Claim Missing Document
Check
Articles

Pelatihan Desain Kemasan Produk Olahan Bandeng di Desa Sawohan Sidoarjo Dyan Agustin
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 3 No 2 (2021): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v3i2.125

Abstract

Desa Sawohan terletak di pesisir Sidoarjo dengan mata pencaharian sebagai petani tambak. Sekarang ini di Desa Sawohan banyak bermunculan industri kecil yang menghasilkan berbagai produk yang tidak kalah kwalitasnya salah satunya adalah UD. AABA yang menghasilkan antara lain produk bandeng presto, bandeng crispy, bandeng tanpa duri, kerupuk udang, kerupuk payus dll. Kesulitan yang dihadapi para pengrajin tersebut adalah karena kemasan dari produk mereka yang kurang menarik sehingga tidak bisa menembus pasar lebih besar. Dari permasalahan tersebut maka diperlukan solusi yaitu pelatihan desain kemasan dan pemasaran secara online. Saat ini kemasan bukan lagi sebagai pelindung atau wadah tetapi harus dapat menjual produk yang dikemasnya. Peningkatan pemasaran suatu produk dapat dilakukan melalui perbaikan desain kemasan. Desain kemasan yang baik adalah desain yang mampu memberikan informasi yang lengkap, menarik dan jelas dalam memasarkan suatu produk khususnya produk hasil tambak yang dihasilkan oleh masyarakat Desa Sawohan Sidoarjo. Kegiatan pelatihan dilaksanakan dengan melatih desain kemasan untuk meningkatkan kualitas produk. Desain kemasan bandeng dibuat semenarik mungkin dengan bentuk pillow box. Ada 3 jenis kemasan yang cocok digunakan pada produk olahan bandeng, antara lain kemasan primer yaitu kemasan plastic vacuum, kemasan sekunder yaitu kemasan kardus yang berbentuk kebab dan kemasan tersier yaitu berupa tas atau kardus. Dengan adanya kegiatan pengabdian ini menghasilkan desain kemasan yang baru, menarik dan aman dari produk hasil tambak di Desa Sawohan Sidoarjo sehingga produk mereka akan bisa menembus pasar yang lebih besar dan bisa menambah pendapatan serta menjadikan desa Sawohan lebih dikenal dan nantinya bisa menjadi desa wisata.
Eksplorasi Produk Aksesoris dari Bahan Limbah Botol Plastik dengan Metode Fabrikasi Sederhana Niniek Anggriani; Dyan Agustin; Ratna Andriani Nastiti
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 4 No 1 (2022): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v4i1.147

Abstract

Plastic is an element that is widely used in modern human life. There are many benefits of using this plastic but it also brings harm. Plastic waste can pollute the environment, both land and sea and this is very dangerous for human survival. Therefore, efforts need to be made to reduce the amount of plastic waste, one of which is by processing plastic bottle waste into accessory products such as necklaces, bracelets, earrings, mask connectors and so on.Techniques that can be used in the exploration of plastic bottles, especially hard and soft plastic types to become accessories, are simple fabrication methods, including cutting, heating, softening, bending, and forming.. The method used in this service consists of 2 stages, namely the counseling stage by explaining the importance of processing plastic waste and showing examples that have been made and the training stage. With this method, it is hoped that the training participants will get a better picture and be able to be creative. This training activity was carried out in RT 6 RW 2 Lowokwaru Malang with the target participants being young women and housewives. One of the results of this training is a mask connector which is currently very much needed so that it can be sold and can increase skills and family income.
Tradisi Lisan sebagai Salah Satu Sumber Eksplorasi Desain Arsitektur Nusantara (Studi Kasus Museum Purna Bhakti Pertiwi, Tugu Monas dan Gedung DPR/MPR RI) Dyan Agustin; Fairuz Mutia; Wiwik Dwi Susanti
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 17, No 2: Juli 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2091.169 KB) | DOI: 10.23917/sinektika.v17i2.11566

Abstract

Bahasa atau teks adalah salah satu unsur pembentuk dari arsitektur nusantara. Sebagai salah satu bentuk pengetahuan arsitektur nusantara dapat dipahami dari aspek fisik, naskah tertulis dan naskah lisan. Cara yang biasa dilakukan untuk menyampaikan pengetahuan dalam konteks kelisanan adalah melakukan perbincangan atau dengan rupa cerita yang berupa mitos atau legenda. Ungkapan kelisanan tersebut berpotensi sebagai rekaman pengetahuan. Tradisi lisan bisa digunakan sebagai strategi desain dalam mengeksplorasi arsitektur nusantara dengan melakukan pemalihan/transformasi. Dalam proses transformasi dilakukan tiga tahap antara lain pemalihan tradisional, peminjaman dan dekomposisi. Pemalihan tradisional dilakukan pada tahap awal perancangan dengan memperhatikan norma, filosofi dan tradisi lisan. Tahap selanjutnya yaitu dilakukan peminjaman dengan meminjam bentukan dan ruangan dari bangunan dengan arsitektur modern. Terakhir adalah mendekomposisikan menjadi sesuatu yang baru. Tujuan dari penelitian ini adalah menemukan langkah langkah yang paling tepat untuk mengolah desain arsitektur nusantara melalui tradisi lisan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui studi literature. Pemilihan sampel dilakukan secara purposive sample (bertujuan) pada obyek museum Purna Bhakti Pertiwi dan Tugu Monas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua obyek tersebut menggunakan tradisi lisan dengan metode interpretasi dan transformasi.
Kedai Kopi: Kepintaran Kopi dalam Menciptakan Ruang di Kota Malang Wiwik Dwi Susanti; Fairuz Mutia; Dyan Agustin
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 17, No 2: Juli 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1961.241 KB) | DOI: 10.23917/sinektika.v17i2.11569

Abstract

“Ngopi sek ben gak salah paham” merupakan salah satu jargon andalan di masyarakat Jawa Timur. Dimana jargon tersebut merupakan ajakan untuk minum kopi di kedai kopi sambil ngobrol dan menikmati rokok selama berjam-jam. Sehingga terdapat pergeseran makna dalam menikmati kopi. Kopi tidak lagi sebagai minuman pelengkap yang hanya bisa dinikmati di rumah, tetapi kopi menjadi pusat dalam menghadirkan suatu ruang dan sebagai wujud keseharian kaum pinggiran dan kaum urban. Dalam perkembangan kedai kopi tidak lagi identik dengan bangunan masif tetapi lebih kepada konsep berkumpul (sosialisasi). Manusia dengan sendirinya akan menghadirkan ruang ketika menikmati kopi. Sehingga banyak ditemukan kepintaran kopi dalam menciptakan ruang dengan keberagaman langgam. Penelitian ini berusaha untuk mengupas kepintaran kedai kopi dalam menciptakan ruang melalui pendekatan campuran kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian adalah adanya ruang yang diciptakan oleh kopi yaitu ruang budaya, ruang arsitektural, ruang imajinatif dan ruang digital.
Peranan Pusat Seni dan Budaya sebagai Bentuk Upaya Pelestarian Budaya Lokal Nur Atin Amalia; Dyan Agustin
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 19, No 1: Januari 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (523.64 KB) | DOI: 10.23917/sinektika.v19i1.13707

Abstract

Tingginya arus globalisasi membawa pengaruh besar terhadap masyarakat Indonesia terutama di kalangan anak muda. Mulai dari gaya hidup yang berbeda hingga lunturnya rasa cinta seni dan budaya nusantara. Perlu adanya solusi untuk menjaga kelestarian seni dan budaya nusantara agar tidak musnah. Pusat Seni dan Budaya merupakan modal awal yang diterapkan sebagai solusi ditengah tingginya pengaruh globalisasi terhadap masyarakat untuk melestarikan seni dan budaya Nusantara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis “Peranan Pusat Seni dan Budaya dari Segi Arsitektur dalam Melestarikan Seni dan Budaya di Nusantara”, berawal dari budaya lokal yang ada di setiap wilayah Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus. Studi kasus yang diambil meliputi 2 objek yaitu Taman Budaya Jawa Timur dan Taman Budaya Yogyakarta. Temuan penelitian ini menjelaskan bahwa Pusat seni dan budaya adalah fasilitas yang dibutuhkan di setiap wilayah Indonesia sebagai wadah seni dan budaya lokal yang terbukti memberikan pengaruh besar terhadap kalangan anak muda dan seniman untuk mencintai seni dan budaya, sebagai fasilitas edukasi dan tempat berkumpulnya para seniman untuk melestarikan seni dan budaya. Selain itu bentuk arsitektural yang diterapkan merupakan bentuk pelestarian yang besar dan memberikan pengaruh yang tinggi terhadap masyarakat dalam mengenal seni dan budaya lokal di Nusantara.
Konsepsi Arsitektur Nusantara: Makna Ruang Bersama dalam Ruang Privat Desa Keboansikep-Keboananom Sidoarjo Fairuz Mutia; Dyan Agustin; Wiwik Dwi Susanti
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 18, No 1: Januari 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2545.065 KB) | DOI: 10.23917/sinektika.v18i1.13314

Abstract

Arsitektur selalu merasa perlu membagi antara fungsi dan zona ruang privat, publik dan servis. Dalam telaah kajian ruang nusantara, pembagian ini seperti samar dan kadangkala tidak berlaku. Pada Desa Keboan Sikep di Sidoarjo, yang secara fisik telah berubah modern, beberapa nilai nusantara masih sangat terasa. Hal ini menjadi menarik ketika adanya beberapa konsepsi mengenai ruang bersama yang memanfaatkan lahan pribadi warga. Penggunaan istilah fungsi maupun guna menjadi layak untuk dipertanyakan dan ditelaah dalam balai pos ronda yang dihasilkan oleh masyarakat Desa Keboan Sikep. Nilai – nilai kenusantaraan dengan prinsip rela berkorban yang menjadi representasi tentang arsitektur nusantara melalui pemaknaan ruang yang berbeda. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-kualitatif. Dengan pendekatan fenomenologi, balai pos ronda kemudian ditelusuri melalui hakikat rong, space dan juga place, selain memahami dalam bentuk ekspresi visual-spasial kawasannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya nilai – nilai nusantara yang tertanam secara intuitif yang kadangkala tidak selalu berupa ekspresi visual, namun lebih kepada spasial. Dalam arus hegemoni modern dan arsitektur euro-ricacentrism yang kental, nyatanya manusia masih mengejawantahkan nilai – nilai kenusantaraan dalam tingkahlaku dan pembentukan ruangnya 
Kajian Ornamen pada Rumah Tradisional Madura Dyan Agustin; Nur Rahmatul Lailiyah; Mu'ammar Fadhil; M Ferdiyan Arya
NALARs Vol 19, No 2 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 2 Juli 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.19.2.97-104

Abstract

ABSTRAK. Ornamen merupakan suatu hiasan yang dibentuk dengan mengembangkan dari bentuk-bentuk yang ada di alam. Ornamen pada bangunan tradisional berbentuk ragam hias dimana teknik maupun pengungkapannya dibuat menurut aturan-aturan, norma serta pola yang telah digariskan dan menjadi kesepakatan bersama dan diwariskan secara turun temurun.  Pada rumah tinggal Madura, terdapat ornamen dalam elemen arsitekturalnya dimana keberadaan ornamen tersebut tidak lepas dari adanya akulturasi kebudayaan antar suku yang menetap di Madura. Penelitian ini membahas akulturasi kebudayaan mana saja yang mempengaruhi bentuk, warna ornamen di rumah tradisional Madura serta makna dari masing-masing motif ornamen yang digunakan. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan analisis deduktif untuk mengetahui rupa visual dari ornamen pada rumah tradisional di Madura. Hasil analisis menunjukkan beberapa motif yang digunakan pada rumah tradisional Madura antara lain motif flora, fauna antara lain motif ekor ular, naga, burung phoenix dan motif swastika. Pada motif flora-swastika merupakan akulturasi kebudayaan dari Cina, Jawa hindu, dan Madura. Motif flora fauna didominasi dengan hasil akulturasi budaya antara Madura dengan Cina. Untuk area penempatan ornamen bagian atap, dinding, pintu, kolom. Sedangkan penempatan ormanen pada komplek hunian Tanean Lanjhang adalah roma tongghuh (rumah induk) dan Roma na’poto (Rumah Anak). Sedangkan pada kobhung (langgar), tanean (halaman), dapor (dapur), kandhang (kandang) tidak terdapat ornamen karena tempat tersebut lebih diutamakan segi fungsinya. Kata kunci: Ornamen, Rumah, Madura ABSTRACT. Ornament is a decoration that is formed by developing from the forms that exist in nature. Ornaments in traditional buildings are in the form of decoration. The techniques and disclosures are made according to the rules, norms, and patterns that have been outlined and become collective agreements and passed down from generation to generation. In Madura's house, there is an ornament in its architectural element where the decoration's existence is inseparable from the acculturation of cultures between tribes who settled in Madura. This study discusses which cultural acculturation influences the shape, the colour of ornaments in traditional Madurese homes, and the meaning of each ornamental motif used. The method used is a qualitative method with a deductive research method to determine the visual appearance of ornaments in traditional houses in Madura. The analysis results showed several motifs used in traditional Madurese homes, including flora and fauna motifs, including snake-tailed motifs, dragons, phoenixes, and swastika motifs. The flora-swastika motif is an acculturation of culture from China, Hinduism, Java, and Madura. The motif of flora and fauna is dominated by the results of cultural acculturation between Madura and China. For the ornamental placement area of the roof, walls, doors, columns. The placement of people in Tanean Lanjhang residential complex is Rome Tongghuh (main house) and Roma na'poto (Children's House). While in kobhung (langgar), tanean (page), dapor (kitchen), kandhang (cage), there are no ornaments because the place is preferred in terms of function.Keywords: Ornament, House, Madura 
KAJIAN PENATAAN RUANG STUDIO GAMBAR PROGRAM STUDI ARSITEKTUR DI ERA NEW NORMAL PANDEMIC COVID 19 Dyan Agustin; Erwin Djuni
NALARs Vol 20, No 1 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 1 Januari 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.20.1.45-52

Abstract

ABSTRAK. Pada Program Studi Arsitektur salah satu proses kegiatan yang penting adalah kegiatan perancangan dengan beberapa tahapan antara lain membuat konsep, rancangan gambar dua dimensi dan tiga dimensi dan pembuatan maket. Kegiatan tersebut dilakukan di studio gambar dengan penataan dan bentuk pengelolaan desain ruang kuliah yang khusus. Pada saat sebelum pandemic desain ruang kuliah studio hanya didasarkan pada aktivitas di dalam kegiatan perancangan.Pada saat pandemic covid 19 sekarang ini mengharuskan sebuah desain ruang kuliah studio yang bisa menyesuaikan dengan kebutuhan protokol kesehatan untuk memutus rantai penyebaran virus. Metode yang digunakan adalah deduktif kualitatif dengan menggambarkan kondisi ruang kuliah studio dan penyebaran kuesioner kepada para mahasiswa melalui pengisian kuesioner online. Hasil dari penelitian ini adalah analisis desain penataan perabot ruang kuliah studio berdasarkan protokol kesehatan antara lain pada fasilitas fisik meliputi dimensi, desain wujud konfigurasi, desain pembatas antar kursi. Dimensi baru yang dihasilkan berdasarkan pertimbangan new normal adalah keefektifan sebesar 31,5% dengan jarak antar kursi minimal 1 meter. Sedangkan desain wujud konfigurasi yang paling optimal adalah tipe rectangle. Pada desain pembatas antar kursi dihasilkan desain partisi yang berfungsi menghalangi droplet antar mahasiswa dan dosen di dalam ruangan. Untuk sirkulasi dan sign diberikan tanda pada ruang kuliah studio agar arah masuk dan keluar tidak berpapasan. Dengan dihasilkannya desain ruang kuliah studio yang optimal di program studi arsitektur yang sesuai dengan kondisi pandemic covid 19 maka diharapkan akan tercapai peningkatan mutu pembelajaran juga bisa tetap mendukung program pemutusan mata rantai virus covid 19. Kata kunci:perabot, studio, arsitektur, new normal ABSTRACT. One of the essential activity processes in the Architecture Study Program is a design activity with several stages, including conceptualization, two-dimensional and three-dimensional drawing designs, and making mock-ups. This activity is carried out in a drawing studio with a particular arrangement and management of lecture room designs. Before the pandemic, the design of studio lecture rooms was only based on activities in design activities. At the time of the current Covid 19 pandemic, it requires a studio lecture room design that can adapt to health protocols' needs to break the chain of the spread of the virus. The method used is qualitative deductive by describing the studio lecture room conditions and distributing questionnaires to students through online questionnaire filling. This study analyses the design of studio lecture room furniture based on health protocols, among others, the physical facilities, including dimensions, configuration design, and barrier design between chairs. The new size produced based on the new normal considerations is the effectiveness of 31.5% with a minimum distance of 1 meter between seats.Meanwhile, the most optimal configuration design is the rectangle type. In the divider design between chairs, a partition design is produced, which functions to block droplets between students and lecturers in the room. For circulation and sign is given a warning in the studio lecture room so that the entry and exit direction does not cross. With the production of an optimal studio lecture room design in an architecture study program following the conditions of the Covid 19 pandemic, it is hoped that an increase in the quality of learning will be achieved and can continue to support the program to break the Covid 19 chain link. Keywords: furniture, studio, architecture, new normal
KOMUNIKASI BARU BIRO ARSITEK DI MASA PANDEMI DALAM PANDANGAN POSTKOLONIALISME HOMI K BHABHA Gayuh Budi Utomo; Rully Damayanti; Dyan Agustin
ATRIUM: Jurnal Arsitektur Vol. 6 No. 2 (2020): ATRIUM: Jurnal Arsitektur
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/atrium.v6i2.124

Abstract

Title: New Communication of The Architecture Firms in Pandemic Era; Following the Homi  K Bhabha Post Colonial View A new order called the new normal is a central issue at this time. The period before the pandemic which became a standard value and became a reference suddenly was not compatible with the arrival of the Covid-19 pandemic outbreak. This is happening in Indonesia and around the world. Everyone is in a pandemic situation for a certain period time and there is no certainty that it will end. This of course also affects how to communicate in all aspects including the architectural bureau. New ways of communicating are carried out at architectural bureaus related to social distancing and physical distancing which are considered as effective prevention methods from the COVID-19 pandemic. The types of communication that have changed are communication with clients, communication with the team and communication with interns. There are significant differences in how to communicate from offline activities to online activities where we can still be connected both ways but not in the same place. This situation is a momentum to free the bonds of limitations that have occurred in terms of communication. We want to interpret this in the postcolonialism approach of Homi K Bhabha which is very relevant to the views of hybridity, ambivalence and the third space as a way of communicating new normal discourses.
Packaging Design of Milkfish Products in Tambak Oso Village Sidoarjo Dyan Agustin; Widyasari; Sonja Andarini
Nusantara Science and Technology Proceedings International Seminar of Research Month Science and Technology in Publication, Implementation and Co
Publisher : Future Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Increased marketing of a product can be done through the improvement of packaging design. Good packaging design is a design that is able to provide better information, more secure, more complete and interesting in marketing a product, especially processed products produced by community communities Tambak Oso Sidoarjo Village.The purpose of this research is to produce new packaging design, interesting and safe from processed product of milkfish that have been produced. Analysis technique used from this research is to use SWOT analysis to know the advantages, weaknesses, opportunities and threats of processed milkfish products that already exist. The analysis results obtained that in terms of form produced 3 (three) forms with different functions. Single rectangular base pack pattern, secondary packaging form there are additional tongue, tertiary packaging form there are two kinds, the first form of bag that can accommodate a maximum of 3 pieces of single pack and the second box-shaped containing 5 to 10 single pack. The material used from laminate art carton material on the outside and glossy laminate on the inside. For color use combination of brown, gray, yellow and black. As for the logo and the name still use the old because it was recorded at the time of permitting process.