Articles
ANALISIS PENINGKATAN TEKNOLOGI PROSES DAN MANAJEMEN PRODUKSI BAGI WIRAUSAHA BENGKEL LAS TEKNIK
Sufiyanto Sufiyanto;
Darto Darto;
Rudi Hariyanto
TRANSMISI Vol 8, No 2 (2012): Edisi September 2012
Publisher : University of Merdeka Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26905/jtmt.v8i2.4568
Keterbatasan penguasaan teknologi dalam proses pengerjaan material dapat menghambat perkembanganusaha dan peningkatan kualitas produk yang dihasilkan oleh sebuah bengkel las teknik. Teknologi yangdigunakan oleh bengkel las teknik secara umum masih sangat sederhana dan dilakukan berdasarkanpengalaman praktis yang diperoleh secara otodidak oleh pelaku usaha tersebut. Kendala yang dihadapi adalahproses pembentukan pipa menjadi frame/kerangka lengkung dan proses pemotongan ujung pipa untukdibentuk menjadi sebuah kontur yang dapat disambungkan dengan pipa lain. Selain itu manajemen prosesyang baik belum diterapkan dalam upaya untuk meningkatkan mutu dan daya saing yang dimiliki olehbengkel las teknik tersebut. Metode yang digunakan dalam menyelesaikan permasalahan tersebut diatasadalah melalui peningkatan teknologi pembentukan dengan mesin roll mekanik untuk membentuk pipamenjadi frame lengkung dan teknologi pemotongan logam menggunakan mesin potong pipa untuk membuatkontur pada ujung pipa. Sedangkan peningkatan mutu dan daya saing bengkel las teknik dilakukan denganmemberikan pelatihan manajemen proses dan desain produk yang inovatif. Hasil yang diperoleh daripeningkatan teknologi pembentukan dan pemotongan logam adalah penurunan waktu proses produksi yangdibutuhkan melalui penggunaan mesin roll mekanik dan mesin potong pipa. Sedangkan dari pelatihanmanajemen proses dan desain produk dapat diperoleh efisiensi dan efektivitas untuk menekan biaya produksidan meningkatkan kualitas serta daya saing bengkel las teknik melalui pengendalian proses, pengendalianmutu, dan pengendalian biaya.
ANALISIS KARAKTERISTIK GETARAN PADA SISTEM PERPIPAAN AKIBAT PERUBAHAN JARAK TUMPUAN KLEM
Ryan Hadi Pamungkas;
Sufiyanto Sufiyanto
TRANSMISI Vol 10, No 1 (2014): Edisi Pebruari 2014
Publisher : University of Merdeka Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26905/jtmt.v10i1.4608
Stabilitas sistem perpipaan dipengaruhi oleh perubahan kecepatan aliran fluida didalam pipa dan kekakuansistem (stiffness). Pada kecepatan aliran (flow rate) yang besar, fluida akan menekan dinding pipa dan dapatmengakibatkan pipa melengkung (bending). Frekwensi natural sistem akan menurun dengan bertambahnyakecepatan aliran yang beresiko terjadinya resonansi. Peningkatan kekakuan dapat meningkatkan frekwensinatural dari sistem sehingga dapat meredam terjadinya getaran atau resonansi. Salah satu upaya yangdilakukan untuk meningkatkan stabilitas sistem perpipaan adalah dengan penggunaan clamping system.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa stabilitas sistem perpipaan akibat variasi jarak tumpuan klemdengan mengamati karakteristik getaran pada pipa.Metode yang digunakan adalah pengujian eksperimental dengan mengukur frekwensi getaran yang terjadiakibat variasi jarak tumpuan/klem pipa. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan semakin pendek jaraktumpuan klem maka frekwensi getaran yang semakin tinggi yang ditunjukkan dengan kerapatan gelombangdan amplitudo simpangan dari getaran yang dihasilkan. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalahpeningkatan stabilitas sistem perpipaan dapat dilakukan dengan mengatur jarak klem/tumpuan dan diameterserta ketebalan pipa yang akan berpengaruh terhadap kekakuan struktur dari sistem perpipaan.
Analisa Mesin Pemotong Pipa Diameter 3 – 6 Inci Menggunakan Las Asitelin
Gilbert Kelvin Gultom;
Rusdijanto Rusdijanto;
Sufiyanto Sufiyanto
TRANSMISI Vol 17, No 1 (2021): March 2021
Publisher : University of Merdeka Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26905/jtmt.v17i1.5507
Di dunia industri sekarang ini kita dituntut untuk cepat dalam menyelesaikan semua pekerjaan yang bertujuan untuk menciptakan atau membuat suatu alat yang lebih efisien dan praktis untuk mempermudah pekerjaan dalam jumlah yang banyak. Mesin yang dibuat ini adalah mesin pemotong pipa diameter 3 – 6 inci menggunakan las asitelin yang memiliki prinsip kerja dengan cara memanaskan pipa sampai mendekati titik lebur, kemudian motor listrik sebagai penggerak yang meghasilkan daya dan putaran akan ditransmisikan ke sistem (penjepit) supaya dapat berputar melalui sabuk dan puli. Sebelum sampai memutar penjepit, putaran direduksi terlebih dahulu dengan reducer yang menghasilkan keluaran putaran dan daya, sehingga motor listrik memutar penjepit dan benda kerja secara bersamaan. Spesifikasi dari analisa mesin pemotong pipa diameter 3 – 6 inci menggunakan las asitelin ini adalah sebagai berikut : Putaran akhir yang dihasilkan oleh mesin pemotong pipa ini adalah 0,76 rpm, putaran motor penggerak yang digunakan = 1450 rpm, puli yang digerakkan (input reducer) = 7 inci, reducer yang digunakan = 1 : 50, puli penggerak yang digunakan = 2,5 inci, puli yang digerakkan (poros) = 9 inci.
ANALISA STRUKTUR RANGKA DUDUKAN WINCH PADA SALUTE GUN 75 mm WINCH SYSTEM
Rizky Putra Adilana;
Sufiyanto Sufiyanto;
Ardyanto Ardyanto
TRANSMISI Vol 13, No 1 (2017): Edisi Pebruari 2017
Publisher : University of Merdeka Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (718.042 KB)
|
DOI: 10.26905/jtmt.v13i1.2005
Salute Gun 75mm Winch System merupakan alat yang berfungsi sebagai penarik meriam dengan menggunakan winch untuk memudahkan perpindahan gelar meriam. Berdasarkan fungsi dari Salute Gun 75 mm Winch System ini, struktur rangka dudukan winch harus dapat menahan beban meriam saat winch menarik meriam tersebut. Sehingga elemen struktur rangka harus diperhitungkan untuk menghindari terjadinya kecelakaan akibat penarikan beban tersebut. Pada penelitian ini, analisis struktur rangka ini menggunakan software MA Truss meliputi gaya yang, tegangan, regangan dan efek buckling bekerja pada elemen struktur rangka sehingga dapat diketahui kekuatan struktur rangka dudukan winch menahan beban meriam tersebut. Hasil analisis struktur rangka ini adalah tegangan kerja elemen batang struktur 5,7% dari kekuatan ijin bahan dan buckling analysis menunjukkan 2,7% buckling force. Kekuatan sambungan las pada elemen batang menunjukkan kondisi 15% dari kemampuan maksimal las. Sedangkan pada sambungan baut untuk dudukan winch system diperoleh tegangan tarik actual 7,2% batas kekuatan tarik, tegangan geser 38,5% kekuatan geser dan tegangan permukaan 27% dari batas tegangan permukaan ijin.
KAJI TEORITIK PERUBAHAN PANJANG PLAT PENGUAT TERHADAP BESARNYA DEFLEKSI YANG TERJADI PADA BALOK
Sufiyanto Sufiyanto
TRANSMISI Vol 1, No 1 (2005): Edisi Pebruari 2005
Publisher : University of Merdeka Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (52.524 KB)
|
DOI: 10.26905/jtmt.v1i1.4431
Defleksi lateral yang terjadi pada sebuah balok dipengaruhi oleh nilai kekakuan balok tersebut. Nilaikekakuan ini ditentukan oleh momen inersia penampang yang dimiliki oleh balok tersebut Semakin besarinersia penampang balok maka nilai kekakuannya meningkat dan defleksi lateral yang terjadi menjadikecil. Untuk memperbesar inersia penampang suatu balok dapat dilakukan dengan menambahkan plat/batang penguat pada balok tersebut. Permasalahan yang timbul dengan cara ini adalah menentukanpanjang plat penguat yang dibutuhkan sesuai dengan besarnya defleksi lateral yang diijinkan terjadipada balok tersebut. Untuk menentukan panjang efektif dari plat penguat pada suatu balok, dapatdilakukan dengan suatu kaji teoritis yang mencari hubungan antara panjang plat penguat terhadapdefleksi lateral yang akan terjadi pada suatu balok. Dari hasil kaji teoritis ini menunjukkan bahwasemakin kecil defleksi lateral yang terjadi maka panjang plat penguat yang dibutuhkan semakin besar.Defleksi lateral yang terjadi pada sebuah balok dipengaruhi oleh nilai kekakuan balok tersebut. Nilaikekakuan ini ditentukan oleh momen inersia penampang yang dimiliki oleh balok tersebut Semakin besarinersia penampang balok maka nilai kekakuannya meningkat dan defleksi lateral yang terjadi menjadikecil. Untuk memperbesar inersia penampang suatu balok dapat dilakukan dengan menambahkan plat/batang penguat pada balok tersebut. Permasalahan yang timbul dengan cara ini adalah menentukanpanjang plat penguat yang dibutuhkan sesuai dengan besarnya defleksi lateral yang diijinkan terjadipada balok tersebut. Untuk menentukan panjang efektif dari plat penguat pada suatu balok, dapatdilakukan dengan suatu kaji teoritis yang mencari hubungan antara panjang plat penguat terhadapdefleksi lateral yang akan terjadi pada suatu balok. Dari hasil kaji teoritis ini menunjukkan bahwasemakin kecil defleksi lateral yang terjadi maka panjang plat penguat yang dibutuhkan semakin besar.
JIG & FIXTURE DESIGN FOR ROUGHNESS TESTER SJ-210
Nanda Rahmaniar Siswanda;
Sufiyanto Sufiyanto;
Sudjatmiko Sudjatmiko
TRANSMISI Vol 15, No 1 (2019): Edisi Pebruari 2019
Publisher : University of Merdeka Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26905/jtmt.v15i1.4742
The rapid development of the industry gave rise to better technological innovations to develop the quality capacity of a production. Jig fixture is a production tool used in the manufacturing process, so that accurate part duplication is produced. Jigs fixture specifically designed to facilitate the setup of materia; which ensures uniformity in the shape and size of products in large quantities (mass products), and commemorate the time of production [2-4]. Jig fixture functions to hold and direct the workpiece, so that the manufacturing process is more efficient and product quality can be maintained as specified quality. Rong and Zhu (1999) in Ahmad Rizki (2003) state that an object consists of several surface surfaces. In the use of a fixture, the placement process (locating) is the process of placing multiple surfaces of a workpiece until it touches the locator, which is then followed by the clamping process of the workpiece that comes in contact with the locator called a locating surface. In a workpiece there are 6 degrees of freedom (degree of freedom) of movement, ie linear motion in the direction or counterclockwise with the X, Y, Z axis and rotational movements towards the X, Y, and Z axis in a clockwise or counterclockwise direction.
ANALISIS JUMLAH SIKLUS LELAH TERHADAP KEKUATAN BUCKLING MATERIAL
Sufiyanto Sufiyanto
TRANSMISI Vol 2, No 1 (2006): Edisi Pebruari 2006
Publisher : University of Merdeka Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (77.813 KB)
|
DOI: 10.26905/jtmt.v2i1.4447
Secara umum komponen yang mendapat beban dinamik akan lebih mudah mengalami kegagalandibandingkan dengan komponen yang mendapat beban statik. Kegagalan akibat beban dinamik dikenaldengan istilah kegagalan lelah (fatigue failures), yang diawali dengan adanya retak lelah yang terusbertambah luas seiring dengan makin bertambahnya lama waktu pembebanan, dengan adanya retak lelahtersebut tentunya sisa luasan penampang yang menahan beban akan semakin berkurang sampai padaakhirnya luasan yang tersisa untuk menahan beban tidak mampu lagi menahan beban sampai akhirnyapatah.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui sejauh mana pengaruh jumlah siklus lelah yang menyebabkanterjadinya retak lelah terhadap kekuatan tekuk suatu bahan. Proses pengujian yang pertama dilakukanadalah uji kekerasan, kemudian uji kelelahan (fatiq), dan yang terakhir adalah uji tekuk. Prosespengambilan data dengan cara mencatat besarnya defleksi dari suatu poros yang terlebih dulu dikenaiperlakuan fatiq yang berbeda, dimana sebagai parameter uji kelelahan adalah perbedaan jumlah sikluskelelahan.Dari penelitian ini dapatlah disimpulkan bahwa dengan semakin bertambahnya lama waktu siklus fatiq,simpangan yang dihasilkan juga semakin besar, hal ini disebabkan karena luasan yang tersisa untukmenahan beban tekuk semakin berkurang karena adanya retak lelah, dengan semakin besarnya simpanganmenunjukkan bahwa logam semakin lemah.
DESAIN MECANUM WHEEL SYSTEM PADA KENDARAAN ROBOT TEMPUR KOTA
Yunus Supriyanto;
Sufiyanto Sufiyanto;
Kusnadi Kusnadi
TRANSMISI Vol 14, No 2 (2018): Edisi September 2018
Publisher : University of Merdeka Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26905/jtmt.v14i2.4673
Mecanum wheel system adalah sistem penggerak roda yang digunakan untuk menggerakkan robot tempur. Desain pada mecanum wheel system ini dilakukan dengan cara membuat modifikasi sistem penggerak roda atau rantai yang semula digunakan pada robot tempur perkotaan. Keterbatasan sistem penggerak roda atau rantai adalah sulitnya melakukan perubahan arah gerakan kendaraan dengan radius tikungan yang sempit. Hal ini sangat membatasi fleksibilitas dari kendaraan robot tempur kota karena rute untuk area perkotaan terutama pemukiman yang padat memiliki kondisi jalan yang sempit dan berbelok-belok. Tujuan aplikasi mecanum wheel system pada desain kendaraan robot tempur kota adalah untuk meningkatkan mobilitas dan fleksibilitas pada saat melintas pada kondisi jalan sempit di area perkotaan. Dalam tulisan ini dilakukan perencanaan komponen utama roda penggerak dari mecanum wheel system yang digunakan. Metode yang dilakukan dengan membuat desain pada komponen-komponen utama roda penggerak mecanum wheel system tersebut. Spesifikasi berat kendaraan 150 kg dan daya motor penggerak pada setiap roda sebesar 350 watt yang digerakkan dengan menggunakan energi baterai. Kecepatan maksimal yang mampu ditempuh adalah 10 km/jam. Pada analisa kekuatan baut pengikat roda diperoleh tegangan geser ijin baut lebih besar daripada tegangan geser yang terjadi (1,17 kg/mm2 2,67 kg/mm2). Sedangkan kekuatan poros roller roda menghasilkan tegangan lentur 1,27 kg/mm2 yang masih lebih rendah dari tegangan lentur ijin bahan S40C sebesar 4,58 kg/mm2. Kesimpulan yang diperoleh berdasarkan hasil analisa kekuatan pada beberapa komponen utama dari mecanum wheel system masih memenuhi syarat desain yang aman karena batas tegangan kerja yang diterima oleh komponen-komponen tersebut masih lebih kecil dari nilai tegangan ijin bahan.
VARIASI KONSTANTA ELASTIS PIPA FLEKSIBEL PADA GETARAN YANG DIBANGKITKAN SENDIRI DALAM ALIRAN FLUIDA
Sufiyanto Sufiyanto
TRANSMISI Vol 5, No 1 (2009): Edisi Pebruari 2009
Publisher : University of Merdeka Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26905/jtmt.v5i1.4505
Fenomena getaran yang dibangkitkan sendiri (self excited vibration) ditimbulkan oleh adanya perubahanluasan penampang aliran akibat adanya jepitan (pinch). Pada suatu nilai tertentu, akan timbul osilasi yangkemudian berkembang menjadi amplitudo yang lebih besar akibat kondisi yang tak stabil dalam aliran saatmelewati daerah jepitan. Metode yang digunakan untuk memunculkan getaran ini adalah metode fixed flowrate yaitu besarnya jepitan diatur sampai terjadi getaran dengan kecepatan aliran tetap. Tujuan penelitianuntuk mengetahui aspek-aspek dan karakteristik dalam aliran fluida yang dapat mengakibatkan terjadinyagetaran yang dibangkitkan sendiri oleh sistem (self-excited vibrations), dengan variasi konstanta elastis pegas(K) dari selang (tube) pada aliran fluida yang mengalami getaran yang dibangkitkan sendiri (self-excitedvibrations). Hasil penelitian menunjukkan bahwa getaran yang dibangkitkan sendiri muncul pada kondisialiran kritis yang ditentukan dengan pinch ratio antara 63% s/d 68% pada kapasitas aliran antara15 liter/menit s/d 20 liter/menit. Karakteristik getaran yang muncul menunjukkan peningkatan frekwensitetapi amplitudo getaran berkurang dengan bertambahnya pinch ratio. Rentang frekwensi getaran antaraantara 2 s/d 14 Hz dengan amplitudo ± 0.25 s/d 2.25 mm. Perubahan konstanta pegas dari selangmenunjukkan perubahan yang kurang signifikan terhadap frekwensi getaran yang dihasilkan, tetapimempersempit rentang pinch ratio dimana getaran tersebut muncul.
PENGARUH PICH RATIO TERHADAP KARAKTERISTIK GETARAN PADA ALIRAN FLUIDA YANG MENGALAMI SELF EXCITED VIBRATIONS
Sufiyanto Sufiyanto
TRANSMISI Vol 6, No 2 (2010): Edisi September 2010
Publisher : University of Merdeka Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26905/jtmt.v6i2.4541
Mekanisme terjadinya self excited vibrations diawali dengan adanya perubahan arah aliran fluida didalamselang (flexible pipe) saat melewati daerah jepitan (pinch area). Perubahan penampang selang akanmempengaruhi arah vektor aliran yang menyebabkan aliran fluida tidak stabil (unstable). Selain itu fluidamempunyai energi yang diperoleh dari pompa terdiri dari energi tekanan dan kecepatan sesuai dengan hukumBernoulli. Pada saat melewati daerah jepitan, terjadi pertukaran energi antara energi tekanan dan energikecepatan secara bergantian menyebabkan terjadinya fluktuasi aliran yang berdampak pada munculnyagetaran pada selang yang dicirikan dengan frekwensi getarannya. Berdasarkan persamaan model matematismenunjukkan bahwa perubahan rasio jepitan antara 0,66 s/d 0,68 menghasilkan frekwensi model antara9,75 hz s/d 7,12 hz. Hal ini menunjukkan perbedaan dengan hasil pengujian dimana semakin besar rasiojepitan terjadi penurunan amplitudo yang diikuti dengan peningkatan frekwensi sebagai akibat pertukaranenergi tekanan menjadi energi kecepatan.