Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Tingkat Pengetahuan dan Sikap Orangtua Terhadap Kelainan Refraksi Pada Anak Sri Irmandha K
Jurnal Indonesia Sosial Sains Vol. 2 No. 04 (2021): Jurnal Indonesia Sosial Sains
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jiss.v2i04.257

Abstract

Abstrak: Kelainan refraksi merupakan salah satu penyebab kebutaan yang mudah dideteksi, diobati dan dievaluasi dengan pemberian kacamata, namun demikian kelainan refraksi menjadi masalah serius jika tidak cepat ditanggulangi. Sepuluh persen dari 66 juta anak usia sekolah (5-19 tahun) di Indonesia mengalami kelainan refraksi dan angka pemakaian kacamata koreksi sampai saat ini masih rendah yaitu 12,5% dari kebutuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap orangtua terhadap kelainan refraksi pada anak. Jenis penelitian ini adalah observasional analitikal dengan pendekatan cross sectional dimana variabelnya diukur dalam satu kali pengukuran. Teknik sampling yang digunakan adalah simple random sampling. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dari 76 responden, tidak ditemukan responden dengan tingkat pengetahuan yang kurang mengenai kelainan refraksi, sedangkan responden yang memiliki pengetahuan yang sedang sebanyak 39 orang (48.7%) dan pengetahuan baik sebanyak 37 orang (51.3%). Kemudian untuk sikap orangtua mengenai kelainan refraksi, tidak ditemukan responden yang memiliki sikap yang kurang mengenai kelainan refraksi, sedangkan responden yang memiliki sikap yang sedang sebanyak 43 orang (56.6%) dan sikap baik sebanyak 33 orang (43.4%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Proporsi terbesar dari tingkat pengetahuan dan sikap orangtua siswa di Sekolah Dasar Inpres Panaikang I/2 Makassar adalah pada tingkat yang sedang.
THE RELATIONSHIP BETWEEN THE LEVEL OF KNOWLEDGE OF CONTACT LENS WEAR WITH THE INCIDENCE OF EYE IRRITATION IN UMI MEDICAL FACULTY STUDENTS Fadya, Atiqa; Maharani, Ratih Natasha; Iskandar, Darariani; Kusumawardhani, Sri Irmandha; Aulia, Nur
HEARTY Vol 13 No 6 (2025): DESEMBER
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Ibn Khaldun, Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/hearty.v13i6.18606

Abstract

Contact lens wear is increasing every year, a large part of which is to help those with nearsightedness or myopia. There are 140 million people in the world who use contact lenses and two-thirds of them are women. Objective: to determine the characteristics (age and gender) of students who wear contact lenses with the Faculty of Medicine UMI class of 2022-2023. To determine the description of knowledge (uses, types of fluids, and usage patterns) of contact lens wear with the incidence of eye irritation in students / female students of the Faculty of Medicine UMI class 2022-2023. To determine the frequency of eye irritation in students / (i) Faculty of Medicine UMI class of 2022-2023. To determine whether there is a relationship between the level of knowledge of contact lens use and the incidence of eye irritation in students / (i) Faculty of Medicine UMI class 2022-2023. As well as to find out the purpose of wearing contact lenses, types of contact lenses and how to wear contact lenses on students (i) Faculty of Medicine UMI class 2022-2023. Methods: The research design used in this study was descriptive analytic research with a cross-sectional design. Results: The majority of respondents were 20 years old, from the class of 2022, and female. Of the 110 respondents, the majority (74.5%) had sufficient knowledge and did not experience eye irritation, while only 10.0% with less knowledge experienced irritation. Respondents with good knowledge (8.2%) all did not experience irritation. The knowledge level of contact lens use was mostly in the moderate category, and most respondents did not experience eye irritation. Statistical tests showed a negative correlation (-0.582, sig. = 0.000) between the level of knowledge and the incidence of eye infections, where the higher the knowledge, the lower the incidence of eye infections. The majority of respondents used contact lenses as a visual aid, with a duration of wear of more than one year, a type of contact lens that can be used repeatedly, and a daily duration of wear of more than 6 hours.Conclusion: The majority of respondents had a moderate level of knowledge about contact lens use and did not experience eye irritation. There was a significant negative relationship between the level of knowledge and the incidence of eye infections, where the higher the knowledge, the lower the risk of infection. Respondents generally used contact lenses as a visual aid with a long duration of wear.
LAPORAN KASUS : PERDARAHAN SUBKONJUNGTIVA BERULANG PADA WANITA MUDA AKIBAT EOSINOFILIA Febirianti, Ratna; Kusumawardhani, Sri Irmandha; Sulmiawati, Sulmiawati; Datu, Hikmah Hiromi Razak; Namirah, Hanna Aulia
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.55440

Abstract

Perdarahan subkonjungtiva merupakan kondisi keluarnya darah ke ruang subkonjungtiva akibat ruptur kapiler superfisial yang umumnya bersifat jinak dan sembuh spontan. Namun, kejadian berulang memerlukan evaluasi lebih lanjut untuk mengidentifikasi faktor etiologi yang mendasari, terutama bila tidak ditemukan faktor risiko klasik seperti trauma, hipertensi, atau penggunaan antikoagulan. Salah satu faktor yang diduga berperan adalah proses inflamasi alergi yang dimediasi oleh eosinofil. Penelitian ini melaporkan kasus seorang perempuan berusia 27 tahun dengan perdarahan subkonjungtiva berulang pada mata kanan setiap bulan selama lima bulan, tanpa riwayat trauma, hipertensi, atau penggunaan antikoagulan. Data diperoleh melalui anamnesis, pemeriksaan oftalmologis, dan pemeriksaan darah rutin, termasuk kadar eosinofil dan riwayat alergi. Hasil pemeriksaan menunjukkan eosinofilia sebesar 12,8% dan riwayat rinitis alergi sejak kecil. Pemeriksaan oftalmologi menunjukkan perdarahan subkonjungtiva dengan batas tegas, sementara struktur mata lainnya dalam batas normal. Kasus ini menunjukkan bahwa perdarahan subkonjungtiva berulang berhubungan dengan eosinofilia dan kondisi alergi kronik yang mendasari, di mana inflamasi yang dimediasi eosinofil diduga meningkatkan kerapuhan kapiler konjungtiva. Evaluasi faktor alergi dan hematologis penting dalam penatalaksanaan serta pencegahan kekambuhan perdarahan subkonjungtiva.
Efektivitas Kompres Daun Kelor (Moringa Oleifera) terhadap Nyeri Sendi pada Lansia Astuti, Tri; Kusumawardhani, Sri Irmandha; Pramono, Sigit Dwi; Syafei, Imran; Pangnguriseng, Utomo Andi
GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh Vol. 5 No. 1 (2026): GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh - Februari 2
Publisher : Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nyeri sendi merupakan salah satu keluhan muskuloskeletal yang sering dialami oleh lanjut usia akibat proses degeneratif pada sistem muskuloskeletal. Daun kelor (Moringa oleifera) diketahui memiliki efek antiinflamasi dan analgesik karena kandungan flavonoid, tanin, dan saponin yang dapat membantu mengurangi nyeri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas kompres hangat daun kelor terhadap nyeri sendi pada lansia. Jenis penelitian ini adalah quasi-eksperimental dengan desain pretest-posttest control group. Penelitian dilaksanakan di Desa Sassa, Kecamatan Baebunta, Kabupaten Luwu Utara, pada Juli 2025, dengan jumlah sampel 30 lansia yang dipilih secara total sampling. Data diperoleh melalui pengukuran skala nyeri Wong Baker Faces sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test dan Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tingkat nyeri sebelum intervensi kompres daun kelor adalah 3,8 dan menurun menjadi 3,3 setelah intervensi (p = 0,008). Sedangkan pada kelompok kompres air hangat sebelum daun kelor, terjadi penurunan dari 3,8 menjadi 1,97 (p = 0,000). Perbedaan efektivitas antara kedua kelompok signifikan (p = 0,001). Dapat disimpulkan bahwa kombinasi kompres air hangat dan daun kelor lebih efektif dalam menurunkan nyeri sendi dibandingkan kompres daun kelor saja.
Description of the Severity Level of Dry Eye Syndrome Among Online Motorcycle Taxi Drivers in Makassar Nasir, Riswana; Wahyu, Sri; Namirah, Hanna Aulia; Maharani, Ratih Natasha; Kusumawardhani, Sri Irmandha
Syifa'Medika Vol 16, No 2 (2026): Syifa Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sm.v16i2.10432

Abstract

Sindrom mata kering (Dry Eye Syndrome) semakin menjadi perhatian kesehatan di kalangan pengemudi ojek online, khususnya di Makassar, yang memiliki durasi kerja panjang dan paparan konstan terhadap perangkat digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi prevalensi sindrom mata kering pada pengemudi ojek online di Makassar, dengan menggunakan kuesioner Ocular Surface Disease Index (OSDI) untuk menilai kondisi kesehatan mata. Berdasarkan hasil kuesioner OSDI Sebagian besar pengemudi ojek online mengalami sindrom mata kering dalam kategori mild (ringan), sebanyak 41 orang (45,6%), diikuti oleh 38 orang (42,2%) yang berada dalam kategori moderate (sedang). Sedangkan 11 orang (12,2%) mengalami sindrom mata kering dengan kondisi severe (berat), dan tidak ada responden yang memiliki skor normal. Penelitian ini menyarankan intervensi kesehatan yang melibatkan pemeriksaan mata rutin, edukasi penggunaan pelindung mata, serta peningkatan lingkungan kerja yang lebih mendukung.
Perbandingan Tajam Penglihatan pada Wanita Hamil di Rumah Sakit Sitti Khadijah Makassar Putri, Rista Awanda; Hamsah, M.; Aulia, Nur; Kusumawardhani, Sri Irmandha; Harahap, Muhammad Wirawan
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 4 (2026): Volume 6 Nomor 4 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i4.22038

Abstract

ABSTRACT Visual acuity is the eye's ability to distinguish fine details of an object or surface. Impairment in visual acuity is one of the most common symptoms reported by individuals experiencing visual disturbances. This study aims to compare visual acuity among pregnant women at Sitti Khadijah Hospital, Makassar. The research employed an observational analytic design with a longitudinal approach and was analyzed using the Wilcoxon and Mann-Whitney tests, as the data were not normally distributed. The target population included all pregnant women under the age of 40 who visited Sitti Khadijah Hospital. Data analysis was performed using SPSS.The results showed that in the examination of pregnant women from the first to the second trimester, the Wilcoxon test yielded a p-value of 0.102, indicating no significant difference. This is likely due to hormonal and physiological changes in early pregnancy not yet significantly affecting the structure and function of the eye, particularly the cornea and lens. However, in the examination from the second to the third trimester, the Wilcoxon test yielded a p-value of 0.042, indicating a significant difference. This may be attributed to increased corneal thickness and curvature due to fluid retention triggered by hormonal fluctuations during late pregnancy. Meanwhile, the Mann-Whitney test comparing the two groups (first to second trimester and second to third trimester) yielded a p-value of 0.379, indicating no statistically significant difference between the two groups of pregnant women. Keywords: Visual Acuity, Pregnancy, Trimester, Refractive Changes.  ABSTRAK Ketajaman penglihatan adalah suatu kemampuan mata dalam membedakan bagian-bagian yang sangat spesifik baik objek atau suatu permukaan. Kelainan pada ketajaman penglihatan merupakan gejala yang paling umum dikeluhkan oleh orang yang mengalami gangguan penglihatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan tajam penglihatan pada wanita hamil di Rumah Sakit Sitti Khadijah Makassar. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian longitudinal yang dianalisis dengan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney karena data tidak berdistribusi normal. Populasi yang ditargetkan dalam penelitian ini yaitu semua wanita hamil pada usia di bawah 40 tahun yang berkunjung ke Rumah Sakit Sitti Khadijah Makassar. Analisis dilakukan menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan pada pemeriksaan wanita hamil trimester 1 ke 2 di Rumah Sakit Sitti Khadijah Makassar didapatkan nilai p value dari hasil uji Wilcoxon p=0.102 yang artinya tidak terdapat perbedaan signifikan antara TM 1 ke TM 2 hal ini disebabkan oleh perubahan hormonal dan fisiologis yang terjadi pada awal kehamilan belum cukup memengaruhi struktur dan fungsi mata, terutama pada bagian kornea dan lensa; Pada pemeriksaan wanita hamil trimester 2 ke 3 di Rumah Sakit Sitti Khadijah Makassar didapatkan nilai p value dari hasil uji Wilcoxon p=0.042 yangartinya terdapat perbedaan signifikan antara TM 2 ke TM 3 hal ini disebabkan oleh peningkatan ketebalan dan kelengkungan kornea akibat retensi cairan yang dipicu oleh fluktuasi hormon kehamilan; Pada hasil uji Mann-Whitney untuk membandingkan antara 2 kelompok TM 1 ke TM 2 dan TM 2 ke TM 3 didapatkan nilai p=0.379 yang artinya tidak terdapat perbedaan signifikan pada 2 kelompok wanita hamil. Kata Kunci: Tajam Penglihatan, Kehamilan, Trimester, Perubahan Refraksi.
Karakteristik pasien retinopahty of prematurity (ROP) Maharani, Ratih Natasha; Kusumawardhani, Sri Irmandha
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2272

Abstract

Background: Retinopathy of prematurity (ROP) is a leading cause of irreversible visual impairment in infants, particularly premature infants. ROP occurs due to incomplete vascularization in premature infants. ROP screening is an initial strategy to prevent blindness from ROP. Purpose: To describe the characteristics of patients with retinopathy of prematurity (ROP). Method: This multicenter, retrospective, observational study, using medical records of patients diagnosed with ROP based on the International Classification of Diseases (ICD)-10 code H35.1, was conducted at 10 hospitals in Makassar City between January 2020 and December 2022. Data were collected from the history and physical examination available in the medical records. The diagnosis of ROP was confirmed based on retinal camera images using the Three 3 Nethra Neo Digital Widefield Imaging System. Results: The incidence of ROP in Makassar City from January 2020 to December 2022 was 14.87%. Most patients had a history of preterm birth between 28 and 33 weeks, with a birth weight of less than 1500 grams (39.3%). The majority of respondents had a history of oxygen supplementation (78.0%), along with other risk factors such as sepsis, multiple pregnancies, a history of transfusion, phototherapy, or a history of apnea. Ninety-eight patients had ROP in both eyes, with the most common stage at the first visit being stage 3 (37.0%). The most common treatment modality for these patients was laser photocoagulation (24.4%). Conclusion: ROP screening activities have yielded positive results, allowing for more timely diagnosis of ROP in preterm infants and prompt treatment. Suggestion: Further research is needed to identify risk factors significantly associated with ROP incidence and treatment prognosis.   Keywords: Characteristics; Retina; Retinopathy of Prematurity (ROP); Visual Impairment.   Pendahuluan: Retinopathy of prematurity (ROP) merupakan penyebab utama gangguan penglihatan yang ireversibel pada bayi, khususnya bayi prematur. ROP terjaid akibat adanya gangguan vaskularisasi yang komplit pada bayi prematur. Skrining ROP merupakan strategi awal untuk mencegah kebutaan akibat ROP. Tujuan: Untuk memaparkan karakteristik pasien dengan retinopathy of prematurity (ROP). Metode: Penelitian observasional deskriptif retrospektif multisenter dengan mengambil data rekam medis pasien di beberapa rumah sakit tempat dilakukan skrining ROP yang terdiagnosis ROP berdasarkan kode diagnosis International Classification Code (ICD)-10 H35.1, dilakukan di 10 rumah sakit di Kota Makassar, pada periode bulan Januari 2020–Desember 2022. Data diambil berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang ada dalam rekam medis. Diagnosis ROP ditegakkan berdasarkan foto hasil pemeriksaan retinal camera menggunakan Three 3 Nethra Neo Digital Wide Field Imaging System. Hasil: Insiden ROP di Kota Makassar periode Januari 2020 – Desember 2022 sebesar 14.87%. Sebagian besar pasien memiliki riwayat kelahiran prematur pada rentang 28–33 minggu dengan berat lahir kurang dari 1500 gram sebanyak 39.3%. Mayoritas responden memiliki riwayat penggunaan suplementasi oksigen sebesar 78.0%, disertai dengan faktor risiko lain, seperti sepsis, gemelli, riwayat transfusi, fototerapi, atau riwayat apnea. Sebanyak 98.8% pasien mengalami ROP pada dua mata dengan stadium terbanyak pada kunjungan pertama adalah stadium 3 dengan persentase 37.0%. Modalitas terapi yang banyak dilakukan pada pasien adalah laser fotokoagulasi (24.4%). Simpulan: Kegiatan skrining ROP yang telah dilakukan memberikan hasil yang baik, sehingga bayi prematur dapat lebih cepat terdiagnosis ROP dan segera diberikan tindakan. Saran: Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk dapat melihat faktor risiko yang secara signifikan berhubungan dengan kejadian ROP serta prognosis dari tatalaksana yang telah diberikan.   Kata Kunci: Gangguan Penglihatan; Karakteristik; Retina; Retinopathy of Prematurity (ROP).