Djayanti Sari
Department Of Anesthesiology And Intensive Care, Faculty Of Medicine, Public Health And Nursing, Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta, Indonesia

Published : 55 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Penatalaksanaan Anestesi pada Pasien Hidrosefalus Obstruktif dengan Crouzon Syndrome Widyastuti, Yunita; Sari, Djayanti; Nugraha, Achmad Fauzani
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 3 No 2 (2016): Volume 3 Number 2 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v3i2.7241

Abstract

Crouzon syndrome merupakan salah satu tipe Cloverleaf skull syndrome yang terjadi karena penutupan beberapa sutura secara premature (craniosynostosis) sehingga terjadi gangguan pertumbuhan calvaria, basis cranii dan wajah yang bisa menyebabkan gangguan perkembangan otak, hidrosefalus obstruktifdengan peningkatan tekanan intrakranial dan obstruksi jalan nafas serta penyulit dalam manajemen jalan nafas.Pada kasus ini berpotensi terjadi kesulitan menguasi jalan nafas dan peningkatan tekanan intrakranial karena hidrosefalus obstruktif sehingga diperlukan persiapan yang cukup untuk manajemanjalan nafas sulit dan kedalaman anestesi serta relaksasi yang cukup untuk mencegah gejolak peningkatan tekanan intrakranial. Dilaporkan penatalaksanaan pasien bayi perempuan usia 6 bulan dengan hidrosefalus obstruktif ec.cloverleaf skull syndrom (Crouzon syndrome) yang dilakukan vp shunt.
Duchenne Musculer Dystrophy Jufan, Akhmad Yun; Sari, Djayanti; Mahardieni, Karlina
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 3 No 2 (2016): Volume 3 Number 2 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v3i2.7242

Abstract

Duchenne muscular dystrophy merupakan suatu kelainan otot yang sering ditemui. Penyakit ini terpaut pada kromosom X yang disebabkan oleh mutasi gen dystrophin. Gejalanya berupa kelemahan otot proksimal yang berat, bersifat degenerasi progresif dan infi ltrasi lemak ke otot. Efek duchenne muscular dystrophy terhadap otot respirasi dan berhubungan dengan kardio-miopati yang dapat mengarah ke kematian.Dilaporkan anak laki-laki usia 12 tahun dengan diagnosa duchenne muscular dystrophy dd/ Baker’s muscular dystrophy dilakukan prosedur biopsi. Pasien dinilai sebagai status fi sik ASA 2 yang dilakukan general anesthesia dengan teknik TIVA. Setelah persiapan preoperasi, pasien diberikan ko induksi dengan midazolam 1,5mg, induksi dengan ketamine 20mg. Pemeliharaan anestesi dengan O2 melalui nasal kanul. Hemodinamik durante operasi stabil dengan jalan nafas terjaga dengan kepala ekstensi. Operasiberlangsung selama 20menit. Perdarahan minimal dan urine output 25cc. Kondisi pasien setelah operasi stabil dan kembali ke bangsal.
Agitasi Pasca Anestesi dengan Agen Sevoflurane Widyastuti, Yunita; Sari, Djayanti; Atmojo, Danang Dwi
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 3 No 2 (2016): Volume 3 Number 2 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v3i2.7244

Abstract

Sevofl urane merupakan agen inhalasi yang sangat popular digunakan. Agitasi pasca penggunaan sevofl urane bukan merupakan hal baru. Pertama kali dilaporkan pada tahun 1961. Mulai menjadi perhatian setelah kejadian agitasi post operasi meningkat pada penggunaan Sevofl urane menggantikan halotan. Agitasi pasca penggunaan sevofl urane tidak hanya terjadi pada pasien pediatri, namun juga dapat terjadi pada pasien dewasa.
Perbandingan Onset dan Kejadian Hipotensi antara Propofol LCT dengan Propofol MCT/LCT Ramayani, Julita; Suryono, Bambang; Sari, Djayanti
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 3 No 3 (2016): Volume 3 Number 3 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v3i3.7257

Abstract

Latar belakang: Propofol adalah obat anestesi intravena yang paling sering digunakan saat ini. Propofol digunakan untuk induksi, rumatan anestesi dan sedasi baik di dalam maupun di luar kamar operasi. Induksi anestesi dengan propofol dikaitkan dengan beberapa efek samping yaitu hipotensi dan nyeri injeksi. Formula propofol awalnya digunakan dengan konsentrasi 10 mg/ml dalam emulsi lemak long-chain triglyceride (LCT). Sejak tahun 1995 telah muncul propofol dalam emulsi 50% MCT dan 50% LCT (propofol MCT/LCT) yang telah digunakan secara klinis dapat diterima dengan baik oleh pasien karena mengurangi nyeri injeksi sedang sampai berat akibat propofol. Hal ini disebabkan karena konsentrasi free propofol dalam propofol MCT/LCTlebih rendah dibandingkan propofol LCT. Jumlah fraksi obat bebas dalam plasma dapat menentukan potensi serta onset obat, semakin banyak fraksi obat bebas dalam plasma maka potensi suatu obat akan lebih besar dan onsetnya akan lebih cepat.Tujuan penelitian: Untuk mengetahui onset dan kejadian hipotensi antara propofol LCT dengan propofol MCT/LCT.Metode penelitian: Rancangan penelitian yang digunakan adalah acak buta berganda (double blind randomized controlled trial/RCT). Subyek penelitian berjumlah 66 orang yang terbagi menjadi dua kelompokyaitu kelompok A (kelompok yang mendapatkan propofol LCT 2 mg/kgbb) dan kelompok B (kelompok yang mendapatkan Propofol MCT/LCT 2 mg/kgbb) dengan masing-masing subyek sebanyak 33 orang. Kriteria inklusi antara lain pria dan wanita usia 18-60 tahun, ASA I dan II, prosedur operasi elektif selain bedah saraf, bedah jantung dan seksio sesaria, dan BMI >20 dan < 30 kg/m2, sedangkan kriteria eksklusi yaitu pasien dengan gangguan kardiovaskuler seperti penyakit jantung, hipertensi, pasien dengan gangguan endokrin seperti DM, hipertiroid, hipotiroid, gangguan fungsi ginjal, pasien yang menggunakan obat-obatan antiaritmia, vasopresor atau vasodilator dan riwayat alergi propofol. Onset dicatat sejak mulai propofol diinjeksikan sampai refleks bulu mata hilang dan genggaman tangan terbuka. Tekanan darah diukur pada saat pasien masuk kamar operasi dan 1 menit setelah induksi.Hasil penelitian: Tidak didapatkan perbedaan yang bermakna pada onset propofol antara kelompok A dan kelompok B dengan penilaian refleks bulu mata hilang (p = 0,339) maupun genggaman tangan terbuka (p = 0,783). Hasil pemeriksaan tekanan darah sistolik dan diastolik pada saat pasien masuk ke kamar operasi dan 1 menit setelah induksi pada kedua kelompok penelitian tidak didapatkan perbedaan yang signifikan (p > 0,05).Simpulan: Propofol LCT dengan jumlah free drug yang lebih banyak, tidak mempunyai onset yang lebih cepat dan tidak mempunyai efek hipotensi lebih besar dibandingkan dengan propofol MCT/LCT.
Penatalaksanaan Cairan Perioperatif pada Gastroschisis Handayani, Susi; Sari, Djayanti; Widyastuti, Yunita
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 3 No 3 (2016): Volume 3 Number 3 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v3i3.7265

Abstract

Gastroschisis merupakan sebuah kelainan kongenital yang menyebabkan neonatus harus menjalani operasi pada awal kehidupannya. adanya segmen usus ataupun gastrointestinal yang terpapar udara luar mengakibatkan pasien lebih berisiko jatuh ke dalam kondisi hipovolumia. Perhitungan kebutuhan cairan baik sebelum, selama ataupun sesudah operasi harus diperkirakan dengan tepat.
Sedasi Sedang pada Pasien Akut Leukemia Limfoblastik yang Mendapatkan Injeksi Methotrexat Intrathekal Anggraini, Diana; Sari, Djayanti; Widyastuti, Yunita
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 1 (2016): Volume 4 Number 1 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i1.7272

Abstract

Dilaporkan pasien An.J umur 3 tahun dengan diagnosis Akut Leukimia Limfoblastik standard risk minggu ke 12 (masa konsolidasi), dilakukan methotrexat intrathekal. Status fisik ASA II karena anemia. Dilakukan sedasi sedang dengan tekhnik TIVA (Total Intravena Anestesi). Lama tindakansepuluh menit, hemodinamik denyut nadi 90-110 x/mnt, saturasi oksigen 94-99%. Desaturasi terjadi setelah sedasi dengan propofol dan posisi fleksi leher saat prosedur dilakukan. Pasien kembali ke ruangan setelah skor Aldrette >9.
Resusitasi Neonatus dan Pediatrik Givano, Muhamad Randy; Widyastuti, Yunita; Sari, Djayanti
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 9 No 1 (2021)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v9i1.7279

Abstract

Diperkirakan 10% bayi baru lahir membutuhkan bantuan untuk bernafas pada saat lahir dan 1 % saja yang membutuhkan resusitasi yang ekstensif. Penilaian awal saat lahir harus dilakukan pada semua bayi baru lahir. Dengan adanya faktor resiko yang dikenali sejak awal dapat membantu melakukan idenifikasi bayi baru lahir yang membutuhkan resusitasi, walaupun harus selalu dipersiapkan untuk resusitasi pada bayi tanpa faktor resiko. Depresi neonatus paling sering disebabkan oleh asfiksia intrauterin selama proses persalinan, yang dapat disebabkan hipotensi maupun hipoksia maternal, kompresi plasenta, insufisiensi uteroplasenta yang berujung pada hipoksia janin yang progresif dan asidosis laktat. Kebutuhan akan resusitasi jantung paru pada kelompok umur pediatrik dikatakan jarang setelah periode neonates. Kejadian henti jantung pada pediatrik biasanya dikarenakan oleh kondisi hipoksemia yangberhubungan dengan gagal nafas atau obstruksi jalan nafas. Tidak seperti Dewasa, penyebab henti jantungpada infan dan anak biasanya bukan dari hasil suatu penyakit jantung primer. Penilaian jalan nafas, pernafasan dan sirkulasi pada resusitasi merupakan hal yang sederhana. Pastikan jalan nafas terbuka dan bersih. Pastikan pernafasan, dalam keadaan spontan atau dibantu dan sirkulasi darah yang teroksigenasi adekuat.
Perbandingan Skor Apfel dan Skor Sinclair sebagai Prediktor PONV (Post Operative Nausea and Vomiting) pada Pasien Dewasa dengan Anestesi Umum di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Bagir, Muhamad; Sari, Djayanti; Suryono, Bambang
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 2 (2017): Volume 4 Number 2 (2017)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i2.7280

Abstract

Latar belakang : Mual dan muntah pascaoperatif (Post Operative Nausea and Vomiting/ PONV) adalah salah satu efek samping yang sering terjadi setelah tindakan anestesi umum, terjadi pada 24 jam pertama pascaoperatif dan terjadi sebanyak 30-70% pada pasien rawat inap. PONV sangat dihindari oleh sebagian besar pasien dan anestesiologis. Belakangan ini skor risiko untuk prediksi PONV telah digunakan sebagai cara mengklasifikasi pasien sesuai dengan prediksi risiko dan memberikan profilaksis sesuai dengan klasifikasi ini. Untuk tujuan klinis sehari-hari diperlukan skor risiko sederhana, mudah dilakukan dan menunjukkan korelasi antara prediksi dengan kejadian PONV. Dalam praktek klinik dikenal berbagai skor risiko untuk prediksi PONV seperti : skor Apfel, skor Koivuranta, skor Sinclair, skor Palazzo, skor Gan, dan skor Scholzyang bervariasi akurasinya.Tujuan penelitian : Untuk melakukan perbandingan antara skor Apfel dan skor Sinclair dalam memprediksi kejadian PONV pada pasien dewasa dengan anestesi umum di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta sehingga didapatkan skoring yang lebih akurat dan dapat diaplikasikan sebagai prediktor PONV.Metode penelitian : Rancangan penelitian yang digunakan adalah studi kohort dengan fokus padakemampuan diskriminasi dan kalibrasi terhadap 93 pasien yang akan menjalani operasi elektif dengan anestesi umum di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Pasien terdiri dari laki-laki atau perempuan, usia 18-60 tahun, status fisik ASA I dan II, prosedur operasi : THT, mata, laparoskopi ,abdomen, ginekologi, mastektomi dan urologi.Hasil penelitian : Skor Apfel mempunyai sensitifitas 67,9%, spesifisitas 53,3% serta memiliki kualitasmdiskriminasi yang lemah dengan nilai AUC 0,636 (IK 95%: 0,488-0,784). Skor Sinclair mempunyai sensitifitas 96,1%, spesifisitas 46,6% serta memiliki kualitas diskriminasi yang sedang dengan nilai AUC 0,726 (IK 95%: 0,562-0,890). Kaliberasi dengan uji Hosmer and Lemeshow test pada skor Apfel dan skor Sinclair didapatkan nilai P<0,05.Kesimpulan : Skor Sinclair lebih akurat dibandingkan skor Apfel dalam memprediksi terjadinya PONV pada pasien dewasa dengan anestesi umum di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.
Manajemen Anestesi pada Neonatus Umur 3 Hari dengan Atresia Ani Tanpa Fistel dan Atresia Esofagus Tipe C Pro Gastrotomi Dekompresi, Jejunostomi Feeding dan Stoma Harianto, Widi Yuli; Sari, Djayanti; Adiyanto, Bowo
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 2 (2017): Volume 4 Number 2 (2017)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i2.7287

Abstract

Latar belakang : Tracheoesophageal fistula (TEF) dan esophageal atresia (EA) merupakan penyakit malformasi kongenital yang sering terjadi dengan rasio 1: 3000 – 4500 kelahiran hidup.Obyektif : Dapat melakukan intubasi dan penempatan ETT yang aman pada neonatus dengan TEF dan EA.Kasus : Dilaporkan kasus neonates usia 3 hari, dengan EA tipe C dan atresia anitanpafistel dilakukan gastrotomide kompresi, Jejunostomi dan stoma. Ibu berusia 30 tahun, P2A0, persalinan spontan pada usiakehamilan 38 minggu, dengan berat badan lahir bayi 2400 gram. Babygram menunjukkan udara gaster prominen dan pipa gastrik pada proyeksi midvertebra dengan ujung pipa setinggi korpus Vth 2. Intubasi dan penempatan ETT dilakukan dengan teknik tradisional yaitu ETT dimasukkan hingga endobronkhial kemudian ditarik perlahan sampai ETT berada di atas karina dan suara auskultasi kedua paru sama. Intubasi dilakukan tanpa pelumpuh otot Dan ventilasi tekanan positif. Diantara beberapa teknik intubasi pada padaTracheoOesophageal Fistula, pada pasien ini dilakukan teknik intubasi tradisional dengan minimal insuflasi dan menghindari ventilasi tekanan positif.Diskusi : Terdapat beberapa teknik untuk melakukan intubasi dan penempatan ETT pada pasien dengan TEF dan EA: teknik tradisional, dengan Fogarty Ballon Catheter, Double Fogarty Catheters, Cuffed ETT, dan ventilasi satu paru. Preoperatif dan intra-operatif bronkhoskopi dilakukan untuk menentukan tempat dan anatomi fistula dan sebagai petunjuk penempatan ETT. Oleh karena tidak ada bronkoskopi fleksibel ukuran neonatus di rumah sakit kami, kami menggunakan teknik intubasi tradisional, menjaga napas tetap spontan, dan hindari ventilasi tekanan postif.Kesimpulan : Manajemen jalan napas pasien EA dan TEF dapat dilakukan dengan teknik tradisional dengan minimal insuflasi ke lambung dan tanpa ventilasi tekanan positif.
Resusitasi Neonatus dan Pediatrik Givano, Muhamad Randy; Sari, Djayanti; Widyastuti, Yunita
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 2 (2017): Volume 4 Number 2 (2017)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i2.7298

Abstract

Diperkirakan 10% bayi baru lahir membutuhkan bantuan untuk bernafas pada saat lahir dan 1 % saja yang membutuhkan resusitasi yang ekstensif. Penilaian awal saat lahir harus dilakukan pada semua bayi baru lahir. Dengan adanya faktor resiko yang dikenali sejak awal dapat membantu melakukan idenifikasi bayi baru lahir yang membutuhkan resusitasi, walaupun harus selalu dipersiapkan untuk resusitasi pada bayi tanpa faktor resiko. Depresi neonatus paling sering disebabkan oleh asfiksia intrauterin selama proses persalinan,yang dapat disebabkan hipotensi maupun hipoksia maternal, kompresi plasenta, insufisiensi uteroplasenta yang berujung pada hipoksia janin yang progresif dan asidosis laktat. Kebutuhan akan resusitasi jantung paru pada kelompok umur pediatrik dikatakan jarang setelah periodeneonates. Kejadian henti jantung pada pediatrik biasanya dikarenakan oleh kondisi hipoksemia yang berhubungan dengan gagal nafas atau obstruksi jalan nafas. Tidak seperti Dewasa, penyebab henti jantungpada infan dan anak biasanya bukan dari hasil suatu penyakit jantung primer. Penilaian jalan nafas, pernafasan dan sirkulasi pada resusitasi merupakan hal yang sederhana. Pastikan jalan nafas terbuka dan bersih. Pastikan pernafasan, dalam keadaan spontan atau dibantu dan sirkulasi darah yang teroksigenasi adekuat.