Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Gambaran Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Konjungtivitis Bakteri Di Klinik JEC Orbita Makassar Wahyuni, Sri Rezky; Fahirah Arsal, Andi Sitti; Kusumawardhani, Sri Irmandha; Akib, Marliyanti Nur Rahmah; Novriansyah, Zulfikri Khalil
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 8 (2025): Volume 12 Nomor 8
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i8.18988

Abstract

Konjungtivitis bakterialis, atau "mata merah," merupakan kondisi mata umum yang disebabkan oleh infeksi bakteri dan dapat menyebabkan ketidaknyamanan serta komplikasi jika tidak ditangani dengan tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan penggunaan antibiotik pada pasien dengan konjungtivitis bakterialis di Klinik JEC Orbita Makassar pada tahun 2023. Metode penelitian yang digunakan adalah desain deskriptif kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel total terhadap 40 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kombinasi antibiotik lebih sering diterapkan (57,5%) dibandingkan dengan penggunaan antibiotik tunggal (42,5%). Kombinasi antibiotik seperti neomisin dengan polymyxin B dan gramicidin terbukti lebih efektif dalam mengatasi bakteri Gram-positif dan Gram-negatif. Temuan ini sejalan dengan studi sebelumnya yang menyatakan bahwa kombinasi antibiotik topikal dapat mengurangi risiko resistensi bakteri lebih baik dibandingkan monoterapi. Kesimpulannya, pendekatan berbasis bukti dalam pemilihan antibiotik dan pemantauan pola resistensi antibiotik lokal sangat penting untuk meningkatkan efektivitas pengobatan konjungtivitis bakterialis dan mencegah resistensi antibiotik di masa depan. Edukasi kepada pasien, terutama orang tua, juga diperlukan untuk meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan.
Characteristics of Thyroid Eye Disease Patients at Wahidin Sudirohusodo Hospital Makassar Jayanti, Usna; Kusumawardhani, Sri Irmandha; Lantara, Andi Millaty Halifah Dirgahayu; Maharani, Ratih Natasha; Namirah, Hanna Aulia
Healthy Tadulako Journal (Jurnal Kesehatan Tadulako) Vol. 11 No. 3 (2025)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/htj.v11i3.1704

Abstract

Background: Thyroid Eye Disease (TED) is an autoimmune orbital disorder frequently associated with Graves’ disease, marked by orbital fat expansion and extraocular muscle swelling that may impair vision and quality of life. Objective: To describe the characteristics of TED patients at RSUP Wahidin Sudirohusodo Makassar based on age, gender, clinical manifestations, management, and smoking history. Methods: A descriptive study of 55 TED patients recorded at RSUP Wahidin Sudirohusodo Makassar. Results: Most patients were aged 20–44 years (60%), followed by 45–64 years (34.55%) and 13–19 years (5.45%), with no cases above 65 years. Females predominated (61.82%). The most common symptom was proptosis (100%), followed by excessive tearing (49.09%), red eyes (27.27%), refractive errors (23.64%), diplopia (10.91%), pain during eye movement (7.27%), and photophobia (7.27%). The main treatment was intravenous methylprednisolone plus thiamazole (47.27%), followed by intravenous methylprednisolone alone (18.18%), thyrozol (18.18%), and propranolol (9.09%). One patient (1.82%) underwent orbital decompression. Active smoking was reported in 32.73% of patients. Conclusion: TED patients were predominantly females aged 20–44 years, with proptosis as the leading manifestation. The most common management was intravenous methylprednisolone combined with thiamazole. Smoking may worsen disease severity
Descriptive on The Factors of Myopia on Medical Students of Muslim University of Indonesia Kurniawan, Mohammad Ali; Kusumawardhani, Sri Irmandha; Novriansyah, Zulfikri Khalil; Amir, Suliati P.; Namirah, Hanna Aulia
Jurnal Biologi Tropis Vol. 24 No. 1 (2024): Januari - Maret
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v24i1.6635

Abstract

Myopia is the most common refractive error found in the world. Myopia or nearsightedness is a refractive error that has a high prevalence in the world, especially in East Asia and Southeast Asia, with a prevalence of 80-90% in teenagers. Various studies have found factors related to the occurrence of myopia, such as genetic factors and environmental factors, such as near-work activities and its duration, lack of outdoor activities, and use of devices with digital screens. The aim of the research is to determine the relationship between these risk factors and the incidence of myopia in class of 2021 medical students of Muslim University Of Indonesia. The type of research used is analytical observational with a cross sectional study design. The sampling technique was a total sampling with 277 respondents. Data analysis method uses bivariate and multivariate analysis and is processed using chi-square statistical test and logistic regression test. There were 40 students whose myopia was confirmed or increased during learning. It was found that there was a relationship between risk factors for near-work activities and its duration and the use of devices with digital screens on the incidence of myopia with Chi Square test results of p=0.013 and p=0.045 respectively. Meanwhile, no relationship was found for other variables. The conclusion of this study is that the risk factors that most influence the incidence of myopia are near-work activities and its duration and the use of devices with digital screens.
Literatur Review : Faktor-Faktor Resiko yang Mempengaruhi Kejadian Retinopati Diabetik Burhan, Aulia Putri Salsabila; Kusumawardhani, Sri Irmandha; Hasan, Hasan; Mubdi, Abdul; Ferdian, Fajar
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i2.14837

Abstract

Penyakit mata merupakan kelainan pada mata yang dapat mengganggu penglihatan sehingga menyebabkan penurunan ketajaman penglihatan, penglihatan menjadi kabur dan bahkan dapat menyebabkan kebutaan. Salah satu penyakit mata yang dapat menyebabkan kebutaan adalah retinopati diabetik. Retinopati diabetik (RD) merupakan salah satu komplikasi mikrovaskular pada penyakit diabetes melitus akibat dari gula darah yang tidak terkontrol dan terjadi berkepanjangan. Beberapa faktor risiko yang dicurigai sebagai pemicu RD, yaitu durasi penyakit, usia, kontrol gula darah buruk atau hiperglikemia dan tekanan darah, pubertas, kehamilan, kadar lipid dalam darah, hiperviskositas, gagal ginjal, anemia, serta rokok. Faktor yang paling penting adalah perubahan biokimiawi yang memiliki kaitan dengan hiperglikemia. Berdasarkan latar belakang, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang faktor-faktor resiko yang mempengaruhi kejadian retinopati diabetik. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor resiko yang mempengaruhi kejadian retinopati diabetik. Penelitian yang dilakukan adalah Literature Review dengan desain Narrative Review. Berdasarkan hasil pencarian didapatkan sebanyak 7 artikel yang relevan untuk digunakan dalam Narrative Review ini. Kesimpulannya, bahwa faktor risiko yang diduga menjadi penyebab retinopati diabetes antara lain durasi penyakit diabetes mellitus, usia, kadar gula darah tidak terkontrol dengan baik dan hipertensi.
NARRATIVE REVIEW : ETIOLOGI PARESE NERVUS VI BERDASARKAN GAMBARAN NEUROIMAGING Syakirah, Aidani; Nur Rahmah, Marlyanti; Paulina Christina, Lidya; Kusumawardhani, Sri Irmandha; Ma'ruf, Dwi Pratiwi
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 2 (2024): AGUSTUS 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i2.31398

Abstract

Parese nervus abdusen (N.VI) merupakan kelumpuhan yang terjadi pada nervus kranialis keenam mengakibatkan kelumpuhan motorik okular. Penyebab kelumpuhan nervus abdusen sangat bervariasi, termasuk penyakit neoplastik, traumatis, serta komplikasi mikrovaskular akibat kondisi seperti hipertensi dan diabetes melitus. Nervus abdusen satu satunya nervus kranialis yang memiliki jalur ke atas dan alur panjang ke anteroinferior melalui tegmentum pontine keluar dari pons ventral di sulkus bulbopontine atau pontomedullary sehingga keluar menuju cavum orbita melalui fissura orbitalis superior. Pemeriksaan Neuroimaging dengan teknik pencitraan telah berkembang pesat sehingga bermanfaat untuk mendeteksi kondisi yang mendasari terjadinya parese pada nervus abdusen. Karena anatomi dasar tengkorak dan kepala serta leher yang rumit, sehingga memvisualisasikan struktur kecil ini menantang pada semua modalitas pencitraan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui etiologi parese nervus VI berdasarkan gambaran Neuroimaging. Penelitian ini merupakan studi literatur dengan pendekatan narrative review. Literatur yang ditinjau merupakan literatur yang didapatkan dari database yang telah terakreditasi atau terindeks sinta berupa studi case report yang diperoleh melalui internet dengan masa terbit 10 tahun terakhir. Metode ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan merangkum literatur yang telah diterbitkan sebelumnya.  Hasil dari studi literatur ini didapatkan bahwa etiologi yang dapat mendasar terjadinya parese nervus abdusen berdasarkan gambaran Neuroimaging adalah lesi vakular otak, trauma, infeksi, dan neoplasma berdasarkan CT-Scan dan MRI.
HUBUNGAN DERAJAT KEPARAHAN MEROKOK DENGAN DERAJAT OBSTRUKSI PPOK Zahiyah, Azzah; Irsandy, Febie; Kusumawardhani, Sri Irmandha; Nasruddin, Hermiaty; Anggita, Dwi
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 1 (2024): MARET 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i1.24747

Abstract

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah penyakit pernafasan kronis yang dapat dicegah dan diobati, ditandai dengan penyumbatan saluran nafas yang menetap dan progresif disebabkan oleh paparan partikel atau gas berbahaya sehingga menimbulkan peningkatan respon inflamasi. Data yang ada untuk Indonesia menunjukkan bahwa tingkat prevalensi Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah sebesar 3,7%. Sulawesi Selatan memiliki tingkat prevalensi sebesar 6,7%. Faktor risiko utama PPOK adalah merokok. Merokok mengakibatkan perubahan struktur, jaringan paru, serta fungsi saluran pernafasan. Keseringan merokok mengakibatkan penurunan fisiologi paru. Badan Pusat Statistik (2020) memperlihatkan presentase merokok pada penduduk umur >15 tahun sebanyak 28,96%. Presentase merokok di Sulawesi Selatan yaitu sekitar 24,91%. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan derajat keparahan merokok dengan derajat obstruksi PPOK di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Kota Makassar. Metode yang digunakan penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional menggunakan kuesioner dan rekam medik. Hasil dari penelitian ini melibatkan 50 responden dari sampel pasien PPOK di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Makassar dan menunjukkan adanya hubungan antara derajat keparahan merokok dengan derajat obstruksi PPOK pada pasien PPOK. Nilai koefisien korelasi sebesar 0.029, berdasarkan hasil uji hipotesis didapatkan kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara derajat keparahan merokok dengan derajat obstruksi PPOK.
Hubungan Jenis Retinopati Diabetik Dengan Lamanya Menderita Diabetes Melitus dan Hba1c Kusumawardhani, Sri Irmandha
Wal'afiat Hospital Journal Vol 2 No 1 (2021): Wal'afiat Hospital Journal
Publisher : Rumah Sakit Ibnu Sina, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.738 KB) | DOI: 10.33096/whj.v2i1.52

Abstract

Diabetes merupakan penyakit gangguan metabolik kronik yang ditandai dengan hiperglikemia akibat gangguan sensitivitas insulin dan insufisiensi produksi insulin oleh pankreas. Pada tahun 2015, sekitar 415 juta orang dewasa di dunia atau sekitar 8,5% penduduk dunia menderita diabetes. Diabetes menjadi masalah serius ketika telah terjadi berbagai komplikas. Retinopati diabetik adalah komplikasi mikrovaskular pernderita diabetes yang menyerang pembuluh darah kecil di retina mata, menyebabkan terjadinya penurunan penglihatan permanen hingga kebutaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan jenis retinopati diabetik dengan lamanya menderita diabetes melitus dan kadar HbA1C. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif obervasional analitik dengan desain cross sectional. Kuantitatif berarti variabel-variabel penelitian ini menggunakan variabel yang dapat diukur secara objektif. Hasil penelitian ini didominasi oleh pasien berusia 50-54 tahun (26,5%). Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kadar HbA1C didominasi lebih dari 9,0% (43%) dengan durasi lama kurang dari 5 tahun (51%). Jenis retinopati yang mendominasi adalah PDR (68%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kadar HbA1c dengan jenis retinopati diabetik (p=0,007). Hasil penelitian ini yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara lama menderita diabetes mellitus dengan jenis retinopati diabetik (p=0,016).
Profil Anisometropia pada Orang Dewasa di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar Tonang, Eka Uthami; Syawal, Sitti Rukiah; Amir, Suliati P.; Novriansyah, Zulfikri Khalil; Kusumawardhani, Sri Irmandha; Aulia, Nur
Wal'afiat Hospital Journal Vol 5 No 1 (2024): Wal'afiat Hospital Journal
Publisher : Rumah Sakit Ibnu Sina, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/whj.v5i1.128

Abstract

Anisometropia is an interocular asymmetric refractive condition and is caused by a significant difference in diopters between the right and left eyes. Anisometropia occurs when there is a difference in the refractive power of the two eyes. Classification of several levels of difference, namely 1) difference in refraction between the two eyes less than 1.5 D, where both eyes can still be used together with good fusion and stereoscopic, 2) difference in refraction between the two eyes 1.5 D to 3.0 D (the presence of cylindrical differences is more significant than spherical), and 3) the difference in refraction is more than 3.0 D. The high incidence of Anisometropia can be caused by a lack of community initiative in seeking health assistance to treat Anisometropia, or even prevent Anisometropia from getting worse. The aim of this study was to determine the characteristics of Anisometropia in adults at Ibnu Sina Hospital Makassar. This research is descriptive in nature. The population of this study was all Anisometropia patients registered at Ibnu Sina Hospital Makassar so that the research sample was obtained by total sampling, namely the entire study population of 20 patients. Sample acquisition was adjusted to the inclusion criteria, namely Anisometropia patients with complete medical record data. The data was processed using the univariate method so that the research results showed that the majority of Anisometropia patients at the eye clinic at Ibnu Sina Hospital Makassar were on average 18-25 years old (45%) and mostly occurred in women (60%) and most were students (40%). %) The incidence of Anisometropia is probably caused by excessive use of cellphone or laptop gadgets and at very close range.
Gambaran Foto Thorax Pada Pasien Anak dengan Diagnosis Tuberkulosis Pada Tahun 2022 – 2023 Fahira, Alivia Dian; Syahruddin, Febie Irsandy; Kusumawardhani, Sri Irmandha; Rahmawati, Rahmawati; Anggita, Dwi
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 1 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i1.8905

Abstract

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan disebut sebagai Bakteri Tahan Asam (BTA). Data dari WHO (2020) dalam Global Tuberkulosis Report, tahun 2019 menunjukan bahwa prevalensi TB anak mencakup 12% atau sekitar 1.200.000 kasus. Di Indonesia, data dari Profil Kesehatan Indonesia tahun 2019 oleh Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kemenkes RI menunjukan bahwa prevalensi pasien TB anak mencakup 11,98% atau sebanyak 63.111 kasus. Untuk menunjukkan adanya bakteri tuberculosis dibutuhkan pemeriksaan rontgen thorax. Rontgen Thorax merupakan tes yang paling umum digunakan untuk menemukan masalah didalam Dada. Pemeriksaan paru tanpa pemeriksaan Rontgen saat ini dapat dianggap tidak lengkap. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil gambaran foto thorax pada pasien anak dengan diagnosis tuberkulosis pada tahun 2022 - 2023. Metode penelitian yang digunakan adalah SPSS dengan metode univariat. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan dari kelompok jenis kelamin perempuan (58,1%), usia 13-18 tahun (64,5%), berat badan di atas 41 kg (45,15%), keluhan batuk disertai lendir (25,8%), dan bercak infiltrate (45,2%). Pada pasien tuberkulosis anak berdasarkan jenis kelamin 58,1% perempuan, usia remaja 13-18 tahun sebanyak 64,5%, berat badan di atas 41 kg sebanyak 45,15%, keluhan utama yaitu batuk berdarah sebanyak 29,0% dan untuk karakteristik kelainan foto thorax didapatkan terbanyak berupa gambaran bercak infiltrate pada anak dengan diagnosis tuberculosis.
Tingkat Pengetahuan Penderita Diabetes Melitus Dan Hipertensi Terhadap Faktor Risiko Terjadinya Kebutaan Di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar Tahun 2023 – 2024 Ramadhan, Muh. Dwi Cahyo; Kusumawardhani, Sri Irmandha; Novriansyah, Zulfikri Khalil; Hidayati, Prema Hapsari; Jabal Nur, Muhammad; Nursyamsi, Nursyamsi
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 2 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i2.9977

Abstract

Latar belakang : Retinopati akibat diabetes dan kerusakan pembuluh darah pada mata akibat hipertensi dapat menyebabkan kebutaan. WHO memperkirakan 4,8% dari 37 juta kasus kebutaan di seluruh dunia disebabkan oleh retinopati diabetik dan prevelensi retinopati hipertensi bervariasi antara  2% - 15%. Kurangnya pengetahuan mengenai perlunya pemeriksaan mata secara berkala menjadi penghalang utama untuk kepatuhan terhadap pemeriksaan mata rutin.  Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang tingkat pengetahuan penderita diabetes melitus dan hipertensi terhadap faktor risiko terjadinya kebutaan. Tujuan : Untuk mengetahui tingkat pengetahuan penderita diabetes melitus dan hipertensi terhadap faktor risiko terjadinya kebutaan di rumah sakit ibnu sina makassar. Metode : Penelitian deskriptif dengan menggunakan desain potong lintang (cross-sectional). Hasil : Pasien hipertensi dengan pengetahuan yang cukup sebanyak 13 responden (43,4%), tingkat pengetahuan baik sebanyak 10 responden (33,3%), dan tingkat pengetahuan kurang sebanyak 7 responden (23,3%). Pasien diabetes dengan pengetahuan yang cukup sebanyak 10 responden (45,5%), tingkat pengetahuan baik sebanyak 7 responden (31,8%), dan tingkat pengetahuan kurang sebanyak 5 responden (22,7%). Pasien diabetes melitus disertai hipertensi dengan pengetahuan yang kurang sebanyak 8 responden (50%), tingkat pengetahuan cukup sebanyak 5 responden (31,25%), dan tingkat pengetahuan baik sebanyak 3 responden (18,75%). Kesimpulan : Tingkat pengetahuan penderita diabetes melitus dan penderita hipertensi berada pada kategori cukup. Sedangkan tingkat pengetahuan penderita diabetes melitus disertai hipertensi pada kategori kurang.