Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

PRODUKTIVITAS SORGUM VARIETAS SUPER 2 DAN SURI 3 YANG DIBERI PUPUK ANORGANIK DAN ORGANIK Gedoan, Sukmarayu
FRONTIERS: JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 2, No 2 (2019): AGUSTUS 2019
Publisher : Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.397 KB)

Abstract

Sorgum membutuhkan unsur hara untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Unsur hara tersedia didapat dari bahan anorganik dan organik yang mengandung unsur N, P, dan K. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas pupuk anorganik dan organik dalam meningkatkan produktivitas tanaman sorgum; mengkaji pola interaksi kedua pupuk tersebut; mengkaji dinamika penyerapan hara N, P, dan K sebelum sorgum memulai fase generatif; mengkaji hubungan antara infeksi akar dengan serapan hara. Penelitian ini merupakan percobaan lapangan yang dilakukan dengan faktorial 2x9 dalam Rancangan Acak Kelompok. Sebagai faktor pertama adalah jenis varietas sorgum yaitu Super 2 (K) dan Suri 3 (N). Faktor kedua adalah jenis pupuk yang terdiri atas tanpa pemberian pupuk (P0), pupuk anorganik NPK 1 g (An1), pupuk anorganik NPK 2 g (An2), pupuk organik kompos 20 kg/ha (OrK), pupuk organik kotoran sapi 20 kg/ha (OrKs). Dengan demikian banyaknya perlakuan yang dicobakan ada sebanyak 2 x 5 = 10 kombinasi perlakuan dan setiap perlakuan diulang 3 kali. Setiap perlakuan dan ulangan terdiri atas enam contoh tanaman. Pengamatan dilakukan terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, umur berbunga, panjang malai, bobot malai, bobot biji per tanaman, bobot 100 biji kering. Data dianalisis dengan Analisis Varians menggunakan program SAS 9.1 for Windows dan dilanjutkan dengan pengujian menggunakan Uji Jarak Ganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi tanaman yang tertinggi varietas Super 2 yang diberi kotoran sapi; panjang malai yang tertinggi pada varietas Suri 3 yang diberi kompos; berat biji yang tertinggi pada varietas Suri 3 yang diberi kompos dan kotoran sapi.
DNA Barcoding Dalugha (Cyrtosperma Merkusii) di Kepulauan Talaud dan Minahasa Selatan Berdasarkan Gen rbcL Taariwuan, Marlin Bernadet; Ngangi, Jantje; Mokosuli, Yermia; Gedoan, Sukmarayu
JURNAL BIOS LOGOS Vol 11, No 2 (2021): JURNAL BIOS LOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.v11i2.34452

Abstract

(Article History: Received June 28, 2021; Revised August 30, 2021; Accepted Sept 3, 2021) ABSTRAKDalugha (Cyrtospera merkusii (Hassk.)Schott) merupakan tanaman endemik Sulawesi Utara yang digunakan sebagai pangan alternatif (penganti beras). Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan spesies daluga di Kepulauan Talaud dan Minahasa Selatan menggunakan DNA barcode gen rbcL (ribulose 1,5 bisphosphate carboxylase large). Perbandingan barcode DNA yang dilakukan pada empat sampel yang berbeda lokasi tersebut keduanya menghasilkan tingkat kesamaan 100% (identik). Dengan demikian, tidak ada variasi intra spesies yang ditemukan dari semua sampel yang ada. Selanjutnya, kemiripan sampel-sampel ini telusuri kemiripannya dengan kerabat terdekat yang tercatat di GenBank menggunakan BLAST (Basic Local Alignment Search Tool).  Tanaman dalugha dalam penelitian ini memiliki kemiripan 99,82% dengan tumbuhan Anaphyllopsis americana (AM905753.1), dan kemiripannya 99,63% dengan Cyrtosperma macrotum (AM905750.1), Lasimorpha senegalensis (AM905755.1), Pycnospatha arietina (AM905751.1), dan Podolasia stipitata (AM905752.1). Belum ada rekor sekuens DNA gen rbcL dari spesies ini yang dibisa dibandingkan di GenBank.Kata Kunci: Dalugha; DNA barcoding; gen rbcL ABSTRACTDalugha (Cyrtospera merkusii (Hassk.) Schott) is an endemic plant in North Sulawesi that is used as alternative food (substitute for rice). This research aimed to compare the DNA barcode of dalugha in Talaud Islands and in South Minahasa using rbcL (ribulose 1,5 bisphosphate carboxylase large) gene. The DNA barcoding comparison of all four samples in both area resulted in 100% similarity (identical). Therefore, there is no intraspecific variation found in all samples. Furthermore, the similarity of these samples were conducted with BLAST (Basic Local Alignment Search Tool) to compare with its closest relatives in GenBank. The closest relatives of this plant, based on similarity information, are 99.82% with Anaphyllopsis americana (AM905753.1) and all 99.63% with Cyrtosperma macrotum (AM905750.1), Lasimorpha senegalensis (AM905755.1), Pycnospatha arietina (AM905751.1), and Podolasia stipitata (AM905752.1).  There is no record yet of rbcL gene sequence of C. merkusii in GenBank for comparison.Keywords: Dalugha; DNA barcoding; rbcL gene
IbM KELOMPOK TANI TANAMAN CABE DI DESA BATU KABUPATEN MINAHASA UTARA Sukmarayu P Gedoan; Utari Satiman
ABDIMAS: JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 11, No 1 (2018): APRIL 2018
Publisher : LPPM UNIMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (945.025 KB) | DOI: 10.36412/abdimas.v11i1.552

Abstract

Desa Batu merupakan bagian dari kecamatan Likupang kabupaten Minahasa Utara. Keterbatasan pengetahuan petani terhadap masalah pertanian menjadi rentetan masalah yang tidak pernah selesai. Petani di desa Batu tidak mempunyai perencanaan yang tepat dalam mengelola pertaniannya sendiri sehingga komoditi pertanian yang ditanam tidak mempunyai nilai tambah dalam meningkatkan perekonomian keluarga. Solusi yang akan dilakukan adalah untuk menjawab permasalahan tersebut di atas yaitu: (1) meningkatkanproduktivitas tanaman cabe, kualitas buah cabe. Langkah yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut di atas adalah memberikan pengetahuan dalam budidaya tanaman cabe yang baik dan benar. Secara spesifik program ini mencakup kegiatanbudidaya tanaman cabe, pasca panen cabe, dan pembuatan produk olahan cabe. Sosialisasi program pada kelompok tani di desa Batu Likupang Selatan dapat berjalan dengan baik. Pemahaman yang meningkat dari petani mitra dalam budidaya tanaman cabai berupa praktik penanaman, pemeliharaan, dan pengendalian hama.
PENGEMBANGAN KAWASAN AGROWISATA BUAHTERPADU DI KECAMATAN LIKUPANG SELATAN KABUPATEN MINAHASA UTARA Ingerid Lidia Moniaga; Josephine Pinky Saerang; Sukmarayu Gedoan
ABDIMAS: JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 10, No 02 (2017): Desember 2017
Publisher : LPPM UNIMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (676.467 KB) | DOI: 10.36412/abdimas.v10i02.364

Abstract

Kabupaten Minahasa Utara merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Utara. Pengembangan wilayah Kecamatan Likupang Selatan yang tertuang dalam program wilayah Kabupaten Minahasa Utara yakni dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), merupakan wilayah yang dikembangkan sebagai Kawasan Agrowisata Buah. Metode  pelaksanaan kegiatan  Pengabdian Kepada Masyarakat ini, yaitu memberi pembinaan dan pendampingan pada masyarakat di wilayah Kecamatan Likupang Selatan dalam Pengembangan kawasan agrowisata buah-buahan. Pembinaan dan pendampingan yang dilakukan untuk menangani beberapa masalah prioritas yang dilakukan dengan tahapan diantaranya Penyuluhan dan Pelatihan.Tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan Ipteks bagi Wilayah yaknipengembangan kawasan agrowisata buah-buahan yang memanfaatkan potensi pertanian, dan pemberdayaan masyarakat berbasis pariwisata (community based tourism).Pemberdayaan masyarakat yang dimaksud yaitu agrowisata yang dapat mengikutsertakan peran dan aspirasi masyarakat pedesaan selaras dengan pendayagunaan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimiliki di wilayah tersebut.Tujuan lainnyadengan terwujudnya kawasan agrowisata buah-buahan di wilayah Kecamatan Likupang Selatan yang diimplementasikan dalam penataan objek rekreasi dan wisata, maka diharapkan objek tersebut akan menjadi landmark (penanda suatu kawasan) yang dapat dikenali oleh segenap lapisan masyarakat di Provinsi Sulawesi Utara umumnya dan Kabupaten Minahasa Utara secara khususnya. Kata Kunci : pengembangan kawasan, agrowisata buah, sumber daya manusia
KARAKTERISTIK PERTUMBUHAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) YANG DITAMBAHKAN CENDAWAN ENDOFIT PADA LAHAN PASCA TAMBANG TIMAH Sukmarayu P. Gedoan; Alex Hartana; Hamim Hamim; Utut Widyastuti; Nampiah Sukarno
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol. 3 No. 1 (2013): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Graduate School Bogor Agricultural University (SPs IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.3.1.10

Abstract

Tin mining activity caused canging in physical and chemical characteristic of the soil that were not suitable for growth of plants. The objective of this experiment was to study accessions of Jatropha curcas planted on post tin mining land which were given endophyte. This research was conducted in a Sinar Baru village TS 133, district of Bangka, Bangka Belitung province for field research conducted in May 2007 to April 2008. The experimentas a factorial experiment in the design of the randomized complete block design with three replications. The main plot is 7 accessions consisting of: accession Madiun, Ponorogo, Jember, Dompu, Lampung, Bengkulu, andSukabumi, while the subplot of the land without giving endophyte fungal (control) and the provision of endophyte fungal in baglog 250 g. Each experimental unit contained four plants per plot.The result showed that vegetative growth the highest for the former tin mining land given endophyte fungal vary in some accessions. Accession to the highest Sukabumi: plant height, branch number, plant dry weight, dry weight of the shoot, and root dry weight, the largest diameter have Jember accession, accession Dompu had the highest canopy diameter, and the accession of Lampung has the lowest ratio of shoot roots.Keywords: Jatropha curcas, accession, fungal endophyte
PERTUMBUHAN TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) PADA LAHAN PASCA TAMBANG TIMAH DI BANGKA YANG DIBERI PUPUK ORGANIK Sukmarayu P Gedoan; Alex Hartana; Hamim Hamim; Utut Widyastuti; Nampiah Sukarno
JURNAL ILMIAH SAINS Volume 11 Nomor 2, Oktober 2011
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.582 KB) | DOI: 10.35799/jis.11.2.2011.205

Abstract

PERTUMBUHAN TANAMAN JARAK  PAGAR (Jatropha curcas L.) PADA LAHAN PASCA TAMBANG TIMAH DI BANGKA YANG DIBERI PUPUK ORGANIK Sukmarayu P. Gedoan1), Alex Hartana2), Hamim2), Utut Widyastuti2) dan Nampiah Sukarno2) 1)Program Studi Biologi, FMIPA Universitas Negeri Manado di Tondano; 2)Departemen Biologi, FMIPA, Institut Pertanian Bogor, Bogor 16680   ABSTRAK Kegiatan penambangan timah menyebabkan perubahan karakteristik fisika dan kimia tanah sehingga menjadi tidak sesuai untuk pertumbuhan tanaman.  Tujuan penelitian ini untuk mempelajari pertumbuhan 7 aksesi jarak pagar yang ditanam pada lahan pasca tambang timah yang diberi kompos dan kotoran sapi.  Penelitian ini dilakukan di TSS 133, Kelurahan Sinar Baru, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung.  Penelitian lapangan dilaksanakan pada Bulan Mei 2007 sampai dengan Bulan Desember  2008.  Percobaan faktorial ini dirancang dalam Rancangan Petak Terbagi dengan tiga ulangan.  Petak utama adalah 7 aksesi jarak pagar yang terdiri atas: aksesi Madiun, Ponorogo, Jember, Dompu, Lampung, Bengkulu,  dan Sukabumi, sedangkan  anak petak berupa tanah tanpa pemberian kompos dan pupuk kandang (kontrol), kompos trubus 4 kg/lubang ditambah 4 kg tanah bagian atas  dan  kotoran sapi 4 kg/lubang ditambah 4 kg tanah bagian atas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan awal yang paling baik untuk tanah bekas tambang timah adalah pada aksesi Jember yang ditunjukkan oleh diameter batang, berat kering tanaman, berat kering tajuk dan berat kering akar.  Sedangkan tinggi tanaman tertinggi diamati pada aksesi Madiun.  Penambahan kotoran sapi dapat meningkatkan produksi biji dan kandungan minyak.  Produksi biji tertinggi diperoleh pada aksesi Bengkulu dan kandungan minyak tertinggi diperoleh pada aksesi Dompu. Kata kunci: aksesi, Jatropha curcas, kompos, kotoran sapi   THE GROWTH OF CASTOR OIL PLANT (Jatropha curcas L.) ON THE POST-TIN-MINING LAND IN BANGKA PROVIDED WITH ORGANIC FERTILIZER ABSTRACT The activity of tin mining changes the physical and chemical characteritics of soil, so that the soil isnot suitable for plant growth.  The objective of this research was to evaluate the growth of some accession of Jatropha curcas that we planted on post-tin-mining land provided with compost and cow feces.   This research was conducted in TS 133, Sinar Baru Village, District of Bangka, Province of Bangka Belitung.  This field research was carried out in May 2007 to December 2008.  Factorial experiment was designed as split plot with three replications.  The main plot was 7 accessions, i.e. Madiun, Ponorogo, Jember, Dompu, Lampung, Bengkulu, and  Sukabumi.  The subplot waskonds of organic fertilizer, i.e. top soil without addition of compost and cow fecer (control), trubus compost  (4 kg/hole) added with top soil (4 kg/hole), and cow feces (4 kg/hole) added with topbsoil (4 kg/hole). The result showed that Jember accession had the best early growth based on the observation of stem diameter, plant dry weight, and root dry weight.  The largest plant height was observed in Madiun accession.  The higest seed production was observed in Bengkulu accession and Dompu accession had the higest oil content.Keywords: accession, Jatropha curcas, , compost, cow feces
Daya Dukung Habitat Berdasarkan Ketersediaan Pakan Untuk Konservasi Monyet Hitam Sulawesi (Macaca nigra) di Kawasan Cagar Alam Dua Saudara Kota Bitung Diswal Takasaheng; Revolson Mege; Sukmarayu Gedoan
JURNAL BIOS LOGOS Vol. 13 No. 3 (2023): JURNAL BIOS LOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.v13i3.54147

Abstract

Monyet hitam sulawesi (Macaca nigra) merupakan primata endemik Sulawesi Utara yang menempati berbagai tipe habitat, antara lain hutan hujan tropis primer dan sekunder, pantai, serta semak. Oleh Pemerintah Republik Indonesia, spesies ini ditetapkan sebagai spesies yang dilindungi dan oleh IUCN dinyatakan dalam status kritis (critically endangered). Penelitian ini dilaksanakan untuk mengkaji daya dukung habitat dan ketersediaan pakan di kawasan Cagar Alam Tangkoko. Dari hasil analisis data diperoleh hasil Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada vegetasi primer tingkat pohon ditemukan 73 spesies, tingkat tiang 48 spesies, dan tingkat pancang 51 spesies. Untuk vegetasi sekunder tingkat pohon ditemuakn 55 spesies, tiang 62 spesies, dan pancang 41 spesies; INP tertinggi pada vegetasi primer tingkat pohon ialah Artocarpus dadah, untuk vegetasi primer tingkat tiang ialah Morinda bracheata (28,565924%), untuk vegetasi primer tingkat pancang ialah Eugenia sp. (20,172615%), untuk vegetasi sekunder tingkat pohon ialah Spathodea campanulata (26,175021%), untuk vegetasi sekunder tingkat tiang ialah Spathodea campanulata (30,606948%), dan untuk vegetasi sekunder tingkat pancang ialah Spathodea campanulata (38,201475%). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa vegetasi di Cagar Alam Tangkoko masih memiliki potensi yang cukup baik dalam mendukung kehidupan monyet hitam sulawesi.
Identifikasi Teripang Laut (Holothuroidea) dari Perairan Laut Pulau Kabaruan Berdasarkan Identifikasi Morfologi dan DNA Barcoding Ferencia Esananda Rattu; Revolson Mege; Nonny Manampiring; Verawati Ida Yani Roring; Sukmarayu Gedoan; Yermia Mokosuli
Bioscientist : Jurnal Ilmiah Biologi Vol 12, No 1 (2024): June
Publisher : Department of Biology Education, FSTT, Mandalika University of Education, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/bioscientist.v12i1.9649

Abstract

Indonesia is known with its high biodiversity. One of them is sea cucumber. Various species of sea cucumbers are found in Indonesian sea in Talaud Regency at Kabaruan Island. Identification of sea cucumbers to reveal the biodiversity of sea cucumbers in Kabaruan Island, which is almost unknown. This research was to identify six samples of sea cucumber (Holothuroidea) in Kabaruan Island based on morphology and DNA barcoding using the COI gene. The differences between each species can be seen from the morphological characteristics, the length and width of sea cucumbers, papillae, pattern and color. The results showed that there were 4 species from 6 samples, which is Holothuria leucospilota, Holothuria whitmaei, Eleutherozoa sp., and Holothuria atra. That six samples with the code A1, A2, B1, C1, and C2 have a homology level of 99%-100% with the target nucleotide sequence from GenBank. Meanwhile, the sample’s code A3 has a homology level of 90% with the Eleutheroza sp. so there is a possibility that sample A3 is a new taxa that has the highest similarity to the Eleutheroza sp. From the six samples, it was found that samples A2 and B1 had the highest level of similarity which is 100%. Meanwhile, the samples with the lowest percentage values are samples A3 and B1 and samples A2 and A3, with a percentage value of 82.75%. There were 4 species from six samples found in Kabaruan Island. There is a possibility that Sample A3 is a new species that is similar to Eleutheroza sp.
CHARACTERIZATION OF SAPROPHAGE INSECTS FORENSIC ENTOMOLOGY INDICATORS USING LOCAL PIGS Kandowangko, Sandy; Wurarah, Masje; Mokosuli, Yermia; Satiman, Utari; Gedoan, Sukmarayu
Indonesian Biodiversity Journal Vol. 5 No. 2 (2024): August 2024
Publisher : Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53682/ibj.v5i2.10755

Abstract

Forensic entomology is the science of insects which is used to analyze cases related to forensics, namely death. This is based on the close relationship between humans and insects who live side by side. Insects can be a factor in determining the Postmortem Interval (PMI) so that it is useful in the forensic investigation process. Medicolegal insects are insects that are used as evidence in death cases. This research aims to obtain the diversity of insect species, the morphological characteristics of insects, the characteristics of insects in experimental pigs that died from hanging, poisoning and stabbing and based on the stage of decomposition. The results of this research examine temperature, soil pH, air humidity and the decomposition process of local pigs. The results of research on the decomposition stage in 3 deaths (hanging, stabbing, and poisoning) showed differences in the time of death, where the hanging carcass decomposed more quickly than the stabbed and poisoned carcass. In the decomposition stage, the first insect encountered is the order (Diptera) where these insects damage internal organs such as the brain and liver and also damage body cells. The temperature results of local pig carcasses placed outdoors ranged from 32.2-34.50C, while indoor carcass temperatures ranged from 26.77-33.43 0C. The degree of acidity (pH) of carcasses placed outdoors ranges from 5.13-8.53 while indoor carcasses ranges from 6.0-7.77. The environmental temperature of animal bodies placed outdoors ranges from 26.35-39,740C, while humidity ranges from 57.79-86.10%. The temperature of animal bodies in the room ranges from 27.54-31,520C, while humidity ranges from 71.50-85.37%.
CHARACTERIZATION OF SAPROPHAGE INSECTS FORENSIC ENTOMOLOGY INDICATORS USING LOCAL PIGS Kandowangko, Sandy; Wurarah, Masje; Mokosuli, Yermia; Satiman, Utari; Gedoan, Sukmarayu
Indonesian Biodiversity Journal Vol. 5 No. 2 (2024): August 2024
Publisher : Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53682/ibj.v5i2.10755

Abstract

Forensic entomology is the science of insects which is used to analyze cases related to forensics, namely death. This is based on the close relationship between humans and insects who live side by side. Insects can be a factor in determining the Postmortem Interval (PMI) so that it is useful in the forensic investigation process. Medicolegal insects are insects that are used as evidence in death cases. This research aims to obtain the diversity of insect species, the morphological characteristics of insects, the characteristics of insects in experimental pigs that died from hanging, poisoning and stabbing and based on the stage of decomposition. The results of this research examine temperature, soil pH, air humidity and the decomposition process of local pigs. The results of research on the decomposition stage in 3 deaths (hanging, stabbing, and poisoning) showed differences in the time of death, where the hanging carcass decomposed more quickly than the stabbed and poisoned carcass. In the decomposition stage, the first insect encountered is the order (Diptera) where these insects damage internal organs such as the brain and liver and also damage body cells. The temperature results of local pig carcasses placed outdoors ranged from 32.2-34.50C, while indoor carcass temperatures ranged from 26.77-33.43 0C. The degree of acidity (pH) of carcasses placed outdoors ranges from 5.13-8.53 while indoor carcasses ranges from 6.0-7.77. The environmental temperature of animal bodies placed outdoors ranges from 26.35-39,740C, while humidity ranges from 57.79-86.10%. The temperature of animal bodies in the room ranges from 27.54-31,520C, while humidity ranges from 71.50-85.37%.