Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

PANDANGAN ULAMA BANGKALAN TENTANG URGENSI DAN IMPLIKASI SERTIFIKASI HALAL TERHADAP KEPERCAYAAN KONSUMEN: STUDI KASUS PADA OLAHAN BEBEK SONGKEM PAK SALIM SAMPANG Isfarsia Nilam Ayu Azikra; Holis; Ahmad Makhtum
Jurnal Media Akademik (JMA) Vol. 3 No. 11 (2025): JURNAL MEDIA AKADEMIK Edisi November
Publisher : PT. Media Akademik Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62281/2k2x0g77

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh krisis kepercayaan konsumen Muslim terhadap system jaminan produk halal (JPH) di Indonesia, yang dipicu kasus kontaminasi unsur haram pada produk bersertifikat oleh BPJPH dan BPOM pada 2025. Hal ini menimbulkan keraguan (was-was) dan menekankan perlunya evaluasi ulang sertifikasi halal. Fokusnya pada kuliner tradisional Madura, yakni Bebek Songkem Pak Salim Sampang, yang memiliki nilai budaya dan ekonomi tinggi namun memerlukan verifikasi kehalalan oleh otoritas agama lokal. Celah empiris terletak pada studi sebelumnya yang jarang mempertimbangkan perspektif ulama Bangkalan sebagai otoritas moral (Ghuru) dalam mengawal produk lokal. Tujuan penelitian adalah menganalisis pandangan ulama Bangkalan tentang urgensi sertifikasi halal dalam pengelolaan Bebek Songkem, mengevaluasi kepatuhan proses produksi terhadap kehalalan bahan baku dan prosedur Dhabihah Syar'iyyah untuk menghindari unsur syubhat, serta menganalisis implikasinya terhadap peningkatan kepercayaan konsumen Muslim. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif di Bangkalan dan Sampang. Data primer dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi untuk mendapatkan data langsung dari lapangan. Hasil utama menunjukkan bahwa ulama Bangkalan menempatkan sertifikasi halal sebagai mandat syariah yang mendesak (wajib syar’i), berakar pada maqashid syariah, khususnya hifz al-din (pemeliharaan agama) dan hifz al-nafs (pemeliharaan jiwa melalui aspek thayyib). Proses pengolahan tradisional Bebek Songkem (kukus/ungkep) memenuhi aspek thayyib, namun analisis kritis mengungkap inkonsistensi dalam Dhabihah Syar'iyyah (penyembelihan tidak sempurna) yang berpotensi membuat daging menjadi maitah (haram mutlak). Risiko syubhat tinggi akibat potensi perubahan bumbu pasca sertifikasi, mengaktifkan kaidah “Idza ijtama’a al-halal wa al-haram ghuliba al-haram”. Implikasi terhadap kepercayaan konsumen secara signifikan tidak hanya bergantung pada logo formal (Rato), melainkan dimutlakkan oleh Hegemoni otoritas ulama (Ghuru) sebagai gerbang legitimasi spiritual, di mana sertifikasi halal berfungsi sebagai jaminan universal untuk menghilangkan keraguan (syubhat).
Persepsi Mahasiswa terhadap Lahjah Arab Penutur Non-Native: Analisis Sosiolinguistik: Persepsi Dialek Arab Non-Asli di Kalangan Mahasiswa Indonesia: Sebuah Studi Sosio-Linguistik Fatia Rahmanita; Maryam Nur Annisa; Holis; Syaiful Mustofa
ELOQUENCE : Journal of Foreign Language Vol. 4 No. 3 (2025): DECEMBER
Publisher : Language Development Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58194/eloquence.v4i3.3029

Abstract

Background: Arabic, as a global language, is learned by students across Indonesia who bring diverse linguistic and cultural backgrounds. These differences influence pronunciation, identity expression, and interaction dynamics, particularly when non-native dialects emerge in academic communication. Purpose: This study analyzes Indonesian graduate students’ perceptions of non-native Arabic dialects, focusing on linguistic variation, social interaction, cultural identity, and academic social norms. Method: This qualitative case study involved five graduate students from Aceh, Java, Bone, Maluku, and Madura. Data were collected through semi-structured interviews conducted over two weeks. Thematic analysis following Braun & Clarke’s (2006) six-phase model was used, supported by member checking to ensure credibility. Result and Discussion: Students viewed dialect variation as a natural reflection of cultural diversity. Some reported challenges in understanding pronunciation differences, while others perceived interactions across dialects as enriching and supportive of linguistic tolerance. Academic norms still prioritize fushah Arabic, yet students’ regional identities remain evident in their speech.. Conclusions and Implications: This study findings highlight the importance of integrating sociolinguistic awareness into Arabic curricula to improve cross-dialect communication competence, cultural sensitivity, and inclusive learning practices