Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Facilitation Of Distribution Permits, Packaging And Fresh Food Sensors Towards Improving Product Safety In Lahat Regency Lucyana, Lucyana; Muchsiri, Mukhtarudin; Alhanannasir, Alhanannasir; Syah Putra, Nico
Biotik Vol 13 No 2 (2025): JURNAL BIOTIK
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/biotik.v13i2.29117

Abstract

This study examines the impact of facilitation of fresh food distribution permit management including facilitation of distribution permit management procedures and packaging facilitation (type of packaging and packaging label) on improving product safety in Lahat Regency. This research method uses surveys and data analysis from fresh food producers, regulators, and consumers in Lahat Regency. Data were collected through questionnaires to understand the distribution permit process, perceptions of product safety, and the impact of the facilitation carried out. This study also uses a hedonic test to determine the quality of fresh plant-based food including assessments of color, texture, aroma and a Likert test including assessments of uniformity of size, packaging and overall appearance as well as conducting chemical contamination tests in the form of pesticide residue tests and physical contamination tests on PSAT PDUK UMKM samples for rice, coffee beans and pepper spices to determine the safety of fresh plant-based food. The results of facilitating distribution permits, packaging and fresh food sensory towards improving product safety in Lahat Regency for fresh food MSMEs have been running better than in previous years. This can be seen from the increase in the processing of PSAT-PDUK distribution permits in the period from March to July 2024 as many as 15 (fifteen) PSAT-PDUK distribution permit numbers that have been issued from 2 (two) PSAT PDUK distribution permit numbers issued by the Lahat Regency Food Security Service from 2022 to 2023, so that it can be interpreted that business actors really need special assistance from officers who understand the distribution permit processing process and an effective and efficient assistance approach model.
KARAKTERISTIK FISIK, AROMA DAN PROTEIN PEMPEK LENJER DENGAN METODE FREKUENSI PENCUCIAN AIR ES Alhanannasir, Alhanannasir; Dasir, Dasir; Belasanjaya, Derta
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 8th University Research Colloquium 2018: Bidang Teknik dan Rekayasa & Bidang Tekni
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menentukan frekuensi pencucian ikan dengan air es terhadap kekenyalan, aroma dan protein pempek lenjer. Pempek merupakan salah satu makanan khas di Kota Palembang Sumatera Selatan. Ikan sebagai bahan utama pempek dilakukan pencucian (leaching) setelah dilakukan penggilingan. Pencucian daging ikan dengan air es dengan frekuensi tertentu dapat dilakukan untuk meningkatkan kekuatan gel, menghilangkan sebagian besar komponen yang larut dalam air, darah (pigmen), penyebab bau, dan dapat meningkatkan kualitas aroma. Daging lumat ikan tenggiri pasir (filet/surimi) dicuci/leaching dengan air es perbandingan 1 : 3 (bahan : air) sesuai perlakuan (tanpa pencucian, satu kali, dua kali, tiga kali dan empat kali) selama 10 menit untuk masing-masing proses pencucian dengan metodologi Rancangan Acak Kelompok Non Faktorial uji Beda Nyata Jujur, uji Freidman, dan uji Tukey. Secara statistik diperoleh bahwa frekuensi pencucian berpengaruh sangat nyata terhadap protein, dan berpengaruh nyata terhadap kekenyalan dan aroma. Dari hasil penelitian menunjukkan pada perlakuan frekuensi F4 (pencucian 4 kali) bahwa tingkat kesukaan aroma (4,60) sangat suka, dan tingkat kekenyalan (9) lebih tinggi dari perlakuan lainnya, dan kadar protein lebih rendah dari perlakuan lainnya dan terjadi penurunan rata-rata 3,98%. Pembuatan pempek lenjer dengan frekuensi pencucian filet dengan air es dihasilkan pempek yang beraroma tidak amis dan lebih kenyal.
PENGOLAHAN PANGAN DENGAN CARA FERMENTASI Alhanannasir, Alhanannasir; Sebayang, Nico Syahputra; Parameswara, Prasetyo; Berlian, Alviona; Prisiantika, Intan; Saputra, Ilham; Ayu, Fidia; Idealistuti, Idealistuti; Murtado, Asep Dodo
Prosiding Seminar Nasional Biologi, Teknologi dan Kependidikan Vol. 12 No. 1 (2024): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOTIK XII 2024
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Aceh, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/pbio.v12i1.27970

Abstract

Fermentation is a food processing technique that utilizes microorganisms to extend shelf life, enhance nutritional value, and produce safer products with unique flavor characteristics. The fermentation process can occur naturally or with the addition of a starter, depending on the type of product being produced. This technique has been widely applied in traditional food processing across various regions, using raw materials such as soybeans, vegetables, tubers, milk, and meat. Fermented products serve not only as food sources but also as functional foods that benefit health, including as sources of antioxidants and probiotics. This study examines the advantages of fermentation as a preservation method and explains the biochemical processes that occur during fermentation, including the role of lactic acid bacteria (LAB) in improving the quality of the final product.
PENGOLAHAN PANGAN DENGAN PENAMBAHAN BAHAN KIMIA NATRIUM BENZOAT Sebayang, Nico Syahputra; Alhanannasir, Alhanannasir; Murtado, Asep Dodo; Restyaningsih, Mega Bella; Yuliana, Intan; Dini, Chantika; Adriansyah, Reza; Madinah, Birral Mahdiyal; Silvyana, Silvyana
Prosiding Seminar Nasional Biologi, Teknologi dan Kependidikan Vol. 12 No. 1 (2024): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOTIK XII 2024
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Aceh, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/pbio.v12i1.28005

Abstract

The addition of food chemicals is an activity in food processing. The addition of food chemicals in the food industry aims to improve quality, extend shelf life, and maintain product safety and taste. One of the additives that is often used is sodium benzoate. sodium salts from benzoic acid. Sodium benzoate serves as a preservative that prevents the growth of microorganisms, especially fungi and some types of bacteria, which can cause damage to food products. The use of sodium benzoate as a preservative has been widely recognized, especially in products with high water content and susceptible to microbial contamination, such as soft drinks, sauces, jams, and other processed foods. The method used for the creation of this review article is a literature study 
PENGOLAHAN PANGAN PASCA IRRADIASI Alhanannasir, Alhanannasir; Sebayang, Nico Syahputra; Wibowojo, Ari; Nurayni, Nanda; Lestari, Refin; Malik, Maulana; Junifa, Febyanca; Yani, Ade Vera
Prosiding Seminar Nasional Biologi, Teknologi dan Kependidikan Vol. 12 No. 1 (2024): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOTIK XII 2024
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Aceh, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/pbio.v12i1.28108

Abstract

Usaha untuk meningkatkan kualitas dan keamanan pangan telah diperkaya dengan beragam teknologi. Salah satu cara teknologi yang dapat digunakan adalah metode iradiasi pangan. Teknologi iradiasi melibatkan penggunaan sinar ionisasi untuk mengurangi jumlah mikroorganisme patogen dan menghambat pertumbuhan mikroba spoilage serta dapat memperpanjang umur simpan produk pangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendukung peningkatan mutu dan keamanan pangan secara umum Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah tinjauan pustaka.hasil dari penelitian ini adalah Selama proses pengolahan, teknologi pangan memungkinkan penggunaan bahan yang aman dan bergizi untuk meningkatkan mutu pangan. Melalui pengembangan teknologi pangan yang efisien, mutu pangan dapat ditingkatkan dengan mengurangi atau menghilangkan mikroorganisme patogen, mengoptimalkan kandungan nutrisi, dan meningkatkan karakteristik sensorik pangan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa Beberapa penelitian menunjukkan bahwa radiasi dapat mengurangi tingkat bakteri seperti Salmonella, Listeria monocytogenes, dan Escherichia coli pada berbagai produk pangan, termasuk ayam, sapi, makanan laut, buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian. Penerapan iradiasi pangan dianggap sebagai metode yang lebih efektif daripada metode lainnya.Katakunci: : Pengolahan pangan secara irradiasi, dan keamanan pangan
PENGOLAHAN PANGAN DENGAN CARA PENGERINGAN Alhanannasir, Alhanannasir; Sebayang, Nico Syahputra; Yani, Ade Vera; Yunita, Fera; Minarni, Rosalia; Amelia, Prisilla; Saputra, Dio; Tino, Tino
Prosiding Seminar Nasional Biologi, Teknologi dan Kependidikan Vol. 12 No. 1 (2024): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOTIK XII 2024
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Aceh, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/pbio.v12i1.28847

Abstract

Pengeringan merupakan suatu proses penguapan bahan pangan untuk menghilangkan jumlah kadar air yang ingin dicapai untuk memperpanjang daya simpan bahan pangan. Ada dua metode cara yang umum dilakukan untuk mengeringkan bahan pangan, yaitu pengeringan alami dan buatan. Cabai merah merupakan salah satu bahan pangan yang memiliki kandungan air yang tinggi sekitar 60-85% setelah pasca panen, oleh karena itu perlu dilakukannya teknologi pengolahan untuk memperpanjang daya simpan cabai merah. Teknologi pengolahan pada cabai merah ini dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu alami dan buatan. Pada pengeringan alami, cabai merah dijemur dibawah panas matahari selama 8 hingga 10 hari tergantung dengan cuaca sedangkan pengeringan dengan cara buatan dilakukan dengan mengalirkan udara panas atau panas buatan ke bahan dengan menggunakan alat cabinet dryer dan oven.Katakunci: Pengeringan, pengolahan pangan, cabai merah, sinar matahari, daya simpan, kadar air, cabinet dryer, oven
Eggs as a Local Food Innovation and an Integrated Strategy for Stunting Prevention in Indonesia Syahputra, Nico; Oktarina, Oktarina; Indriani, Anggi Dwi; Alhanannasir, Alhanannasir; Pramona, Leksa Sahara; Margareta, Siska; Chumaidi, Muhammad
JURNAL ILMIAH MAHASISWA Vol. 3 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/rkd8sr35

Abstract

Stunting remains a challenging chronic nutritional issue in Indonesia due to its significant impact on physical growth, cognitive ability, and the overall quality of human resources. Preventing this condition requires cross-sectoral interventions through innovative, nutrient-dense foods that are accessible to the community. Eggs, as a local source of high-quality animal protein with excellent biological value, hold great potential as a primary ingredient in supplementary foods for children. This study aims to integrate scientific research findings and national policies regarding the contribution of eggs in reducing stunting rates, as well as to assess the effectiveness of egg-based food innovations in child nutrition programs in Indonesia. The study employed a literature review method involving ten national and international articles published between 2018 and 2025. The results showed that consuming one egg per day for six months could increase children’s length-for-age z-score (LAZ) by 0.63 SD and reduce stunting prevalence by up to 47%. Local programs such as SETEL (Sehat dengan Telor) and combinations of mung bean juice with boiled eggs have been proven to improve children’s nutritional status in various regions. The synergy between local food innovations, nutrition education, and cross-sectoral policies serves as an effective strategy to accelerate sustainable stunting reduction.