Claim Missing Document
Check
Articles

IRENG ING PURWA: ANALOGI TRADISI NYEPEG SAMPI SEBAGAI IDE PEMANTIK DALAM RANCANGAN BUSANA EDGY STYLE Rahayu, Ni Wayan Essya Putri; Sukmadewi, Ida Ayu Kade Sri; Pradnya Paramita, Ni Putu Darmara
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 2 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v4i2.4422

Abstract

Rancangan busana ready to wear, ready to wear deluxe, dan semi couture dengan ide pemantik Tradisi Nyepeg Sampi menggunakan metodelogi Tjok Istri Ratna C.S. FRANGIPANI, The Secret Steps of Art Fashion (FRANGIPANI, Tahapan Rahasia dari Seni Mode). Filosofi, prosesi, sarana dan prasarana pelaksanaan tradisi nyepeg sampi akan dianalogikan kedalam bahasa fashion pada penciptaan karya busana edgy style. Tradisi nyepeg sampi merupakan serangkaian upacara usaba kaulu di Desa Adat Asak, Karangasem tradisi nyepeg sampi yang tergolong dalam Upacara Butha Yadnya. Pelaksanaan tradisi nyepeg sampi dilakukan dengan menjadikan sapi sebagai korban suci, dan ditebas oleh sekaa teruna. Tradisi nyepeg sampi dilaksanakan pada sasih kaulu yaitu bulan Januari atau Februari. Pelaksanaan tradisi nyepeg sampi pada saat Usaba Kaulu umumnya dilaksanakan sepenuhnya oleh Sekaa Teruna Deha, mulai dari persiapan sarana upacara, susunan acara, hingga pendanaan ditanggungjawabi sepenuhnya oleh Sekaa Teruna Deha Desa Adat Asak, khususnya sekaa teruna-nya. Tujuan pelaksanaan Tradisi nyepeg sampi yaitu agar tercapai kehidupan yang dianugrahi keseimbangan, kemakmuran, keselamatan, dan kebahagiaan lahir-batin bagi masyarakat Desa Asak.
Anunga Dharma Ing Loka: Metafora Wayang Lemah Dalam Busana Sexy Alluring Udayani, Ni Luh Putu Dian Paramita; Sukmadewi, Ida Ayu Kade Sri; Utami, Ni Luh Ayu Pradnyani
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 5 No. 2 (2025): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v5i2.6039

Abstract

Tradisi wayang lemah (wayang gedog) merupakan pementasan wayang yang dilaksanakan hanya pada siang hari (lemah), awalnya pementasan ini dilaksanakan pada tahun 1980 dan dikembangkan hingga saat ini. Wayang lemah ini adalah salah satu wayang yang di sakralkan, ketiga wayang tersebut ialah wayang sudhamala, wayang lemah, dan wayang sapuh leger. Berbeda dengan pementasan wayang pada umumnya, pementasan wayang lemah ini tanpa layer atau kelir dan lampu belencong melainkan hanya menggunakan gedebong atau pelepah pisang, benang tukelan, kayu pohon dadap, dan keropak. Wayang lemah ini merupakan pementasan ngiring pedanda atau disebut juga dengan pementasan pengiring pedanda. Pementasan wayang lemah sampai sekarang kerap dipertunjukkan untuk memberi pelajaran dharma untuk masyarakat di Bali. Oleh karena itu penulis ingin menunjukan dan memperkenalkan tradisi wayang lemah ini dalam bentuk penciptaan busana dipadukan dengan gaya sexy alluring. Penciptaan karya busana ini menggunakan teori Frangipani: The Secret Steps of Art Fashion oleh Ratna Cora. Penciptaan busana Ready to Wear, Ready to Wear Deluxe, dan Semi Couture menggunakan gaya bahasa metafora. Penciptaan karya ini diharapkan dapat mengedukasi masyarakat mengenai adanya tradisi wayang lemah di Bali yang merupakan salah satu kekayaan budaya yang memiliki nilai kearifan lokal.
Pajaga Tari Nusantara : Metafora Menara Pinisi Dalam Gaya Busana Edgy Futuristic di UD Charisma Bali Dwipayana, I Kadek Krisna; Sukmadewi, Ida Ayu Kade Sri; Utami, Ni Luh Ayu Pradnyani
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 5 No. 2 (2025): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v5i2.6044

Abstract

Menara Phinisi di Makassar adalah landmark ikonik yang terinspirasi dari perahu tradisional Bugis-Makassar, pinisi, yang melambangkan kejayaan pelayaran dan perdagangan maritim Indonesia. Sebagai simbol budaya, Menara Pinisi merepresentasikan semangat eksplorasi dan ketangguhan masyarakat pesisir. Konsep Pajaga Tasi Nusantara, yang berarti "Penjaga Laut," menggambarkan figur pelaut yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan alam dan keselamatan komunitas pesisir. Sosok ini memiliki pengetahuan mendalam tentang laut, cuaca, serta cara bertahan hidup di perairan luas, menjadikannya bagian penting dari tradisi maritim Nusantara.Terinspirasi dari filosofi ini, karya busana dikembangkan melalui konsep Frangipani yang terdiri dari sepuluh tahapan. Proses ini mencakup penelitian, analisis estetika, visualisasi, serta penciptaan desain dengan pendekatan kapitalis humanis. Setiap tahapan bertujuan menghadirkan koleksi yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga makna mendalam tentang budaya dan sejarah maritim.Koleksi yang dihasilkan terdiri dari tiga kategori utama: ready to wear, ready to wear deluxe, dan haute couture. Setiap rancangan mengadopsi pendekatan metafora dengan gaya edgy, menghadirkan interpretasi modern dari semangat pelayaran dan keberanian para penjaga laut. Melalui eksplorasi desain yang inovatif, karya ini diharapkan menjadi bentuk penghormatan terhadap warisan budaya Bugis-Makassar sekaligus memperkenalkannya dalam dunia fashion kontemporer.