Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PENGALAMAN PENYESUAIAN SOSIAL PADA MAHASISWA ETNIS SUNDA YANG MERANTAU DI SURABAYA Livita, Euodia; Santosa, Rizky Putra
Afeksi: Jurnal Psikologi Vol. 3 No. 3 (2024): Afeksi: Jurnal Psikologi
Publisher : Afeksi: Jurnal Psikologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyesuaian sosial adalah kemampuan individu untuk memahami dan menyesuaikan diri dengan kelompok sosial di lingkungan baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman penyesuaian sosial mahasiswa etnis Sunda yang merantau di Surabaya. Metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi digunakan dalam penelitian ini dengan melibatkan 5 partisipan. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Hasil penelitian menunjukkan tiga tema utama yaitu awal mula, proses penyesuaian sosial, dan hasil pasca-penyesuaian sosial. Mahasiswa etnis Sunda menghadapi kendala penyesuaian sosial akibat perbedaan budaya berupa perbedaan bahasa, kebiasaan, dan karakter antara budaya Sunda dan Surabaya. Penyesuaian sosial dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut dan menghindari kesalahpahaman, serta untuk membangun hubungan baik dan diterima dalam lingkungan sosial Surabaya. Proses penyesuaian sosial yang dilakukan meliputi keterbukaan, keaktifan, dan kesediaan mengikuti kebiasaan, norma sosial, bahasa, dan budaya setempat. Faktor pendorong penyesuaian sosial adalah determinasi serta dukungan keluarga dan kerabat. Strategi penyesuaian sosial yang digunakan meliputi Problem Focused Coping (PFC) dan Emotional Focused Coping (EFC).PFC melibatkan observasi, interaksi sosial, dan mencari dukungan, sedangkan EFC mencakup mengontrol emosi dan membuka diri. Proses penyesuaian sosial memungkinkan mahasiswa Sunda mencapai kesuksesan, hidup nyaman, dan penyesuaian optimal di Surabaya, dengan perkembangan signifikan dalam aspek sosial, intelektual, moral, dan emosional.
Program Penguatan Kesejahteraan melalui Peningkatan Pengetahuan Pencegahan Bullying dan NAPZA Santosa, Rizky Putra; Putri, Ellyana Ilsan Eka; Puspitadewi, Ni Wayan Sukmawati; Harita, Adiwignya Nugraha Widhi; Oktaviana, Mimbar; Erbi, Mesa Taja Izza Jannati; Aqilah, Nayra
Journal of Community Development Vol. 6 No. 1 (2025): August
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/comdev.v6i1.1730

Abstract

Program pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemahaman siswa MTs Kebunrejo Genteng, Banyuwangi mengenai pencegahan perilaku bullying dan bahaya NAPZA melalui intervensi psikoedukasi. Remaja di lingkungan pesantren rentan terhadap permasalahan psikososial seperti perundungan dan penyalahgunaan NAPZA. Metode pelaksanaan meliputi presentasi materi, diskusi, studi kasus, dan praktik pembuatan poster edukasi yang diikuti oleh 56 siswa. Efektivitas program diukur menggunakan instrumen pretes-postes yang dianalisis dengan uji statistik paired sample t-test dan Wilcoxon signed-rank test. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan keseluruhan yang signifikan (t(55) = -2,46; p < 0,01; d = -0,32), meskipun dengan efek yang tergolong kecil (d = -0,32). Program ini menyimpulkan bahwa pendekatan psikoedukasi efektif untuk materi faktual seperti NAPZA, namun membutuhkan strategi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan untuk mengatasi kompleksitas pencegahan perilaku bullying. Respon peserta terhadap program secara keseluruhan berada pada kategori puas. Rekomendasi untuk intervensi serupa di masa depan adalah pengembangan program yang lebih diferensiatif sesuai dengan karakteristik masing-masing permasalahan.
MEMBANGUN GENERASI TANGGUH : IMPLEMENTASI PSIKOEDUKASI RESILIENSI BAGI GURU DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA Halida, Arfin Nurma; Jannah, Miftakhul; Nurwidawati, Desi; Santosa, Rizky Putra; Nuryananda, Tirta Firdaus
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v5i2.7837

Abstract

Child development between the ages of 7 and 12 is a crucial phase, vulnerable to academic and social pressures, requiring appropriate intervention to maintain emotional stability. This study focuses on the urgency of strengthening the role of teachers as psychological facilitators through the implementation of a resilience psychoeducation program. Implemented at Warraphat School, Thailand, this community service program aims to equip educators with the competencies to develop resilient character in students. The implementation method employed a systematic, hybrid approach, encompassing initiation, material delivery, practical simulations, and measurable evaluation through pretests and posttests. The intervention results demonstrated significant program effectiveness, evidenced by an 18.9 percent increase in teacher understanding, with the average participant score increasing from 45.6 to 64.5. This improvement indicates that educators have successfully internalized the concept of resilience and mastered practical strategies for applying it in their learning. The main conclusion confirms that resilience psychoeducation effectively transforms the role of teachers from mere instructors to character-building agents capable of creating a supportive educational ecosystem. This is crucial for developing a generation of students who are adaptive, possess good emotional regulation, and are resilient in facing the dynamic challenges of future life. ABSTRAKPeriode perkembangan anak usia 7-12 tahun merupakan fase krusial yang rentan terhadap tekanan akademik dan sosial, sehingga memerlukan intervensi tepat untuk menjaga stabilitas emosi. Penelitian ini berfokus pada urgensi penguatan peran guru sebagai fasilitator psikologis melalui implementasi program psikoedukasi resiliensi. Dilaksanakan di Warraphat School, Thailand, program pengabdian ini bertujuan membekali pendidik dengan kompetensi dalam membentuk karakter tangguh siswa. Metode pelaksanaan menerapkan pendekatan hibrida yang sistematis, mencakup tahap inisiasi, penyampaian materi, simulasi praktik, serta evaluasi terukur melalui pretest dan posttest. Hasil intervensi menunjukkan efektivitas program yang signifikan, dibuktikan dengan peningkatan pemahaman guru sebesar 18,9 persen, di mana nilai rata-rata peserta meningkat dari 45,6 menjadi 64,5. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa para pendidik berhasil menginternalisasi konsep resiliensi serta menguasai strategi praktis untuk diterapkan dalam pembelajaran. Simpulan utama menegaskan bahwa psikoedukasi resiliensi efektif mentransformasi peran guru dari sekadar pengajar menjadi agen penguat karakter yang mampu menciptakan ekosistem pendidikan suportif. Hal ini krusial untuk mencetak generasi siswa yang adaptif, memiliki regulasi emosi yang baik, dan tangguh dalam menghadapi dinamika tantangan kehidupan masa depan.
Hubungan Antara Quarter Life Crisis dan Psychological Well-Being Pada Mahasiswa Tingkat Akhir: Peran Self-Compassion Sebagai Mediator Maharani, Elsatiti Nadya; Santosa, Rizky Putra
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 03 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n03.p1134-1143

Abstract

Mahasiswa tingkat akhir sering kali berada pada fase transisi krusial yang memicu tekanan psikologis berupa Quarter-Life Crisis (QLC). Kondisi ini berisiko menurunkan kesejahteraan psikologis jika individu tidak memiliki mekanisme koping yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi peran Self-Compassion (SC) sebagai mediator dalam hubungan antara Quarter-Life Crisis terhadap Psychological Well-Being (PWB) pada mahasiswa tingkat akhir. Studi kuantitatif ini melibatkan 74 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui instrumen Developmental Crisis Questionnaire (DCQ-12), skala Psychological Well-Being 18 item, dan Self-Compassion Scale (SCS). Analisis data dilakukan dengan teknik Structural Equation Modeling (SEM) melalui modul mediasi pada perangkat lunak JASP, dengan prosedur bootstrapping sebanyak 5000 replikasi untuk menguji efek tidak langsung. Temuan menunjukkan tidak adanya korelasi signifikan antara QLC dan PWB (r = 0,148; p = 0,208). Hasil uji mediasi mengonfirmasi bahwa Self-Compassion (SC) tidak berperan sebagai mediator dalam model ini, dengan nilai efek tidak langsung sebesar -0,002 (p = 0,902; 95% CI  [-0,066; 0,018]). Hal ini mengindikasikan bahwa pengaruh krisis terhadap kesejahteraan tidak dijembatani oleh belas kasih diri pada sampel tersebut.  Penelitian ini menyimpulkan bahwa mekanisme kesejahteraan psikologis mahasiswa di masa transisi bersifat multifaset dan tidak hanya bergantung pada satu faktor internal. Implikasi penelitian ini menekankan perlunya evaluasi terhadap instrumen penelitian lokal serta pertimbangan faktor eksternal lainnya dalam merancang intervensi kesehatan mental mahasiswa. Abstract Final-year students often navigate a critical transitional phase that triggers psychological pressure known as Quarter-Life Crisis (QLC). This condition poses a risk to psychological well-being if individuals lack effective coping mechanisms. This study aims to investigate the role of Self-Compassion (SC) as a mediator in the relationship between Quarter-Life Crisis and Psychological Well-Being (PWB) among final-year students. This quantitative study involved 74 respondents selected using a purposive sampling technique. Data were collected using the Developmental Crisis Questionnaire (DCQ-12), an 18-item Psychological Well-Being scale, and the Self-Compassion Scale (SCS). Data were analyzed using Structural Equation Modeling (SEM) via the mediation module in JASP, employing a 5000-replication bootstrapping procedure to test the indirect effects. The findings revealed no significant correlation between QLC and PWB (r = 0.148; p = 0.208). The mediation analysis confirmed that Self-Compassion (SC) did not act as a mediator in this model, with an indirect effect value of -0.002 (p = 0.902; 95% CI [-0.066, 0.018]). This indicates that the impact of crisis on well-being is not bridged by self-compassion within this sample. This study concludes that the psychological well-being mechanisms of students during transition are multifaceted and do not rely solely on a single internal factor. The implications of this research emphasize the need for evaluating local research instruments and considering other external factors when designing student mental health interventions.