Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Buletin Kesehatan MAHASISWA

Hubungan Menstruasi dengan Kadar Hemoglobin pada Remaja Putri SMA di Kota Luwuk Tahun 2025: The Relationship Between Menstrual and Hemoglobin Levels in High School Female Adolescents in Luwuk City in 2025 Handayani, Lisa; Lalusu, Erni Yusnita; Evriwanda, Indah; Ramli, Ramli; Balebu, Dwi Wahyu; Otoluwa, Anang S.; Sudarsa, Caca
Buletin Kesehatan Mahasiswa Vol. 4 No. 1 (2025): Buletin Kesehatan MAHASISWA
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk Banggai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/jpmeo.v4i1.362

Abstract

Anemia merupakan masalah kesehatan yang banyak dialami remaja putri akibat kehilangan darah saat menstruasi, yang berisiko menurunkan kadar hemoglobin (Hb) dalam tubuh. Kondisi ini penting untuk diteliti karena kadar Hb yang rendah dapat mengganggu fungsi fisiologis, termasuk keteraturan siklus menstruasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara siklus menstruasi, lama menstruasi, dan gangguan menstruasi dengan kadar hemoglobin pada remaja putri SMA di Kota Luwuk tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross- sectional. Populasi penelitian adalah seluruh remaja putri SMA 1, 2, dan 3 di Kota Luwuk, dengan total sampel sebanyak 154 responden yang dipilih menggunakan teknik random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan pengukuran kadar hemoglobin menggunakan alat Easy Touch GCHb. Kategori anemia ditentukan berdasarkan kadar Hb, yaitu dinyatakan anemia apabila kadar Hb < 12 g/dl. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari total responden, sebagian remaja putri mengalami anemia dengan presentase sebesar 9,7%, sedangkan yang tidak anemia sebanyak 90,3%. Analisis data menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara siklus haid (p=0,000) dan lama menstruasi (p=0,000) dengan kadar hemoglobin. Namun, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara gangguan menstruasi dengan kadar hemoglobin (p=0,426). Disimpulkan bahwa keteraturan siklus h dan lama menstruasi berpengaruh terhadap kadar Hb remaja putri. Diharapkan para remaja lebih memperhatikan pola menstruasi dan faktor-faktor atau determinan yang mempengaruhi pola menstruasi, serta mengikuti edukasi kesehatan melalui posyandu remaja untuk mencegah anemia. Anemia is a health problem commonly experienced by adolescent girls due to blood loss during menstruation, which can lower hemoglobin (Hb) levels. This condition is important to study because low Hb levels can disrupt physiological functions, including menstrual cycle regularity. This study aims to determine the relationship between the menstrual cycle, menstrual duration, and menstrual disorders with hemoglobin levels in high school female adolescents in Luwuk City in 2025. This study used an observational analytical design with a cross-sectional approach. The study population was all female adolescents in grades 1, 2, and 3 of high school in Luwuk City, with a total sample of 154 respondents selected using a random sampling technique. Data were collected through questionnaires and hemoglobin level measurements using the Easy Touch GCHb device. The anemia category was determined based on Hb levels, with anemia defined as Hb < 12 g/dl. Data were analyzed using univariate and bivariate methods using the chi-square test. The results of the study showed that of the total respondents, some adolescent girls experienced anemia with a percentage of 9.7%, while those who were not anemic were 90.3%. Data analysis showed a significant relationship between the menstrual cycle (p = 0.000) and the duration of menstruation (p = 0.000) with hemoglobin levels. However, no significant relationship was found between menstrual disorders and hemoglobin levels (p = 0.426). It was concluded that the regularity of the menstrual cycle and the duration of menstruation affect the Hb levels of adolescent girls. It is hoped that adolescents will pay more attention to menstrual patterns and the factors or determinants that influence menstrual patterns, and participate in health education through adolescent posyandu to prevent anemia.
Gambaran Karakteristik Individu dan Kondisi Lingkungan Rumah pada Penderita TB Paru di Desa Sayambongn Kecamatan Nambo : Description of Individual Characteristics and Home Environmental Conditions of Pulmonary TB Sufferers in Sayambongn Village, Nambo District Ibrahim, Alisafira; Balebu, Dwi Wahyu; Syahrir, Muhammad
Buletin Kesehatan Mahasiswa Vol. 2 No. 2 (2024): Buletin Kesehatan MAHASISWA Volume 2 Nomor 2 Januari 2024
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk Banggai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/jpmeo.v2i2.236

Abstract

Tuberkulosis (TB Paru) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh mycobacterium Tuberculosis, yang dapat menyerang paru dan organ lainnya. Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang menimbulkan kesakita, kecatatan, dan kematian yang tinggi sehingga perlu dilakukan upaya penaggulangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambar karakteristik individu dan kondisi lingkungan rumah dengan TB paru di Desa Sayambongin Kecamatan Nambo Tahun 2023. Jenis penelitian ini dilakukan dengan rancangan penelitian deskriptif dengan jenis data kuantitaif. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah teknik sampling jenuh atau teknik penentuan sampel yaitu sebanyak 43 penderita. Metode pengumpulan data yang dilakukan melalui pengamatan langsungatau observasih serta dokumentasi dan wawancara. Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis univariat. Hasil penlitian yang di dapatkan bahwa riwayat pengobatan yang rutin 43 orang (100%), pencehayaan rumah yaitu paling banyak yaitu 43 (100%) dan jenis lantai lantai rumah 31 (72,1%). Saran pemerintah lebih memperhatikan lagi derajat kesehatan masyarakat khsusnya pada pada penderita TB Paru.  Tuberculosis (pulmonary TB) is an infectious disease caused by the mycobacterium Tuberculosis, which can attack the lungs and other organs. Tuberculosis is still a public health problem that causes high levels of illness, disability and death, so efforts to control it need to be made. The aim of this research is to determine the characteristics of individuals and the conditions of the home environment with pulmonary TB in Sayambongin Village, Nambo District in 2023. This type of research was carried out with a descriptive research design with quantitative data types. The sampling technique in this research was a saturated sampling technique or sample determination technique, namely 43 patients. The data collection method is carried out through direct observation or observation as well as documentation and interviews. The analytical method in this research uses univariate analysis. The results of the research showed that 43 people (100%) had a history of routine treatment, 43 (100%) had the most house lighting and 31 (72.1%) house floor types. The government's advice is to pay more attention to the health status of the community, especially pulmonary TB sufferers.
Gambaran Penerapan Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Puskesmas Biak : Overview of the Implementation of the Occupational Safety and Health Program at the Biak Community Health Center Nur’aini, Intan; Balebu, Dwi Wahyu; Dwicahya, Bambang
Buletin Kesehatan Mahasiswa Vol. 2 No. 2 (2024): Buletin Kesehatan MAHASISWA Volume 2 Nomor 2 Januari 2024
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk Banggai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/jpmeo.v2i2.238

Abstract

Data dari International Labour Organization, terdapat sebanyak 2,78 juta pekerja meninggal setiap tahun karena kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja Tahun 2018. Puskesmas merupakan suatu institusi yang mempunyai risiko berasal dari fisik, kimia, biologi, ergonomi dan psikososial. Untuk meminimalisir risiko akibat kerja maka perlu penerapan K3 di puskesmas. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui penerapan K3 di puskesmas Biak. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif kuantitaf. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petugas kesehatan di puskesmas Biak sebanyak 71 orang yang ada di area puskesmas Biak, dengan teknik sampel menggunakan total sampling, dengan mengambil seluruh populasi. Instrumen yang digunakan yaitu kuisioner, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan dari 11 indikator standar K3 indikator yang telah diterapkan sebesar 5 indikator yaitu pemeriksaan kesehatan berkala, pemberian imunisasi, pembudayaan PHBS, pengelolaan sarana dan prasarana, pengelolaan peralatan medis. Dan tidak terpenuhi sebesar 6 indikator yaitu pengenalan potensi bahaya dan pengendalian risiko, penerapan kewaspadaan standar, penerapan prinsip ergonomi, kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat bencana termasuk kebakaran, pengelolaan B3 dan limbah B3, pengelolaan limbah domestik. Simpulan dalam penelitian ini penerapan K3 pada petugas kesehatan di wilayah kerja puskesmas Biak masuk dalam kriteria penilaian penerapan cukup baik. Saran bagi pihak puskesmas Biak wajib menyelenggarakan pemenuhan standar K3 sesuai Permenkes No 52 Tahun 2018 disemua fasyankes wajib menyelenggarakan standar K3.  Data from the International Labor Organization shows that 2.78 million workers died every year due to work accidents and work-related diseases in 2018. Community health centers are institutions that have risks originating from physical, chemical, biological, ergonomic and psychosocial factors. To minimize work-related risks, it is necessary to implement K3 in community health centers. The aim of this research is to determine the implementation of K3 in the Biak health center. This type of research is quantitative descriptive. The population in this study was all 71 health workers at the Biak health center in the Biak health center area, with a sampling technique using total sampling, taking the entire population. The instruments used were questionnaires, interviews and documentation. The results of this research show that of the 11 standard K3 indicators, 5 indicators have been implemented, namely periodic health checks, provision of immunizations, PHBS culture, management of facilities and infrastructure, management of medical equipment. And 6 indicators were not met, namely recognition of potential hazards and risk control, application of standard precautions, application of ergonomic principles, preparedness for emergency disaster conditions including fire, management of B3 and B3 waste, management of domestic waste. The conclusion in this research is that the application of K3 to health workers in the work area of ​​the Biak Community Health Center falls within the assessment criteria for fairly good implementation. Suggestions for Biak health centers are that they are required to fulfill K3 standards in accordance with Minister of Health Regulation No. 52 of 2018. All health facilities are required to implement K3 standards.
Gambaran Faktor Risiko Diabetes Melitus Tipe 2 Pada Mahasiswa di Universitas Tompotika Luwuk: Description of Risk Factors for Type 2 Diabetes Mellitus in Students at Tompotika University Luwuk Sattu, Marselina; Balebu, Dwi Wahyu; Dokoleng, Emitisi; Handayani, Lisa
Buletin Kesehatan Mahasiswa Vol. 2 No. 3 (2024): Buletin Kesehatan MAHASISWA
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk Banggai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/jpmeo.v2i3.246

Abstract

Prevalensi Diabetes Melitus menurut Laporan Riskesdas 2018 berdasarkan kelompok usia terbesar pada rentang usia 55-64 tahun dan 65-75 tahun, namun pada usia muda pun terdapat angka kejadian diabetes mellitus sebesar 2,0% usia 15-24 tahun. Hal ini menunjukan bahwa ada peningkatan prevalensi DM di Indonesia dibandingkan hasil Riskesdas 2013 yaitu 1,5%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor risiko Diabetes Melitus Tipe 2 pada mahasiswa di Universitas Tompotika Luwuk. Jenis penelitian ini adalah penelitian Deskriptif dengan pendekatan Cross Sectional. Adapun populasi pada penelitian ini adalah seluruh mahasiswa aktif Universitas Tompotika Luwuk yaitu sebanyak 1.906 dengan jumlah sampel 203 sedangkan teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik Proportional Random Sampling pada 7 fakultas di Universitas Tompotika Luwuk. Analisis data menggunakan analisis Univariat. Dilihat dari hasil penelitian terdapat Mahasiswa yang memiliki lingkar perut berisiko yaitu sebanyak 112 orang (55,2%) dan yang tidak berisiko yaitu sebanyak 91 orang (44,8%), Mahasiswa yang memiliki riwayat keluarga menderita DM Tipe 2 sebanyak 122 orang (60,1%), Mahasiswa yang merokok sebanyak 35 orang (17,3%), perokok berat 2 orang (1,0%), perokok sedang 6 orang (3,0%) dan perokok ringan 27 orang (14,3%) dan yang tidak merokok yaitu sebanyak 168 orang (82,7%), terdapat mahasiswa yang memiliki aktivitas berat sebanyak 26 orang (12,8%), aktivitas sedang sebanyak 138 orang (68,0%) dan aktivitas ringan sebanyak 39 orang (19,2%), mahasiswa yang mengkonsumsi alkohol sebanyak 20 orang (9,9%), dan mahasiswa yang sering mengkonsumsi makanan siap saji > 2 dalam seminggu sebanyak 170 orang (83,7%). Diharapkan kepada Universitas Tompotika Luwuk agar melakukan kerjasama bersama Instansi Kesehatan agar dilakukan kegiatan preventif seperti pemeriksaan kadar gula darah sejak dini dan penyuluhan terkait faktor risiko Diabetes Melitus Tipe 2. The prevalence of Diabetes Mellitus according to the 2018 Riskesdas Report is based on the largest age group in the age range 55-64 years and 65-75 years, but even at a young age there is an incidence of diabetes mellitus of 2.0% aged 15-24 years. This shows that there is an increase in the prevalence of DM in Indonesia compared to the 2013 Riskesdas results, namely 1.5%. This study aims to determine the risk factors for Type 2 Diabetes Mellitus in students at Tompotika Luwuk University. This type of research is descriptive research with a cross sectional approach. The population in this study were all active students at Tompotika Luwuk University, namely 1,906 with a total sample of 203 while the sampling technique in this study used the Proportional Random Sampling technique at 7 faculties at Tompotika Luwuk University. Data analysis used Univariate analysis. Judging from the results of the study, there were students who had a risky abdominal circumference, namely 112 people (55.2%) and those who were not at risk, namely 91 people (44.8%). Students who had a family history of suffering from Type 2 DM were 122 people (60 .1%), 35 students (17.3%) smoked, 2 heavy smokers (1.0%), 6 moderate smokers (3.0%) and 27 light smokers (14.3%) and those who did not smoke were 168 people (82.7%), there were students who had heavy activities as many as 26 people (12.8%), moderate activities as many as 138 people (68.0%) and light activities as many as 39 people (19 .2%), students who consumed alcohol were 20 people (9.9%), and students who often consumed ready-to-eat food > 2 a week were 170 people (83.7%). It is hoped that Tompotika Luwuk University will collaborate with Health Agencies to carry out preventive activities such as checking blood sugar levels from an early age and counseling related to risk factors for Type 2 Diabetes Mellitus.
Gambaran Gangguan Pendengaran pada Karyawan di PT Unit Layanan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (ULPLTD) Luwuk : Description of Hearing Loss in Employees at PT Luwuk Diesel Power Plant Service Unit (ULPLTD) Irwan, Fitri Ramadani; Kanan, Maria; Tongko, Mirawati; Sakati, Sandy Novriyanto; Balebu, Dwi Wahyu; Salamat, Ferdy
Buletin Kesehatan Mahasiswa Vol. 4 No. 2 (2026): Buletin Kesehatan MAHASISWA
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk Banggai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/jpmeo.v4i2.401

Abstract

Gangguan pendengaran akibat kebisingan merupakan salah satu dampak lingkungan kerja yang tidak aman dan menjadi isu penting dalam keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Data WHO (2023) menunjukkan sekitar 430 juta orang mengalami gangguan pendengaran dan diperkirakan meningkat hingga 700 juta pada tahun 2050. Industri pembangkit listrik termasuk sektor dengan tingkat kebisingan tinggi yang berisiko menimbulkan gangguan pendengaran pada pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran gangguan pendengaran pada karyawan PT Unit Layanan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (ULPLTD) Luwuk. Penelitian menggunakan desain observasional deskriptif dengan teknik total sampling terhadap 66 pekerja aktif. Pemeriksaan pendengaran dilakukan menggunakan hearing test berbasis frekuensi suara (Pitch/Hz) dan audiometri tutur, kemudian dianalisis secara univariat. Hasil menunjukkan bahwa pada telinga kanan, sebagian besar pekerja memiliki pendengaran normal (78,6%), sedangkan 16,1% mengalami gangguan pendengaran ringan dan 5,4% sedang. Pada telinga kiri, 87,5% pekerja memiliki pendengaran normal, 10,7% mengalami gangguan ringan, dan 1,8% sedang. Secara keseluruhan, terdapat 19,7% pekerja yang mengalami gangguan pendengaran ringan hingga sedang pada salah satu atau kedua telinga. Pemeriksaan audiometri tutur menunjukkan seluruh pekerja masih mampu mengenali dan memahami suara dengan baik. Gangguan pendengaran diduga berkaitan dengan paparan kebisingan yang melebihi Nilai Ambang Batas 85 dBA. Oleh karena itu, perusahaan disarankan melakukan deteksi dini secara berkala, pengendalian kebisingan, serta meningkatkan kepatuhan penggunaan alat pelindung diri. Noise-induced hearing loss is one of the impacts of unsafe working environments and remains an important issue in occupational health and safety. According to the World Health Organization (2023), approximately 430 million people worldwide experience hearing impairment, and this number is projected to increase to 700 million by 2050. Power generation industries are among the sectors with high noise exposure, placing workers at risk of hearing disorders. This study aimed to describe the occurrence of hearing disorders among employees at the Diesel Power Plant Service Unit (ULPLTD) Luwuk. A descriptive observational study was conducted using a total sampling technique involving 66 active workers. Hearing assessments were performed using frequency-based hearing tests (Pitch/Hz) and speech audiometry. Data were analyzed using univariate analysis. The results showed that in the right ear, 78.6% of workers had normal hearing, while 16.1% experienced mild hearing loss and 5.4% had moderate hearing loss. In the left ear, 87.5% of workers had normal hearing, 10.7% had mild hearing loss, and 1.8% had moderate hearing loss. Overall, 19.7% of workers experienced mild to moderate hearing loss in one or both ears. Speech audiometry indicated that all workers (100%) were still able to recognize and understand speech sounds. Hearing disorders were suspected to be associated with noise exposure exceeding the permissible exposure limit of 85 dBA. Therefore, regular early detection, effective noise control measures, and strict use of personal protective equipment are strongly recommended.