Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Pengaruh Persepsi Beban Kerja terhadap Persepsi Produktivitas Kerja pada Karyawan di PT. X Azzarah, Vindy; Santosa, Rizky Putra
Jurnal Psikologi dan Konseling West Science Vol 3 No 03 (2025): Jurnal Psikologi dan Konseling West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpkws.v3i03.2382

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh penurunan produktivitas kerja karyawan di PT. X meskipun jumlah proyek meningkat, yang diduga berkaitan dengan ketidakseimbangan beban kerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh persepsi beban kerja terhadap persepsi produktivitas kerja karyawan di PT. X. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional. Penelitian dilakukan di Head Office PT. X. Subjek penelitian berjumlah 80 karyawan. Data dikumpulkan melalui kuesioner, dengan instrumen yang disusun berdasarkan dimensi beban kerja dan produktivitas kerja, serta dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh negatif dan signifikan antara persepsi beban kerja terhadap persepsi produktivitas kerja (β = 0,47, p < 0,001), dengan kontribusi sebesar 21,6% terhadap variabel persepsi produktivitas kerja. Penelitian selanjutnya disarankan mempertimbangkan variabel lain yang dapat memengaruhi produktivitas kerja, seperti stres kerja, motivasi, atau kepuasan kerja.
Pengaruh Self-Compassion terhadap Suicidal Ideation pada Dewasa Awal yang Mengalami Perceraian Orang Tua Sari, Mayang Ayu Angelita; Santosa, Rizky Putra
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 01 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n01.p314-322

Abstract

Perceraian orang tua merupakan pengalaman traumatis yang dapat menimbulkan dampak psikologis jangka panjang, termasuk meningkatnya risiko suicidal ideation pada individu dewasa awal. Pada tahap perkembangan yang krusial ini, individu dihadapkan pada tantangan membangun identitas diri dan hubungan emosional yang stabil. Salah satu faktor protektif yang berpotensi menurunkan risiko tersebut adalah self-compassion, yaitu sikap welas asih terhadap diri sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh self-compassion terhadap suicidal ideation pada dewasa awal yang mengalami perceraian orang tua. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain cross-sectional. Partisipan berjumlah 79 orang dengan menggunakan accidental sampling dan memenuhi kriteria usia 18–25 tahun serta memiliki pengalaman perceraian orang tua. Instrumen yang digunakan adalah Self-Compassion Scale (SCS) dan Adult Suicidal Ideation Questionnaire (ASIQ). Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa self-compassion memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap suicidal ideation (r = -0.78, p < 0.001), dengan koefisien determinasi (R²) sebesar 0.60. Artinya, self-compassion mampu menjelaskan 60% variasi suicidal ideation pada partisipan. Simpulan dari penelitian ini adalah semakin tinggi self-compassion, maka semakin rendah kecenderungan suicidal ideation. Temuan ini menegaskan pentingnya pengembangan program intervensi psikologis berbasis self-compassion untuk mendukung kesehatan mental dewasa awal dari keluarga bercerai. Abstract Parental divorce is a traumatic experience that can have long-term psychological impacts, including increasing the risk of suicidal ideation in young adults. At this crucial stage of development, individuals are faced with the challenge of building self-identity and stable emotional relationships. One of the protective factors that has the potential to reduce this risk is self-compassion, which is an attitude of compassion towards oneself. This study aims to determine the effect of self-compassion on suicidal ideation in young adults who experience parental divorce. The approach used is quantitative with a cross-sectional design. Participants numbered 79 people who were selected using Accidental Sampling and met the criteria of age 18–25 years and had experience of parental divorce. The instruments used were the Self-Compassion Scale (SCS) and the Adult Suicide Ideation Questionnaire (ASIQ). The results of the regression analysis showed that self-compassion had a significant negative effect on suicidal ideation (r = -0.78, p <0.001), with a coefficient of determination (R²) of 0.60. This means that self-compassion is able to explain 60% of the variation in suicidal ideation in participants. The conclusion of this study is that the higher the self-compassion, the lower the tendency of suicidal ideation. This finding emphasizes the importance of developing self-compassion-based psychological intervention programs to support the mental health of early adults from divorced families.
Pengaruh Fanatisme Terhadap Agresi Verbal Suporter Timnas Indonesia di Media Sosial : Penelitian Eko Alwinasirin; Rizky Putra Santosa
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 1 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 1 (Juli 2025 -
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i1.2008

Abstract

This study aims to find out whether fanaticism affects verbal aggression shown by Indonesian national team supporters on social media. The background of this research is the rise of negative and attacking comments directed at players, coaches, and even PSSI officials, especially after Indonesia lost to China and failed in the 2024 AFF Championship. This situation shows signs of aggressive behavior caused by disappointment over the match results. The subjects of the study were 92 supporters who actively follow the progress of the national team and have posted negative comments on social media. Data were collected using Verbal Aggression and Fanaticism measurement tools. The regression analysis showed no significant relationship between fanaticism and verbal aggression (p > 0.05, R² = 0.001). These findings suggest that other factors, such as personality, self-control, and social pressure, may have a stronger influence on verbal aggression. The researcher recommends adding other variables besides fanaticism in future studies for better results.
Rasa Bersalah Pada Mantan Pecandu Narkoba di Rumah Rehabilitasi Plato Foundation Surabaya Yudiyanti, Putri Eka; Santosa, Rizky Putra
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 11 No. 1 (2024): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v11i1.61541

Abstract

Pecandu narkoba yang kecanduan mengkonsumsi narkoba dapat pulih dengan mengikuti program rehabilitasi. Ketika rehabilitasi akan membuat pecandu narkoba dapat merenungkan diri dari tidak bisanya menerima keadaan yang akan mengakibatkan munculnya rasa takut, malu, dan rasa bersalah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengalaman rasa bersalah pada mantan pecandu narkoba di rumah rehabilitasi Plato Foundation Surabaya dengan metodologi kualitatif pendekatan fenomenologi. Teknik analisis data menggunakan interpretative phenomenological analysis (IPA) dengan uji keabsahan data menggunakan member checking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para mantan pecandu narkoba mengalami rasa bersalah yang mendalam selama proses rehabilitasi. Rasa bersalah tersebut muncul akibat kesadaran akan perilaku di masa lalu yang telah merugikan diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Rasa bersalah ini kemudian menimbulkan berbagai emosi negatif seperti malu dan rendah diri. Melalui dukungan konseling dan terapi kelompok ketika rehabilitasi para mantan pecandu narkoba dapat mengelola rasa bersalah secara bertahap dan membangun kepercayaan diri untuk kembali ke masyarakat.
Pelatihan Pembuatan Media Pembelajaran Inovatif dengan Tema Pendidikan Seksual pada Guru Yayasan Nurul Huda Poncokusumo Indrawati, Delia; Oktaviana, Mimbar; Santosa, Rizky Putra; Nurlaily, Vivi Astuti; Kamaruddin, Devina Rahmadiani
Journal Of Human And Education (JAHE) Vol. 4 No. 3 (2024): Journal of Human And Education
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jh.v4i3.1673

Abstract

Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam menyampaikan pendidikan seksual di sekolah Islam melalui pembuatan media pembelajaran inovatif menggunakan Canva. Pelatihan diikuti oleh 10 guru dari Yayasan Nurul Huda Poncokusumo dan terdiri dari sesi ceramah, demonstrasi, serta praktik langsung. Materi pelatihan mencakup pemahaman pentingnya pendidikan seksual dalam konteks agama, serta cara menggunakan Canva sebagai alat desain media pembelajaran yang interaktif dan menarik. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan keterampilan guru dalam merancang materi ajar, yang mencakup infografis dan presentasi, serta peningkatan pemahaman tentang konsep pendidikan seksual yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Para guru melaporkan bahwa media yang mereka buat dengan Canva tidak hanya membantu siswa memahami topik pendidikan seksual, tetapi juga meningkatkan keterlibatan dan partisipasi siswa dalam pembelajaran. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan guru dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan baru dalam pengajaran, sehingga pendidikan seksual di sekolah Islam dapat disampaikan dengan lebih efektif dan sesuai dengan ajaran agama. Kegiatan ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan pendidikan yang lebih baik di lingkungan pendidikan Islam.
PENGALAMAN PENYESUAIAN SOSIAL PADA MAHASISWA ETNIS SUNDA YANG MERANTAU DI SURABAYA Livita, Euodia; Santosa, Rizky Putra
Afeksi: Jurnal Psikologi Vol. 3 No. 3 (2024): Afeksi: Jurnal Psikologi
Publisher : Afeksi: Jurnal Psikologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyesuaian sosial adalah kemampuan individu untuk memahami dan menyesuaikan diri dengan kelompok sosial di lingkungan baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman penyesuaian sosial mahasiswa etnis Sunda yang merantau di Surabaya. Metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi digunakan dalam penelitian ini dengan melibatkan 5 partisipan. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Hasil penelitian menunjukkan tiga tema utama yaitu awal mula, proses penyesuaian sosial, dan hasil pasca-penyesuaian sosial. Mahasiswa etnis Sunda menghadapi kendala penyesuaian sosial akibat perbedaan budaya berupa perbedaan bahasa, kebiasaan, dan karakter antara budaya Sunda dan Surabaya. Penyesuaian sosial dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut dan menghindari kesalahpahaman, serta untuk membangun hubungan baik dan diterima dalam lingkungan sosial Surabaya. Proses penyesuaian sosial yang dilakukan meliputi keterbukaan, keaktifan, dan kesediaan mengikuti kebiasaan, norma sosial, bahasa, dan budaya setempat. Faktor pendorong penyesuaian sosial adalah determinasi serta dukungan keluarga dan kerabat. Strategi penyesuaian sosial yang digunakan meliputi Problem Focused Coping (PFC) dan Emotional Focused Coping (EFC).PFC melibatkan observasi, interaksi sosial, dan mencari dukungan, sedangkan EFC mencakup mengontrol emosi dan membuka diri. Proses penyesuaian sosial memungkinkan mahasiswa Sunda mencapai kesuksesan, hidup nyaman, dan penyesuaian optimal di Surabaya, dengan perkembangan signifikan dalam aspek sosial, intelektual, moral, dan emosional.
MEMBANGUN GENERASI TANGGUH : IMPLEMENTASI PSIKOEDUKASI RESILIENSI BAGI GURU DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA Halida, Arfin Nurma; Jannah, Miftakhul; Nurwidawati, Desi; Santosa, Rizky Putra; Nuryananda, Tirta Firdaus
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v5i2.7837

Abstract

Child development between the ages of 7 and 12 is a crucial phase, vulnerable to academic and social pressures, requiring appropriate intervention to maintain emotional stability. This study focuses on the urgency of strengthening the role of teachers as psychological facilitators through the implementation of a resilience psychoeducation program. Implemented at Warraphat School, Thailand, this community service program aims to equip educators with the competencies to develop resilient character in students. The implementation method employed a systematic, hybrid approach, encompassing initiation, material delivery, practical simulations, and measurable evaluation through pretests and posttests. The intervention results demonstrated significant program effectiveness, evidenced by an 18.9 percent increase in teacher understanding, with the average participant score increasing from 45.6 to 64.5. This improvement indicates that educators have successfully internalized the concept of resilience and mastered practical strategies for applying it in their learning. The main conclusion confirms that resilience psychoeducation effectively transforms the role of teachers from mere instructors to character-building agents capable of creating a supportive educational ecosystem. This is crucial for developing a generation of students who are adaptive, possess good emotional regulation, and are resilient in facing the dynamic challenges of future life. ABSTRAKPeriode perkembangan anak usia 7-12 tahun merupakan fase krusial yang rentan terhadap tekanan akademik dan sosial, sehingga memerlukan intervensi tepat untuk menjaga stabilitas emosi. Penelitian ini berfokus pada urgensi penguatan peran guru sebagai fasilitator psikologis melalui implementasi program psikoedukasi resiliensi. Dilaksanakan di Warraphat School, Thailand, program pengabdian ini bertujuan membekali pendidik dengan kompetensi dalam membentuk karakter tangguh siswa. Metode pelaksanaan menerapkan pendekatan hibrida yang sistematis, mencakup tahap inisiasi, penyampaian materi, simulasi praktik, serta evaluasi terukur melalui pretest dan posttest. Hasil intervensi menunjukkan efektivitas program yang signifikan, dibuktikan dengan peningkatan pemahaman guru sebesar 18,9 persen, di mana nilai rata-rata peserta meningkat dari 45,6 menjadi 64,5. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa para pendidik berhasil menginternalisasi konsep resiliensi serta menguasai strategi praktis untuk diterapkan dalam pembelajaran. Simpulan utama menegaskan bahwa psikoedukasi resiliensi efektif mentransformasi peran guru dari sekadar pengajar menjadi agen penguat karakter yang mampu menciptakan ekosistem pendidikan suportif. Hal ini krusial untuk mencetak generasi siswa yang adaptif, memiliki regulasi emosi yang baik, dan tangguh dalam menghadapi dinamika tantangan kehidupan masa depan.
Pelatihan Pembuatan Tracer Study bagi Guru di MA Al-Khoirot Kabupaten Malang Rizky Putra Santosa; Miftakhul Jannah; Desi Nurwidawati; Arfin Nurma Halida; Riza Noviana Khoirunnisa; Navy Tri Indah Sari
I-Com: Indonesian Community Journal Vol 5 No 1 (2025): I-Com: Indonesian Community Journal (Maret 2025)
Publisher : Fakultas Sains Dan Teknologi, Universitas Raden Rahmat Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70609/icom.v5i1.5894

Abstract

Budaya evaluasi program pendidikan berbasis data perlu diinisiasi salah satunya melalui studi penelusuran (tracer study). Tracer study berfungsi untuk melacak keadaan lulusan (alumni), mengukur relevansi kurikulum pendidikan, perbaikan kualitas pendidikan dan pengelolaan Kerjasama dengan alumni. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pembuatan tracer study pada guru MA-Al-Khoirot. Program pelatihan dan pendampingan menggunakan beberapa metode. Metode yang disampaikan diantaranya presentasi, diskusi, dan praktik. Melibatkan beberapa metode pelatihan dapat mengatasi keterbatasan dari satu metode dengan lainnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada peningkatan pengetahuan tentang urgensi program dengan ukuran efek besar. Pelatihan juga telah sesuai dengan desain program yang telah sesuai dengan mempertimbangkan kebutuhan dan konteks lokal sehingga mendapat keberterimaan dan efektivitas yang tinggi. Secara umum, kegiatan pengabdian sukses diselenggarakan. Terbentuk dan terlaksananya pengumpulan data oleh tim ad-hoc tracer juga telah sesuai dengan kebutuhan institusi.
Hubungan Antara Quarter Life Crisis dan Psychological Well-Being Pada Mahasiswa Tingkat Akhir: Peran Self-Compassion Sebagai Mediator Maharani, Elsatiti Nadya; Santosa, Rizky Putra
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 03 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n03.p1134-1143

Abstract

Mahasiswa tingkat akhir sering kali berada pada fase transisi krusial yang memicu tekanan psikologis berupa Quarter-Life Crisis (QLC). Kondisi ini berisiko menurunkan kesejahteraan psikologis jika individu tidak memiliki mekanisme koping yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi peran Self-Compassion (SC) sebagai mediator dalam hubungan antara Quarter-Life Crisis terhadap Psychological Well-Being (PWB) pada mahasiswa tingkat akhir. Studi kuantitatif ini melibatkan 74 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui instrumen Developmental Crisis Questionnaire (DCQ-12), skala Psychological Well-Being 18 item, dan Self-Compassion Scale (SCS). Analisis data dilakukan dengan teknik Structural Equation Modeling (SEM) melalui modul mediasi pada perangkat lunak JASP, dengan prosedur bootstrapping sebanyak 5000 replikasi untuk menguji efek tidak langsung. Temuan menunjukkan tidak adanya korelasi signifikan antara QLC dan PWB (r = 0,148; p = 0,208). Hasil uji mediasi mengonfirmasi bahwa Self-Compassion (SC) tidak berperan sebagai mediator dalam model ini, dengan nilai efek tidak langsung sebesar -0,002 (p = 0,902; 95% CI  [-0,066; 0,018]). Hal ini mengindikasikan bahwa pengaruh krisis terhadap kesejahteraan tidak dijembatani oleh belas kasih diri pada sampel tersebut.  Penelitian ini menyimpulkan bahwa mekanisme kesejahteraan psikologis mahasiswa di masa transisi bersifat multifaset dan tidak hanya bergantung pada satu faktor internal. Implikasi penelitian ini menekankan perlunya evaluasi terhadap instrumen penelitian lokal serta pertimbangan faktor eksternal lainnya dalam merancang intervensi kesehatan mental mahasiswa. Abstract Final-year students often navigate a critical transitional phase that triggers psychological pressure known as Quarter-Life Crisis (QLC). This condition poses a risk to psychological well-being if individuals lack effective coping mechanisms. This study aims to investigate the role of Self-Compassion (SC) as a mediator in the relationship between Quarter-Life Crisis and Psychological Well-Being (PWB) among final-year students. This quantitative study involved 74 respondents selected using a purposive sampling technique. Data were collected using the Developmental Crisis Questionnaire (DCQ-12), an 18-item Psychological Well-Being scale, and the Self-Compassion Scale (SCS). Data were analyzed using Structural Equation Modeling (SEM) via the mediation module in JASP, employing a 5000-replication bootstrapping procedure to test the indirect effects. The findings revealed no significant correlation between QLC and PWB (r = 0.148; p = 0.208). The mediation analysis confirmed that Self-Compassion (SC) did not act as a mediator in this model, with an indirect effect value of -0.002 (p = 0.902; 95% CI [-0.066, 0.018]). This indicates that the impact of crisis on well-being is not bridged by self-compassion within this sample. This study concludes that the psychological well-being mechanisms of students during transition are multifaceted and do not rely solely on a single internal factor. The implications of this research emphasize the need for evaluating local research instruments and considering other external factors when designing student mental health interventions.
Pengaruh Cognitive Reflection Terhadap Aggressive Driving Pada Pengemudi Passenger Car Windyorid, Cotgarlion Flyrendefricelvo; Santosa, Rizky Putra
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 13 No. 01 (2026): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v13n01.p337-347

Abstract

Tingginya kepemilikan kendaraan roda empat di Indonesia berkontribusi terhadap meningkatnya kepadatan lalu lintas dan risiko kecelakaan, yang sebagian besar disebabkan oleh faktor manusia, khususnya perilaku aggressive driving. Salah satu faktor psikologis yang secara teoretis berpotensi memengaruhi perilaku tersebut adalah cognitive reflection, yaitu kemampuan individu menahan respons intuitif dan melibatkan pemikiran reflektif sebelum bertindak. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh cognitive reflection terhadap aggressive driving pada pengemudi passenger car di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain regresi linear. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring kepada 80 pengemudi passenger car yang memenuhi kriteria inklusi, dengan pengukuran cognitive reflection menggunakan Verbal Cognitive Reflection Test (CRT-V) dan aggressive driving menggunakan Aggressive Driving Behavior Scale (ADBS). Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear dengan mengontrol variabel usia dan jenis kelamin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cognitive reflection tidak berpengaruh signifikan terhadap aggressive driving (p > 0,05), demikian pula variabel usia, sementara jenis kelamin menunjukkan kecenderungan pengaruh namun belum mencapai taraf signifikansi statistik. Nilai koefisien determinasi yang rendah mengindikasikan bahwa model hanya menjelaskan sebagian kecil variasi aggressive driving. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa aggressive driving tidak dapat dijelaskan secara langsung oleh kemampuan refleksi kognitif, melainkan dipengaruhi oleh faktor lain yang bersifat emosional, situasional, dan sosial, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif dalam upaya pencegahan perilaku berkendara agresif. Abstract The high level of passenger car ownership in Indonesia contributes to increasing traffic density and accident risk, with human factors identified as the dominant cause, particularly aggressive driving behavior. One psychological factor that is theoretically assumed to influence such behavior is cognitive reflection, defined as the ability to inhibit intuitive responses and engage in reflective thinking before acting. This study aimed to examine the effect of cognitive reflection on aggressive driving among passenger car drivers in Indonesia. The study employed a quantitative approach using a linear regression design. Data were collected through an online questionnaire from 80 passenger car drivers who met the inclusion criteria. Cognitive reflection was measured using the Verbal Cognitive Reflection Test (CRT-V), while aggressive driving was assessed using the Aggressive Driving Behavior Scale (ADBS). Data analysis was conducted using linear regression while controlling for age and gender. The results showed that cognitive reflection did not have a significant effect on aggressive driving (p > 0.05). Age also did not show a significant effect, while gender demonstrated a tendency toward influence that did not reach statistical significance. The low coefficient of determination indicates that the regression model explained only a small proportion of variance in aggressive driving behavior. In conclusion, aggressive driving cannot be explained solely by cognitive reflection, but appears to be influenced by emotional, situational, and social factors.