Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Evaluasi Berbagai Tatalaksana Rekonstruktif pada Pasien dengan Defek Besar yang Melibatkan Margin Palpebra Inferior: Kajian Sistematis Azharudina, Adiba; Fortuna, Fory; Sayuti, Kemala; Saputra, Deddy; Ilahi, Fitratul; Elmatris, Elmatris
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i2.987

Abstract

Latar Belakang: Palpebra atau kelopak mata berperan dalam melindungi mata dari trauma dan benda asing. Trauma pada palpebra dapat menimbulkan defek. Defek dianggap besar jika melibatkan lebih dari separuh margin palpebra dan dibutuhkan tatalaksana rekonstruktif untuk mengembalikan fungsi dan estetikanya. Tatalaksana tersebut tidak lepas dari kemungkinan komplikasi yang akan terjadi. Objektif: Mengevaluasi berbagai tatalaksana pada pasien dengan defek besar yang melibatkan margin palpebra inferior berdasarkan komplikasi yang muncul.  Metode: Penelitian ini merupakan kajian sistematis. Pencarian literatur dilakukan melalui 2 sumber basis data yaitu Pubmed dan Google Scholar dalam rentang publikasi dari tahun 2017-2021. Artikel diseleksi berdasarkan kriteria eligibilitas yang telah ditentukan. Penelitian ini membahas pilihan tatalaksana rekonstruktif pada pasien dengan defek besar yang melibatkan margin palpebra inferior. Hasil. Terdapat 2.363 publikasi yang diseleksi hingga tercapai tujuh studi yang akan dikaji. Dari ketujuh studi ditemukan berbagai tatalaksana rekonstruksi yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah ini, seperti penggunaan Smith-Modified Kuhnt szymanowski, flap Tenzel, flap Advancement V-Y, flap Hughes termodifikasi, kombinasi graft kondromukosal nasal dengan flap, serta kombinasi tarsoconjunctival graft dengan myocutaneus flap. Flap tenzel memiliki nol pasien yang mengalami komplikasi. Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah flap Tenzel menjadi tatalaksana rekonstruktif terbaik dengan tidak ditemukannya komplikasi pada pasien
Profil Pasien Luka Bakar dengan Syok Hipovolemik di RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2019-2021 Addina, Azka; Saputra, Deddy; Manela, Citra; Fortuna, Fory; Elvira, Dwitya; Putra, Syandrez Prima
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i2.1304

Abstract

Latar Belakang: Syok hipovolemik adalah suatu keadaan gawat darurat pada luka bakar yang meningkatkan risiko kematian. Pemahaman tentang karakteristik pasien luka bakar dengan syok hipovolemik sangat penting untuk mempercepat penegakan diagnosis dan menurunkan risiko mortalitas. Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk menilai karakteristik pasien luka bakar yang mengalami syok hipovolemik. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Variabel yang diteliti adalah usia, jenis kelamin, penyebab, derajat luka, luas luka, komorbid, dan fasilitas kesehatan asal. Data penelitian diambil dari data sekunder rekam medis di Instalasi Rekam Medis RSUP Dr. M. Djamil Padang tahun 2019-2021. Analisis data dilakukan menggunakan analisis univariat yang dilakukan pada setiap variabel penelitian. Hasil: Sebanyak 30 pasien luka bakar dengan syok hipovolemik diikutsertakan ke dalam penelitian. Kasus terbanyak ditemukan pada kelompok usia 36-45 tahun, laki-laki, luka bakar api, derajat full thickness, luas luka 20-39% dan 40-59% TBSA, komorbid penyakit paru, serta rujukan dari rumah sakit tipe C. Kesimpulan: Risiko kejadian syok hipovolemik perlu diwaspadai pada kasus luka bakar usia dewasa akhir, luka bakar pada laki-laki, luka bakar akibat api, luka bakar dengan derajat full thickness serta luka bakar mayor, dan pada kasus dengan komorbid paru.
Functional Outcome of Post Anterior Cruciate Ligament Reconstruction Patients in Dr. M. Djamil Central General Hospital Padang 2020-2022 Rinaldiansyah; Rahmadian, Rizki; Fortuna, Fory; Eka Sahputra, Roni; Ramda Ilhami, Yose; Renita Rusjdi, Selfi
(JOINTS) Journal Orthopaedi and Traumatology Surabaya Vol. 14 No. 1 (2025): April 2025
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/joints.v14i1.2025.10-18

Abstract

Background: The anterior cruciate ligament (ACL) is the main stabilizer of the knee joint. The incidence of ACL injuries is quite high, especially in individuals who participate in sports. ACL injuries result in knee instability, hindering daily activities and sports participation. This study aimed to determine the functional outcomes of patients who have undergone ACL reconstruction. Methods: This study was descriptive, with a cross-sectional approach, and used medical record data from Dr. M. Djamil Central General Hospital Padang. The total sampling technique was used from patients after ACL reconstruction in 2020-2022. Patients with bilateral knee injuries, multiple ligament injuries, or revision reconstruction were excluded from the study. The samples were contacted to determine their functional outcome by filling out the Lysholm Knee Score. Results: This study analyzed 27 patients, with 77.8% in the 19-44 age group, and no patients were over 60 years old. This study identified 85.2% of male patients with sports-related injuries being the most common (70.4%). The non-dominant knee was injured more frequently (51.9%). Functional outcomes, as assessed by the Lysholm Knee Score, showed excellent, good, and moderate results in 37 %, 29.6%, and 33.3% of patients, respectively. Conclusions: ACL reconstruction was most frequently performed in the adult population aged 19–44 years, predominantly in males. Sports-related injuries were the primary cause, with the majority of reconstructions involving the non-dominant knee. The average patient achieved good functional outcomes after ACL reconstruction.
Gambaran Format dan Kelengkapan Pengisian Sertifikat Kematian di Rumah Sakit : Sebuah Tinjauan Pustaka Marwin, Fikri Alhafizd; Susanti, Rika; Fortuna, Fory; Windasari, Noverika; Rustam, Rony; Hasmiwati, Hasmiwati
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 7 (2024): Volume 4 Nomor 7 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i7.14520

Abstract

ABSTRACT Medical Certificate Cause of Death (MCCD) or death certificate is a letter made by the hospital and filled out by the doctor in charge to explain that someone has died. The standard format and instructions for filling out death certificates in Indonesia are issued by the Research and Development Agency of the Ministry of Health, Republic of Indonesia. In practice, several hospitals in Indonesia produce death certificates that do not comply with the standard format and do not follow the instructions for filling out the information issued by the Research and Development Agency of the Ministry of Health, Republic of Indonesia, so that death certificates are often filled out incompletely. This literature review aims to determine the suitability of the format and completeness of filling out a death certificate as well as the factors causing discrepancies and incomplete filling. This research takes the form of a literature review using provider databases, such as Google Scholar and nationally accredited journal sites with the keywords "Medical Cause of Death Certificate (MCCD)", "Death Certificate", and "Death Certificate (SKK)". The results showed that a total of 4 articles were related to the format of death certificates and 8 articles were related to the completeness of filling out death certificates from 2013-2023. Based on the research that has been carried out, it can be concluded that the format of death certificates issued by hospitals in Indonesia still does not follow the standard format of the Research and Development Agency of the Indonesian Ministry of Health. Overall, the completeness of filling out death certificates in several hospitals in Indonesia is still low. Factors causing format discrepancies are the hospital's ignorance of the standard format and the hospital's failure to evaluate and change the death certificate format. Factors causing incomplete filling in are the absence of guidelines for filling out, the absence of regulations and SOPs for filling out death certificates, lack of attention, and quantitative analysis that has not been optimal. Keywords: Medical Certificate Cause of Death, Death Certificate,  Completeness of Filling  ABSTRAK Sertifikat Medis Penyebab Kematian (SMPK) atau sertifikat kematian adalah surat yang dibuat oleh rumah sakit serta diisi oleh dokter penanggung jawab untuk menerangkan bahwa seseorang telah meninggal. Format baku dan petunjuk pengisian sertifikat kematian di Indonesia dikeluarkan oleh Badan Litbangkes Kemenkes Republik Indonesia. Dalam penerapannya, beberapa rumah sakit di Indonesia membuat sertifikat kematian yang tidak sesuai dengan format baku dan tidak mengikuti petunjuk pengisian yang telah dikeluarkan oleh Badan Litbangkes Kemenkes RI sehingga sering didapatkan pengisian sertifikat kematian yang tidak lengkap. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesesuaian format dan kelengkapan pengisian sertifikat kematian serta faktor penyebab ketidaksesuaian dan ketidaklengkapan pengisian. Penelitian ini berupa tinjauan pustaka menggunakan database penyedia, seperti google scholar dan situs jurnal terakreditasi nasional dengan kata kunci “Sertifikat Medis Penyebab Kematian (SMPK)”, “Sertifikat Kematian”, dan “Surat Keterangan Kematian (SKK)”. Hasil didapatkan total 4 artikel terkait dengan format sertifikat kematian dan 8 artikel terkait dengan kelengkapan pengisian sertifikat kematian dari rentang tahun 2013-2023. Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa format dari sertifikat kematian yang dikeluarkan oleh rumah sakit di Indonesia masih banyak yang belum mengkuti format baku  dari Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan RI. Secara keseluruhan, kelengkapan pengisian sertifikat kematian pada beberapa rumah sakit di Indonesia masih rendah. Faktor penyebab ketidaksesuain format adalah ketidaktahuan pihak rumah sakit terhadap format baku serta pihak rumah sakit yang tidak melakukan evaluasi dan perubahan dari format sertifikat kematian. Faktor penyebab ketidaklengkapan pengisian adalah tidak adanya pedoman pengisian, tidak adanya peraturan dan SOP pengisian sertifikat kematian, kurangnya perhatian, dan analisis kuantitatif yang belum optimal. Kata Kunci: Sertifikat Medis Penyebab Kematian, Sertifikat Kematian, Kelengkapan Pengisian