Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Transformation of local cultural values in the modernization of architectural and interior design of traditional market buildings in Bali Dewi, Ni Made Emmi Nutrisia; Pranajaya, I Kadek; Utami, Ni Kadek Yuni
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 9 No 2 (2024): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | Mei 2024 ~ Agustus 2024
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/arteks.v9i2.3342

Abstract

Traditional markets in Bali reflect the richness of local culture closely related to people's daily lives. Along with the times and demands for progress, these markets are transforming through the modernization of architectural and interior design. This modernization impacts local cultural heritage, changing how people interact with markets and the traditional values that Balinese people have long upheld. Therefore, research on the transformation of local cultural values in the modernization of architectural and interior design in traditional Balinese markets becomes relevant to understanding the implications and evaluating the preservation and adjustment efforts needed to maintain a unique cultural identity. The main focus is on changes in building design that influence the user experience of the building and the sustainability of cultural heritage as well as providing insight into emerging challenges and opportunities as well as an understanding of efforts to preserve local cultural values. This study will use a qualitative methodology to investigate changes in aesthetic and cultural dimensions. The results of this study demonstrate that cultural values change due to modern buildings being constructed in Bali's traditional marketplaces. The building's modernization has an impact on everyday activities, including the waning of the bargaining culture, the consumer behavior when visiting the upper floors, the traders' behavior regarding the interior conditions of the market, the culture that elevates buyers to the status of kings, and the transactional atmosphere typical of traditional markets. The contribution involves active participation from local communities with solutions in the form of efforts to maintain cultural heritage that can be aligned with implementing innovations that have a positive impact. By involving traders and market owners, solutions can be found to modernize facilities while maintaining local cultural values.
Strategi Komunikasi Multikultural dalam Penguatan Karakter Mahasiswa melalui Pengenalan Budaya Bali Pranajaya, I Kadek; Dion Eko Prihandono; Vita Wulansari; Ngurah Gede Dwi Mahadipta

Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35891/heritage.v13i1.5991

Abstract

Keberagaman budaya Indonesia merupakan kekayaan nasional yang penting untuk diperkenalkan kepada generasi muda guna membangun karakter yang toleran, inklusif, dan nasionalis. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi Modul Nusantara dalam Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) 4 di Institut Desain dan Bisnis Bali (IDB Bali) sebagai upaya mengenalkan budaya Bali dan membangun kesadaran multikultural mahasiswa. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif eksploratif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan Modul Nusantara, yang mencakup kebinekaan, inspirasi, refleksi, dan kontribusi sosial, berhasil memperkenalkan nilai-nilai budaya Bali, termasuk filosofi Tri Hita Karana. Kegiatan kebinekaan memberikan wawasan tentang keragaman budaya, kegiatan inspirasi mendorong mahasiswa untuk belajar dari tokoh-tokoh inspiratif, kegiatan refleksi membantu mahasiswa menginternalisasi nilai-nilai toleransi, dan kontribusi sosial memperkuat empati serta tanggung jawab sosial. Program ini tidak hanya memperkaya wawasan budaya mahasiswa tetapi juga mengembangkan kesadaran nasionalisme dan solidaritas. Kesimpulan menunjukkan bahwa Modul Nusantara adalah model pendidikan multikultural berbasis pengalaman yang relevan untuk diterapkan di institusi lain. Disarankan agar program ini dikembangkan lebih lanjut dengan inovasi seperti pemanfaatan teknologi digital dan evaluasi dampak berkala untuk memastikan keberlanjutannya.
Implementasi Tema Sanctuary dan Konsep Wellness Berbasis Evidence-Based Design (EBD) sebagai Strategi Inovatif dalam Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan:Studi Kasus di Puskesmas 1 Baturiti, Tabanan, Bali Ni Kadek Amami; Pranajaya, I Kadek; Ni Made Sri Wahyuni Trisna
Waca Cipta Ruang Vol. 11 No. 1 (2025): Waca Cipta Ruang : Jurnal Ilmiah Desain Interior
Publisher : Program Studi Desain Interior Unikom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34010/wcr.v11i1.15676

Abstract

Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) berperan sebagai garda terdepan dalam layanan kesehatan primer di Indonesia. Namun, sering kali menghadapi keterbatasan infrastruktur dan pengelolaan ruang yang kurang optimal. Puskesmas 1 Baturiti, Tabanan, Bali mengalami tantangan serupa sehingga diperlukan perancangan ulang untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Penelitian ini mengadopsi tema Sanctuary dan Wellness, menawarkan pendekatan inovatif dengan menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman guna mendukung proses penyembuhan holistik. Tujuan dari penelitian ini adalah menyediakan solusi komprehensif yang mengintegrasikan aspek fisik, psikologis, dan emosional melalui penggunaan palet warna lembut serta elemen alami. Metode deskriptif kualitatif diterapkan dengan melakukan observasi lapangan, wawancara mendalam, serta analisis dokumen arsitektural. Analisis mengungkap beberapa permasalahan utama, seperti keterbatasan ruang tunggu, pola sirkulasi tidak efisien, serta kurangnya fasilitas pendukung, termasuk ruang relaksasi. Pendekatan evidence-based design dalam perancangan ulang menghasilkan perbaikan pada efisiensi alur kerja, pengurangan waktu tunggu, serta peningkatan kenyamanan psikologis bagi pengguna. Inovasi desain diharapkan dapat menjadi model bagi fasilitas kesehatan lainnya dalam menerapkan elemen penyembuhan holistik yang mendukung pemulihan pasien serta kesejahteraan tenaga medis. Selain itu, perbaikan lingkungan fisik berkontribusi pada optimalisasi layanan kesehatan secara keseluruhan. Keunikan dari penelitian ini terletak pada integrasi konsep sanctuary dan wellness sebagai pendekatan inovatif dalam mengatasi keterbatasan infrastruktur serta meningkatkan layanan kesehatan primer.   Kata Kunci: evidence-based design, inovasi pelayanan, puskesmas, sanctuary, wellness  
Sustainable Interior Design for Urban Cafés: Integrating Urban Culture and Smart Technology to Enhance Work-Oriented Comfort Setyaningrum, Ruth Puji; Pranajaya, I Kadek; Nutrisia Dewi, Ni Made Emmi
International Journal of Engineering, Science and Information Technology Vol 5, No 3 (2025)
Publisher : Malikussaleh University, Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52088/ijesty.v5i3.1009

Abstract

The rise of urban culture and flexible work trends has redefined cafés as alternative workspaces, prompting the need for interior designs that are both sustainable and adaptive. However, many café environments still lack a holistic integration of local cultural values and emerging technologies to support prolonged, productive work. This study proposes a sustainable interior design model for urban cafés that combines cultural identity with innovative technological solutions to enhance user comfort. Using a qualitative methodology, the research involved field observations, semi-structured interviews, ergonomic evaluations, and digital environmental simulations, conducted in Renon, Denpasar—a vibrant urban area in Bali. Results indicate that incorporating cultural elements, such as material patterns, spatial layouts, and symbolic aesthetics, along with bright lighting, efficient ventilation, and ergonomic furniture, significantly improves functionality and user well-being. Users identified key comfort factors including lighting, furniture design, zoning, acoustics, and air quality. The study emphasizes the need for an interdisciplinary approach that fuses design engineering, local culture, and intelligent systems to create flexible, user-centered environments. Nine integrative design strategies are proposed to support both work productivity and cultural resonance. These findings provide practical insights for architects, designers, and café developers seeking to create meaningful and adaptable spaces in tropical urban settings. On a broader scale, the research contributes to the global discourse on non-traditional workspace design by presenting a replicable framework that aligns with sustainable urban development and the evolving work dynamics of the digital era.
Strategi Komunikasi Multikultural dalam Penguatan Karakter Mahasiswa melalui Pengenalan Budaya Bali Pranajaya, I Kadek; Dion Eko Prihandono; Vita Wulansari; Ngurah Gede Dwi Mahadipta
HERITAGE Vol 13 No 1 (2025): Jurnal Heritage
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35891/heritage.v13i1.5991

Abstract

Keberagaman budaya Indonesia merupakan kekayaan nasional yang penting untuk diperkenalkan kepada generasi muda guna membangun karakter yang toleran, inklusif, dan nasionalis. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi Modul Nusantara dalam Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) 4 di Institut Desain dan Bisnis Bali (IDB Bali) sebagai upaya mengenalkan budaya Bali dan membangun kesadaran multikultural mahasiswa. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif eksploratif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan Modul Nusantara, yang mencakup kebinekaan, inspirasi, refleksi, dan kontribusi sosial, berhasil memperkenalkan nilai-nilai budaya Bali, termasuk filosofi Tri Hita Karana. Kegiatan kebinekaan memberikan wawasan tentang keragaman budaya, kegiatan inspirasi mendorong mahasiswa untuk belajar dari tokoh-tokoh inspiratif, kegiatan refleksi membantu mahasiswa menginternalisasi nilai-nilai toleransi, dan kontribusi sosial memperkuat empati serta tanggung jawab sosial. Program ini tidak hanya memperkaya wawasan budaya mahasiswa tetapi juga mengembangkan kesadaran nasionalisme dan solidaritas. Kesimpulan menunjukkan bahwa Modul Nusantara adalah model pendidikan multikultural berbasis pengalaman yang relevan untuk diterapkan di institusi lain. Disarankan agar program ini dikembangkan lebih lanjut dengan inovasi seperti pemanfaatan teknologi digital dan evaluasi dampak berkala untuk memastikan keberlanjutannya.
Empowering Wana Kriya MSMEs Through Utilizing Local Wood Into Decoration and Accessory Products LESTARI, Ni Putu Emilika Budi; PRANAJAYA, I Kadek; PUTRI, Putu Yudha Asteria; DEWI, Ni Made Emmi Nutrisia; PRASIANI, Ni Komang; MANDALA, I Gusti Ngurah Agung Kepakisan; MAHADIPTA, Ngurah Gede Dwi; PARAMITA, Ni Kadek Ayu Pradnya; WICAKSANA, Gede Dharma Arya; CAHYONO, Irfan; WIRATAMA, Dhanendra; WIBAWA, Ida Bagus Surya
Akuntansi dan Humaniora: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2025): Akuntansi dan Humaniora: Jurnal Pengabdian Masyarakat (Oktober – Januari 2026)
Publisher : PT Keberlanjutan Strategis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38142/ahjpm.v4i3.1635

Abstract

This community service program aims to empower the Wana Kriya MSME in Pering Village, Gianyar, Bali through the sustainable use of local wood to create economically valuable decorative and accessory products. The activities are carried out through several stages, including socialization, training in creativity and product design innovation, branding training, photography, product identity, and visual content. In addition, training is provided on digital marketing and social media utilization, MSME management, production, and entrepreneurship. The counseling and community empowerment program is carried out with the theme "Building MSMEs Based on Local Resources: Developing a Creative Economy and Sustainability Towards Creative and Competitive Villages." Appropriate technology support is realized through the provision of tools for cutting and finishing funded by a grant from the Directorate of Research, Technology, and Community Service, Directorate General of Research and Development, Ministry of Higher Education, Science, and Technology for Fiscal Year 2025. The application of digital information technology is carried out through the creation of promotional media on Facebook, Instagram, and marketplace integration. The results of the activities show an increase in the ability of partners to produce local wooden decorative and accessory products that are more creative, high-quality, and have a stronger visual identity and digital marketing strategy. This program encourages the development of the creative economy, sustainability, and competitiveness of Pering Village towards a creative village based on local resources.
INOVASI ECO-CRAFT BERBASIS LIMBAH KULIT KERANG LAUT UNTUK PEMBERDAYAAN UMKM AYU & BAGUS COLLECTION DI DESA SERANGAN Nutrisia Dewi, Ni Made Emmi; Wika Artawan, I Kadek; Agung Kepakisan Mandala, I Gusti Ngurah; Pradnya Paramita, Ni Kadek Ayu; Asteria Putri, Putu Yudha; Emilika Budi Lestari, Ni Putu; Pranajaya, I Kadek; Prasiani, Ni Komang; Yogantari, Made Vairagya; Dwi Mahadipta, Ngurah Gede; Sintia Dewi, Ni Kadek Tarisa
Jurnal Abdi Masyarakat Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Abdi Masyarakat November 2025
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jaim.v9i1.6915

Abstract

Serangan Village, as a coastal area, generates a large amount of shell waste that has the potential to be processed into products with economic value. This community service program aims to enhance the capacity of Ayu & Bagus Collection MSMEs in Serangan Village through eco-craft innovations based on marine shell waste. The implementation methods include needs assessment, training, mentoring, and the provision of supporting facilities. The training covers product design based on local wisdom, business management, digital marketing strategies, and the use of technology in production and promotion. In addition, the community service team provided various supporting tools, such as production and finishing equipment, funded by a grant from the Directorate of Research, Technology, and Community Service, Directorate General of Research and Development, Ministry of Higher Education, Science, and Technology, in the 2025 Fiscal Year. The results indicate an increase in product quantity, improved skills of partners in producing more creative eco-craft designs, more structured business management, and better utilization of digital media for marketing. The provision of equipment also supports business sustainability by accelerating production and improving product quality. This program contributes directly to the empowerment of MSMEs and environmental preservation through the utilization of shell waste. Thus, the collaboration of training and facility provision demonstrates a potential model of community empowerment through eco-craft that is competitive, sustainable, and rooted in local potential.
Analisis Psikologi Warna dan Pencahayaan Interior pada Ruang Baca Cafe Rumah Momo Putu Dinda Pradnya Suari; I Kadek Pranajaya; Ni Made Emmi Nutrisia Dewi
Waca Cipta Ruang Vol. 12 No. 1 (2026): Waca Cipta Ruang : Jurnal Ilmiah Desain Interior
Publisher : Program Studi Desain Interior Unikom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34010/wcr.v12i1.19995

Abstract

Ruang baca pada kafe semakin berkembang sebagai ruang hibrida yang mendukung aktivitas pengguna seperti membaca, bekerja/belajar dan berdiskusi. Namun, kajian empiris mengenai peran kombinasi warna dan pencahayaan interior terhadap fokus pengguna pada konteks ruang baca kafe masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana konfigurasi warna dan pencahayaan interior memengaruhi persepsi pengguna pada ruang baca di Cafe Rumah Momo pada tahun 2026. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana penerapan warna dan cahaya pada ruang baca dapat mempengaruhi kenyamanan visual serta suasana ruang bagi pengguna. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi lapangan, wawancara, dokumentasi visual, serta kuesioner terhadap pengunjung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dominasi warna natural berbasis earth-tone berkontribusi pada terciptanya suasana yang positif secara psikologis, yang diasosiasikan dengan kesan nyaman dan aman pengguna. Selain itu, penerapan pencahayaan dengan temperatur warna cenderung seimbang antara tone dingin dan tone hangat sekaligus distribusi cahaya yang tidak menyilaukan diindikasikan mendukung persepsi positif selama aktivitas membaca, bekerja/belajar dan berdiskusi. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya integrasi aspek psikologi warna dan pencahayaan dalam desain interior ruang baca kafe. Secara praktis, penelitian ini memberikan implikasi bagi perancang interior dalam merancang lingkungan yang mendukung produktivitas, meskipun temuan ini bersifat kontekstual dan memerlukan validasi lebih lanjut melalui pendekatan kualitatif.   Kata Kunci: Desain interior, Fokus pengguna, Pencahayaan interior, Psikologi warna, Ruang baca kafe 
Desain inklusif untuk ruang komunitas: peran partisipasi masyarakat dalam perancangan interior dan identitas visual gedung pertemuan di Kantor Desa Angkah Ni Made Emmi Nutrisia Dewi; Ni Putu Eka Trisnasari Subrata; I Putu Gede Suyoga; I Kadek Pranajaya; Ni Wayan Nandaryani; Reandini Syu’ara Dewi; Ni Kadek Dewi Sacia Paramitha
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 3 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i3.39280

Abstract

Abstrak Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan merancang interior dan identitas visual Gedung Pertemuan di Kantor Desa Angkah dengan pendekatan desain inklusif yang selaras dengan kebutuhan dan karakter masyarakat setempat. Pendekatan ini mengutamakan partisipasi aktif warga dalam seluruh tahapan perancangan, mulai dari identifikasi kebutuhan, diskusi desain, hingga evaluasi hasil. Melalui metode participatory design, aspirasi masyarakat dikompilasi menjadi konsep ruang yang fungsional, mudah diakses, dan mampu mengakomodasi berbagai kegiatan komunal. Gaya desain minimalis dipilih untuk menghadirkan suasana ruang yang sederhana, efisien, dan hemat sumber daya, sekaligus memudahkan perawatan jangka panjang. Material lokal dan warna netral digunakan untuk menciptakan kesan hangat, terbuka, serta ramah bagi semua kalangan, termasuk lansia dan penyandang disabilitas. Identitas visual gedung dirancang untuk memperkuat citra desa sebagai ruang bersama yang modern namun tetap berakar pada budaya lokal. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa kolaborasi antara tim perancang dan masyarakat dapat menghasilkan solusi desain yang tidak hanya estetis dan fungsional, tetapi juga memiliki nilai kebersamaan yang tinggi. Pendekatan ini diharapkan menjadi model perancangan ruang publik yang berkelanjutan, adaptif, dan mampu membangun rasa memiliki masyarakat terhadap fasilitas yang digunakan bersama. Kata kunci: pengabdian; desain; gedung pertemuan; identitas visual; partisipasi masyarakat. Abstract This community service project aims to design the interior and visual identity of the Meeting Hall at the Angkah Village Office using an inclusive design approach that aligns with the needs and character of the local community. This approach prioritizes the active participation of residents in all stages of the design process, from identifying needs and design discussions to evaluating the results. Through participatory design methods, community aspirations were compiled into a spatial concept that is functional, easily accessible, and capable of accommodating various communal activities. A minimalist design style was chosen to create a simple, efficient, and resource-efficient atmosphere, while also facilitating long-term maintenance. Local materials and neutral colors were used to create a warm, open, and welcoming environment for all groups, including the elderly and people with disabilities. The building’s visual identity was designed to reinforce the village’s image as a modern shared space that remains rooted in local culture. The results of the project demonstrate that collaboration between the design team and the community can produce design solutions that are not only aesthetically pleasing and functional but also embody a strong sense of community. This approach is expected to serve as a model for the design of sustainable, adaptive public spaces that foster a sense of ownership among community members toward the shared facilities. Keywords: community service; design; community center; visual identity; community participation
Integration of Tri Hita Karana and Sustainable Design for Creative Tourism Villages: Spatial Models in Bongkasa Pertiwi Village Gede Eri Sumantara; Ngurah Gede Dwi Mahadipta; I Kadek Pranajaya
Jomantara Indonesian Journal of Art and Culture Vol. 6 No. 02 (2026): Vol. 6 No. 2 July 2026
Publisher : Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jijac.v6i02.51183

Abstract

The village of Bongkasa Pertiwi has significant potential for cultural tourism and the creative economy; however, the area's spatial planning, circulation, facilities, and sanitation are not yet optimal, thereby reducing the quality of the tourist experience and the destination's competitiveness. Furthermore, there is currently no tourism village design model that integrates the Tri Hita Karana philosophy with spatially measurable sustainability indicators. This study aims to formulate a creative tourism area design model based on eco-cultural sustainable design. The method used is design research employing the Glass Box approach, combined with spatial analysis, behavioral mapping, tropical climate analysis, and area utility evaluation. The research results show an increase in circulation efficiency of approximately 30%, the provision of green open spaces covering approximately 40% of the area, a reduction in stormwater runoff of approximately 35%, and an increase in public facility capacity of approximately 25%. This study produces a Tri Hita Karana-based spatial strategy model that supports the development of sustainable, adaptive, and locally-rooted cultural tourism villages. The village of Bongkasa Pertiwi has significant potential for cultural tourism and the creative economy; however, the area's spatial planning, circulation, facilities, and sanitation are not yet optimal, thereby reducing the quality of the tourist experience and the destination's competitiveness. Furthermore, there is currently no tourism village design model that integrates the Tri Hita Karana philosophy with spatially measurable sustainability indicators. This study aims to formulate a creative tourism area design model based on eco-cultural sustainable design. The method used is design research employing the Glass Box approach, combined with spatial analysis, behavioral mapping, tropical climate analysis, and area utility evaluation. The research results show an increase in circulation efficiency of approximately 30%, the provision of green open spaces covering approximately 40% of the area, a reduction in stormwater runoff of approximately 35%, and an increase in public facility capacity of approximately 25%. This study produces a Tri Hita Karana-based spatial strategy model that supports the development of sustainable, adaptive, and locally-rooted cultural tourism villages.