Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Skin Rejuvenation with Microbotox: A Review Malinda, Ifen Ayu; Jusuf, Nelva Karmila
Journal of General - Procedural Dermatology & Venereology Indonesia Vol. 9, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Skin aging is characterized by a gradual loss of tissue and organ function. Skin aging can be classified into two types: intrinsic aging, associated with the aging process itself, and extrinsic aging, which is linked to external factors. Microbotox—an intradermal injection of diluted botulinum toxin—has emerged as a promising technique for rejuvenation by improving skin texture, pore size, and sebum control. This review aims to provide a comprehensive overview of the microbotox technique in the context of skin aging, emphasizing its mechanisms, indications, and clinical outcomes. Discussion: In Asia, intradermal injection of botulinum toxin or microbotox has been widely adopted. The technique involves injecting microdroplets of onabotulinumtoxin type A (ONA) into the intradermal layer at lower concentrations compared to conventional methods. Microbotox is highly sought after for its ability to improve skin texture, address enlarged pores, control sebum, and rejuvenate the skin without the stiffness often associated with conventional botox. Conclusion: Microbotox provides multiple dermatological benefits, including improved skin texture, pore reduction, oil control, and fine line softening, with minimal side effects. As an intradermal technique, it offers a safer and subtler alternative to traditional botox. It provides rapid results lasting up to 3-4 months, making it a valuable tool in aesthetic dermatology. This has made microbotox one of the most popular skin rejuvenation treatments today.
Peremajaan Leher Non-Invasif lubis, sri nauli dewi; Jusuf, Nelva Karmila
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 4 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i4.452

Abstract

Leher merupakan area yang rentan menunjukkan tanda-tanda penuaan seperti kekenduran kulit, kerutan, akumulasi lemak submental, dan banding otot platysma, yang secara keseluruhan menurunkan estetika wajah bagian bawah. Klasifikasi Dedo merupakan sistem yang paling umum digunakan untuk menilai perubahan anatomi akibat penuaan pada leher. Seiring meningkatnya permintaan masyarakat terhadap prosedur estetika yang lebih aman, efektif, dan minim waktu pemulihan, berbagai pendekatan non-invasif dan minimal invasif untuk peremajaan leher telah berkembang pesat. Modalitas non-invasif seperti radiofrekuensi, laser non-ablatif, Intense Pulsed Light, dan focused ultrasound, telah terbukti mampu meningkatkan kekencangan dan kualitas kulit dengan efek samping minimal. Di sisi lain, pendekatan minimal invasif seperti injeksi toksin botulinum dan asam hialuronat juga memberikan perbaikan signifikan terhadap kontur leher, hidrasi kulit, dan garis-garis horizontal di leher.
ACNE TRUNCAL AKNE TRUNKAL: AKNE TRUNKAL Jusuf, Nelva Karmila; Simanjuntak, Desy Sahara Putri
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 4 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i4.552

Abstract

Akne vulgaris merupakan salah satu gangguan inflamasi kronis pada unit pilosebasea yang sering dijumpai. Cutibacterium acnes (C. acnes) merupakan bakteri utama yang berkontribusi dalam proses patogenesis penyakit ini. Lesi akne seperti komedo, papula, pustula, hingga nodul yang dapat muncul di berbagai area tubuh, termasuk wajah, leher, serta batang tubuh yang dikenal sebagai akne trunkal. Sebanyak 61% pasien akne vulgaris juga mengalami keterlibatan area trunkal. Walaupun patogenesis akne wajah dan akne trunkal secara umum serupa, adanya perbedaan karakteristik anatomi dan fisiologis kulit trunkal diyakini dapat memengaruhi respons terhadap terapi. Secara teoritis, akne trunkal dapat ditangani dengan pendekatan terapeutik yang serupa dengan akne vulgaris pada wajah Namun, kepatuhan pasien terhadap terapi topikal sering menjadi kendala, terutama karena luasnya area lesi dan kesulitan dalam aplikasi obat. Oleh karena itu, pemahaman yang komprehensif mengenai tata laksana akne trunkal sangat penting, mengingat terapi sistemik seperti antibiotik oral sering digunakan sebagai alternatif, meskipun penggunaannya harus dilakukan secara hati-hati karena risiko peningkatan resistensi antibiotik.