Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Analisis Penggunaan Virtual Background Seragam pada Pertemuan Daring dari Perspektif Peserta Chandra, Christie Viviah; Priharsari, Diah; Perdanakusuma, Andi Reza
Jurnal Sistem Informasi, Teknologi Informasi, dan Edukasi Sistem Informasi Vol 3 No 1 (2022): Agustus
Publisher : Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25126/justsi.v3i1.56

Abstract

Pertemuan daring menjadi pilihan bagi organisasi maupun komunitas pada kondisi pandemi. Satu di antara platform pertemuan daring yang digunakan di Indonesia adalah Zoom. Zoom memiliki fitur menarik bagi penggunanya yaitu melakukan pergantian latar belakang pengguna dengan gambar atau video. Latar belakang ini sering disebut virtual background dan kemudian dimanfaatkan untuk diseragamkan antar partisipan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui mengapa peserta pertemuan daring secara sukarela menggunakan virtual background seragam yang disediakan panitia. Pengumpulan data dilakukan secara kualitatif kepada peserta pertemuan daring dengan melakukan wawancara semi terstruktur. Data yang didapatkan kemudian dianalisis menggunakan metode analisis tematik. Analisis tematik terdiri dari enam tahapan antara lain memahami data, pengkodean data, pencarian tema, melakukan review tema, pendefinisian dan penamaan tema, dan menganalisis hasil. Dari hasil analisis, didapatkan tema, kategori, dan kode mengenai penggunaan virtual background seragam. Penelitian ini menghasilkan dua tema, yaitu latar belakang dan pengaruh yang terbagi menjadi delapan kategori.
Analisis dan Perancangan User Journey untuk Perbaikan Pengalaman Pengguna Aplikasi Berbagi informasi Produk Kecantikan Nurul Hikmah, Azizah; Aknuranda, Ismiarta; Priharsari, Diah
Jurnal Sistem Informasi, Teknologi Informasi, dan Edukasi Sistem Informasi Vol 3 No 2 (2022): Desember
Publisher : Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aplikasi Female Daily merupakan one stop application untuk informasi kecantikan yang ada di Indonesia. Pengguna memungkinkan untuk berbagi informasi dan menemukan produk – produk kecantikan yang sesuai dengan preferensi mereka. Sebagai salah satu aplikasi yang paling diandalkan oleh para beauty enthusiast, Female Daily mendapat umpan balik yang bersifat kritis karena pengguna tidak merasa terpuaskan pengalamannya pada saat mencari produk kecantikan untuk dibeli. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis untuk meningkatkan pengalaman dengan memetakan perjalanan pengguna demi memenuhi keinginan pengguna selama proses mencari produk kecantikan hingga memutuskan untuk membeli produk tersebut. Perancangan user journey mampu menempatkan peneliti pada kaca mata pengguna dengan menganalisis cara berpikir pengguna melalui elemen pada user journey seperti actions, question, happy moments dan pain points. Penelitian diawali dengan membuat karakter fiktif untuk merepresentasikan pengguna melalui persona. Terdapat dua jenis persona yang didapatkan berdasarkan pengetahuan dunia kecantikan dan umur, yaitu persona ahli dan pemula. Peta retrospective user journey menjawab permasalahan pemenuhan keinginan pengguna. Sedangkan peta prospective user journey berisi perjalanan pengguna menggunakan aplikasi dengan pertimbangan elemen opportunities dari peta retrospective user journey. Berdasarkan hasil peta prospective user journey, terdapat penambahan fitur pada perbaikan rancangan tampilan aplikasi melalui prototipe yakni fitur untuk melihat dan menghubungkan dengan toko pilihan, menyaring ulasan yang sesuai dengan Beauty ID, melihat kandungan produk, menyaring hasil pencarian produk dengan kata kunci terkait dan melihat deskripsi produk secara komprehensif. Dari hasil peta prospective dibuat user flow untuk memudahkan pada saat perancangan perbaikan tampilan dan prototipe. Setelah prototipe berhasil dibuat, langkah terakhir adalah validasi prototipe dan peta prospective. Proses validasi peta prospective user journey dilakukan melalui pendekatan cognitive walkthrough dengan prototipe perbaikan sebagai alat demonstrasi. Responden menilai positif prototipe dan menyatakan bahwa prototipe yang berdasarkan prospective user journey telah sesuai dengan keinginan responden.
SISTEM INFORMASI SEBAGAI KEILMUAN YANG MULTIDISIPLINER Priharsari, Diah
Jurnal Sistem Informasi, Teknologi Informasi, dan Edukasi Sistem Informasi Vol 3 No 1 (2022): Agustus
Publisher : Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25126/justsi.v3i1.85

Abstract

Saat ini, dibandingkan dengan negara sekitar, di manakah posisi Indonesia? Tepat sesaat sebelum pandemi, World bank mengkategorikan Indonesia pada posisi upper middle income dan PBB mengklasifikasikan Indonesia pada posisi High HDI (Human Development Index). Seperti yang dapat dilihat pada gambar di bawah ini, di antara beberapa negara di asia pacific, Indonesia berada antara Vietnam dan Filipina. Data tersebut didapatkan tahun 2018, dari United Nation Development Program. Tidak berubah banyak di tahun 2020. Meskipun sampai sekarang, pada penelitian-penelitian ekonomi, masih terdapat perdebatan mengenai hubungan antara investasi teknologi dengan kemajuan ekonomi, bagaimana menghubungkan teknologi dengan indikator-indikator makro ekonomi, tetapi, tidak dapat dipungkiri, hampir semua ahli sepakat bahwa penguasaan teknologi akan meningkatkan kemajuan ekonomi bangsa (Vu et al., 2020). Oleh karenanya, hampir semua negara berlomba-lomba menjadi yang terdepan dalam teknologi. Berdasarkan hasil sebuah penelitian yang dilakukan Universitas Tufts berdasarkan data 12 tahun, tahun 2008-2019 (Chakravorti et al., 2020). Dijitalisasi Indonesia berada di bawah rata-rata. Tetapi, percepatan dijitalisasi Indonesia di atas rata-rata. Negara-negara lain yang berada di sekitar Indonesia misal: India, Vietnam, dan Azerbaijan. Pada kuadran yang sama, China terlihat jauh di depan. Malaysia, Emirat Arab, Qatar dan beberapa negara lainnya berada pada kuadran di atas kuadran Indonesia. Ada negara-negara yang melaju pesat, misal China dan Korea Selatan. Ada negara-negara dengan sumber daya melimpah, memiliki manusia-manusia pintar yang diperkirakan akan maju, tetapi ternyata jalan di tempat. Mengapa bisa seperti itu? Kalau melihat HDI yang tadi saya sebutkan, Iran misal, HDI di atas Indonesia tetapi digital score-nya dan juga digital momentumnya di bawah Indonesia. Meskipun saya membandingkan dengan kasar dan barangkali akan ada yang tidak setuju dengan pendapat saya, namun, saya ingin menunjukkan bahwa bisa jadi, ada sesuatu, yang menghalangi atau mempercepat kemajuan teknologi suatu negara di luar teknologi itu sendiri dan berlimpahnya sumber daya yang dimiliki. Dari berbagai macam kemungkinan, saya ingin menggarisbawahi peranan institusi dan organisasi pada pemanfaatan teknologi. Mengapa saya memilih ini? Karena di sekitar saya, menurut saya, banyak perhatian diberikan pada pengelolaan teknologi dan sumber dayanya. Namun tidak cukup banyak perhatian diberikan pada kondisi kontekstual yang melandasi sebuah teknologi dapat dikembangkan, digunakan, dan bermanfaat. Sebuah pandangan kritis dari peneliti-peneliti ternama di bidang sistem informasi seperti Michael myers - bukan saudaranya penyanyi, John Mayer-, Heinz Klein, Orlikowsky, dan Baroudi, mengatakan bahwa kita memiliki kemampuan mengubah situasi kita, tetapi kapasitas untuk berubah dibatasi oleh sistem ekonomi, politik, maupun budaya dominan yang berlaku (Silva, 2007). Pada pandangan ini, pengetahuan diasumsikan berlandaskan pada praktek-praktek di sosial dan sejarah (Marabelli & Galliers, 2017; Zuboff, 1988). Literatur yang saya baca menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang sangat kuat antara aktor sosial dan teknologi dijital (Priharsari et al., 2020; Priharsari & Abedin, 2021b; van den Broek et al., 2021). Saya memberikan contoh sebuah penelitian yang seringkali saya jadikan contoh juga di kuliah saya. Sebuah penelitian di Taiwan yang dipublikasikan tahun 2012, oleh Mei-Lin Young dan kawan-kawan tentang knowledge management systems (Young et al., 2012). Sudah cukup lama, tapi saya rasa masih relevan untuk saya sebutkan disini. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa, knowledge management systems tidak berhasil di Taiwan karena adanya budaya menjaga nama baik diri sendiri dan orang lain yang membuat mereka tidak bebas membagi pengetahuannya. Dari beberapa publikasi saya, serta juga bersumber dari penelitian yang sedang saya lakukan, pelajaran yang saya dapatkan adalah besarnya peranan manusia dan institusi serta organisasi dalam keberhasilan pemanfaatan dan pengembangan teknologi. Saya mengatakan institusi dan organisasi dengan berbeda. Yang saya maksud dengan organisasi adalah Lembaga formal, sedangkan institusi adalah norma atau aturan mengenai suatu aktivitas masyarakat. Dengan kata lain, institusi adalah sesuatu yang lebih abstrak dari organisasi. Saya mempelajari beberapa komunitas online dan saya melihat bahwa komunitas yang cair, terbuka akan perubahan, akan terus-menerus mengubah cara pandang mereka akan sesuatu. Apa yang saya tampilkan ini adalah hasil penelitian saya yang baru saja dipublikasi pada sebuah jurnal, yaitu Information Technology & People (Priharsari & Abedin, 2021a). Dengan mencapai sebuah kesepakatan dan bersama-sama, berkolaborasi, anggota komunitas akan melihat cara baru untuk bekerja sama yang ternyata secara ajaib dapat melihat teknologi yang sama dari sisi berbeda dan memanfaatkannya dengan berbeda. Padahal teknologi yang digunakan tetap. Inovasi-inovasi terjadi meskipun dibatasi ketidakmampuan mengubah teknologi material. Inovasi tersebut juga terjadi pada cara pandang melihat teknologi sehingga mengubah gaya dalam menggunakan teknologi yang kemudian menjadi cara baru memanfaatkan sebuah teknologi. Jadi, inovasi tidak hanya terbatas pada menghasilkan produk baru, melihat barang yang sama dengan perspektif berbeda dan menggunakannya secara berbeda pun juga dapat menjadi sebuah inovasi. Diambil dari Priharsari, D., and Abedin, B. (2021) Orchestrating Value Co-Creation in Online Communities as Fluid Organizations: Firm Roles and Value Creation Mechanisms. Information Technology & People (Priharsari & Abedin, 2021a) Bagaimana aktor sosial mempengaruhi teknologi sudah menjadi perhatian bidang sistem informasi selama beberapa dekade ini. Banyak penelitian telah dilakukan, misalnya: bagaimana cara pandang sistem analis akan mempengaruhi desain sebuah teknologi. Hal itupun dapat dipengaruhi oleh minat tertentu pada grup-grup tersebut. Kita juga mengetahui bahwa implementasi sistem informasi dapat juga mengundang konflik antara berbagai pemangku kepentingan, misalkan demo pengendara ojek saat gojek memperluas pasar. Apa yang saya ingin tegaskan adalah, adanya pandangan yang relatif tidak konvensional yang sering disebut sebagai pandangan kritis, tentang bagaimana teknologi dimaknai (Beckett & Myers, 2018; Hinings et al., 2018; Zuboff, 1988). Biasanya, teknologi dimaknai sebagai artifak yang netral. Artinya apa, artinya teknologi adalah alat yang penggunaannya dan aplikasinya dapat diperkirakan atau deterministik. Pandangan kritis tidak memandang teknologi seperti itu. Pandangan kritis melihat teknologi sebagai artifak yang merupakan hasil pergulatan politik, sehingga mereka membawa sebuah kepentingan tertentu. Sehingga, dapat dikatakan bahwa artifak teknologi tidak murni hasil dari proses desain dan rekayasa, tetapi sebuah produk yang merepresentasikan perbedaan dalam melihat dunia. Saya yakin, grup IT di kampus maupun programmer-nya (misal PSIK) paling paham tentang ini. Oleh karena itu, bagaimana sebuah teknologi bermanfaat bagi penggunanya, dapat dijelaskan dengan pemahaman yang baik tentang bagaimana sejarah dan interpretasi lokal yang berada di sekitar. Teknologi membutuhkan kontekstualisasi, yang artinya apa? Artinya tidak hanya melihat teknologi dari sisi desainer, tetapi juga dari konteks situasi yang melandasi teknologi tersebut diaplikasikan. Misalnya, hal yang menarik dan terjadi di sekitar kita adalah, penggunaan e-mail. Meskipun e-mail dapat diakui sebagai alat komunikasi resmi, di Indonesia secara umum, atau di lingkungan kampus, email seringkali menjadi alat kedua mengalahkan whatsapp. Saya sering melihat situasi responsif pada WA, tidak responsif pada e-mail. Akhir-akhir ini, ada wacana untuk memberikan notifikasi dari aplikasi akademik, atau lainnya yang terotomatis ke WA, bukan ke e-mail. Mengapa dalam sebuah organisasi, lebih mudah menggunakan WA daripada e-mail, sementara organisasi lain, e-mail lebih populer daripada WA? Terkesan sederhana, tetapi implikasi dari hal ini menurut saya luar biasa. Banyak lembaga publik yang mencantumkan e-mail pada websitenya, tetapi saat dikontak ke e-mail tersebut, puluhan hari tidak juga mendapat balasan. Implikasi lainnya, hanya orang-orang tertentu yang memiliki nomor kontak petugas dan kenal dengan mereka yang bisa mendapatkan pelayanan atau informasi lebih baik. Belum lagi dengan kontak pribadi yang tersebar kemana-mana, membuka kemungkinan tidak jelasnya antara jam kerja dan jam istirahat di rumah. Tanpa disadari, hal tersebut berdampak pada kualitas layanan, kepercayaan publik, dan kesejahteraan karyawan. Ada yang berpikir bahwa dengan mewajibkan, nanti karyawan akan menerima dan terbiasa. Saya sering mendengar kalimat, “dipaksa saja dahulu, nanti biasa”. Lalu, apakah dengan mengeluarkan aturan wajib menggunakan e-mail, maka seluruh karyawan akan pasti menggunakan e-mail, sementara sebelumnya sudah terbiasa dengan menggunakan WA? Saya tidak tahu, namun, sudah cukup banyak penelitian terdahulu yang menunjukkan perlawanan kuat dari aktor-aktor sosial terhadap kewajiban menggunakan sebuah teknologi, dapat berakhir pada kegagalan implementasi (Doolin, 2004; von Briel & Recker, 2017; Young et al., 2012). Padahal kita semua tahu betul, investasi teknologi besarannya tidak main-main. Dari contoh sederhana tersebut, kita dapat melihat dimensi teknologi yang tidak hanya terbatas kepada teknologinya saja. Teknologi tersebut membawa misi mengubah, namun manusia juga memiliki kuasa untuk resist, bertahan, memilih tidak menggunakan, atau mencari cara lain menggunakan. Bagi organisasi yang memang ingin melakukan transformasi teknologi, tentunya pemahaman akan situasi kontekstual organisasi mereka sangat diperlukan demi keberhasilan transformasi. Situasi kontekstual ini tidak terbatas pada apa yang ada di organisasi, tetapi juga pada sejarah, sosial, dan psikologi. Sehingga jelas, persoalan teknologi sebetulnya sebuah persoalan multidisipliner. Menyelesaikan persoalan tersebut dibutuhkan kolaborasi dari berbagai bidang ilmu, baik sosial maupun eksak. Dibutuhkan juga berbagai paradigma, dari positivism, interpretivism, maupun critical perspektif. Semakin banyak variasi disiplin ilmu yang berkolaborasi, semakin banyak ide-ide yang dapat dibangkitkan. Pada penerbitan kali ini, JUST-SI menampilkan 5 naskah yang menunjukkan keragaman implementasi keilmuan sistem informasi di berbagai bidang.
Perbandingan Perubahan Pengalaman Pengguna Aplikasi Transportasi Online Menggunakan Metode UX Curve Az-zahra, Hanifah Muslimah; Kamiza, Vicky el Fathea; Priharsari, Diah
JURNAL TECNOSCIENZA Vol. 6 No. 2 (2022): TECNOSCIENZA
Publisher : JURNAL TECNOSCIENZA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51158/tecnoscienza.v6i2.722

Abstract

Teknologi informasi membuka akses terhadap perkembangan ekonomi digital, salah satunya bisnis transportasi online. Terdapat dua layanan transportasi online terbesar di Indonesia, yaitu Gojek dan Grab. Dalam persaingan produk digital, pengalaman pengguna (user experience) adalah salah satu aspek yang penting. Penelitian ini membandingkan perubahan pengalaman pengguna terhadap dua aplikasi: Gojek dan Grab. UX Curve merupakan metode penelitian yang digunakan untuk menangkap pengalaman pengguna dalam jangka panjang berdasarkan ingatan responden. Terdapat 10 responden dengan rentang umur 17-39 tahun yang dilibatkan dalam penelitian. Masingmasing responden diminta menggambarkan lima kurva untuk masing-masing dimensi UX Curve: general UX, aesthetic, ease-of-use, utility, dan reliable untuk masing-masing aplikasi. Hasil analisis perbandingan menunjukkan bahwa pengguna Gojek dan Grab sama-sama merasakan peningkatan pengalaman pengguna sejak pertama kali menggunakan aplikasi. Pada awal penggunaan Grab dipersepsikan lebih positif daripada Gojek. Namun kemudian pengalaman penggunaan Gojek mengalami peningkatan sedangkan Grab mengalami penurunan. Walaupun pada akhirnya, pengalaman pengguna kedua aplikasi cenderung meningkat. Seluruh responden melaporkan pengalaman positif juga negatif yang mengakibatkan peningkatan atau penurunan grafik pada kurva. Alasan perubahan yang paling banyak disampaikan oleh responden terkait aspek usability dan utility.
Aplikasi “SILADIKTI” Sebagai Penunjang Peningkatan Karir Dan Kinerja Dosen Thohari; Tolle, Herman; Akbar, Sabriansyah Rizqika; Priharsari, Diah
JST (Jurnal Sains dan Teknologi) Vol. 13 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jstundiksha.v13i1.73994

Abstract

Pembinaan dan pengembangan profesi dosen melalui jabatan fungsional (asisten ahli, lektor, lektor kepala, dan profesor) serta karier (penugasan, kenaikan pangkat) dilakukan oleh LLDIKTI VII melalui sistem SILADIKTI. Namun, Perguruan Tinggi menghadapi tantangan dalam mengakses SILADIKTI untuk peningkatan karir dan kinerja dosen, sehingga diperlukan assessment. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aplikasi SILADIKTI sebagai penunjang peningkatan karir dan kinerja dosen. Penelitian ini termasuk ke dalam penelitian kualitatif. Subjek yang terlibat dalam penelitian ini adalah tiga perguruan tinggi yang namanya disamarkan. Proses pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode pengumpulan data berupa observasi, wawancara, kuesioner dan dokumentasi. Instrumen pengumpulan data menggunakan lembar kuesioner. Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan metode analisis data deskriptif kualitatif. Hasil penelitian yaitu hasil assessment melalui dua domain tersebut ditemukan adanya keterbatasan operator bidang pengajuan karir dan kinerja dosen. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa, diperlukan pemerataan peningkatan kualitas SDM pada skil IT khususnya operator SILADIKTI pada masing-masing PT disamping pemahaman pada dosen agar tidak lagi bertumpu pada satu operator dalam mensupport peningkatan karir dan kinerja dosen.
Critical Realism sebagai Alternatif Landasan Filosofis di Penelitian Sistem Informasi Priharsari, Diah
Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Vol 8 No 3: Juni 2021
Publisher : Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25126/jtiik.2021833383

Abstract

Tulisan ini dibuat untuk memperkenalkan landasan filosofis critical realism atau yang pada sebuah artikel di Indonesia disebut sebagai realisme kritis di akademisi dan praktisi sistem informasi Indonesia. Critical realism diajukan oleh beberapa peneliti terdahulu sebagai metode alternative untuk membantu perkembangan keilmuan di bidang sistem informasi. Banyak akademisi terdahulu yang mengkritik ketidakmampuan keilmuan sistem informasi menyumbangkan teori. Pada tulisan ini dibahas landasan critical realism dan bagaimana critical realism dapat membantu perkembangan teori. Selanjutnya, juga diberikan contoh penelitian di bidang sistem informasi yang menggunakan critical realism. AbstractThis essay was made to introduce critical realism as a philosophical foundation in information systems research. The expected audience for this writing is Indonesian information systems academia and practitioners. Information systems researchers suggest that critical realism affords the potential to establish alternative approach to theorising in information systems. There have been several articles made by senior scholars criticising the state of theorising in information systems. In this essay, we described the basic information about critical realism and how critical realism may help to theorising in information systems. We also showed an example of recent critical realism research in information systems and listed additional recent papers using CR.
Systematic Literature Review di Bidang Sistem Informasi dan Ilmu Komputer Priharsari, Diah
Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Vol 9 No 2: April 2022
Publisher : Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25126/jtiik.2022923884

Abstract

Salah satu pendekatan studi pustaka adalah Systematic Literature Review (SLR). Walaupun sudah terdapat banyak naskah berbahasa Indonesia atau asing yang menggunakan SLR sebagai metodologi dalam penelitiannya, namun naskah berbahasa Indonesia yang mengulas tentang SLR masih terbatas atau malah tidak ada. Pada paper ini dirangkumkan langkah-langkah SLR berdasarkan publikasi-publikasi di jurnal berkualitas. Naskah ini berisi panduan untuk melakukan SLR bagi peneliti-peneliti pemula. Isi naskah ini meliputi: metode SLR yang terdiri dari empat tahap (menentukan tujuan SLR, inisiasi dan pemilihan pustaka, analisis dan coding, dan perencanaan untuk mempresentasikan hasil), penentuan kualitas SLR, dan kritik untuk SLR. AbstractThis paper provides a guideline for novel researchers to conduct SLR. Although SLR method is quite familiar in Indonesia, a complete essay that explains about SLR in Indonesia is hard to find. This paper resumes SLR stages from various papers published in high quality journals. This paper includes: four stages of conducting SLR (identifying the SLR objectives, searching strategies dan pilot searching, coding and analysing, and presenting the findings), things to be considered to evaluate SLR quality, and critics to SLR.