Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

THE RELATIONSHIP BETWEEN FAMILY STRESS, DEPRESSION, AND COPING MECHANISMS IN SCHIZOPHRENIA FAMILIES Emelda, Emelda; Fitri, Nurwijaya; Mardianna, Nova
Journal of Vocational Nursing Vol. 6 No. 2 (2025): OCTOBER 2025
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jovin.v6i2.68979

Abstract

Introduction: Families play a crucial role in caring for members with schizophrenia, but the stress and depression resulting from caregiving often overshadow the coping mechanisms used. This study aims to analyze the relationship between stress, depression, and coping mechanisms in families caring for individuals with schizophrenia. Methods: A quantitative approach with a cross-sectional design was used. The sample included 59 families with members suffering from schizophrenia who were receiving treatment at the Outpatient Clinic of dr. Samsi Jacobalis Mental Hospital in Bangka Belitung Islands Province in 2024. Stress and depression were measured using the Depression Anxiety Stress Scales (DASS-42), with Cronbach's alpha values of 0.8806 for stress and 0.9053 for depression. Coping mechanisms were measured using the Brief COPE, with a reliability coefficient of 0.952. Data were analyzed using the chi-square test with SPSS software. Results: The study found that 31 individuals (52.5%) experienced severe stress, and 38 individuals (64.4%) experienced moderate depression. Additionally, 39 individuals (66.1%) exhibited maladaptive coping mechanisms. Statistical analysis revealed a significant relationship between stress and coping mechanisms (p = 0.000), and between depression and coping mechanisms (p = 0.000). Conclusions: The study concludes that there is a relationship between stress and depression with family coping mechanisms in schizophrenia patients. It is recommended that families be provided with clear information about schizophrenia, its impact, and how to care for affected members. Additionally, offering training on adaptive coping strategies, such as relaxation, mindfulness, and acceptance, may help families better manage stress and depression.
Hubungan Daya Tilik Diri, Harga Diri, Stigma Diri terhadap Kualitas Hidup Pasien Skizofrenia Sanjaya, Arya; Fitri, Nurwijaya; Maryana, Maryana
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 6 No 5 (2024): Oktober 2024, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v6i5.2384

Abstract

Seseorang dikatakan sehat apabila mampu menggunakan ketrampilannya secara maksimal, mengatasi tekanan hidup, bekerja secara produktif, serta berguna dan berguna bagi masyarakatnya. Terdapat 7916 kasus skizofrenia di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2019, 4701 kasus pada tahun 2020, dan 4497 kasus skizofrenia pranoid pada tahun 2021. Tujuan dari eksplorasi ini adalah untuk mengetahui hubungan antara informasi diri, kepercayaan diri, dan aib diri sendiri. dan kepuasan pribadi. pasien skizofrenia penderita skizofrenia di Klinik Medis Dr. Samsi Jacobalis Wilayah Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2023. Eksplorasi dilakukan dengan menggunakan rencana cross sectional yaitu melakukan cross tab antara variabel reliabel dengan faktor bebas dan uji chi square dengan univariat dan hasil bivariat. Populasi pemeriksaan adalah pasien jangka pendek yang berobat ke Poliklinik RSJD Dr. Samsi Jacobalis pada tahun 2023. Jumlah yang mengikuti penelitian sebanyak 33 orang. Uji statistik menunjukkan adanya korelasi antara kualitas hidup pasien skizofrenia dengan pengetahuan diri, harga diri, dan stigma diri, dengan nilai p sebesar 0,000 ± 0,05 untuk kebijaksanaan, 0,000 ± 0,05 untuk harga diri, dan 0,000 ± 0,05 untuk stigma diri. . Saran peneliti Pasien hendaknya dapat berpartisipasi dalam kegiatan yang mendukung intervensi keperawatan dan memiliki keterampilan pemecahan masalah yang membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan dan memecahkan masalah terkait penyakit.
Pengaruh Pemberian Air Rebusan Seledri terhadap Penurunan Kadar Asam Urat pada Lansia Kusuma, Bayu; Agustiani, Sirli; Fitri, Nurwijaya
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 6 No 5 (2024): Oktober 2024, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v6i5.4193

Abstract

Asam urat adalah jenis artritis terbanyak ketiga setelah osteoartritis dan kelompok rematik luar sendi (gangguan pada komponen penunjang sendi, peradangan, penggunaan berlebihan. Peningkatan kadar asam urat dalam darah (hiperurisemia) merupakan faktor utama terjadinya asam urat. Tingginya kadar asam urat dalam darah atau kondisi hiperurisemia memiliki keterkaitan dengan beberapa penyakit.Rebusan seledri merupakan alternatif pengobatan untuk menurunkan nilai kadar asam urat.Tujuan penelitian ini untuk menegtahui adanya pengaruh air rebusan seledri terhadap penurunan kadar asam urat pada lansia diwilayah kerja puskesmas Namang Tahun 2024. Pada penelitian ini jenis yang digunakan adalah Pre-experiment dengan rancangan pretest-posttest one group design dengan uji paired sample T test. Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien penderita asam urat di puskesmas Namang tahun 2024. Dalam pemilihan sampel menggunakan metode purvosive sampling didapatkan sampel 12. Hasil penelitian ini menunjukan ada pengaruh pemberian air rebusan seledri terhadap penurunan kadar asam urat dengan didapatkan nilai p-value <0,05 yang berarti ada perbedaan rata-rata kadar asam urat sebelum dan sesudah minum air rebusan seledri. Saran dari penelitian adalah menganjurkan untuk mengkonsumsi air rebusan seledri sebanyak 200 ml dalam membantu menurunkan kadar asam urat.
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Meningkatnya Kejadian Diabetes Mellitus Anzalno, Rio; Anggraini, Rima Berti; Fitri, Nurwijaya
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 6 No 5 (2024): Oktober 2024, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v6i5.4297

Abstract

Diabetes Mellitus dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu pertama adalah faktor risiko yang tidak dapat berubah misalnya jenis kelamin, umur, dan faktor genetik. Kedua adalah faktor risiko yang dapat diubah misalnya kebiasaan merokok, aktivitas fisik, konsumsi alkohol, faktor stress, serta konsumsi kopi dan kafein yang berlebihan. Selain itu faktor pengetahuan yang kurang mengenai penyakit, pengobatan dan dampak yang dirasakan jika tidak segera ditangani akan memperburuk keadaan pasien. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan meningkatnya kejadian diabetes mellitus. Penelitian menggunakan penelitian kuantitatif dengan desain Cross Sectional. Popurlasi dalam pernerlitian ini adalah semua pasien Diabetes Mellitus yang dirawat pada tahun 2023 sebanyak 156 orang. Sampel dalam pernerlitian ini mernggurnaka rumus slovin didapatkan 67 responden. Teknik pengambilan sampel dengan purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner dari penelitian sebelumnya. Data dianalisis secara univariat dan bivariat mengunakan uji chi square. Hasil uji statistik Chi-square pengetahuan (p-value=0,000), pola makan (p-value=0,000) dan aktivitas fisik (p-value=0,000). Kesimpulan terdapat hubungan antara pengetahuan, pola makan dan aktivitas fisik dengan merningkatnya kejadian Diabetes Mellitus di RSUD Sejiran Setason Tahun 2024.
Pengaruh Terapi Relaksasi Autogenik Zikir terhadap Kecemasan pada Pasien Hemodialisa Komariah, Komariah; Fitri, Nurwijaya; Maryana, Maryana
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 6 No 5 (2024): Oktober 2024, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v6i5.4366

Abstract

Kecemasan adalah kondisi pada psikologis seseorang yang penuh dengan rasa takut dan khawatir, dimana perasaan takut dan khawatir akan sesuatu hal yang belum pasti akan terjadi. Salah satu intervensi nonfarmakologi untuk mengurangi kecemasan yaitu dengan terapi relaksasi autogenik, teknik relaksasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah terapi relaksasi autogenik zikir, yaitu suatu metode yang memadukan antara relaksasi dan zikir dengan focus latihan pada relaksasi dan kata yang terkandung di dalam zikir yang dapat memunculkan respon relaksasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi relaksasi autogenik zikir terhadap kecemasan pada pasien hemodialisa di RSUD Depati Bahrin Sungailiat Tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain eksperimental one grup pre test dan post test. Penelitian ini di lakukan pada 26 pasien hemodialisa di RSUD Depati Bahrin Sungailiat pada tanggal 1 Juli – 5 Juli 2024. Peneliti melakukan pengukuran sebelum dan sesdudah diberikan terapi relaksasi autogenic zikir. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai rata rata tingkat kecemasan sebelum dilakukan terapi relaksasi autogenic zikir adalah (M=13,11 ± SD= 2,519). Setelah diberikan terapi relaksasi autogenic zikir, nilai tingkat kecemasan pada pasien hemodialisa mengalami penurunan menjadi (M= 9,76 ± SD= 2,285). Hasil uji dependent t-test (paired t-test) didapatkan nilai p-value = 0,000 < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh terapi relaksasi autogenik zikir terhadap kecemasan pada pasien hemodialisa di RSUD Depati Bahrin Sungailiat Tahun 2024.
PENGABDIAN MASYARAKAT MELALUI PEMBERIAN PENDIDIKAN KESEHATAN PENTINGNYA KESEHATAN MENTAL DAN EMOSIONAL REMAJA SMA Fitri, Nurwijaya; Mardiana, Nova; Sari, Indah Permata
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Citra Delima Vol. 1 No. 1 (2023): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Citra Delima
Publisher : Institut Citra Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33862/jp.v1i1.365

Abstract

Menurut Badan Kesehatan Dunia tahun 2018, remaja adalah individu yang masuk di kisaran usia 10-19 tahun, berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes RI) nomor 25 tahun 2014, remaja merupakan seseorang yang berada direntang usia 10-18 tahun. Menurut World Health Organization (2020), angka kejadian permasalahan gangguan kesehatan mental di dunia dengan rentang remaja usia 10 sampai 19 tahun dan terus terjadi peningkatan 16% setiap tahunnya. Gangguan kesehatan mental yang terjadi diawali usia mulai dari 14 tahun, dan yang terjadi mayoritas kasus yang terdeteksi sangat minim sekali dan perlu di lakukan pencegahan sejak dini. Terlepas dari semua masalah kesehatan mental tersebut, remaja yang sedang memasuki masa pubertas sangat beresiko dan paling rentan mengalami gangguan kesehatan jika tidak dapat beradaptasi dan memanajemen masalah yang di hadapi. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu remaja di SMA tempat pengabdian, didapatkan informasi bahwa siswa tersebut belum pernah mendapatkan informasi terkait pentingnya menjaga kesehatan mental dan emosional. Tujuan dari kegiatan ini yaitu untuk menambah informasi, knowledge dan kemampuan remaja SMA tentang pentingnya menjaga kesehatan mental dan emosional. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dalam bentuk sosialisasi, pretest, pendidikan kesehatan menggunakan powertpoint, leaflet dan posttest. Kegiatan diikuti oleh remaja SMA Bahrul Ulum Sungailiat berjumlah 40 orang. Hasil kegiatan ini menggambarkan adanya peningkatan pengetahuan Remaja dalam hal informasi pentingnya menjaga kesehatan mental dan emosional dengan selisih nilai pre dan posttest sebesar 20%. Kesimpulan dengan pengaplikasian pendidikan kesehatan pada remaja sangat efektif dalam hal meningkatkan informasi, pengetahuan dan diharapkan kegiatan ini bisa berimplikasi terhadap pengetahuan dan motivasi remaja terkait pentingnya menjaga kesehatan mental dan emosional sejak dini.
PENGARUH PEMBERIAN EDUKASI PSIKOSPRITUAL TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI DI RSUD DRS.H.ABU HANIFAH BANGKA TENGAH TAHUN 2023 Mulyadi, Asep; Fitri, Nurwijaya; Permatasari, Indah
Jurnal Ilmu Keperawatan Vol 12 No 2 (2023): Al-Asalmiya Nursing Jurnal Ilmu Keperawatan (Journal of Nursing Sciences)
Publisher : Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35328/keperawatan.v12i2.2452

Abstract

Anxiety disorders are the most common mental illnesses. Spiritual therapy is one of the efforts carried out in nursing care to address discomfort or anxiety. Spiritual care, in addition to medications and other medical treatments, is a means of involving religion through prayer and remembrance, which are aspects of healing or deep psychotherapy aimed at developing selfconfidence in patients and, most importantly, fostering optimism. The aim of this research is to determine the effect of psychospiritual education on the level of preoperative patient anxiety. The research design is pre-experimental with a one-group pretest-post-test design in the Orchid and Ashoka rooms at RS H. Abu Hanifah Bangka Tengah, with a total sample size of 24 respondents. Sampling was done using purposive sampling technique. The research resultsshow that after receiving psychospiritual education, anxiety levels significantly decrease with a value of p = 0.001. Based on the research findings, individuals experiencing anxiety should receive nursing care that includes spiritual support therapy. Keywords: anxiety, psychospiritual education, preoperative Keywords: Anxiety, psychospiritual education, Preoperative