Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN PENGETAHUAN PEKERJA HARIAN LEPAS SEKTOR KONSTRUKSI WILAYAH KABUPATEN TEGAL TERHADAP KEPEMINATAN PESERTA ASURANSI BPJS KETENAGAKERJAAN Rosmalia Rosmalia; Erna Agustin Sukmandari; Dwi Atmoko
Bhamada: Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan (E-Journal) Vol 15 No 2 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS BHAMADA SLAWI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36308/jik.v15i2.659

Abstract

Sektor konstruksi memiliki aktifitas pekerjaan kompleks serta penggunaan tenaga kerja secara padat karya sehingga kemungkinan risiko bahaya yang berdampak cidera sampai meninggal dapat terjadi pada pekerjanya. Aspek penting dalam pemenuhan kompetensi tenaga kerja sektor konstruksi salah satunya pengetahuan tentang keselamatan dan kesehatan kerja. Pekerja Harian Lepas (PHL) sebagai salah satu tenaga yang sering dijumpai pada proyek-proyek konstruksi, lemah dalam memperoleh perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja sebab tidak ada perjanjian kerja secara tertulis dari pihak pemberi kerja. Perekrutannya berdasarkan kebutuhan dan terbatas waktu sehingga bila mengalami kecelakaan kerja, tidak ada jaminan pembiayaan pengobatan atau biaya kematian yang wajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan PHL mengenai keselamatan kerja dan jaminan keselamatan kerja terhadap kepeminatan sebagai peserta asuransi jaminan keselamatan kerja yaitu BPJS Ketenagakerjaan. Metode penelitian berupa studi cross sectional dengan analisis deskriptif korelatif. Instrumen penelitian berupa kuesioner meliputi 4 aspek yaitu : tanggung jawab, keselamatan berbasis perilaku, alat pelindung diri, dan produk BPJS Ketenagakerjaan. Jumlah responden 112 pekerja proyek konstruksi di wilayah Kabupaten Tegal yang sedang berlangsung. Analisis data menggunakan aplikasi IBM SPSS 23 dengan uji statistik chi square. Hasilnya adalah karakteristik pekerja berdasarkan usia 97,3% merupakan usia produktif dan pendidikan 35,7% tamatan SD disusul 32,1% tamatan SMP. Pekerja sebanyak 22,6% tidak berminat menjadi peserta asuransi beranggapan jika ada kecelakaan kerja adalah tanggung jawab mandor atau pemberi usaha. Perilaku aman sekedar himbauan dari pemberi kerja/mandor sehingga perilaku rasa aman pekerja diciptakan berdasarkan pengalaman kerja masing-masing. Tidak tersedia APD pendukung bekerja di ketinggian, belum terpapar secara rinci tata cara mengikuti produk asuransi BPJS Ketenagakerjaan, serta rasa khawatir akan jumlah iuran yang nanti menjadi beban setiap bulan. Terdapat hubungan pengetahuan PHL tentang keselamatan kerja dengan peminatan peserta asuransi jaminan keselamatan kerja atau BPJS Ketenagakerjaan, dengan nilai p=0,009 < α dan nilai RR=0,653. Pekerja yang berpengetahuan K3 baik berpeluang 0,653 kali dalam kepeminatan peserta BPJS Ketenagakerjaan dibandingkan peserta yang kurang berpengetahuan K3.
ANALISIS RISIKO MUSCULOSKLETAL DISORDERS (MSDS) PADA PEKERJA USAHA MIKRO PEMBUATAN ALAT MUSIK TRADISIONAL MENGGUNAKAN NORDIC BODY MAP Tangguh Dwi Pramono; Agung Tyas Subekti; Dwi Atmoko
Bhamada: Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan (E-Journal) Vol 15 No 2 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS BHAMADA SLAWI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36308/jik.v15i2.693

Abstract

Usaha mikro mempunyai peranan dalam mengembangkan daerah pedesaan dan memaksimalkan alokasi sumber daya dengan mengolah bagian mentah menjadi produk.Keberadaan Usaha Mikro tidak luput dari berbagai permasalahan, mereka susah berkembang, pasarnya terbatas, dalam pengelolaannya juga ada keterbatasan terkait kemampuan SDM dalam mengelola usaha, dan juga ada keterbatasan terkait financial. Dari segala keterbatasan yang dihadapi pelaku Usaha Mikro, permaslahan yang berkaitan dengan aspek keselamatan dan kesehatan kerja pun banyak yang UMK abaikan. Pada kelompok usaha mikro pembuatan alat music rebana Desa Kaliwadas, banyak pekerja yang mengalami kelihan Kesehatan, seperti nyeri tulang punggung, leher dan lengan. Dari hasil observasi lapangan, banyak pekerja tidak dalam popsisi yang ergonomis dalam melakukan aktifitas kerja. Penyakit akibat kerja yang terjadi pada pekerja sektor UMKM dapat berpengaruh pada produktivitas kerja. Postur tubuh janggal merupakan penyebab utama penyakti akibat kerja yang berkaitan dengan faktor ergonomi, biasa disebut dengan Musculsokeletal Disorders (MSDs). MSDs merupakan salah satu penyakit akibat kerja yang mengalami gangguan kronik pada otot, tendon, dan saraf yang disebabkan oleh postur janggal, durasi kerja, frekuensi gerakan berulang. Tingkat keparahan penyakit kerja MSDs dapat diukur dengan tools Nordic Body Map (NBM). NBM merupakan alat yang sudah banyak digunakan untuk mengukur keluhan sakit pada masing-masing segmen tubuh manusia.
MEDIA SOSIAL DAN PERILAKU SEKSUAL REMAJA: STUDI PADA SISWA KELAS X SMK MUHAMMADIYAH LEBAKSIU Faisaluddin Faisaluddin; Musrifah Musrifah; Dwi Atmoko
Bhamada: Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan (E-Journal) Vol 16 No 2 (2025)
Publisher : UNIVERSITAS BHAMADA SLAWI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36308/jik.v16i2.878

Abstract

Media sosial menjadi bagian penting dalam kehidupan remaja, namun paparan konten seksual di platform digital dapat mendorong perilaku seksual berisiko. Masa remaja sebagai fase transisi menjadikan individu rentan terhadap pengaruh lingkungan, termasuk media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan penggunaan media sosial dengan perilaku seksual pada siswa kelas X SMK Muhammadiyah Lebaksiu. Metode penelitian yang digunakan dalam poenelitian ini adalah dengan menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Penelitian ini melibatkan 119 siswa yang dipilih melalui purposive sampling. Instrumen yang digunakan meliputi Social Media Engagement Scale for Adolescents (SMES-A) versi Indonesia untuk mengukur intensitas penggunaan media sosial dan kuesioner perilaku seksual berbasis konsep dari Sarwono (2006). Analisis data dilakukan menggunakan regresi logistik dengan bantuan SPSS 22. Hasil analisis menunjukkan 43,7% siswa tidak melakukan perilaku seksual, 49,6% terlibat dalam perilaku seksual berisiko ringan, dan 6,7% dalam perilaku seksual berisiko berat. Uji kecocokan model menunjukkan penurunan signifikan pada nilai -2 Log Likelihood (156,767 menjadi 72,547; p < 0,001). Nilai Nagelkerke R² sebesar 0,610 mengindikasikan bahwa penggunaan media sosial berkontribusi 61% terhadap variasi perilaku seksual siswa. Regresi logistik juga menunjukkan pengaruh positif signifikan penggunaan media sosial terhadap perilaku seksual (β = 0,658; p < 0,001). Dengan demikian, penggunaan media sosial berperan signifikan dalam meningkatkan kemungkinan terjadinya perilaku seksual pada remaja. Hasil ini menegaskan perlunya intervensi literasi digital, komunikasi orang tua-anak, serta kebijakan sekolah dalam meminimalisasi risiko perilaku seksual remaja.