Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

MENANGKAL KONFLIK PASCA PEMILU LEGISLATIF 2024 BERBASIS IKATAN GEMEINSCHAFT; MENGUATKAN NILAI-NILAI TOLERAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL ISLAM Muniri; Mahsun; Nur Chotimah Aziz
AL-FIKRAH: Jurnal Studi Ilmu Pendidikan dan Keislaman Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap peran gemeinschaft dalam mencegah konflik yang mungkin timbul selama pemilu legislatif 2024. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-fenomenologis, penelitian ini mengkaji interaksi di dalam masyarakat Desa Kopang, yang terletak di Karang Gayam, Kecamatan Blega, Kabupaten Bangkalan, setelah pemilu. Penelitian ini mengidentifikasi tiga faktor kunci yang mendorong masyarakat untuk menghindari konflik pasca pemilu: ikatan bersama dengan tempat asal mereka, koneksi klan keluarga, dan kebutuhan kerja sama ekonomi di bidang pertanian. Elemen-elemen ini sangat dihargai oleh masyarakat Kopang dan dianggap lebih penting daripada terlibat dalam perselisihan yang tidak produktif. Masyarakat menganggap ikatan-ikatan tersebut sebagai sesuatu yang sakral dan memprioritaskannya di atas kepentingan-kepentingan pragmatis yang bersifat sementara. Perspektif ini mencerminkan kemampuan mereka untuk berpikir dan bertindak secara rasional, dengan menekankan pentingnya kenangan lama yang terkait dengan asal-usul bersama, jaringan keluarga, dan saling ketergantungan ekonomi. Ikatan abadi ini tidak tergantikan dan tetap menjadi pusat untuk menjaga keharmonisan dalam menghadapi peristiwa politik yang berpotensi memecah belah.
Synchronising Adat and Sharia in Marriage: A Case Study in Indonesia Wahyudi, Achmad; Marlina, Yuli; Muniri; Muhammad Ghufron; Wafi , Abdul
VRISPRAAK : International Journal of Law Vol 7 No 2 (2023): September 2023
Publisher : STAI Miftahul Ula Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59689/vris.v7i2.1146

Abstract

Marriage is a social institution that reflects the fusion of local and religious values in Indonesia. This article explores the synchronisation between customs and Islamic law in the conduct of marriage, focusing on case studies of Javanese and Bugis customs. A qualitative approach is used to identify patterns of harmonisation as well as challenges faced. The findings show that traditions such as siraman, midodareni, mappacci and panai can be harmonised with Islamic values, despite the challenges of traditions that are not in line with sharia and high costs. This article emphasises the importance of the role of ulama and traditional leaders in building dialogue and understanding to create sustainable harmony between custom and sharia, thus enriching marriage practices in Indonesia.
Synchronising Adat and Sharia in Marriage: A Case Study in Indonesia Wahyudi, Achmad; Marlina, Yuli; Muniri; Muhammad Ghufron; Wafi , Abdul
VRISPRAAK : International Journal of Law Vol. 7 No. 2 (2023): September 2023
Publisher : STAI Miftahul Ula Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59689/vris.v7i2.1146

Abstract

Marriage is a social institution that reflects the fusion of local and religious values in Indonesia. This article explores the synchronisation between customs and Islamic law in the conduct of marriage, focusing on case studies of Javanese and Bugis customs. A qualitative approach is used to identify patterns of harmonisation as well as challenges faced. The findings show that traditions such as siraman, midodareni, mappacci and panai can be harmonised with Islamic values, despite the challenges of traditions that are not in line with sharia and high costs. This article emphasises the importance of the role of ulama and traditional leaders in building dialogue and understanding to create sustainable harmony between custom and sharia, thus enriching marriage practices in Indonesia.
Penyebaran Isu Lingkungan dan Blue and Green Economy (BGE) di Bangkalan Madura Chotimah Azis, Nur; Muniri, Muniri
Humanist Journal Vol. 3 No. 3 (2024): Humanist Journal (Oktober 2024)
Publisher : Yayasan Pusat Kemanusiaan dan Transformasi Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59689/j0x91703

Abstract

Environmental justice and sustainable development in Indonesia can only be achieved when communities possess adequate understanding of ecological degradation, structural poverty, and social inequality. Madura Island—particularly Bangkalan Regency—exemplifies these challenges, marked by a low Human Development Index and severe environmental issues. This Community Service Project (PKM) aims to strengthen the intellectual and technical capacity of young academic teams in conducting research on environmental issues and the Blue and Green Economy (BGE), while also promoting environmental awareness among the general public, especially youths in Islamic boarding schools (pesantren). Through collaboration with pesantren as community-based educational institutions, the project educates students to think critically about local environmental concerns and raises awareness on the importance of sustainable livelihood choices. It is expected that this initiative will foster a generation of environmentally conscious youth in Madura who adopt greener and more sustainable practices in their socio-economic activities.
BLUE-GREEN ECONOMY DALAM PERSPEKTIF FIQH LINGKUNGAN Muniri; Nur Chotimah Azis
AL-FIKRAH: Jurnal Studi Ilmu Pendidikan dan Keislaman Vol. 7 No. 2 (2024)
Publisher : Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Membahas konsep Blue-Green Economy dalam perspektif fiqh lingkungan Islam sebagai pendekatan alternatif terhadap krisis ekologi global. Konsep ini merupakan integrasi antara ekonomi hijau (green economy) dan ekonomi biru (blue economy) yang menekankan pembangunan berkelanjutan baik di daratan maupun lautan. Dengan menggunakan metode studi pustaka dan pendekatan kualitatif deskriptif, penulis mengkaji kesesuaian antara prinsip-prinsip Blue-Green Economy dan nilai-nilai Islam seperti tauhid, khalifah, amanah, mizan, dan larangan israf. Hasil kajian menunjukkan bahwa fiqh lingkungan dapat memberikan dasar normatif dan etis yang kuat dalam implementasi pembangunan berkelanjutan di masyarakat Muslim. Berbagai contoh penerapan seperti eco-masjid, ekowisata berbasis komunitas, dan pertanian organik memperlihatkan bagaimana nilai-nilai Islam dapat menjadi penggerak perubahan menuju ekonomi yang adil dan lestari. Artikel ini juga menyoroti tantangan implementasi, seperti rendahnya literasi lingkungan berbasis Islam, serta menawarkan solusi kolaboratif antara negara, lembaga keagamaan, dan masyarakat sipil untuk memperkuat peran Islam dalam menjaga kelestarian alam.
BLUE-GREEN ECONOMY DALAM PERSPEKTIF FIQH LINGKUNGAN Muniri; Nur Chotimah Azis
AL-FIKRAH: Jurnal Studi Ilmu Pendidikan dan Keislaman Vol. 7 No. 2 (2024)
Publisher : Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Membahas konsep Blue-Green Economy dalam perspektif fiqh lingkungan Islam sebagai pendekatan alternatif terhadap krisis ekologi global. Konsep ini merupakan integrasi antara ekonomi hijau (green economy) dan ekonomi biru (blue economy) yang menekankan pembangunan berkelanjutan baik di daratan maupun lautan. Dengan menggunakan metode studi pustaka dan pendekatan kualitatif deskriptif, penulis mengkaji kesesuaian antara prinsip-prinsip Blue-Green Economy dan nilai-nilai Islam seperti tauhid, khalifah, amanah, mizan, dan larangan israf. Hasil kajian menunjukkan bahwa fiqh lingkungan dapat memberikan dasar normatif dan etis yang kuat dalam implementasi pembangunan berkelanjutan di masyarakat Muslim. Berbagai contoh penerapan seperti eco-masjid, ekowisata berbasis komunitas, dan pertanian organik memperlihatkan bagaimana nilai-nilai Islam dapat menjadi penggerak perubahan menuju ekonomi yang adil dan lestari. Artikel ini juga menyoroti tantangan implementasi, seperti rendahnya literasi lingkungan berbasis Islam, serta menawarkan solusi kolaboratif antara negara, lembaga keagamaan, dan masyarakat sipil untuk memperkuat peran Islam dalam menjaga kelestarian alam.
Abid Al-Jabiri’s Epistemological Critique of Early Marriage in Case Based Learning: Contributions to Islamic Education Muniri Muniri; Anis Sulalah; Nur Chotimah Azis
AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan Vol 17, No 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : STAI Hubbulwathan Duri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35445/alishlah.v17i3.7185

Abstract

Early marriage remains a pressing issue in many Muslim communities, including in Bangkalan, Madura, Indonesia, where it is often justified through religious reasoning. This phenomenon poses serious social, health, and educational challenges, particularly for young women. This study aims to critically examine early marriage through the lens of Abid Al-Jabiri’s Islamic epistemology—Bayani, Burhani, and Irfani—and to explore how these epistemological frameworks shape religious understanding and educational responses to early marriage. Utilizing a qualitative library research approach, this study analyzes relevant literature, including Islamic texts, philosophical works, and empirical research on early marriage. The analysis applies Al-Jabiri’s epistemological framework to assess the reasoning patterns behind the justification of early marriage and their impact on educational practices. The study finds that Bayani (textual) and Irfani (mystical) epistemologies often perpetuate early marriage due to their non-empirical and authority-based approach. In contrast, Burhani (rational-empirical) epistemology, which emphasizes logical reasoning and empirical evidence, offers a more critical and socially responsive framework. When applied to educational contexts, Burhani epistemology supports a more reflective, contextual, and student-centered understanding of Islamic teachings. Integrating Burhani epistemology into Islamic education and policy discourse can foster a more balanced, evidence-based approach to religious interpretation. This shift is essential to counter harmful practices such as early marriage and to promote holistic well-being and critical thinking among students in Islamic educational settings.
Dari Tauhid ke Ekologi: Menemukan Kembali Spiritualitas Islam dalam Pelestarian Alam Muniri; Mahsun; Nur Chotimah azis
Al-Hikmah Vol. 1 No. 2 (2025): AL-HIKMAH
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64481/x851rn03

Abstract

Krisis ekologi global yang ditandai oleh perubahan iklim, pencemaran, dan degradasi lingkungan telah menjadi ancaman nyata terhadap kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Artikel ini mengangkat persoalan tersebut dari perspektif fiqh Islam dengan pendekatan maqasid al-syari’ah untuk merumuskan paradigma ekologis yang relevan, kontekstual, dan aplikatif. Dalam kerangka ini, pelestarian lingkungan tidak sekadar isu teknis atau ekologis semata, melainkan persoalan teologis dan etis yang berkaitan erat dengan tujuan utama syariat: menjaga kehidupan, akal, keturunan, harta, dan agama. Pendekatan ini juga menempatkan peran manusia sebagai khalifatullah fi al-ardh yang memikul amanah untuk menjaga harmoni semesta sebagai wujud aktualisasi dari tauhid dan kesalehan sosial. Tulisan ini mengkaji tiga dimensi utama: teologis, filosofis, dan praktis. Dimensi teologis menjelaskan dasar-dasar normatif Islam mengenai tanggung jawab ekologis manusia. Dimensi filosofis menelaah pandangan para pemikir Islam seperti Ibnu Arabi dan Seyyed Hossein Nasr, serta dialog dengan filsafat lingkungan Timur-Barat seperti Konfusianisme dan gagasan ekosentrisme Fritjof Capra. Dimensi praktis berfokus pada artikulasi fiqh lingkungan berbasis maqasid yang mampu merespons kerusakan ekologis secara sistemik. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi pustaka terhadap literatur klasik dan kontemporer. Melalui integrasi nilai-nilai maqasid, artikel ini menawarkan landasan konseptual fiqh lingkungan yang adaptif terhadap konteks zaman dan relevan sebagai kontribusi Islam dalam wacana etika ekologis global. Dengan demikian, menjaga lingkungan merupakan bagian dari ibadah dan tanggung jawab spiritual yang bersifat kolektif dan berkelanjutan.