Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Ruang

'Tetean' Spaces Culture On The Coastal Communities In Central Sulawesi A.M. Yamin Astha; Ahda Mulyati; Muhammad Najib
JURNAL RUANG / ISSN : 2085-6962 Vol 17 No 2 (2023): JURNAL RUANG
Publisher : Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Tadulako Kampus Bumi Tadulako Tondo Jl. Sukarno-Hatta Km.9, Palu 94118 e-mail :Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Tadulako Kampus Bumi Tadulako Tondo Jl. Sukarno-Hatta Km.9, Palu 941

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/ruang.v17i2 September.163

Abstract

Central Sulawesi has the longest coastlines in Sulawesi and consists of the coastal and the small islands occupied by communities. In community life, cultures play an essential role in the establishment of settlements, especially in the settlement areas with specific and unique characteristics. The coastal communities have unique cultural traditions, mainly inhabited by the coastal settlements in the coastal regions and the small islands. Cultural uniqueness is reflected in their territory with the reflection of the characteristics of the function and the form. Concerning various aspects of the local culture, including the cultural and hereditary character passed down from generation to generation. The study was conducted with a qualitative approach to phenomenology through data retrieval of naturalistic and inductive analysis techniques. Coastal settlements are inhabited by families or groups who have family ties. They are known as sailors, with their principal livelihood as a fisherman. Therefore, they build a settlement in the water or near the water. It comprised residential concessions with houses on stilts, using wood materials that were partly or wholly on the water. The primary orientation was the sea, so staying home to have a two-way street toward the sea and as a public space and social space. Each unit of the house neighborhood is connected with the road or standing in the water tetean. Tetean are made of wood and use the wooden pillars that plug into the water (the sea). Tetean is not only an access but a multi-purpose space, where a 'tetean' is used as a play space, relationship space, event space (circumcision, marriage, school ceremonies, etc.), and space to work and make a living. These activities support the cultural life of coastal communities. The local culture of coastal communities is very instrumental in establishing the settlements, especially in the form, the order of settlements and neighborhoods, as well as supporting elements.
Potensi dan Permasalahan Pengembangan Kawasan Permukiman Wisata Di Dusun Salena Palu Muhammad Najib
JURNAL RUANG / ISSN : 2085-6962 Vol 2 No 1 Maret (2010): RUANG : JURNAL ARSITEKTUR
Publisher : Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Tadulako Kampus Bumi Tadulako Tondo Jl. Sukarno-Hatta Km.9, Palu 94118 e-mail :Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Tadulako Kampus Bumi Tadulako Tondo Jl. Sukarno-Hatta Km.9, Palu 941

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/ruang.v2i1 Maret.108

Abstract

Secara fisik, lingkungan permukiman sebagai suatu lingkungan tempat kediaman yang di dalamnya terdapat karakteristik sosial yang spesifik karena terjadinya hubungan pribadi (personal contact). Dalam pengertian yang lebih luas, kehadiran manusia akan menciptakan rumah dan lingkungan masyarakat beserta alam sekitarnya sesuai kepentingannya. Pariwisata mempunyai peran dan fenomena yang kompleks dalam perubahan lingkungan permukiman terutama pada lingkungan fisiknya. Masyarakat lokal sebagai ’stakeholder’ dalam penyusunan konsep pengembangan pariwisata, hendaknya diikutsertakan dari mulai kegiatan perencanaan sampai pada operasionalisasi konsep. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Salena sebagai wilayah hinterland kota, memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan permukiman wisata karena beberapa hal, yaitu; merupakan desa dipinggiran kota Palu (desa tertinggal) yang menjadi salah satu daya tarik (obyek) wisata melalui wujud seni arsitektur tradisional bangunan rumah dan sebagai lingkungan permukiman perdesaan tradisional; wujud perumahan dan lingkungannya mencerminkan wujud tatanan kehidupan kolektif yang sangat dinamis; memiliki aset alam dan aset budaya yang sangat menarik sebagai masyarakat terasing ; daya tarik pariwisata budaya sangat tergantung pada kesinambungan tindak konservasi terhadap alam dan budaya yang dimiliki oleh masyarakat dan lingkungannya; serta dapat diterapkannya konsep tribina yaitu bina lingkungan, bina masyarakat dan bina usaha dalam pengembangan pengelolaan kawasan permukiman di dusun Salena.