Claim Missing Document
Check
Articles

AGNIMAYA JANGGALA: METAFORA WEDANG UWUH DALAM BUSANA CASSUAL ETNIK A.A. Istri, Bintang Anggaraeni; Ida Ayu Wimba, Ruspawati; Diantari, Ni Kadek Yuni
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 1 No. 2 (2021): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.352 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v1i2.725

Abstract

“Agnimaya Janggala” adalah judul koleksi busana Tugas Akhir bertemakan Diversity of Indonesia yang terinspirasi dari minuman tradisional wedang uwuh memadukan look cassual dengan sentuhan etnik. Koleksi ini merupakan jenis busana ready to wear, ready to wear deluxe dan semi couture. Penciptaan koleksi Agnimaya Janggala menggunakan delapan tahapan yang bertajuk “Frangipani”, Tahapan – tahapan rahasia dari Seni FashionArt. Ide pemantik ini diimplementasikan melalui gaya ungkap metafora yang akan diuraikan pada teori semiotika dan keyword berupa kayu secang, rempah-rempah, daun gugur, sederhana, dan sustainable. Keyword tersebut kemudian diolah sedemikian rupa dan diaplikasikan pada koleksi busana dengan teori estetika mencakup prinsip desain dan elemen desain yang tampak dari desain busana, detail dan pemilihan bahan sehingga terbentuk nilai keindahan dalam koleksi busana ini. Adapun warna yang dipilih merupakan warna – warna yang berkaitan dengan konsep wedang uwuh yaitu merah, coklat dan olive. Melalui perpaduan material utama, yaitu Katun, Katun Toyobo, Satin dan Organza. Proses pengerjaan koleksi Tugas Akhir Agnimaya Janggala terdapat kain tenun Lurik sebagai sentuhan etnik dan pengaplikasian teknik rumbai, drapery, serta manipulasi tekstil dibeberapa bagian – bagian pada busana.
Laksmi Labdawara: Analogi Upacara Ngerasakin Dalam Busana Bergaya Etnik Glamour Widia, Made Ayu; Sukmadewi, Ida Ayu Kade Sri; Diantari, Ni Kadek Yuni
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 1 No. 2 (2021): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (587.776 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v1i2.738

Abstract

Upacara Ngerasakin adalah salah satu tradisi yang berada di Desa Kalisada, Kabupaten Buleleng yang dilakukan 1 hingga 2 kali setahun. Upacara Ngerasakin merupakan tradisi secara turun-temurun dari nenek moyang masyarakat setempat dalam rangka mengungkapkan rasa syukur atas hasil panen lahan pertanian mereka. Filosofi upacara Ngerasakin ini menjadi inspirasi penulis untuk menciptakan karya busana. Penciptaan karya busana ini menggunakan gaya ungkap analogi. Ada sepuluh tahapan dalam proses penciptaan yang diadaptasi dari penciptaan frangipani pada “Wacana Fesyen Global dan Pakaian di Kosmopolitan Kuta”, yaitu (1) finding the brief idea based on culture identity of Bali, (2) research and sourching of art fashion, (3) analizing of fashion element taken from the richness of balinese culture, (4) narrating of art fashion idea by 2d or 3d visualitation, (5) giving a soul-taksu to art fashion idea by making sample,dummy and construktion, (6) interpreting of singularity art fashion will be showed in the final collection, (7) promoting and making a unique art fashion, (8) afirmation branding, (9) navigating art fashion producting by humanist capitalism method, dan (10) introducing the art fashion business.Upacara ngerasakin ini divisualisasikan dengan beberapa kata kunci sasih kapat, poleng, sawah, tamas, etnik dan glam. Penerapan kata kunci sasih kapat divisualisasikan dengan daun yang berguguran di musim kering. Warna poleng terinspirasi dari bagian busana sanggah jro gede. Sawah divisualisasikan ke dalam padi. Tamas menginspirasi corak dan warna cokelat. Payet dan make up yang tegas digunakan untuk memberi kesan glamor.
Anggaraksa Sidhi Gama Dhanda : Metafora Selat Bali dalam Busana Casual Feminim Apriliani, Luh Putu Monita; Pebryani, Nyoman Dewi; Diantari, Ni Kadek Yuni
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 2 No. 1 (2022): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.039 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v2i1.1499

Abstract

“Anggaraksa Sidhi Gama Dhanda” adalah judul koleksi busana Tugas Akhir bertemakan Diversity of Indonesia yang terinspirasi dari cerita rakyat Bali yang memadukan look cassual dengan sentuhan feminim. Koleksi ini merupakan jenis busana ready to wear deluxe dan semi couture. Penciptaan koleksi Anggaraksa Sidhi Gama Dhanda menggunakan delapan tahapan yang bertajuk “Frangipani”, Tahapan – tahapan rahasia dari Seni FashionArt. Ide pemantik ini diimplementasikan melalui gaya ungkap metafora yang akan diuraikan pada teori keyword berupa laut, intan, ekor, perjudian, dan tongkat. Keyword tersebut kemudian diolah sedemikian rupa dan diaplikasikan pada koleksi busana dengan teori estetika mencakup prinsip desain dan elemen desain yang tampak dari desain busana, detail dan pemilihan bahan sehingga terbentuk nilai keindahan dalam koleksi busana ini. Adapun warna yang dipilih merupakan warna – warna yang berkaitan dengan konsep selat Bali yaitu transisi warna biru. Melalui perpaduan material utama, yaitu Satin, Toyobo, Tile, dan tile kaku. Proses pengerjaan koleksi Anggaraksa Sidhi Gama Dhanda Tugas Akhir terdapat pada kain – kain yang dibentuk ruffle sehingga menambah nilai estetika busana.
Jiva Kerta Bavana : Studi Kasus Busana Semi Haute Couture dan Semi Deluxe di CV. De Galuh Supariadi, Ni Wayan; Priatmaka, I Gusti Bagus; Diantari, Ni Kadek Yuni
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 2 No. 1 (2022): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (570.427 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v2i1.1502

Abstract

Tulisan ini mendeskripsikan busana bergaya edgy feminim yang terinspirasi dari tradisi Gelagar yang berasal dari banjar margatengah, kecamatan Payangan, kabupaten Gianyar. Gelagar adalah salah satu tradisi yang berasal dari banjar Margatengah, Kerta, Payangan, Gianyar, Bali. tradisi ini mengisahkan tentang Panca Pandawa yang dilaksanakan pada hari raya galungan. Gelagar dipilih sebagai ide pemantik dalam penciptaan karya busana ready to wear dan semi couture yang diimplementasikan dengan gaya ungkap analogi berdasarkan 5 kata kunci terpilih yaitu, beras, prada, tuak, kemarau, dan cakra. Proses pembustan busana ini menggunakan metode dari Dr. Tjok Istri Cora Sudharsana, S.Sn, M.Si yaitu “FRANGIPANI” dengan delapan tahapan penciptaan meliputi Design Brief, Research and Sourcing, Design Development, Sample, Prototype, Dummy, Final Collection Promoting, Branding, Sale, Production Businnes. Ide dari busana ini nantinya diharapkan dapat menambah refrensi kepustakaan mengenai tradisi Gelagar. Serta nantinya busana ini dapat memperkenalkan tradisi Bali kepada masyarakat Indonesia sehingga tradisi Bali tetap lestari.
Samiya Dwi Arcapada : Implementasi Busana Wanita Ready To Wear dan Semi Couture Pada Pertenunan Astiti Setianis, Ni Kadek; Radiawan, I Made; Diantari, Ni Kadek Yuni
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 2 No. 1 (2022): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.495 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v2i1.1504

Abstract

Pertenunan Astiti adalah mitra industri yang bergerak dalam bidang tekstil sebagai tempat melaksanakan praktik kerja lapangan. Pertenunan Astiti dibangun oleh Nyoman Sudira pada tahun 1998 sesuai dengan surat perizinan dari pemerintah. Karna pertenunan astiti belum pernah menggunakan promosi fashion show maka dari itu penulis mengangkat dan membuat pakaian dengan mengkombinasikan bahan dasar Endek untuk diperlihatkan kepada masyarakat luas maka penulis membuat penelitian dengan judul Samiya Dwi Arcapada: Implementasi Busana Wanita Ready To Wear dan Semi Couture Pada Pertenunan Astiti. Tahapan perancangan busana yang penulis terapkan yaitu tahapan proses Design Fashion bertajuk “ FRNGIPANI”, The Secret Steps of Art Fashion ( Frangipani, Tahapan-Tahapan Rahasia dari Seni Fashion) oleh Ratna Cora. Tahapan “FRANGIPANI” memiliki 10 tahapan yang sistemtis dalam mengolah sumber ide menjadi sebuah karya. Proses pembuatan busana menggunakan tenun endek akan dikombinasikan menggunakan kain lainnya sebagai bahan penunjang pada busana, dengan adanya kegiatan ini diharapkan masyarakat lebih sadar akan budaya yang dimiliki dan diharapkan suatu saat nanti agar tenun endek tradisional Bali dapat selalu eksis di tengah era modern.
Nostalgia Rasa : Mengulang Manisnya Kenangan Analogi Kue Putu dalam Busana Feminim Romantic Yunika Dewi, Desak Nyoman; Radiawan, I Made; Diantari, Ni Kadek Yuni
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 2 No. 1 (2022): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.98 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v2i1.1507

Abstract

Kue putu merupakan salah satu jajanan tradisinal indonesia yang memiliki cita rasa lembut, manis dan harum. Kue putu menyimpan banyak kenangan pada masa kecil anak-anak di jaman dahulu sehingga membuat penulis memilih kue putu sebagai ide pemantik yang bertujuan untuk mengingatkan akan kenangan manis yang ditinggalkan kue tradisional di jaman dahulu agar tetap lestari. Tahapan perancangan busana sangat penting dilakukan agar busana yang akan diwujudkan dapat sesuai dengan sumber ide yang telah ditentukan, tahapan perancangan busana yang penulis terapkan yaitu tahapan proses desain fashion bertajuk “ FRNGIPANI”, The Secret Steps of Art Fashion ( Frangipani, Tahapan-Tahapan Rahasia dari Seni Fashion) oleh Ratna Cora. Dalam pembuatann karya “Nostalgia rasa : mengulang manisnya kenangan” terinspirasi dari jajanan tradisional kue putu menggunakan gaya ungkap analogi.
The Ribbon Tailed : Analogi Burung Astrapia Ekor Pita dalam Busana Feminim Elegan Apriliyani, Christy Wahyu; Pebryani, Nyoman Dewi; Diantari, Ni Kadek Yuni
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 2 No. 2 (2022): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.499 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v2i2.1769

Abstract

“The Ribbon Tailed” adalah judul koleksi busana bertemakan Diversity of Indonesia yang terinspirasi dari fauna endemic Papua yang memadukan look elegant dengan sentuhan feminim. Koleksi ini merupakan jenis busana ready to wear deluxe dan semi couture. Penciptaan koleksi The Ribbon Tailed menggunakan delapan tahapan yang bertajuk “Frangipani”, Tahapan – tahapan rahasia dari Seni FashionArt. Ide pemantik ini diimplementasikan melalui gaya ungkap analogi yang akan diuraikan pada teori keyword berupa Batik Sentani Papua, Jambul, Bulu, Gradasi, dan Pita. Keyword tersebut kemudian diolah sedemikian rupa dan diaplikasikan pada koleksi busana dengan teori estetika mencakup prinsip desain dan elemen desain yang tampak dari desain busana, detail dan pemilihan bahan sehingga terbentuk nilai keindahan dalam koleksi busana ini. Adapun warna yang dipilih merupakan warna – warna yang berkaitan dengan konsep selat Bali yaitu transisi perpaduan warna bergradasi yang lebih dominan dengan warna hitam. Melalui perpaduan material utama, yaitu Maxmara, Tile, Sifon. Proses pengerjaan koleksi The Ribbon Tailed terdapat pada kain – kain yang dibentuk dengan teknik drapping dan lukis prada sehingga menambah nilai estetika busana.
Belida’s Knife Back Is Beautiful : Analogi Ikan Belida dalam Busana Feminine Elegant Nariasih, Kadek Ayu; Radiawan, I Made; Diantari, Ni Kadek Yuni
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 2 No. 2 (2022): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.602 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v2i2.1776

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan busana bergaya feminine elegant yang terinspirasi dari Ikan Belida endemik dari pulau Jawa, pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan namun dalam tugas akhir ini penulis mengambil ikan Belida endemik khas dari pulau Sumatera. Ikan Belida memiliki bentuk tubuh yang menjadi keistimewaannya terletak pada dibagian punggung yang berbentuk seperti punggung pisau dan memiliki bibir monyong dan memiliki warna yang sangat elegan yaitu warna silver dan hitam, dulu ikan ini dijadikan bahan utama pembuatan pempek, namun sekarang sudah tidak lagi dikarenakan mulai punahnya ikan tersebut. Oleh karena itu, penulis mengambil ide pemantik ikan Belida dikarenakan keistimewaan yang dimiliki ikan ini dan dikarenakan mulai punahnya ikan ini, penulis berharap dengan diangkatnya ikan tersebut menjadi ide pemantik dalam karya busana ready to wear deluxe dan semi couture dapat membuat masyarakat tau dengan keberadaan ikan tersebut. Dengan menggunakan tehnik surface design yang merupakan jati diri dari tempat magang yaitu Agung Bali Collection kedalam karya tugas akhir. penulis menciptakan brand yang bernama ‘K A N’ . Metode penciptaan yang digunakan adalah Analogi dan Frangipani. Frangipani adalah delapan tahapan penciptaan meliputi design brief, research and sourching, design development, sampel, prototype, dummy, final collection, promoting, branding, sale, production, dan the business
Bunga Kibut: Beauty of Corpse Flower Handayani, Luh Meri; Radiawan, I Made; Diantari, Ni Kadek Yuni
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 2 No. 2 (2022): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.743 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v2i2.1796

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan busana bergaya feminime romantic yang terinspirasi dari Bunga Bangkai Raksasa/Bunga Kibut yang habitatnya pada saat ini banyak di temukan di hutan Sumatera. Kibut atau bunga bangkai raksasa atau suweg raksasa, Amorphophallus titanum merupakan tumbuhan dari suku talas- talasan endemik dari Sumatra, Indonesia, yang dikenal sebagai tumbuhan dengan bunga (majemuk) terbesar di dunia, meskipun catatan menyebutkan bahwa kerabatnya, A. gigas (juga endemik dari Sumatra) dapat menghasilkan bunga setinggi 5m. Kibut disebut juga bunga bangkai dikarenakan bunganya yang mengeluarkan bau seperti bangkai yang membusuk, yang dimaksudkan sebenarnya untuk mengundang kumbang dan lalat untuk menyerbuki bunganya. Kibut sering dipertukarkan dengan padma raksasa atau Rafflesia Arnoldii. Jenis - jenis Amorphophallus juga dapat dijumpai pada hutan hujan tropis. Bunga Kibut dipilih sebagai ide pematik dalam penciptaan karya busana ready to wear dan semi haute couture yang diimplementasikan dengan gaya ungkap analogi berdasakan 5 kata kunci terpilih yaitu: Sumatera, mekar, biji, burung rangkong dan kerut. Penciptaan kedua busana ini menggunakan metode dari Dr. Tjok Istri Ratna C.S., S.Sn., M.Si yaitu “FRANGIPANI” dengan delapan tahapan penciptaan meliputi Design Brief, Research and Sourcing, Design Development, Sample, Prototype, Final Collection Promoting, Branding, Sale, Production Businnes. Hasil penciptaan ini nantinya diharapkan menambah refrensi kepustakaan mengenai ilmu fashion dengan teori Bunga Bangkai/Bunga Kibut.
“Kama Thani” Studi Kasus Busana Semi Haute Couture Dan Deluxe Di Pertenunan Astiti Virgyan Yustianti, Ni Putu Nanda; Radiawan, I Made; Diantari, Ni Kadek Yuni
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 2 No. 2 (2022): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.912 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v2i2.1798

Abstract

Barong Landung merupakan warisan budaya leluhur Bali yang sangat unik, Barong Landung muncul dari sebuah urband legend Dalem Balingkang yang berasal dari daerah Batur, Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. Kisah Barong Landung tidak lain merupakan akulturasi budaya yang terjadi di masa lampau saat para pedagang negeri China datang ke pulau Bali untuk berdagang. Hal ini tentunya menjadi warisan budaya yang patut untuk dilestarikan dan patut untuk diceritakan kepada masyarakat luas. Maka dari itu perlu adanya media pengenalan yang menarik menganai kisah ini agar masyarakat tergugah untuk mengetahui hal yang sebenarnya terjadi pada kisah Barong Landung. Melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), ISI Denpasar mewajibkan mahasiswa untuk melaksanakan kegiatan magang di salah satu perusahaan mitra yang telah memiliki kerjasama dengan kampus ISI Denpasar, dan penulis memilih untuk melaksanakan kegiatan magang di Pertenunan Astiti, Klungkung. Pelestarian mengenai urband legend Dalem Balingkang ini dilakukan dengan upaya membuat kain endek tradisional Bali bermotif Barong Landung, yang nantinya kain endek ini akan dijadikan karya busana RTW dan Semi Couture. Keseluruhan busana melewati proses kreatif monumental tekstil dan tahapan proses desain fashion bertajuk “FRANGIPANI”, The Secret Steps of Art Fashion (Frangipani, Tahapan-Tahapan Rahasia dari Seni Fashion) oleh Ratna Cora. Tahapan proses desain fashion FRANGIPANI ini meliputi 10 tahapan yang memberikan tahapan sistematis dalam mengembangkan sumber ide Barong Landung ke dalam karya busana RTWD dan Semi Couture.