Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

The effectiveness of 50% Cocor Bebek (Kalanchoe pinnatta) leaf extract on clinical appearance of post teeth extraction sockets in Wistar rats: a laboratory experimental study AB, Andi Arni Irawaty; Lestari, Nurasisa; Amran, Ardian Jayakusuma; Arifin, Fadil Abdillah
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i1.59697

Abstract

Introduction: One of the most common procedures performed in dental clinics is tooth extraction. Post-extraction, a wound known as a socket is formed. Inflammation is a fundamental response to the wound after tooth extraction, which subsequently progresses to the tissue repair process, involving the replacement of dead cells with living cells from fibrous tissue. An alternative material that can be used in this healing process is the Kalanchoe pinnata leaf. This study aimed to analyze the effectiveness of 50% Kalanchoe pinnata leaf extract on the clinical appearance of post-extraction sockets in Wistar rats. Methods: This research employed a laboratory experimental method using a Posttest Only Control Design, conducted on 32 Wistar rats divided into two groups: a control group and a treatment group, which received 50% Kalanchoe pinnata leaf extract. Observations were carried out on days 5, 14, and 42 in both groups using the Inflammatory Proliferative Remodeling (IPR) scale, and statistical analysis was performed using the Mann-Whitney test. Results: The results of the difference analysis using the Mann-Whitney test showed a p-value of 0.000 (p<0.05), indicating a significant difference in effectiveness between the treatment and control groups. Conclusion: Based on the study findings, the clinical appearance of post-extraction sockets in Wistar rats on days 5, 14, and 42 following the application of 50% Kalanchoe pinnata leaf extract demonstrated a positive impact on wound healing.Efektivitas ekstrak daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) 50% terhadap tampakan klinis soket pasca pencabutan gigi pada tikus Wistar: studi eksperimental laboratorisPendahuluan: Salah satu prosedur yang paling sering dilakukan di klinik adalah pencabutan gigi. Pasca pencabutan gigi akan menghasilkan perlukaan yang disebut soket. Inflamasi adalah respon dasar terhadap adanya luka pasca pencabutan gigi yang akan berlanjut ke proses perbaikan jaringan yaitu penggantian sel mati oleh sel hidup dari jaringan fibrosa. Bahan alternatif yang dapat digunakan yaitu daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata). Tujuan penelitian untuk menganalisis efektivitas ekstrak daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) 50% terhadap  tampilan klinis soket pasca pencabutan gigi pada tikus wistar. Metode: Penelitian ini menggunakan metode Eksperimental Laboratoris yaitu pengujian yang dilakukan di laboratorium dengan bentuk penelitian berupa post test only control design pada hewan coba tikus wistar sebanyak 32 ekor yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok perlakuan yang diberikan ekstrak daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) 50%. Kemudian dilakukan pengamatan pada kelompok kontrol dan perlakuan hari ke-5, 14, dan 42 menggunakan skala Inflammatory Proliferative Remodeling (IPR) dan diuji menggunakan uji statistik Mann-Whitney. Hasil: Berdasarkan hasil uji perbedaan menggunakan Mann-Whitney, menunjukkan bahwa p-value=0,000  (p<0,05). Hal ini menunjukkan terdapat perbedaan efektivitas yang signifikan antara kelompok perlakuan dan kontrol. Simpulan: Berdasarkan hasil penelitian tampakan klinis soket pasca pencabutan gigi tikus wistar pada hari ke-5, 14, dan 42 setelah diberikan ekstrak daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) 50% memiliki dampak penyembuhan yang baik.
Penyuluhan dan Perawatan Ortodonti Interseptif pada Anak Didik SDN Bontojai Kecamatan Parangloe Kabupaten Gowa Puspitasari, Yustisia; Lestari, Nurasisa; Febriany, Mila
Jurnal Pengabdian Masyarakat Kesehatan Gigi FOKGII (JPMKG FOKGII) Vol. 1 No. 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Forum Komunikasi Kedokteran Gigi Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut World Health Organization (WHO) maloklusi adalah hubungan abnormal antara gigi dari kedua lengkung rahang. Maloklusi dapat mengakibatkan hambatan bagi penderita seperti gangguan fungsi fisik, tempat akumulasi sisa makanan sehingga rentan terhadap terjadinya penyakit karies dan periodontal. Penyebab maloklusi diantaranya adalah faktor genetik, proses tumbuh kembang yang tidak sesuai, kebiasaan buruk anak, malnutrisi dan persistensi gigi sulung. Selain itu maloklusi juga bisa disebabkan karena kurangnya pengetahuan anak-anak, orang tua dan wali murid di sekolah dalam hal menjaga kesehatan gigi dan mulut. Peran gigi sulung pada masa gigi sulung sangat besar pada tumbuh kembang anak, diantaranya: membantu proses bicara, mastikasi, estetika wajah dan menjaga ruang erupsi gigi permanen. Namun, gigi sulung yang tidak kunjung tanggal di saat gigi permanennya sedang atau sudah erupsi juga dapat menyebabkan malposisi gigi pengganti dan menjadi penyebab maloklusi. Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian ini adalah memberikan penyuluhan pada anak didik dan guru mengenai peran dan fungsi gigi sulung; pembagian sikat gigi dan menyikat gigi bersama; perawatan ortodonti interseptif dengan melakukan pencabutan gigi sulung yang mengalami persistensi. Hasil yang didapatkan dari kegiatan pengabdian ini adalah peningkatan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut, sebanyak 78,7% siswa/i SDN Bontojai mendapatkan pemeriksaan gigi, 14,6% anak didik SDN mendapatkan perawatan pencabutan gigi sulung yang mengalami persistensi, serta penyerahan media penyuluhan dan bantuan sikat gigi kepada pihak sekolah.
Non-pharmacological: new approaches to get painless local anaesthesia for paediatric dentistry: Nonfarmakologi: pendekatan baru untuk memperoleh anestesi lokal tanpa rasa sakit pada kedokteran gigi anak Lestari, Nurasisa; Permatasari, Andi Sri
Makassar Dental Journal Vol. 14 No. 3 (2025): Volume 14 Issue 3 December 2025
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35856/mdj.v14i3.948

Abstract

Pain management remains a top priority for dentists, including in the treatment of paediatric patients. Local anaesthesia injections remain one of the most feared procedures in paediatric dentistry. Paediatric dentistry as a profession has undergone many chan-ges due to advances in technology, materials and disease knowledge. Newer non-pharmacological approaches have been de-veloped to provide injections that are virtually painless. This article summarises the latest advances in non-pharmacological lo-cal anaesthesia techniques. It is concluded that effective and pain-free local anaesthesia is crucial for fostering a positive atti-tude and maintaining good oral health in children through a positive relationship with the dentist.