Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : PRIMER (Prima Medical Journal)

GAMBARAN KLINIS DAN PENATALAKSANAAN GAGAL GINJAL KRONIK PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT ROYAL PRIMA MEDAN OK Yulizal
PRIMER (Prima Medical Journal) Vol. 5 No. 1 (2020): Edisi April
Publisher : Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/pmj.v3i1.1168

Abstract

Gagal ginjal kronik (GGK) adalah suatu proses patofisiologi dengan etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif dan pada umumnya berakhir dengan gagal ginjal. Selanjutnya gagal ginjal adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang ireversibel pada suatu saat yang memerlukan terapi pengganti ginjal yang tetap seperti dialisis atau transplantasi ginjal. Untuk mengetahui gambaran kasus gagal ginjal kronik di Rumah Sakit Royal Prima Medan, telah dilakukan penelitian deskriptif retrospektif dengan desain studi kasus. Populasi seluruh data rekam medis pasien gagal ginjal kronik di Rumah Sakit Royal Prima Medan yang berjumlah 100. Besar sample yang dibutuhkan diambil secara purposive. Ditemukan umur termuda 17 tahun dan tertua 78 tahun, dan kelompok umur terbanyak >60 tahun 30%. Jenis kelamin terbanyak laki-laki 69%. Keluhan utama terbanyak mual 28%. Keluhan tambahan terbanyak edem perifer 38%. Pemeriksaan fisik tertinggi adalah peningkatan tekanan darah (hipertensi) 56%. Kadar ureum terbanyak > 100 mg/dl 79%. Kadar kreatinin terbanyak > 4 g/dl 100%. Kadar hemoglobin tertinggi >10g/dl 41%. Penatalaksanaan terbanyak hemodialisis 91%. Dalam melihat angka kejadian diatas sebaiknya diperlukan upaya pencegahan dengan mengubah pola hidup sehat dengan menjauhi faktor resiko pemicu munculnya berbagai penyakit yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit gagal ginjal kronik.
DEPRESI PADA LANSIA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR. TENGKU MANSYUR TANJUNGBALAI TAHUN 2015 Nur Astari; OK Yulizal; Armon Rahimi; Herlina yani; Anita Rosari; Wika Hanida; Yensuari -
PRIMER (Prima Medical Journal) Vol. 7 No. 1 (2022): Edisi April
Publisher : Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/pmj.v7i1.2788

Abstract

Hiperglikemik merupakan keadaan adanya defek pada sekresi atau kerja  insulin yang dapat berakibat diabetes melitus. Diabetes yang berlangsung lama memungkinkan pasien mengalami depresi  yang ditandai dengan mood tertekan, kehilangan kesenangan atau minat, perasaan bersalah atau harga diri rendah, gangguan makan atau tidur, kurang energi, dan konsentrasi yang rendah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya depresi pada penderita lansia dengan diabetes melitus tipe 2. Metode: Penelitian analitik dengan desain cross sectional study dan case control. Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada lansia yang menderita DM dan non DM. Hasil: Subyek dalam penelitian ini berjumlah 176 orang lansia, terdiri dari 88 kelompok kasus (DM) dan 88 kelompok kontrol (non DM), didapatkan penderita DM yang paling banyak mengalami depresi berjenis kelamin laki-laki berjumlah 31 orang, non depresi terbanyak pada perempuan 22 orang. Mereka yang menderita DM 1,9 kali lebih beresiko untuk mengalami depresi dibanding non DM (OR = 1,9 (interval keyakinan 95%) 1,044 - 3,457, P = 0,036). Rerata lama penyakit pada subyek yang depresi antara DM dan non DM berbeda bermakna (5,51 ± 2,66 vs 3,54 ± 2,22, P = 0,000). Rerata KGD pada penderita DM yang depresi dibanding non depresi berbeda bermakna (310,31 ± 101,01 vs 262,89 ± 92,78, P = 0,029). Rerata lama penyakit untuk tingkatan depresi (ringan, sedang, berat) berbeda secara bermakna (3,00 ± 0,00 vs 4,97 ± 2,36 vs 7,06 ± 2,70, P = 0,000). Kesimpulan: Lansia penderita DM lebih beresiko mengalami depresi dibanding lansia non DM. Rerata lama penyakit pada subyek yang depresi antara DM dan non DM berbeda bermakna. Rerata KGD pada penderita DM yang depresi dibanding non depresi berbeda bermakna. Rerata lama penyakit untuk tingkatan depresi (ringan, sedang, berat) berbeda secara bermakna.