Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

The Correlation of Age and Knowledge on Behavior to Take the Supplement during The COVID 19 Pandemic (Study Case: in Kecamatan Selat, Kabupaten Kapuas) Hawini, Laudia; Yuwindry, Iwan; Riduansyah, Muhammad
Jurnal Farmasi Sains dan Terapan (Journal of Pharmacy Science and Practice) Vol. 10 No. 2 (2023): October
Publisher : Faculty of Pharmacy, Widya Mandala Surabaya Catholic University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jfst.v10i2.3619

Abstract

Changes in people's lifestyles and consumption patterns during the COVID-19 pandemic led to an increase in the use of supplements. Supplements are basically taken to supplement nutrition, not to replace it. Age is known to have an effect on knowledge and behavior of supplement consumption. Researchers want to know the relationship between age and level of knowledge and behavior of using supplements during the Covid 19 pandemic. The research design used was cross sectional with analytical observational research. The population and sample are people who use supplements in the Selat District of Kapuas Regency in November 2020-July 2021, totaling 44 people. This study aims to determine the relationship between age and knowledge and behavior of using supplements during the Covid 19 pandemic in the Selat District, Kapuas Regency. Based on data analysis, it was found that there was no relationship between age and knowledge (p=0.264 > 0.05) and there was no relationship between age and behavior (p=0.538 > 0.05). So it can be concluded that age has no effect on knowledge and behavior of using supplements during the Covid 19 pandemic in the Straits District of Kapuas Regency.
The Relationship of Triage Selection with Length of Stay on Pulmonary TB Patients Wineiniati, Noni; Riduansyah, Muhammad; Santoso, Bagus Rahmat
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 6 No S5 (2024): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v6iS5.4393

Abstract

Pulmonary TB is a contagious infectious disease that can cause morbidity and death and Indonesia is in second place with the most TB cases (9.2%) globally, so it requires quality services in hospitals. The quality of service for TB patients in the ER with a triage system can be measured through indicators of length of stay. Objective to analyze the relationship between triage selection and length of stay for pulmonary TB patients in the emergency room at Sultan Suriansyah Hospital, Banjarmasin. Quantitative research with analytical survey design and cross sectional approach on 47 respondents selected using purposive sampling technique. Data was taken using observation techniques and analyzed using the chi square test. The majority of respondents were categorized as yellow triage with a total of 23 out of 47 people (48.9%) and were treated for ≥6 hours with a total of 33 out of 47 people (70.2%). The chi square test results show a p value of 0.000 < α 0.05 so that Ha is accepted, which means there is a relationship between triage selection and length of stay for pulmonary TB patients in the emergency room at Sultan Suriansyah Hospital, Banjarmasin. Yellow triage patients have a length of stay that exceeds the average so that the patient's family is expected to be able to understand and hand over nursing actions to professional health workers so that the care provided can run smoothly.
Hubungan length of stay dengan resiko dekubitus Riduansyah, Muhammad; Wineiniati, Noni; Mahmudah, Rifa’atul
Journal of Health Research Science Vol. 5 No. 02 (2025): Journal of Health Research Science
Publisher : Lembaga Penelitian Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34305/yw8yec77

Abstract

Latar Belakang: Length of stay adalah indikator mutu dan efisiensi pelayanan rumah sakit. Semakin lama pasien dirawat semakin meningkat pula risiko komplikasi, terutama dekubitus, yang dapat memperburuk kondisi pasien dan meningkatkan biaya. Penelitian ini bertujuan menganalisis korelasi antara length of stay dan risiko dekubitus pada pasien rawat inap di RSUD Ulin Banjarmasin.Metode: Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain survei analitik pendekatan cross sectional pada 62 responden yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Data dikumpulkan melalui observasi dan pengisian kuesioner menggunakan Braden Scale, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square.Hasil: Sebagian besar responden memiliki lama rawat lebih dari rata-rata yaitu 54,8%. Sebagian besar berada pada kategori risiko dekubitus ringan sebanyak 56,5%. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,000 yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara Length of stay dengan risiko dekubitus di Ruang Seruni RSUD Ulin Banjarmasin.Kesimpulan: Semakin lama pasien dirawat, semakin tinggi risiko terjadinya dekubitus. Diharapkan tenaga keperawatan melakukan skrining risiko dekubitus sejak awal menggunakan Braden Scale dan melakukan pencegahan melalui reposisi, penggunaan matras antidekubitus, serta pemenuhan nutrisi.
Efektifitas perawatan neuroprotektif pada peningkatan status hemodinamik dengan pasien intracerebral hemorrhagic Noorhaliza, Noorhaliza; Riduansyah, Muhammad; Gaghauna, Eirene E.M
Jurnal Praktik Dan Pendidikan Keperawatan Vol 6 No 01 (2025): Journal of Nursing Practice and Education
Publisher : Lembaga Penelitian Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Garawangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34305/w8b44g24

Abstract

Latar Belakang: Intracerebral Hemorrhage dikenal sebagai perdarahan yang terjadi di dalam otak akibat pecahnya pembuluh darah. Hal ini menimbulkan gangguan neurologis secara tiba-tiba disertai dengan sakit kepala yang hebat, yang dapat terjadi peningkatan TIK. Maka penelitian ini penting dilakukan dengan tujuan menganalisis efektifitas peningkatan status hemodinamik sebelum dan sesudah dilakukan perawatan neuroprotektif pada pasien dengan Intracerebral Hemorrhage di ruang ICU RSUD dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin.Metode: One group pretest-posttest design. Teknik accidental sampling dengan jumlah 10 responden, teknik pengumpulan data menggunakan lembar observasi yang dilakukan 2 kali sebelum dan sesudah dilakukan perawatan dan diobservasi selama 30 menit.Hasil: Hasil uji paired sample T-test menunjukan nilai Tekanan darah sistolik menurun (p value 0,000), diastolik (p value 0,004), dan MAP (p value 0,000). Frekuensi nadi (p value 0,000). Frekuensi napas (p value 0,000) dan saturasi oksigen (p value 0,003).Kesimpulan: Hasil ini menunjukkan bahwa perawatan neuroprotektif efektif meningkatkan status hemodinamik pasien Intracerebral Hemorrhagic di ruang ICU dengan adanya pemantauan status hemodinamik secara optimal, diharapkan dapat mencegah komplikasi serta menunjang proses pemulihan pasien Intracerebral Hemorrhagic di ruang ICU.
Pengaruh elevasi kepala terhadap peningkatan saturasi oksigen pada pasien post operasi kraniotomi Arisma, Alda Nur; Riduansyah, Muhammad; Wijaksono, Muhammad Arief
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v10i1.1453

Abstract

Pasien pascaoperasi kraniotomi berisiko mengalami hipoksia yang dapat memperburuk kondisi neurologis. Salah satu intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah elevasi kepala 30°. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh elevasi kepala terhadap peningkatan saturasi oksigen pada pasien pascaoperasi kraniotomi di ruang bedah RSUD Dr. H. Moch Ansari Saleh. Penelitian menggunakan desain kuantitatif pre-eksperimental dengan pendekatan one-group pretest-posttest pada 10 responden yang dipilih secara accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan lembar observasi dan pulse oximetry, serta dianalisis dengan uji Wilcoxon signed-rank. Hasil menunjukkan peningkatan rerata saturasi oksigen dari 93,90 menjadi 97,40 dengan nilai p = 0,002 (p < 0,05). Disimpulkan bahwa elevasi kepala 30° berpengaruh signifikan terhadap peningkatan saturasi oksigen pada pasien pascaoperasi kraniotomi.