Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Kecemasan Orang Tua Pasien di Nicu RSPAD Gatot Soebroto Pandan Enggarwati; Ira Kusumawati
Journal Scientific of Mandalika (JSM) e-ISSN 2745-5955 | p-ISSN 2809-0543 Vol. 6 No. 10 (2025)
Publisher : Institut Penelitian dan Pengembangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/10.36312/vol6iss10pp3856-3862

Abstract

Parents of critically ill infants admitted to the Neonatal Intensive Care Unit (NICU) often experience emotional stress and anxiety due to hospitalization. This study aims to examine the relationship between educational level and parental anxiety in the NICU at RSPAD Gatot Soebroto. This research used a quantitative method with a cross-sectional design and a correlational approach. The sample consisted of 20 parents, selected using total sampling over one month. The instrument used was the Zung Self-Rating Anxiety Scale (ZSAS) questionnaire. Data were analyzed using the Spearman Rank test. Results showed that most respondents were aged 26–35 years (50%), female (60%), had a secondary education level (45%), and earned ≥ the regional minimum wage (60%). The majority experienced mild anxiety (70%). Statistical analysis yielded a significance value of 0.308 (p ≥ 0.05), indicating no significant relationship between educational level and parental anxiety in the NICU. Therefore, it is recommended that hospital policies and psychosocial support programs be designed to reach all parents regardless of educational background. Healthcare providers are also encouraged to apply a holistic approach that considers other factors such as social support, emotional condition, and parents’ personal experiences
Perspektif Tingkat Pengetahuan Siswa PSKD 3 Jakarta Pusat tentang Bantuan Hidup Dasar Kusumawati, Ira; Enggarwati, Pandan; Yusuf, Bahraeni
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 6 (2025): Volume 5 Nomor 6 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i6.20116

Abstract

ABSTRACT Emergency conditions can be experienced anytime, anywhere, and can be experienced by anyone and require help as soon as possible because it can result in permanent disability or death. Emergency incidents include conditions when the victim experiences respiratory arrest and cardiac arrest. The high mortality rate in cases of heart attacks outside the hospital is influenced by various factors including the long distance so that the victim is late to reach the health facility, the victim's poor prognosis when first found, and also influenced by the initial management of cardiopulmonary resuscitation by the community who first found it. This is thought to be due to the lack of public knowledge regarding cardiopulmonary resuscitation and the use of AEDs that should be given to victims at the scene. This study aims to determine the perspective of the level of knowledge of PSKD 3 Jakarta High School students regarding the provision of basic life support. The researcher provided education on basic life support to 92 respondents. Sampling used the purposive sampling method. The results showed that knowledge related to the attitude of the rescuer to provide basic life support increased before and after education, namely pre (66) and post (78). Knowledge related to basic life support procedures also increased before and after education, namely pre (64) and post (88). Meanwhile, knowledge related to the concept of basic life support increased before and after education, namely pre (64) and post (89). The researcher's findings resulted in the conclusion that the perspective of students' knowledge related to basic life support increased before and after the intervention. Keywords:  Basic Life Support, Health Education, Knowledge  ABSTRAK Kondisi kegawatdaruratan bisa dialami kapan saja, dimana saja, serta bisa dialami siapa saja dan membutuhkan pertolongan secepat mungkin karena bias mengakibatkan terjadinya kecacatan permanen hingga kematian. Kejadian gawat darurat termasuk keadaan ketika korban mengalami henti nafas dan henti jantung. Tingginya angka kematian pada kasus serangan jantung diluar rumah sakit tersebut dipengaruhi berbagai faktor diantaranya jarak tempuh yang jauh sehingga korban terlambat sampai ke fasilitas kesehatan, prognosis korban yang buruk saat pertama kali ditemukan, juga dipengaruhi oleh tatalaksana awal tindakan resusitasi jantung paru oleh masyarakat yang pertama kali menemukannya. Hal ini disinyalir akibat kurangnya pengetahuan masyarakat terkait tindakan resusitasi jantung paru dan penggunaan AED yang harusnya diberikan kepada korban di tempat kejadian. Penelitian ini bertujuan mengetahui perspektif tingkat pengetahuan siswa SMA PSKD 3 Jakarta tentang pemberian bantuan hidup dasar. Peneliti memberikan edukasi mengenai bantuan hidup dasar kepada 92 responden. Pengambilan sampel menggunakan metode purposif sampling. Didapatkan hasil bahwa pengetahuan terkait sikap penolong untuk melakukan bantuan hidup dasar mengalami peningkatan sebelum dan sesudah edukasi, yaitu pre (66) dan post (78). Pengetahuan terkait prosedur bantuan hidup dasar juga mengalami peningkatan sebelum dan sesudah edukasi, yaitu pre (64) dan post (88). Adapun pengetahuan terkait dengan konsep bantuan hidup dasar mengalami peningkatan sebelum dan sesudah edukasi, yaitu pre (64) dan post (89). Temuan peneliti menghasilkan kesimpulan perspektif pengetahuan siswa terkait bantuan hidup dasar   mengalami peningkatan sebelum dan sesudah intevensi. Kata Kunci: Bantuan Hidup Dasar, Pendidikan Kesehatan, Pengetahuan
Edukasi Bantuan Hidup Dasar Pada Siswa SMA 3 PSKD Jakarta Kusumawati, Ira; Enggarwati, Pandan; Yusuf, Bahreni
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 6 (2025): Volume 8 No 6 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i6.20323

Abstract

ABSTRAK Kejadian gawat darurat bisa dialami kapan saja, dimana saja, serta bisa dialami siapa saja dan membutuhkan pertolongan secepat mungkin karena bisa mengakibatkan terjadinya kecacatan permanen hingga kematian. Kejadian gawat darurat termasuk keadaan ketika korban mengalami henti nafas dan henti jantung. Keadaan terburuk yang lain bila seseorang mengalami suatu kecelakaan sampai memerlukan bantuan secepatnya misalnya pendarahan yang massif. Pengetahuan melakukan tindakan bantuan hidup dasar sangat diperlukan agar penanganan dapat diberikan dengan cepat dan tepat sehingga nyawa korban dapat terselamatkan upaya untuk meningkatkan pengetahuan tersebut adalah melalui pemberian edukasi melalui penyuluhan atau pendidikan kesehatan. Pendidikan kesehatan merupakan usaha atau kegiatan untuk membantu individu, kelompok dan masyarakat untuk meningkatkan kemampuan baik pengetahuan, sikap maupun keterampilan agar masyarakat mampu melakukan tindakan bantuan hidup dasar yang lebih baik. Metode yang dilakukan pada promosi kesehatan ini adalah dengan penjelasan atau ceramah yang dilakukan oleh pemateri kepada peserta secara langsung dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Berdasarkan hasil dari analisis terhadap pre-test dan post-test terdapat peningkatan pemahaman peserta terkaitbantuan hidup dasar dengan hasil pengetahuan terkait sikap penolong untuk melakukan BHD mengalami peningkatan sebelum dan sesudah edukasi, yaitu pre (66) dan post (78). Pengetahuan terkait prosedur BHD juga mengalami peningkatan sebelum dan sesudah edukasi, yaitu pre (64) dan post (88) dan pengetahuan terkait dengan konsep dasar BHD mengalami peningkatan sebelum dan sesudah edukasi, yaitu pre (64) dan post (89). Dari hasil kegiatan promosi Kesehatan ini metode ceramah dan tanya jawab secara langsung dapat meningkatkan pemahaman peserta terkaitbantuan hidup dasar. Kata Kunci: Bantuan Hidup Dasar, Edukasi,  Siswa SMA.  ABSTRACT Emergency situations can occur anytime, anywhere, and to anyone, requiring immediate assistance as they may result in permanent disability or even death. Emergency situations include conditions where the victim experiences respiratory arrest and cardiac arrest. Other critical conditions include accidents that require urgent help, such as massive bleeding. Knowledge of basic life support (BLS) procedures is essential so that prompt and appropriate action can be taken, potentially saving the victim’s life. One way to improve this knowledge is through education, such as health counseling or health education programs. Health education is an effort or activity aimed at helping individuals, groups, and communities enhance their knowledge, attitudes, and skills so that they are capable of performing better basic life support actions. The method used in this health promotion activity involved explanations or lectures aided by leaflet media, delivered directly by the instructor to the participants, followed by a question-and-answer session. Based on the analysis of pre-test and post-test results, there was an increase in participants' understanding of basic life support. Knowledge regarding the attitude of a responder towards performing BLS increased from pre (66) to post (78). Knowledge of BLS procedures also improved, from pre (64) to post (88), and understanding of the basic concept of BLS rose from pre (64) to post (89). The results of this health promotion activity indicate that the lecture method, supported by leaflets and direct Q&A sessions, can enhance participants' understanding of basic life support. Keywords: Basic Life Support, Education, High School Students.
Hand-Held Fan untuk Mengurangi Sesak Napas pada Pasien Kanker Paru Husna, Nur Amri; Enggarwati, Pandan; Damanik, Sri Melfa
JURNAL WACANA KESEHATAN Vol 10, No 2 (2025): Desember
Publisher : AKPER Dharma Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52822/jwk.v10i2.827

Abstract

Sesak napas merupakan gejala subjektif yang sering dialami oleh pasien kanker paru yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan, kecemasan dan penurunan kualitas hidup. Terapi farmakologi diberikan kepada pasien namun dapat mengakibatkan efek samping yang merugikan. Untuk itu, penggunaan terapi non-farmakologi seperti hand-held fan (HHF) merupakan tanggung jawab perawat dalam mengurangi penggunaan obat sesak. Berdasarkan hasil bukti ilmiah atau evidence based nursing (EBN), HHF adalah terapi modalitas menggunakan pendekatan palliative care yang dapat diterapkan untuk mengurangi sesak napas pada pasien kanker paru. Penerapan EBN menggunakan critical review dan pelaksanaannya menggunakan model Stetler. Sehingga metode penelitian yang digunakan yaitu one-group pre test-post test. Penerapan EBN ini bertujuan untuk mengidentifikasi keefektifan hand- held fan untuk mengurangi sesak napas pada pasien kanker paru. Sesak napas diukur menggunakan Modified Borg Scale (MBS). Penerapan EBN dilakukan kepada 6 orang pasien dengan kanker paru. Hasil penerapan EBN menunjukkan bahwa kombinasi HHF dan penggunaan pernafasan diafragma efektif dalam mengurangi sesak napas pada pasien kanker paru (p=0,026; p<0,05). Hand-held fan dapat diaplikasikan perawat sebagai intervensi manajemen non farmakologi untuk mengurangi sesak napas pada pasien kanker paru. 
Hubungan Indeks Massa Tubuh Dengan Gula Darah Sewaktu Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di Puskesmas Kelapa Gading Jakarta Utara Yenni Romauli; Sofwan Sofwan; Astrid Astrid; Pandan Enggarwati
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.8224

Abstract

Diabetes Melitus (DM) tipe 2 merupakan penyakit metabolik kronis yang prevalensinya terus meningkat dan berkaitan erat dengan indeks massa tubuh. Indeks Massa Tubuh (IMT) sering digunakan sebagai indikator status gizi dan diketahui berhubungan dengan resistensi insulin serta peningkatan kadar glukosa darah. Mengetahui hubungan indeks massa tubuh dengan kadar gula darah sewaktu (GDS) pada pasien DM tipe 2 di Puskesmas Kelapa Gading, Jakarta Utara. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 75 pasien DM tipe 2 dipilih menggunakan teknik probability sampling dengan metode systematic random sampling. Data dikumpulkan melalui pengukuran berat badan, tinggi badan untuk menentukan IMT, serta pemeriksaan gula darah sewaktu menggunakan glukometer. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara IMT dan GDS dengan nilai p = 0,003 (p < 0,05) dan koefisien korelasi r = 0,339 yang menunjukkan hubungan positif dengan kekuatan sedang. Semakin tinggi IMT, semakin tinggi pula kadar gula darah sewaktu pada pasien DM tipe 2. Berat badan yang diukur melalui IMT berhubungan secara signifikan dengan kadar gula darah sewaktu pada pasien DM tipe 2. Pengendalian berat badan melalui pengaturan pola makan dan gaya hidup sehat penting untuk membantu pengendalian glukosa darah.
Potensi Pelaksanaan Self Monitoring Blood Glucose Pada Pasien Diabetes Dalam Meningkatkan Kualitas Hidup dan Kontrol Glikemik Pandan Enggarwati; Debie Dahlia; Sri Yona
Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan Indonesia Vol 10 No 02 (2020): Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan Indonesia Edisi Juni 2020
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.001 KB) | DOI: 10.33221/jiiki.v10i02.560

Abstract

Abstract Introduction: Diseases that are considered particularly dominant in Indonesia are now starting to shift toward chronic diseases and one of which is diabetes mellitus (DM). Ever since a patient is diagnosed with DM, DM management must be carried out continuously and it will bring changes to the patients’ lifestyle. Health-Related Quality of Life (HRQoL) is a health indicator which covers interrelated subjective and multidimensional concepts, including assessment of physical, functional, psychological, and religious aspects. Self Monitoring Blood Glucose (SMBG) is a part of DM disease management which allows control of the glycemic index and quality of life. However, potential benefits of SMBG implementation needs to be discovered further. Objective: The purpose of this article is to determine the potential of SMBG in DM management and its relation to the glycemic index and quality of life. Methods: Literature review of this article based on EBSCOhost, PubMed, ProQuest, Willey Library Online dan ScienceDirect from 2013 - 2019. Results: The result shows that SMBG had a significant impact on HRQoL and glycemic index control. Conclusion: The role of nurses in the provision of comprehensive education is essential to increase the knowledge of the use of SMBG and drive patient’s motivation to ensure they are able to properly report the results of SMBG that they conducted.
Hubungan Kadar Gula Darah dengan Tekanan Darah Pasien Diabetes Tipe 2 Anggie Regina Utami; Sofwan; Astrid; Pandan Enggarwati
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 4 (2026): Edisi: Juli-September
Publisher : Pustaka Bangsa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes Melitus Tipe 2 (DM Tipe 2) merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan hiperglikemia dan berpotensi menimbulkan komplikasi kardiovaskular, salah satunya hipertensi. Hiperglikemia dapat meningkatkan tekanan darah melalui peningkatan viskositas darah, resistensi insulin, dan kerusakan endotel pembuluh darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar gula darah terhadap tekanan darah pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Kelapa Gading. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan observasional korelasional dan metode cross-sectional. Sampel berjumlah 75 responden yang dipilih menggunakan teknik systematic random sampling. Kadar gula darah puasa diukur menggunakan glukometer, sedangkan tekanan darah diukur menggunakan sphygmomanometer digital. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami hiperglikemia sebanyak 46 responden (61,3%) dan memiliki tekanan darah sistolik pada kategori normal tinggi hingga hipertensi. Uji korelasi Spearman menunjukkan nilai p < 0,05 dengan koefisien korelasi yang kuat dan positif, yang menandakan adanya hubungan signifikan antara kadar gula darah puasa dan tekanan darah sistolik pada pasien DM Tipe 2. Terdapat hubungan yang bermakna antara kadar gula darah dan tekanan darah pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Pemantauan dan pengendalian kadar gula darah serta tekanan darah secara rutin sangat penting untuk mencegah terjadinya komplikasi kardiovaskular.