Claim Missing Document
Check
Articles

Abimantra Kahuripan : Metafora Tradisi Megengan Sebagai Inspirasi Penciptaan Busana Berkolaborasi Dengan Luh Jaum Fashion Design & Tailor Cahyani, Salsa Bilah Regita; Pebryani, Nyoman Dewi; Diantari, Ni Kadek Yuni
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 1 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v4i1.3569

Abstract

Tradisi megengan merupakan ritual tradisional yang biasa dilakukan sebelum datangnya bulan Ramadhan dan sebagai proses penyambutan bulan Ramadhan. Megengan dapat diartikan sebagai rasa syukur kepada Tuhan karena diberi kesempatan hidup dan dapat bertemu lagi dengan bulan suci Ramadhan. Masyarakat biasanya berbondong-bondong untuk berziarah kubur terlebih dahulu, membersihkan, menaburi bunga, dan tidak lupa mendoakannya. Megengan dimulai saat petang dengan dihadiri para tamu undangan. Undangan yang bersila di atas tikar dihadapkan dengan ambengan sebagai sajian untuk acara megengan. Tradisi megengan menjadi konsep yang saya gunakan untuk penciptaan karya busana ini dengan judul Abimantra Kahuripan yang memiliki arti berkah kehidupan. Megengan memiliki makna menahan atau ngempet dari segala hal yang membatalkan puasa, seperti makan dan minum. Megengan juga memiliki arti keselamatan yang terjaga baik saat bulan Ramadhan
ULUN BANGUN ORANG BASETAN MAKNA TRADISI BIDUK BEBANDUNG DALAM DUNIA FASHION Dewi, Ketut Dina Aprilianti; Pebryani, Nyoman Dewi; Diantari, Ni Kadek Yuni
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 2 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v4i2.4411

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan pembuatan karya seni busana dengan mengangkat suatu kebudayaan yaitu Biduk Bebandung. Keunikan pada Tradisi Biduk Bebandung ini terdapat pada prosesi upacara atau ritual yang dilakukan. Keunikan akan Transportasi yang digunakan pada Tradisi ini berupa perahu kembar yang digunakan untuk menjemput atau menyambut tamu seperti Sultan, Raja, Pemangku Adat, Penglingsir dan pejabat. Tradisi ini dipilih sebagai ide pemantik dalam penciptaan karya busana ready to wear, ready to wear deluxe dan haute couture dengan gaya ungkap analogi berdasarkan 5 kata kunci terpilih yaitu Perahu, merah, ular- ularan, Kelambu dan dayung. Proses penciptaan karya menggunakan metode dari Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana, yaitu ‘’FRANGIPANI’’ Tahapan rahasia dari seni fesyen dengan menerapkan 10 tahapan penciptaan meliputi design brief, research and sourching, Anaqlizing Art fashion, design development, prototypes sample and construction, the final collection, promosi dan produksi,marketing and branding, production dan the business model canvas.. Koleksi penciptaan ini diharapkan dapat menambah refrensi kepustakaan serta dapat menambah wawasan kita mengenai keberagaman, budaya serta manfaat pada tradisi – tradisi yang ada di nusantara serta mengenalkan Tradisi Biduk Bebandung ini kepada pembaca dan masyarakat akan kebudayaan Indonesia melalui karya busana sehingga kedepannya mampu menjadi inpirasi untuk masyarakat.
PATUNG PHOENIX KARYA I NYOMAN NUARTA DALAM BALUTAN URBAN STYLE Prameswari, Luh Irdila; Priatmaka, I Gusti Bagus; Diantari, Ni Kadek Yuni
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 2 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v4i2.4414

Abstract

Patung Phoenix oleh Nyoman Nuarta mewujudkan representasi artistik yang menawan yang merayakan mitos phoenix, melambangkan kelahiran kembali dan transformasi abadi. Abstrak ini bertujuan untuk merangkum esensi dan signifikansi mahakarya Nuarta, menggali simbolisme rumit,dan proses kreatif dalam sebuah patung menjadi sebuah busana ready to wear, ready to wear deluxe,cuture. Patung burung phoenix Nyoman Nuarta berdiri sebagai bukti keahlian luar biasa dan interpretasi visioner sang seniman. Patung ini menampilkan perpaduan yang harmonis antara estetika kontemporer dan kesenian tradisional Indonesia, memikat penonton dengan bentuknya yang dinamis dan detail yang rumit. Melalui pengerjaan yang sangat teliti, Nuarta mengilhami patung dengan rasa hidup dan vitalitas yang tak terbantahkan, melampaui medium fisiknya untuk membangkitkan emosi dan narasi yang kuat. Phoenix Nyoman Nuarta memiliki pengaruh yang mendalam bagi para penontonnya. Saat pengamat terlibat dengan karya seni, mereka diundang untuk merenungkan perjalanan transformasi pribadi mereka sendiri, menemukan pelipur lara dan inspirasi dalam kemampuan burung phoenix untuk bangkit dari keterpurukan. Patung itu berfungsi sebagai pengingat kuat akan kapasitas manusia yang melekat untuk ketahanan dan potensi tak terbatas untuk pertumbuhan dan kelahiran kembali. Kesimpulannya, patung Phoenix Nyoman Nuarta adalah bukti menakjubkan akan kekuatan seni untuk melampaui batas fisik dan membangkitkan emosi yang mendalam. Melalui pengerjaan yang terampil, penceritaan simbolis, dan hubungan yang mendalam dengan warisan budaya Indonesia, Nuarta menciptakan karya seni menawan yang merayakan siklus kehidupan yang abadi, transformasi, dan semangat phoenix yang abadi
TELLU RONNA SITINRO: KEBERANIAN PERCIKAN SIRAWU SULO DALAM BUSANA BERGAYA CLASSIC ELEGANT Puspita, Ni Komang Mella; K. Tenaya, A.A. Ngurah Anom Mayun; Diantari, Ni Kadek Yuni
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 2 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v4i2.4417

Abstract

Sirawu Sulo tradisi tiga tahunan pada pesta panen Desa Pongka Kecamatan Tellusiattinge Kabupaten Bone. Penentuan waktu pelaksanaan tradisi Sirawu Sulo pada pesta panen Desa Pongka Kecamatan Tellusiattinge Kabupaten Bone yaitu pertama pemerintah masyarakat Desa Pongka melakukan musyawarah, selanjutnya dilakukan Mattara'esso (Penentuan Hari) dan setelah itu dilakukan pembentukan panitia. Kedua pelaksanaan tradisi Sirawu Sulo, ketiga hari terakhir, bentuk custom Makkalu'kampong dalam tradisi Sirawu Sulo yaitu pertama, pelaku custom Makkalu'kampong adalah Sanro, pemain tradisi Sirawu Sulo serta rombongan masyarakat Desa Pongka, kedua sesajen, ketiga iringan, iringan yang digunakan dalam custom Makkalu'kampong yaitu dua buah gendang, keempat kostum, tempat yang dilakukan custom Makkalu'kampong yaitu kuburan petta Makkuli Lajangnge, kuburan panglima Mabbaranie, bukit dan pusat tugu Desa Pongka.Hal-hal yang dianggap tabu selama perayaan bila dilanggar akan menimbulkan malapetaka. Penciptaan karya busana Prepared to wear luxurious dan haute couture ini ditujukkan untuk mewujudkan busana classic rich dengan tradisi Sirawu Sulo sebagai ide pemantik. Tradisi Sirawu Sulo diimplementasikan dengan teori analogi dan kata kunci yang terpilih. Metode penciptaan yang digunakan yaitu terdiri dari sepuluh tahapan penciptaan “Frangipani” Desain Mode dari Dr. Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana, tahun 2016 meliputi design brief, research and sourching, design development, sample, prototype, dummy, final collection, promoting, branding, sale, production business.
Astana Barya Royo : Analogi Istana Maimun Dalam Penciptaan Busana Bergaya Dramatik Pramana, Febyla Zulkoida Dwi; Priatmaka, I Gusti Bagus; Diantari, Ni Kadek Yuni
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 5 No. 2 (2025): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v5i2.6043

Abstract

Istana Maimun, sebagai salah satu bangunan bersejarah dari Kesultanan Deli di Medan, Sumatera Utara, memiliki arsitektur unik yang mencerminkan perpaduan budaya Islam, Melayu, India, dan Eropa. Dibangun oleh arsitek Belanda, TH Van Erp, pada 1888–1891, istana ini kaya akan ornamen khas Melayu. Inspirasi dari Istana Maimun digunakan dalam penciptaan koleksi busana yang berkolaborasi dengan Body & Mind Boutique. Proses desain menggunakan teori “Frangipani” yang terdiri dari sepuluh tahapan dalam menciptakan koleksi busana ready to wear, ready to wear deluxe, dan semi couture.
DESIGNING CHILDREN'S PARTY WEAR MADE FROM TRADITIONAL ENDEK TEXTILES Diantari, Ni Kadek Yuni; Paramita, Ni Putu Darmara Pradnya; Rahayu, Made Tiartini Muda
Proceeding Bali-Bhuwana Waskita: Global Art Creativity Conference Vol. 4 (2024): Proceedings Bali-Bhuwana Waskita: Global Art Creativity Conference
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/bbwp.v4i1.598

Abstract

The children's fashion industry in Indonesia has great potential but is still dominated by imported products. This constraint is the trigger for this research that aims to explore children's clothing that is high quality, comfortable to wear and utilizes traditional Balinese fabric, Endek, as well as an effort to introduce culture from an early age. The process of making children's clothing is designed through the five main stages of the Frangipani method which consists of: idea development, research, aesthetic element analysis, design sketch, and production. Making quality children's clothing requires several criteria including safety, comfort, durability, size accuracy, and cultural sensitivity to be the main focus in design development. Endek fabric was chosen as the catalyzing idea in the design of children's party wear. Endek fabric is the most common and desirable fabric in Bali because of its motif design development. Endek fabric as part of the ikat woven fabric requires special attention in the process of processing it into clothing to maintain the quality and structure of the fabric. The addition of elements such as lining and interfacing is done to increase the comfort of the clothing. This research shows that children's fashion with Endek fabric can fulfill the criteria of modern children's fashion but is able to maintain cultural values. This research provides reference and insight for children's fashion industry players in creating products that collaborate traditional aspects and modern demands so that they can compete globally.
THE HARMONIZATION OF TRADITION AND SUSTAINABILITY: COSTUME DESIGN IN KALPATARU CONTEMPORARY DANCE AT THE KITAPOLENG FOUNDATION Diantari, Yuni
Lekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific Arts Vol. 8 No. 2 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/lksn.v8i2.3509

Abstract

This study aims to examine the role of Kalpataru contemporary dance costume design at the Kitapoleng Foundation as a medium of expression that integrates Balinese cultural heritage with the principles of sustainability and design innovation. The focus is on symbolism, sustainable materials, and the contribution of costumes to the narrative of the performance. This study uses a descriptive qualitative approach with case studies. Data was collected through semi-structured interviews with the choreographer, designer, and founder of Kitapoleng; observation of performances at IFEX 2024; and visual documentation. Analysis was conducted using data reduction, thematic categorization, and source triangulation methods. The woven ental fabric costumes combine symbols of tradition and sustainability. Design innovations include reinterpretations of Legong headdresses and badong accessories. The costumes reinforce the Kalpataru philosophy of the “tree of life” and increase the audience's understanding of ecological and cultural issues. Cultural negotiation emerges in the reinterpretation of tradition. The results of this research enrich performance studies through the perspective of sustainability. In practical terms, this research offers a model of collaboration between artists and craftsmen as an environmentally friendly design practice based on local culture. These findings also have implications for arts education strategies and the strengthening of Indonesian performing arts in the global discourse on sustainability.
DEVELOPMENT OF STANDARD LAYOUT FOR TRADITIONAL BALINESE TEXTILE EXHIBITION TO SUPPORT VISITOR APPRECIATION AND TEXTILE MATERIAL STABILITY Putu Ari Darmastuti; Yuni Diantari; Kadek Resi Kerdiati
Lekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific Arts Vol. 9 No. 1 (2026)
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/lksn.v9i1.3849

Abstract

Textile preservation presents significant challenges in non-commercial exhibition contexts in Indonesia, particularly in Bali, where many exhibition spaces have yet to implement adequate conservation standards. At the same time, research on exhibition layout design remains fragmented between interior architecture and museum studies, limiting the development of integrated approaches. This gap becomes increasingly important alongside the growing emphasis on sustainability in exhibition practices. This study adopts a qualitative approach through a systematic review of literature published within the last five years. The analysis focuses on the relationship between spatial configuration, environmental control, and textile conservation, aiming to identify design strategies that respond to both material preservation and visitor needs. The findings suggest that textile exhibitions require careful and holistic planning that not only protects fragile materials but also creates a meaningful and comfortable experience for visitors. Key considerations include controlling light exposure, maintaining stable humidity and temperature, and organizing spatial layouts that minimize physical interaction while supporting visual accessibility. Circulation design plays a critical role in achieving this balance. While unstructured layouts encourage exploratory movement, they may lead to overcrowding and uneven distribution. In contrast, directed circulation systems provide better control over visitor flow, viewing duration, and spatial experience, making them more suitable for sensitive textile exhibitions.
MATERIAL REGENERATION AND CULTURAL SUSTAINABILITY THROUGH MODULAR FASHION DESIGN: RECONCEPTUALIZING BALINESE ENDEK WEAVING SCRAPS Ni Kadek Yuni Diantari; Gede Bayu Segara Putra; Anak Agung Gede Rai Remawa; I Wayan Dedy Prayatna; I Putu Udiyana Wasista
Lekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific Arts Vol. 9 No. 1 (2026)
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/lksn.v9i1.3908

Abstract

The fashion industry generates textile waste throughout the production and consumption stages, while leftover Balinese endek weaving fabric is still frequently treated as production residue that remains underutilized. This study aims to develop a sustainable modular fashion design model based on leftover Balinese endek fabric by integrating the principles of less waste design, subtraction pattern, draping, Traditional Ecological Knowledge (TEK), and regenerative design. The research employed a qualitative approach using a Research Through Design strategy, involving participant observation of the design process, visual documentation, in-depth interviews with designers and artisans, analysis of pattern and prototype documentation, as well as thematic and design analysis. The findings reveal that leftover endek fabric can be classified according to size, motif, texture, grain direction, and joining potential to form structural panels, visual elements, and transitional modules. Subtraction pattern and draping enable irregular fabric remnants to be negotiated with the body, while the modular system expands possibilities for configuration, functionality, and product life cycles. These findings demonstrate that leftover endek fabric should not be viewed merely as textile waste but as a cultural material that embodies ecological, technical, and symbolic values. This article contributes to the sustainable fashion discourse by proposing the concept of tradition subtraction as a design approach that connects material efficiency, the regeneration of local textile values, and the development of a tradition-based circular economy.
WENINGKARA: Tradisi Siraman Sedudo dalam Karya Busana Edgy Authentic Eirys Ocsa Prameswari; Ni Kadek Yuni Diantari; I Wayan Dedy Prayatna
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 6 No. 1 (2026): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penciptaan karya busana ini dilatarbelakangi oleh kekayaan nilai budaya dan spiritual dalam tradisi siraman Sedudo yang berasal dari Kabupaten Nganjuk. Tradisi tersebut tidak hanya dimaknai sebagai ritual penyucian diri, tetapi juga mengandung filosofi keseimbangan, harapan, dan keberkahan hidup. Tujuan dari penciptaan karya ini adalah untuk merepresentasikan makna filosofis tradisi siraman Sedudo ke dalam sebuah koleksi busana yang bernilai estetis, konseptual, dan fungsional melalui pendekatan seni fesyen. Metode yang digunakan dalam proses penciptaan adalah metode perancangan Fragipani, dengan menerapkan delapan tahapan sistematis, meliputi penggalian ide, perumusan konsep, eksplorasi visual, pengembangan desain, hingga perwujudan karya busana. Koleksi busana yang dihasilkan diberi nama Weningkara, yang merepresentasikan ketenangan batin, kesucian, serta refleksi spiritual yang terinspirasi dari elemen air terjun Sedudo, kembang tujuh rupa, dan nilai-nilai ritual satu suro. Hasil penciptaan menunjukkan bahwa unsur budaya lokal dapat diolah menjadi karya seni fesyen kontemporer tanpa menghilangkan makna filosofis aslinya. Karya ini diharapkan dapat menjadi bentuk pelestarian budaya sekaligus kontribusi dalam pengembangan seni fesyen berbasis kearifan lokal.