Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Penyulingan Minyak Atsiri Serai Wangi Dengan Metode Stabilitas Suhu dan Lama Penyulingan untuk Meningkatkan Rendemen Rofiatun Solekha; Putri Ayu Ika Setiyowati; Badriyatul Musyarofah; Salasun Nisah; Mufti Ari Bianto; Bagus Dwi Jauhari
BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology) Vol 6, No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/best.v6i1.6519

Abstract

Serai wangi merupakan tanaman yang mampu menghasilkan minyak dengan nilai jual tinggi. Pemilihan Teknik dan metode yang tepat dalam proses penyulingan serai wangi perlu diperhatikan untuk meningkatkan rendemen dari serai wangi. Suhu dan lama penyulingan akan berpengaruh terhadap banyaknya rendemen yang akan didapatkan dalam satu kali penyulingan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui optimalisasi suhu dan lama penyulingan terhadap banyaknya rendemen yang didapatkan. Metode yang digunakan yaitu metode destilasi dengan 2 faktor yaitu factor suhu dan lama penyulingan. Suhu yang digunakan dalam proses penyulingan yaitu 90oC dan 100oC dan lama penyulingan  90 menit, 120 menit dan 150 menit.  Hasil destilasi penyulingan minyak atsiri serai wangi yang menghasilkan rendemen terbanyak adalah penyulingan dengan menggunakan suhu 100oC dan waktu 120 menit yaitu menghasilkan rendemen 45% pada penyulingan daun serai wangi seberat 15 kilo. Sifat fisik tertinggi dinilai dengan harga densitas rendemen yaitu 0,9067 g/ml pada  suhu 110oC yaitu dan waktu 120 menit. Semua variabel dalam penelitian memenuhi standar SNI dengan pengukuran indeks bias. Tekanan destilasi dan lama penyulingan mempengaruhi banyaknya rendemen serta sifat fisik rendemen
PENGARUH OPTIMALISASI SUHU INKUBATOR TERHADAP EMBRIOGENESIS DAN ORGANOGENESIS PADA AYAM (Gallus gallus domesticus) SELAMA 21 HARI INKUBASI Putri Ayu Ika Setiyowati; Rieke Dwi Ayuni; Ayu Dewi Wulandari; Nur Fatimah Azzahra Azzahra; Filliana Andalucya; Salasun Nisa; Arsanul Khakim; Syafiq Alfanani; Imam Hanafi; M. Syahrur Ramadhan
BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology) Vol 6, No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/best.v6i1.6619

Abstract

Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui dan memahami perkembangan embrio telur ayam, memahami fase-fase perkembangan embrio ayam (Gallus gallus domesticus), mengerti hasil penelitian dari setiap jurnal yang dibahas. Pada alat dan bahan seperti cawan petri, gunting bedah, pisau bedah, incubator, spidol permanen, kamera hp,senter. Bahan yang digunakan yaitu telur ayam (Gallus gallus domesticus). Cara kerja yang dilakukan dengan menyiapkan telur ayam sebanyak lebih dari 21 butir dengan umur 0 hari, untuk menghindari kegagalan pada saat pengamatan. Setelah itu masing masing dari telur diberi nomor dengan spidol permanen dan dimasukkan satu persatu telur ke dalam inkubator pada suhu 29-30 derajat. Pengamatan dilakukan setiap hari selama 21 hari perkembangan telur tersebut. Hasil dari pengamatan ini yaitu terbentuknya tubuh embrio ayam (Gallus gallus domesticus). setiap tahapan perkembangannya, yaitu meliputi  terbentuknya lipatan-lipatan tubuh sehingga tubuh embrio sudah hampir terpisah dari kuning telur. Adanya lipatan-lipatan tubuh dan batas antara daerah intra dan extra embrio semakin jelas. Membuat organ-organ embrio ayam semakin jelas terlihat.Kata kunci: embriogenensis, organogenesis, suhu optimal, 21 hari, Gallus gallus domesticus.
Efektifitas Imunomostimulant Ekstrak Etanolik Umbi Talas Jepang (Colocasia esculenta var. antiquorum) sebagai Peningkat Sistem Imun Melalui Uji In-Vivo Dwi Zulianti; Putri Gita Ayu Savitri; Chasanah Uswatun; Filliana Andalucya; Putri Ayu Ika Setiyowati
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 8, Nomor 1, Tahun 2023
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.8.1.2023.20-28

Abstract

Salah satu sumber pangan fungsional yang berpotensi untuk meningkatkan sistem imun yaitu umbi talas jepang (Colocasia esculenta var. antiquorum). Tujuan penelitian ini mengetahui efek esktrak talas jepang dengan variasi dosis tertentu terhadap peningkatan sel imun (leukosit, monosit, dan limfosit) sebagai salah satu indikator meningkatnya sistem imunitas. Metode ekstraksi menggunakan teknik maserasi. Terdapat 2 kelompok kontrol yaitu control positif (tanpa injeksi bakteri maupun ekstrak), kontrol negatif (injeksi i.p bakteri S. aureus 0,5 Mc Farland sebanyak 0,2 mL), kelompok perlakuan dibagi menjadi 3 kelompok yaitu: perlakuan 1,2, dan 3 (P1, P2, dan P3), dengan perlakuan injeksi sub-cutan ekstrak C. esculenta dengan dosis berturut-turut dari rendah ke tinggi yaitu 50,100, dan 200 mg/kg bb selama 2 minggu lalu dibiarkan selama 1 minggu, pada hari ke 21 diinjeksi bakteri Staphylococcus aureus (S. aureus). Pengukuran parameter sel imun dilakukan pada hari ke-7, ke-14, dan ke-21, Analisis data menggunakan ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak C. esculenta var. antiquorum dapat meningkatkan jumlah leukosit, persentase monosit dan persentase limfosit secara signifikan dibanding kelompok kontrol baik sebelum maupun sesudah diinfeksi oleh bakteri S. aureus. Dosis tinggi ekstrak talas jepang terbukti memberikan efek imunostimulan paling optimal. The one of potential food to increasing immune system is Japanese taro tuber (Colocasia esculenta var. antiquorum). In this study, determine the effect of japanese taro with variation dose to increase immune cells like leukocytes, monocytes, and lymphocytes. Extraction method using maceration technique. There were 2 control groups, namely positive control (without injection of bacteria or extract), negative control that injection by Staphylococcus aureus bacteria 0.5 Mc Farland as much as 0.2 mL, the treatment group was divided into 3 groups P1, P2, and P3, treated with sub-cutaneous injection of  japanese taro extract at variation doses from low to high doses, there were 50,100, and 200 mg/kg bw for 2 weeks and then left for 1 week, on the 21st day Staphylococcus aureus (S. aureus) was injected. Immune cell parameters were measured on the 7th, 14th, and 21st days. Data analysis was performed using ANOVA. The results showed that the extract of C. esculenta var. antiquorum can increase the number of leukocytes, the percentage of monocytes and the percentage of lymphocytes significantly compared to the control group both before and after being infected by S. aureus bacteria. The high dose of japanese taro extract was the optimal doses as imunostimulant.
Analisis Kelimpahan dan Karakteristik Mikroplastik pada Perairan Hilir Sungai Bengawan Solo Setiyowati, Putri Ayu Ika; Bukhori, Fika Nur Fitriana Putri; Ramadani, Aisyah Hadi
BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology) Vol 7, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/best.v7i1.8632

Abstract

Mikroplastik merupakan komponen plastik dengan ukuran ( 5 mm). Banyaknya mikroplastik yang terdapat pada air di bagian hilir Sungai Bengawan Solo disebabkan oleh sampah plastik yang banyak terdapat di sepanjang badan sungai. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik mikroplastik pada perairan hilir Sungai Bengawan Solo. Metode yang digunakan untuk mengidentifikasi mikroplastik dalam air mengacu pada NOAA atau National Oceanic and Atmospheric Administration. Jenis mikroplastik seperti fragmen, pelet, serat, dan film diidentifikasi di tiga lokasi pengambilan sampel hilir. Mikroplastik ini tersedia dalam berbagai warna, antara lain hitam, coklat, merah, hijau, dan biru. Selain itu, ukuran mikroplastik di air sungai Bengawan Solo terdiri dari berbagai variasi, dengan kisaran 150,00 µm hingga 478,88 µm. Kelimpahan mikroplastik pada air sungai Bengawan Solo menunjukkan nilai sig = 0,644 yang berarti 0,05 artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada ketiga lokasi pengambilan sampel. Hasil kelimpahan dan karakteristik mikroplastik sejalan dengan data parameter lingkungan di masing-masing lokasi sampling. Pada data  pengukuran parameter pH, suhu, DO, dan salinitas menunjukkan nilai p sig = 0,05 yang artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara parameter kualitas air di ketiga lokasi samplin. Temuan ini menggarisbawahi kompleksitas dampak lingkungan yang dapat timbul dari peningkatan mikroplastik di lingkungan perairan.
The Quantification of Lead Heavy Metals Levels on Mujair Fish (Oreochromis mossambicus) Organs From Brantas and Bengawan Solo River, East Java Province, Indonesia Putri Ayu Ika Setiyowati; Aisyah Hadi Ramadani; Suhariyati Suhariyati; M Ainul Mahbubillah
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 17, No 2 (2024): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractOreochromis mossambicus (O. mossambicus) frequently found in the Brantas and Bengawan Solo rivers, Java island, Indonesia. However, heavy metals produced from anthropogenic activities can enter the water and accumulate in organisms living in the river. This study aimed to determine the lead (Pb) heavy metal in the gills, flesh, and intestines of O. mossambicus living in the two aforementioned rivers and to measure the Pb levels in each river. The results showed that the Pb in the O. mossambicus organs in the Bengawan Solo river was as follows 3.159 mg/kg in the gills; 1.930 mg/kg in the intestine; and 2.511 mg/kg in flesh, while in the Brantas river it was follows 1.600 mg/kg in gills; 1.402 mg/kg in the intestine; and 1.455 mg/kg flesh. Pb levels in each river water were 0.568 mg/mL in the Brantas river and 0.525 mg/mL in the Bengawan Solo river. Based on the data obtained, it can be concluded that the Pb content in fish organs and river water has exceeded the quality standard for Pb levels according to the government regulation No.82 2001 (SNI 7387:2009), that is, 0.3 mg/kg in organs and 0.03 mg/L in water. The results of this study are expected to be a concern for the authorities in order to revitalize the river to restore the function and support the survival of river biota.AbstrakIkan mujair (Oreochromis mossambicus) banyak ditemukan di sungai Brantas dan Bengawan Solo, namun aktivitas antropogenik yang menghasilkan logam berat dapat masuk ke perairan sehingga terakumulasi dalam organisme yang hidup di perairan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam berat timbal (Pb) pada insang, daging, dan usus pada O. Mossambicus yang hidup di kedua sungai tersebut serta mengukur kandungan Pb pada masing-masing air sungai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan Pb pada organ O. mossambicus di sungai Bengawan Solo adalah sebagai berikut 3.159 mg/kg pada insang; 1.930 mg/kg di usus; dan 2.511 mg/kg pada daging, sedangkan di sungai Brantas adalah sebagai berikut 1.600 mg/kg pada insang; 1,402 mg/kg pada usus; dan 1,455 mg/kg pada daging. Kadar Pb pada masing-masing air sungai adalah 0,568 mg/mL (sungai Brantas) dan 0,525 mg/mL (sungai Bengawan Solo). Berdasarkan data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa kandungan Pb pada organ ikan maupun air sungai sudah melebihi baku mutu kadar Pb pada organ yaitu 0,3 mg/kg (SNI 7387:2009) dan 0,03 mg/L pada perairan (PP No.82 tahun 2001). Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi perhatian pihak-pihak terkait agar dapat melakukan revitalisasi sungai guna mengembalikan fungsi dan mendukung keberlangsungan hidup biota sungai.
Analisis Kelimpahan dan Karakteristik Mikroplastik pada Perairan Hilir Sungai Bengawan Solo Setiyowati, Putri Ayu Ika; Bukhori, Fika Nur Fitriana Putri; Ramadani, Aisyah Hadi
BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology) Vol 7, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/best.v7i1.8632

Abstract

Mikroplastik merupakan komponen plastik dengan ukuran ( 5 mm). Banyaknya mikroplastik yang terdapat pada air di bagian hilir Sungai Bengawan Solo disebabkan oleh sampah plastik yang banyak terdapat di sepanjang badan sungai. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik mikroplastik pada perairan hilir Sungai Bengawan Solo. Metode yang digunakan untuk mengidentifikasi mikroplastik dalam air mengacu pada NOAA atau National Oceanic and Atmospheric Administration. Jenis mikroplastik seperti fragmen, pelet, serat, dan film diidentifikasi di tiga lokasi pengambilan sampel hilir. Mikroplastik ini tersedia dalam berbagai warna, antara lain hitam, coklat, merah, hijau, dan biru. Selain itu, ukuran mikroplastik di air sungai Bengawan Solo terdiri dari berbagai variasi, dengan kisaran 150,00 µm hingga 478,88 µm. Kelimpahan mikroplastik pada air sungai Bengawan Solo menunjukkan nilai sig = 0,644 yang berarti 0,05 artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada ketiga lokasi pengambilan sampel. Hasil kelimpahan dan karakteristik mikroplastik sejalan dengan data parameter lingkungan di masing-masing lokasi sampling. Pada data  pengukuran parameter pH, suhu, DO, dan salinitas menunjukkan nilai p sig = 0,05 yang artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara parameter kualitas air di ketiga lokasi samplin. Temuan ini menggarisbawahi kompleksitas dampak lingkungan yang dapat timbul dari peningkatan mikroplastik di lingkungan perairan.
Pemberdayaan Kelompok Tani dalam Pemanfaatan Bakteri Fotosintesis sebagai Pupuk Nabati pada Tanaman Padi Trisnani Alif; Putri Ayu Ika Setiyowati; Aisyah Hadi Ramadani; Inayah Fitri; Dyah Ayu Sri Hartanti
TAAWUN Vol. 3 No. 01 (2023): TA'AWUN FEBRUARY 2023
Publisher : Pusat Penelitian Pengabdian Pada Masyarakat Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al-Fattah Siman Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37850/taawun.v3i01.335

Abstract

The use of anorganic fertilizers is most popular among farmers, the lack of subsidies from the government for anorganic fertilizers so that the scarcity of fertilizers becomes important problem for farmers. The purpose of this activity is to assist farmers in the use of photosynthetic bacteria as fertilizers for plants. The method used is in the form of counseling, and mentoring in the practice of cultivated bacterial photosynthesis for application in fields. The results of the activities showed that before the training the majority of trainees (82.5%) did not know and understand photosynthetic bacterial fertilizers, after training the majority of trainees (80.4%) knew and understood, and were skilled in making and using photosynthetic bacteria. Participation and enthusiasm were shown by the participants during the activity.
In silico research of anti-CHIKF phytoconstituent-based from Physalis peruviana leaves via molecular docking and dynamics analyses Setiyowati, Putri Ayu Ika; Mahbubillah, M. Ainul; Aini, Nur Sofiatul; Rachmawati, Yuanita
Genbinesia Journal of Biology Vol. 3 No. 1 (2023): November 2023
Publisher : Generasi Biologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55655/genbinesia.v3i1.62

Abstract

Chikungunya fever (CHIKF) is an infectious disease that has similar symptoms with dengue fever (DF). Several drugs have been offered to treat both dengue (DENV) and chikungunya virus (CHIKV). Investigating anti-CHIKF potential from nearby plants is one strategy to produce potential drug to reduce CHIKF in endemic countries. Physalis peruviana is one the promising object to be new anti-CHIKV drug candidate. This study aimed to analyze the anti-CHIKV agents from leaf parts of P. peruviana. Ligand and protein samples were collected from multiple sources. The phytoconstituents were evaluated their drug-likeness properties throughout SwissADME webservers. Selected ligands then docked via PyRX and measured the output by binding affinity. Visualization of the best outputs was carried out using BIOVIA Discovery Studio. CABS-flex was carried out to screen the RMSF of molecular dynamics activity of the best complex. The result showed that 1,2-benzenecarboxylic acid had the lowest binding affinity following suramin as control with -5.1 and -11.1 kcal/mol after targeting E2 domain protein of CHIKV. This led to the conclusion that 1,2-benzenecarboxylic acid could be forecast as predictive anti-CHIKF therapeutic candidate. Additional in vitro and in vivo studies are needed to validate this outcome.
The Quantification of Lead Heavy Metals Levels on Mujair Fish (Oreochromis mossambicus) Organs From Brantas and Bengawan Solo River, East Java Province, Indonesia Setiyowati, Putri Ayu Ika; Ramadani, Aisyah Hadi; Suhariyati, Suhariyati; Mahbubillah, M Ainul
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol. 17 No. 2 (2024): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractOreochromis mossambicus (O. mossambicus) frequently found in the Brantas and Bengawan Solo rivers, Java island, Indonesia. However, heavy metals produced from anthropogenic activities can enter the water and accumulate in organisms living in the river. This study aimed to determine the lead (Pb) heavy metal in the gills, flesh, and intestines of O. mossambicus living in the two aforementioned rivers and to measure the Pb levels in each river. The results showed that the Pb in the O. mossambicus organs in the Bengawan Solo river was as follows 3.159 mg/kg in the gills; 1.930 mg/kg in the intestine; and 2.511 mg/kg in flesh, while in the Brantas river it was follows 1.600 mg/kg in gills; 1.402 mg/kg in the intestine; and 1.455 mg/kg flesh. Pb levels in each river water were 0.568 mg/mL in the Brantas river and 0.525 mg/mL in the Bengawan Solo river. Based on the data obtained, it can be concluded that the Pb content in fish organs and river water has exceeded the quality standard for Pb levels according to the government regulation No.82 2001 (SNI 7387:2009), that is, 0.3 mg/kg in organs and 0.03 mg/L in water. The results of this study are expected to be a concern for the authorities in order to revitalize the river to restore the function and support the survival of river biota.AbstrakIkan mujair (Oreochromis mossambicus) banyak ditemukan di sungai Brantas dan Bengawan Solo, namun aktivitas antropogenik yang menghasilkan logam berat dapat masuk ke perairan sehingga terakumulasi dalam organisme yang hidup di perairan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam berat timbal (Pb) pada insang, daging, dan usus pada O. Mossambicus yang hidup di kedua sungai tersebut serta mengukur kandungan Pb pada masing-masing air sungai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan Pb pada organ O. mossambicus di sungai Bengawan Solo adalah sebagai berikut 3.159 mg/kg pada insang; 1.930 mg/kg di usus; dan 2.511 mg/kg pada daging, sedangkan di sungai Brantas adalah sebagai berikut 1.600 mg/kg pada insang; 1,402 mg/kg pada usus; dan 1,455 mg/kg pada daging. Kadar Pb pada masing-masing air sungai adalah 0,568 mg/mL (sungai Brantas) dan 0,525 mg/mL (sungai Bengawan Solo). Berdasarkan data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa kandungan Pb pada organ ikan maupun air sungai sudah melebihi baku mutu kadar Pb pada organ yaitu 0,3 mg/kg (SNI 7387:2009) dan 0,03 mg/L pada perairan (PP No.82 tahun 2001). Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi perhatian pihak-pihak terkait agar dapat melakukan revitalisasi sungai guna mengembalikan fungsi dan mendukung keberlangsungan hidup biota sungai.
AGE, GENDER AND HEALTH HISTORY FACTORS ON BLOOD GLUCOSA AND URATIC ACID LEVELS IN LAMONGAN CITY ALUN-ALUN VISITORS Setiyowati, Putri Ayu Ika
Indonesian Journal of Engineering, Science and Technology Vol. 1 No. 1 (2024): VOL. 01 NO. 01 (JUNE 2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38040/ijenset.v1i1.832

Abstract

Non-communicable diseases (NCDs) are health problems faced locally, nationally and globally. The metabolic keys in controlling NCDs are the control of blood pressure, blood glucose and uric acid levels. All three, play a role in the occurrence of cardiocerebrovascular diseases such as coronary heart disease and ischemic stroke which are the cause of death worldwide. NCD control starts with early detection of blood glucose, and uric acid levels. The purpose of this study was to analyze the relationship of age and medical history with glucose and uric acid levels while providing health information to the Lamongan community about blood glucose and uric acid levels. The blood of respondents over 35 years old was drawn according to consent to check both indicators with an easy touch device meter. The screening results found that most Lamongan people had normal blood sugar levels (78%), and normal uric acid in both men and women respondents (95.5% vs 96.8%). This screening activity ran smoothly and received a good response.