Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

PENGARUH DIAMETER FILLER DAN ARUS PADA PENGELASAN TIG TERHADAP KEKUATAN TARIK DAN STRUKTUR MIKRO PADA BAJA KARBON RENDAH Eko Budiyanto; Eko Nugroho; Achmad Masruri
TURBO [Tulisan Riset Berbasis Online] Vol 6, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (643.002 KB) | DOI: 10.24127/trb.v6i1.467

Abstract

Terdapat berbagai jenis pengelasan yang dapat digunakan dalam prosespenyambungan logam, salah satunya adalah TIG (Tungsten Inert Gas). TIG yang juga biasadisebut GTAW (Gas Tungsten Arc Welding) adalah jenis pengelasan yang menggunakanpanas dari nyala pijar yang terbentuk antara elektroda tungsten yang tidak terumpan denganmenggunakan gas mulia sebagai pelindung terhadap pengaruh luar pada saat prosespengelasan. Elektroda las menggunakan batang wolfram yang dapat menghasilkan busurlistrik tanpa ikut mencair. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasiarus dan diameter filler (kawat las) terhadap pengelasan baja karbon rendah. Penelitian inimengunakan las TIG dengan filler jenis ER 309L berdiameter 1,2 mm, 1,6 mm, 2,0 mm dan2,4 mm. Bahan yang akan dilas adalah bahan baja karbon rendah dengan kuat tarik bahansebesar 36,37 kgf/mm2. Saat proses pengelasan, kuat arus yang yang divariasikan denganfiller adalah 80A, 100A dan 120A. Kampuh yang dipakai adalah jenis kampuh V dengansudut 900. Untuk mengetahui pengaruh dari perlakuan tersebut, spesimen pengelasandilakukan pengujian tarik dan foto stuktur mikro. Kuat tarik sambungan las tertinggiditunjukkan pada pengelasan yang menggunakan filler berdiamater 1,6 mm dengan kuat arus120 A dengan kuat tarik sambungan sebesar 41,74 kgf/mm2. Kuat tarik terendah didapatkanpada pengelasan yang menggunakan diameter filler 2,0 mm sebesar 39,71 kgf/mm2 denganmengunakan kuat arus 120A. Pengamatan struktur mikro difokuskan pada daerah HAZ (HeatAffected Zone). Pada spesimen pengelasan yang mengunakan diameter filler 1,6 mm denganvariasi kuat arus sebesar 80A, 100A dan 120 A. Terjadi peningkatan jumlah butiran ferit danmengecilnya butiran ferit di daerah HAZ pada setiap kenaikan arus dalam pengelasan.Kata kunci: Baja karbon rendah, Filler, HAZ, Kuat Arus, TIG.
PENGARUH JENIS PAHAT DAN VARIABEL PEMOTONGAN DENGAN MENGGUNAKAN TOOLPOST SEGMENTASI PADA MESIN BUBUT MERK KNUTH TIPE TURNADO 230 TERHADAP EFISIENSI PEMBUBUTAN Eko Nugroho; Kemas Ridhuan; Suraya Suraya
TURBO [Tulisan Riset Berbasis Online] Vol 6, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (961.669 KB) | DOI: 10.24127/trb.v6i1.468

Abstract

Toolpost adalah bagian mesin bubut yang berfungsi sebagai tempat untuk memasang pahat bubut. Pada komponen origin mesin bubut, untuk mendapatkan center mesin menggunakan plat tambahan apabila posisi pahat tidak center terhadap sumbu mesin. Ini menjadi salah satu unsur yang perlu dipelajari agar efisiensi pembubutan meningkat. Penelitian ini menggunakan toolpost segmentasi yang dirancang serta dibuat terlebih dahulu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh alat potong serta parameter pembubutan dalam efisiensi pembubutan yang meliputi kekasaran permukaan dan keseragaman ukuran hasil pembubutan. Selain itu untuk melihat pengaruh penggunaan toolpost segmentasi terhadap waktu setting pahat. Penelitian ini menggunakan parameter besar rpm 405 putaran/menit, kecepatan pemotongan memanjang 0,038 mm/put dan 0,053 mm/put, kecepatan pemotongan melintang 0,017 mm/put dan 0,024 mm/put. Variasi kedalaman pemotongan 1, 2, dan 3 mm. Penelitian diawali dengan pembuatan toolpost, perakitan alat, dilanjutkan pengujian pembubutan dengan toolpost yang dibuat. Hasil penelitian menunjukkan parameter yang optimal dalam pembubutan menggunakan toolpost segmentasi serta meningkatnya efisiensi waktu setting pahat. Pembubutan yang menghasilkan ukuran yang konsisten menggunakan pahat ISO 2 dengan selisih ukuran yang dihasilkan lebih sedikit dibandingkan menggunakan pahat ISO 6 , sedangkan untuk mendapatkan kekasaran permukaan yang baik dapat menggunakan pahat ISO 6 karena tingkat kekasaran (Ra) lebih baik dibandingkan pahat ISO 2. Penggunaan toolpost segmentasi juga mampu meningkatan kecepatan waktu setting pahat. Waktu yang digunakan untuk setting kurang dari 5 menit. Parameter ideal pada penelitian ini yakni kedalaman pemotongan 3 mm, kecepatan pemotongan 0,053 mm/putaran.Kata kunci: Efisiensi pembubutan, toolpost, variabel pemotongan.PendahuluanDalam industri terutama di bidang manufaktur harus
PENGARUH UNSUR ALUMINIUM DALAM KUNINGAN TERHADAP KEKERASAN, KEKUATAN TARIK, DAN STRUKTUR MIKRO eko nugroho
TURBO [Tulisan Riset Berbasis Online] Vol 1, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.651 KB) | DOI: 10.24127/trb.v1i1.82

Abstract

Kuningan yang merupakan logam non ferro banyak digunakan dalam industri. Kuningan merupakan logam paduan tembaga dan seng dengan lebih dari 50 % tembaga dan seng sebagai logam pemadu utama. Penambahan unsur aluminium pada kuningan bertujuan untuk meningkatkan kekerasan dan kekuatannya. Pelaksanaan penelitian, aluminium akan dicampurkan kedalam kuningan dengan komposisi 1 % dan 3 % saja. Untuk menambahkan unsur aluminium kedalam kuningan dilakukan proses pengecoran. Pengujian dilakukan dengan mempersiapkan tiga buah spesimen dengan komposisi yang berbeda yaitu kuningan tanpa penambahan unsur aluminium, kuningan dengan penambahan 1% unsur aluminium, dan kuningan dengan penambahan 3% unsur aluminium. Kemudian dilakukan pengujian kekerasan, kekuatan tarik, dan metallografi terhadap benda uji sehingga didapat data dari pengujian yang dilakukan. Hasil penelitian dapat diketahui bahwa penambahan unsur aluminium  mengakibatkan kuningan mengalami peningkatan kekerasan dan kekuatan. Nilai kekerasan menjadi meningkat dari 91,152 VHN sampai 95,693 VHN, kekuatan tarik menjadi meningkat dari 26,274 kgf/mm2 sampai 27,229 kgf/mm2. Hasil pengamatan struktur mikro didapat besar butir kuningan menjadi lebih halus
Perancangan Integrasi Sistem Informasi Hukum Pusat Dan Sistem Informasi Hukum Daerah Berbasiskan Service Oriented Architecture (SOA) I Made Ferdian Fimento; Eko Nugroho; Wing Wahyu Winarno
Jurnal Eksplora Informatika Vol 2 No 2 (2013): Jurnal Eksplora Informatika
Publisher : Bagian Perpustakaan dan Publikasi Ilmiah - Institut Teknologi dan Bisnis STIKOM Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.258 KB)

Abstract

Dalam rangka meningkatkan pemahaman dan pengetahuan mengenai hukum dalam menunjang penyelenggaraan pemerintahan khususnya mengenai peraturan perundang-undangan, diperlukan suatu informasi yang tertata dan terselenggara dengan baik dalam suatu sistem dan untuk meningkatkan pelayanan dan kelancaran tugas dibidang hukum, sehingga perlu dibangun suatu sistem informasi yang mudah cepat dan akurat melalui teknologi informasi yaitu melalui Sistem Informasi Hukum (SISKUM). Pemerintah pusat baru saja menetapkan Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2012 tentang Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional tanggal 20 Maret 2012. Salah satu pertimbangannya adalah perlu membangun kerja sama dalam suatu jaringan dokumentasi dan informasi hukum nasional yang terpadu dan terintegrasi. Penelitian yang dilakukan akan merancang suatu model integrasi Sistem Informasi Hukum di Tingkat Pusat (Kementrian-kementrian) dengan Sistem Informasi Hukum di Tingkat Daerah berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2012 tersebut sehingga data peraturan perundang-undangan pusat dapat terintegrasi secara efektif dan efisien dengan Sistem Informasi Hukum di Daerah. Dalam penelitian ini perancangan integrasi menggunakan Service Oriented Architecture (SOA).
Pentingnya Renstra SI/TI sebagai Acuan Pengembangan SI/TI (Studi Kasus : Rumah Sakit Grand MEDISTRA Lubuk Pakam) Irmayani Irmayani; Eko Nugroho; Lutfan Lazuardi
Jurnal Sistem Informasi Kesehatan Masyarakat Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Minat Sistem Informasi Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jisph.6535

Abstract

Latar belakang : Sistem informasi berkontribusi meningkatkan kualitas pelayanan pasien, efisiensi operasional, dan kepuasan pasien. Dengan SI/TI monitoring, koordinasi, dan pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan efektif. Hal tersebut bisa dicapai ketika organisasi memiliki suatu perencanaan yang jelas pada organisasinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pentingnya renstra SI/TI sebagai acuan pengembangan SI/TI di RS. Grand MEDISTRA Lubuk Pakam. Metode : Penelitian dilakukan dengan metode collaborative action research. Penelitian dilakukan di RS. Grand MEDISTRA Lubuk Pakam. Penelitian melibatkan 23 orang yang terdiri dari pengguna langsung maupun pengguna tidak langsung. Pengumpulan data dilakukan dengan cara  melakukan wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), observasi dan telah dokumen. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwasannya pentingnya penyusunan renstra SI/TI yang digunakan sebagai acuan dalan pengembangan SI/TI sehingga pengembangan SI/TI memiliki arahan.Kesimpulan : Disarankan kepada RS. Grand MEDISTRA Lubuk Pakam untuk menyusun Renstra SI/TI.
Penyusunan rencana strategis sistem informasi dan teknologi informasi di dinas kesehatan kabupaten sleman Wiwik Setyowati; Eko Nugroho
Jurnal Sistem Informasi Kesehatan Masyarakat Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Minat Sistem Informasi Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.598 KB) | DOI: 10.22146/jisph.24447

Abstract

Latar Belakang : Salah satu komponen pengelolaan kesehatan yang disusun dalam SKN yaitu sub sistem manajemen, informasi dan regulasi kesehatan.  Sistem Informasi dan Teknologi Informasi (SI&TI) secara fundamental memiliki peranan penting bagi perkembangan organisasi kesehatan, mengingat keuntungan yang didapat antara lain efektif, efisien, dan transparansi guna mendukung pelayanan yang baik dan bersih. Namun faktanya SI&TI sebagai salah satu fungsi untuk meningkatkan manajemen kesehatan ternyata belum optimal pemanfaatannya serta penerapan SIMPUS juga belum berjalan sebagaimana yang diharapkan, sehingga belum dapat menghasilkan informasi yang mendukung perencanaan, pemecahan masalah dan pengambilan kebijakan di tingkat puskesmas maupun tingkat Dinas Kesehatan. Rencana strategis akan membantu organisasi untuk mencapai sasaran serta mengatasi masalah-masalah yang ada sehingga mengoptimalkan pencapaian tujuan serta dapat menempatkan organisasi pada posisi yang optimal di dalam lingkungan yang semakin bersaing.Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis lingkungan sebagai acuan penyusunan rencana strategissistem informasi dan teknologi informasi  di dinas kesehatan kabupaten sleman. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain action research karena merupakan penelitian tindakan yang melibatkan partisipan dalam membuat keputusan tentang apa dan bagaimana mengimplementasikan perubahan yang diinginkan.Hasil Penelitian : Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman sudah implementasi SI meskipun masih terfragmentasi, kondisi infrastruktur di dinas kesehatan maupun puskesmas perlu disesuaikan dengan kebutuhan, masih ada SDM SI&TI yang tidak sesuai dengan kompetensinya, sistem keamanan informasi dan tata kelola SI&TI belum ada, perlu menata dan meningkatkan kualitas pengelolaan data dan informasi, mengembangkan dan menetapkan standar sistem informasi kesehatan, dan memperkuat kelembagaan unit pengelola sistem informasi kesehatan.Kesimpulan: Strategi SI&TI yang dapat mendukung pencapaian visi dan misi Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman antara lain menetapkan regulasi SI&TI, mengembangkan dan menetapkan standar sistem informasi kesehatan, memperkuat perangkat sistem informasi kesehatan di dinas kesehatan dan puskesmas, mengembangkan dan meningkatkan kompetensi SDM pengelola sistem informasi kesehatan, meningkatkan kemampuan SDM SI&TI dalam melakukan manajemen data terutama pengumpulan data. Implementasi renstra SI&TI dilaksanakan selama 5 tahap.
Pemanfaatan Limbah Industri Baja sebagai Bahan Baku Pembuatan Logam Pig Iron : Peleburan Mill Scale Menggunakan Submerged Arc Furnace [Utilization of Steel Making Industrial Waste to Produce Pig Iron: Smelting Process of Mill Scale Using Submerged Arc...] Fajar Nurjaman; Nurbaity Marsas Prilitasari; Arif Eko Prasetyo; Eko Nugroho
Metalurgi Vol 34, No 1 (2019): Metalurgi Vol. 34 No. 1 April 2019
Publisher : National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (848.538 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v34i1.464

Abstract

Mill scale is a by-product that resulted from the steel making industries containing iron oxides, such as hematite (Fe2O3), magnetite (Fe3O4) and wustite (FeO). The smelting process of mill scale into pig iron as secondary raw material for the steel making process has conducted. A 30 Kg of mill scale which crushed into -40 mesh, 0-6 kg amount of coal (internal reductant) and 2 wt.% (0.6 kg) of bentonite (binder) were mixed homogeneously and agglomerated using briquette machine. The composite briquette had been smelting together with 7-8 kg of coke (external reductant) and 0-4.5 kg of limestone (flux) using submerged arc furnace. The smelting process was carried out for 45 minutes, and the pouring temperature was 1450-1500 ºC. The study of coal addition in composite briquette, amount of cokes and limestone addition in the smelting process of mill scale has been investigated clearly. The optimum specified consumption energy of smelting process of mill scale was 3.64 kWh/kg product, resulted from the smelting of 30 kg of mill scale with 0% coal addition in composite briquette together with 3 kg (10 wt.%) lime stones and 7 kg of cokes (stoichiometric) addition. The optimum basicity for smelting a mill scale was 1.0. The pig iron which resulted from smelting the mill scale could promote as a raw material for producing grey cast iron, white cast iron, and malleable cast iron.   AbstrakMill scale merupakan limbah/produk samping dari industri baja yang mengandung senyawa besi oksida hematite (Fe2O3), magnetite (Fe3O4) dan wustite (FeO). Telah dilakukan proses peleburan mill scale menjadi logam pig iron sebagai bahan baku alternatif untuk pembuatan material baja. Sebanyak 30 kg mill scale digerus hingga berukuran -40 mesh, kemudian dilakukan proses pencampuran dengan menambahkan batubara (reduktor internal) dan bentonite (perekat) sebanyak 2% berat untuk selanjutnya dilakukan proses aglomerasi menggunakan mesin briket. Briket komposit mill scale dilebur bersama dengan kokas (reduktor eksternal) dan batu kapur (material fluks) menggunakan submerged arc furnace. Pengaruh penambahan batubara dalam briket komposit, jumlah kokas dan batu kapur dalam proses peleburan mill scale telah dipelajari. Dari proses peleburan mill scale diperoleh kondisi optimum, yaitu konsumsi energi spesifik sebesar 3,64 kWH/kg produk, dengan menggunakan briket komposit mill scale dengan penambahan 0% batubara dan penambahan batu kapur sebanyak 3 kg (10% berat) serta kokas sebanyak 7 kg (stoikiometri). Basisitas optimum proses peleburan mill scale adalah 1,0. Produk logam pig iron hasil peleburan mill scale dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai bahan baku pembuatan material besi tuang kelabu, putih dan mampu tempa.
Rancang Bangun Alat Lux Meter BH1750 Dengan Sensor Jarak HC-SR04 Untuk Uji Kesesuaian Kolimator Fitri Anindyahadi; Eko Nugroho; Setyo Adi Nugroho
Jurnal Kendali Teknik dan Sains Vol. 1 No. 1 (2023): Januari : Jurnal Kendali Teknik dan Sains
Publisher : Universitas Katolik Widya Karya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59581/jkts-widyakarya.v1i1.3150

Abstract

This research is based on the Regulation of the Nuclear Energy Supervisory Agency of the Republic of Indonesia Number 2 of 2018 concerning Conformity Tests for Diagnostic and Interventional Radiology One component that must be tested with a minimum passing standard of ≥ 100 lux at a distance of 100 cm. Data collection is obtained at the Calibration Agency to obtain accurate results. The purpose of this tool, the Lux Meter is equipped with a distance sensor to measure the light intensity of a collimator lamp with an intensity that must be ≥ 100 within a distance of 100 cm from the light source. So, making a tool that can be used to measure the amount of collimator illumination is accompanied by measuring the distance, so that it can ensure the results are in accordance with the limits that have been determined with a Lux Meter equipped with a distance sensor using the BH1750 module and the HC-SR04 module. For testing the tool made, it was compared with a Standard Lux Meter with the HIOKI brand, an average error value of 0.021 at a distance of 50cm, an error of 00.020 at a distance of 100cm, and an error of 0.022 was obtained, while for testing the distance sensor it was compared with a Standard Meter with the FLUKE brand. The average percentage error value is 0.002 at a distance of 50cm, an error of 0.011 at a distance of 100cm, and an error of 0.008 at a distance of 130cm.
Laennec Bluetooth Untuk Pemeriksaan Denyut Jantung Janin Eko Nugroho; Wijayanti Wijayanti; Noradina Rahmawati
Jurnal Rekayasa Proses dan Industri Terapan Vol. 1 No. 2 (2023): Mei: Jurnal Rekayasa Proses dan Industri Terapan ( REPIT )
Publisher : Politeknik Kampar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59061/repit.v1i2.380

Abstract

FHR assessment aims to detect early fetal emergencies that can cause death. Laennec is a technology-based tool for monitoring fetal well-being to gather information and identify pathological conditions in the fetus through assessment. The Covid 19 pandemic, which requires maintaining a minimum distance of 1 meter from patients, requires the design of Laennec Bluetooth technology. The purpose of this study for the purpose of this study was to design a bluetooth laennec for examining the fetal heart rate. The method of this research is research and development, namely the Arduino Uno-based Laennec Bluetooth design displays the number of fetal heartbeats (FHR) in real time and continuously in Beats per Minute (BPM) size on the LCD screen attached to the device and can also be displayed on an Android smartphone via applications that are already installed in it which is connected via bluetooth. The monitoring system is designed to automatically monitor and measure FHR. Measurement of FHR uses the MAX4466 Sensor and Arduino Uno as a data processor. Laennec Bluetooth testing by comparing the measurement results with the original Laennec which is made of aluminum by comparing the error values. Based on the test results on 5 pregnant women with a gestational age of more than 20 weeks as a sample conducted by Lennec Bluetooth and measurements made directly with Laennec, the average percentage error was 0.31%. The Bluetooth range on Laennec Bluetooth is a maximum of 14 meters because at the time of the inspection it was in a closed room which was insulated by a wall.
TANTANGAN IMPLEMENTASI TRANSFORMASI SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN MELALUI PENGEMBANGAN ACADEMIC HEALTH SYSTEM DI PROVINSI SULAWESI SELATAN Eko Nugroho; Astoro, Anjar Budi
EZRA SCIENCE BULLETIN Vol. 2 No. 1 (2024): January-June 2024
Publisher : Kirana Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/ezrasciencebulletin.v2i1.130

Abstract

Transformasi sumber daya manusia (SDM) kesehatan menjadi prioritas dalam meningkatkan mutu layanan kesehatan dan mencapai tujuan pembangunan kesehatan berkelanjutan. Academic Health System (AHS) muncul sebagai strategi untuk mempercepat transformasi ini dengan mengintegrasikan pendidikan, penelitian, dan layanan kesehatan. Namun penerapan AHS di Provinsi Sulawesi Selatan menghadapi beberapa tantangan, antara lain resistensi terhadap perubahan, keterbatasan sumber daya, dan koordinasi antar lembaga. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis tantangan utama penerapan AHS di provinsi tersebut. Melalui pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Wawancara dilakukan terhadap 20 orang, termasuk pimpinan institusi layanan kesehatan, direktur rumah sakit, pejabat pemerintah daerah, profesional kesehatan, dan mahasiswa kedokteran. Informan dipilih dengan menggunakan purposive sampling dan snowball sampling. Hasilnya menunjukkan bahwa pengembangan AHS di Sulawesi Selatan berpotensi meningkatkan kualitas dan distribusi tenaga kesehatan. Namun tantangan seperti penolakan terhadap perubahan, keterbatasan sumber daya, dan koordinasi antar lembaga perlu diatasi. Dengan komitmen yang kuat dan strategi yang tepat, penerapan AHS di Sulawesi Selatan dapat menjadi model bagi provinsi lain di Indonesia untuk meningkatkan kualitas dan pemerataan tenaga kesehatan.