dalam bentuk tabel frekuensi dan persentase. Hasil: Karakteristik pasien fraktur tulang wajah paling banyak berjenis kelamin laki-laki (76,7%), pada kelompok usia 17-25 tahun (33,3%), dan merupakan pelajar atau mahasiswa (41,4%). Etiologi fraktur tulang wajah paling banyak disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas (87,8%). Fraktur tulang wajah yang sering terjadi adalah fraktur tulang wajah multipel (38,3%). Sebagian besar pasien fraktur tulang wajah memiliki lama rawat inap kurang dari 10 hari (69,9%). Kesimpulan: pasien fraktur tulang wajah sebagian besar berjenis kelamin laki-laki, paling banyak kelompok usia 17-25 tahun, dan merupakan pelajar atau mahasiswa. Etiologi fraktur tulang wajah sebagian besar disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas. Lokasi fraktur tulang wajah paling banyak terjadi adalah fraktur tulang wajah multipel. Lama rawat inap pasien fraktur tulang wajah paling banyak selama kurang dari 10 hari.