Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

MEMBANGUN GENERASI TANGGUH : IMPLEMENTASI PSIKOEDUKASI RESILIENSI BAGI GURU DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA Halida, Arfin Nurma; Jannah, Miftakhul; Nurwidawati, Desi; Santosa, Rizky Putra; Nuryananda, Tirta Firdaus
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v5i2.7837

Abstract

Child development between the ages of 7 and 12 is a crucial phase, vulnerable to academic and social pressures, requiring appropriate intervention to maintain emotional stability. This study focuses on the urgency of strengthening the role of teachers as psychological facilitators through the implementation of a resilience psychoeducation program. Implemented at Warraphat School, Thailand, this community service program aims to equip educators with the competencies to develop resilient character in students. The implementation method employed a systematic, hybrid approach, encompassing initiation, material delivery, practical simulations, and measurable evaluation through pretests and posttests. The intervention results demonstrated significant program effectiveness, evidenced by an 18.9 percent increase in teacher understanding, with the average participant score increasing from 45.6 to 64.5. This improvement indicates that educators have successfully internalized the concept of resilience and mastered practical strategies for applying it in their learning. The main conclusion confirms that resilience psychoeducation effectively transforms the role of teachers from mere instructors to character-building agents capable of creating a supportive educational ecosystem. This is crucial for developing a generation of students who are adaptive, possess good emotional regulation, and are resilient in facing the dynamic challenges of future life. ABSTRAKPeriode perkembangan anak usia 7-12 tahun merupakan fase krusial yang rentan terhadap tekanan akademik dan sosial, sehingga memerlukan intervensi tepat untuk menjaga stabilitas emosi. Penelitian ini berfokus pada urgensi penguatan peran guru sebagai fasilitator psikologis melalui implementasi program psikoedukasi resiliensi. Dilaksanakan di Warraphat School, Thailand, program pengabdian ini bertujuan membekali pendidik dengan kompetensi dalam membentuk karakter tangguh siswa. Metode pelaksanaan menerapkan pendekatan hibrida yang sistematis, mencakup tahap inisiasi, penyampaian materi, simulasi praktik, serta evaluasi terukur melalui pretest dan posttest. Hasil intervensi menunjukkan efektivitas program yang signifikan, dibuktikan dengan peningkatan pemahaman guru sebesar 18,9 persen, di mana nilai rata-rata peserta meningkat dari 45,6 menjadi 64,5. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa para pendidik berhasil menginternalisasi konsep resiliensi serta menguasai strategi praktis untuk diterapkan dalam pembelajaran. Simpulan utama menegaskan bahwa psikoedukasi resiliensi efektif mentransformasi peran guru dari sekadar pengajar menjadi agen penguat karakter yang mampu menciptakan ekosistem pendidikan suportif. Hal ini krusial untuk mencetak generasi siswa yang adaptif, memiliki regulasi emosi yang baik, dan tangguh dalam menghadapi dinamika tantangan kehidupan masa depan.
Peran Regulasi Diri terhadap Prokrastinasi pada Siswa SMP Negeri 48 Surabaya Dewantara, David; Halida, Arfin Nurma
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 03 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n03.p1126-1133

Abstract

Prokrastinasi akademik merupakan perilaku yang cukup sering ditemukan pada siswa SMP, ditandai dengan kecenderungan menunda pengerjaan tugas meskipun memiliki waktu dan kemampuan yang memadai. Perilaku ini dapat menghambat proses belajar dan berkaitan erat dengan kemampuan regulasi diri siswa dalam mengelola waktu, emosi, serta dorongan internal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku prokrastinasi akademik pada siswa SMP serta melihat peran regulasi diri dalam memengaruhi kecenderungan penundaan tugas akademik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Subjek penelitian adalah seorang siswa kelas VIII di SMP Negeri 48 Surabaya. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara (autoanamnesis dan alloanamnesis), serta dokumentasi selama pelaksanaan magang. Data dianalisis secara deskriptif dengan mengaitkan temuan lapangan dan konsep teoritis yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prokrastinasi akademik muncul secara situasional, terutama pada mata pelajaran yang dianggap sulit. Regulasi diri yang belum optimal, seperti kesulitan mengelola waktu, menunda tindakan, dan ketergantungan pada suasana hati, berperan dalam munculnya perilaku tersebut. Regulasi diri memiliki peran penting dalam perilaku prokrastinasi akademik siswa. Peningkatan kemampuan regulasi diri dapat membantu siswa mengurangi kebiasaan menunda tugas dan meningkatkan kualitas belajar. Abstract Academic procrastination is a common behavior among junior high school students, characterized by delaying academic tasks despite having sufficient time and ability. This behavior can hinder the learning process and is closely related to students’ self-regulation skills, including time management, emotional control, and internal motivation. This study aims to describe academic procrastination behavior among junior high school students and to examine the role of self-regulation in influencing task delay tendencies. This study employed a qualitative approach with a case study design. The research subject was an eighth-grade student at SMP Negeri 48 Surabaya. Data were collected through observation, interviews (auto-anamnesis and allo-anamnesis), and documentation during the internship program. Data analysis was conducted descriptively by linking field findings with relevant theoretical concepts. The findings indicate that academic procrastination occurs situationally, particularly in subjects perceived as difficult. Limited self-regulation, such as poor time management, intention–action gaps, and reliance on mood, contributes to procrastination behavior. Self-regulation plays a significant role in academic procrastination. Strengthening students’ self-regulation skills may help reduce procrastination and improve learning outcomes.
Hubungan Konflik Peran Ganda dengan Psychological Well-Being pada Polisi Wanita di Daerah Tulungagung Azzahra, Dentya Valen; Halida, Arfin Nurma
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 13 No. 01 (2026): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v13n01.p189-197

Abstract

Polisi Wanita menghadapi tantangan kompleks dalam menyeimbangkan peran profesional dan domestik yang dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis mereka.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konflik peran ganda dengan psychological well-being pada Polisi Wanita di Daerah Tulungagung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan melibatkan 58 Polisi Wanita yang berstatus menikah dan memiliki anak di Polres Tulungagung. Pengumpulan data menggunakan Skala Konflik Peran Ganda (18 item, α=0,762) dan Skala Psychological Well-Being (17 item, α=0,993). Analisis data menggunakan Pearson Product Moment dengan JASP 18.0. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang sangat tinggi dan signifikan antara konflik peran ganda dengan psychological well-being pada konteks Polisi Wanita di Tulungagung (r=0,973, p<0,001). Terdapat hubungan positif sangat kuat antara konflik peran ganda dengan psychological well-being pada Polisi Wanita di Tulungagung, yang mengindikasikan bahwa dengan dukungan sosial dan resiliensi memadai, konflik peran dapat menjadi stimulus pertumbuhan psikologis. Abstract Female police officers face complex challenges in balancing professional and domestic roles that can affect their psychological well-being.This study aims to determine the relationship between dual role conflict and psychological well-being among female police officers in Tulungagung area.This study used a correlational quantitative approach involving 58 married female police officers with children at Tulungagung Police Resort. Data collection used the Dual Role Conflict Scale (18 items, α=0.762) and the Psychological Well-Being Scale (17 items, α=0.993). Data analysis used Pearson Product Moment with JASP 18.0. The results showed a very strong and significant positive relationship between dual role conflict and psychological well-being (r=0.973, p<0.001). There is a very strong positive relationship between dual role conflict and psychological well-being among female police officers in Tulungagung, indicating that with adequate social support and resilience, role conflict can serve as a stimulus for psychological growth.
Hubungan Dukungan Sosial Dengan Career Decision-Making Self-Efficacy (CDMSE) Pada Mahasiswa Tingkat Akhir di Kota Surabaya Wahyuningsih, Sri; Halida, Arfin Nurma
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 13 No. 01 (2026): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v13n01.p359-370

Abstract

Mahasiswa tingkat akhir berada pada fase kritis pengambilan keputusan karier sehingga membutuhkan keyakinan diri yang cukup serta dukungan sosial yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dengan career decision-making self-efficacy (CDMSE) pada mahasiswa tingkat akhir di Kota Surabaya. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian berjumlah 130 mahasiswa tingkat akhir yang diperoleh melalui teknik accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner daring. Instrumen yang digunakan adalah Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) untuk mengukur dukungan sosial dan Career Decision-Making Self-Efficacy Scale (CDMSE) versi adaptasi Bahasa Indonesia. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman Rho karena data tidak berdistribusi normal berdasarkan uji Shapiro-Wilk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara dukungan sosial dengan CDMSE, dengan nilai ρ = 0,696 dan p < 0,001. Analisis lanjutan menunjukkan bahwa dukungan keluarga memiliki hubungan paling kuat (ρ = 0,667), diikuti figur signifikan (ρ = 0,627), dan teman sebaya (ρ = 0,544), kemudian seluruhnya signifikan (p < 0,001). Dengan demikian, semakintinggi dukungan sosial yang diterima mahasiswa, semakin tinggi pula efikasi diri mereka dalam mengambil keputusan karier. Hasil ini menegaskan pentingnya peran keluarga, teman sebaya, dan figur signifikan dalam mendukung proses kesiapan karier mahasiswa tingkat akhir. Abstract Final-year university students are in a critical phase of career decision-making that requires adequate career decision-making self-efficacy as well as sufficient social support. This study aimed to examine the relationship between social support and CDMSE among final-year students in Surabaya City. This research employed a quantitative approach with a correlational design. The participants consisted of 130 final-year university students, selected using accidental sampling. Data were collected through an online questionnaire. The instruments used were the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) to measure social support and the Career Decision-Making Self-Efficacy Scale (CDMSE) adapted into Indonesian. Data analysis was conducted using the Spearman Rho correlation test because the data were not normally distributed based on the Shapiro–Wilk normality test. The results indicated a positive and significant relationship between social support and CDMSE, with a correlation coefficient of ρ = 0.696 and p < 0.001. Further analysis showed that family support had the strongest correlation with CDMSE (ρ = 0.667), followed by support from significant others (ρ = 0.627), and peer support (ρ = 0.544), all of which were statistically significant (p < 0.001). These findings suggest that higher levels of perceived social support are associated with higher career decision-making self-efficacy among final-year students. Overall, this study highlights the important role of family, peers, and significant others in supporting students’ career readiness and decision-making processes.