Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Topical Fermented Lactobacillus acidophilus Lysate Accelerates Second-Degree Burn Healing: An In Vivo Study in Wistar Rats Kamilah, Lian; Kusumawardani, Arie; Widhiati, Suci; Dharmawan, Nugrohoaji; Ellistasari, Endra Yustin
Open Access Indonesian Journal of Medical Reviews Vol. 5 No. 4 (2025): Open Access Indonesian Journal of Medical Reviews
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37275/oaijmr.v5i4.725

Abstract

Second-degree burns, affecting the epidermis and dermis, constitute a major category of thermal injuries globally, presenting significant clinical challenges including pain, infection risk, and potential scarring. While standard treatments like silver sulfadiazine (SSD) exist, limitations including potential cytotoxicity and emerging resistance necessitate exploration of novel therapeutic strategies. Recent interest has focused on topical applications derived from probiotics, such as Lactobacillus spp., due to their suggested roles in modulating inflammation, combating oxidative stress, and providing antimicrobial activity to accelerate wound repair. This study investigated a fermented lysate derived from Lactobacillus acidophilus (L. fermented) as a potential topical agent for burn healing. This study aimed to evaluate the therapeutic efficacy of a 5% topical L. fermented ointment on the healing process of experimentally induced second-degree burns in a Wistar rat model, primarily by assessing the rate of wound closure compared to standard SSD treatment and an untreated control. A true experimental in vivo study utilizing a post-test only control group design was performed following ethical approval. Fifteen male Wistar rats were subjected to a standardized second-degree thermal burn injury on their dorsal aspect. The animals were then randomized (n=5 per group) to receive twice-daily topical applications of either 5% L. fermented ointment (Group A), SSD ointment (Group B), or no treatment (Control, Group C). Wound healing was quantitatively assessed by measuring the wound surface area (mm²) on days 1, 3, 7, and 14 post-injury using digital imaging and ImageJ software analysis. Statistical comparisons between groups were conducted using one-way ANOVA followed by LSD post-hoc tests, with statistical significance set at p<0.05. All treatment groups demonstrated a significant reduction in wound size over the 14-day observation period (p=0.001 within each group). Inter-group comparisons revealed significantly accelerated wound closure in Group A starting from day 3 onwards (p<0.005). At day 14, the mean wound area in Group A (17.5 ± 8.06 mm²) was significantly smaller than in Group B (119.22 ± 45.41 mm²) and Group C (305.18 ± 25.21 mm²) (p=0.001). Post-hoc analysis confirmed the superiority of L. fermented treatment over both SSD (mean difference 101.72 mm², p=0.001) and control (mean difference 287.68 mm², p=0.001). SSD treatment also resulted in significantly better healing than the control group (mean difference 185.96 mm², p=0.001). In conclusion, topical application of 5% fermented Lactobacillus acidophilus lysate significantly accelerated the closure of second-degree burn wounds in Wistar rats, demonstrating superior efficacy compared to both silver sulfadiazine treatment and no treatment. These findings highlight the potential of L. fermented lysate as a promising novel therapeutic agent for burn wound management.
Sikap dan Pemahaman Mahasiswa Kedokteran Semester Akhir Terhadap Laki Seks Lelaki sebagai Risiko Infeksi Menular Seksual dan HIV Hidayatullah, Lalu Muh Syahrul Rio; Kusumawardani, Arie; Ellistasari, Endra Yustin
Plexus Medical Journal Vol. 4 No. 4 (2025): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/plexus.v4i4.2285

Abstract

Latar Belakang: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi sikap dan Tingkat pemahaman mahasiswa Kedokteran semester akhir (semester tujuh) mengenai Infeksi Menular Seksual (IMS) dan risiko Human Immunodeficiency Virus (HIV) di kalangan Lelaki Seks Lelaki (LSL). Meningkatnya prevalensi IMS dan HIV di kalangan LSL menunjukkan perlunya perhatian yang lebih besar terhadap pendidikan kesehatan dan kewaspadaan terhadap risiko infeksi pada kelompok ini. Sebagai calon tenaga kesehatan, mahasiswa Kedokteran memiliki  peran penting dalam  mencegah  dan  mengatasi masalah kesehatan ini. Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Kedokteran semester akhir Universitas Sebelas Maret, dengan jumlah sampel sebanyak 233 responden ditentukan menggunakan teknik total sampling . Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif dan analisis data kuantitatif. Hasil: Hasil penelitian menunjukan sikap mahasiswa semester akhir Kedokteran terhadap LSL sebagai faktor risiko IMS dan infeksi HIV sebagian besar mempunyai sikap sedang (ragu – ragu) sebanyak 93,1% terhadap topik penelitian. Tingkat pemahaman mahasiswa Kedokteran semester akhir terhadap LSL sebagai faktor risiko IMS kategori baik hanya sebanyak 42,1% dan pada infeksi HIV yang mempunyai pemahaman baik hanya sebanyak 44,6%, hasil ini masih kurang baik dan perlu ditingkatkan sebagai mahasiswa Kedokteran. Terdapat adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pemahaman dengan sikap mahasiswa Kedokteran semester akhir dengan nilai signifikansi (IMS (p value = 0,014) & HIV (p value = 0,026)). Simpulan: Mahasiswa Kedokteran semester akhir memiliki tingkat pemahaman yang baik, sikap kategori yang tinggi dan terdapat hubungan antara tingkat pemahaman dan sikap terkait topik LSL sebagai faktor risiko IMS dan HIV.
Pengaruh Derajat Keparahan Terhadap Kejadian Resistensi Doksisiklin pada Penderita Akne Vulgaris Widyastuti, Zilpa; Kariosentono, Harijono; Kusumawardani, Arie
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v9i3.14731

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh derajat keparahan akne vulgaris (AV) terhadap kejadian resistensi antibiotik doksisiklin. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional yang berlokasi di poliklinik kulit dan kelamin RSUD Dr. Moewardi, pada bulan Agustus hingga September 2023. Subjek pada penelitian ini penderita AV derajat sedang-berat. Derajat keparahan AV dinilai menggunakan sistem skoring Global Acne Grading System (GAGS), sedangkan kejadian resistensi doksisiklin dinilai dengan menggunakan metode disc diffusion. Terdapat sebanyak 31 subyek pada penelitian ini dengan AV derajat sedang-berat. Terdapat sebanyak 3 subjek (9,68%) yang mengalami resistensi doksisiklin. Hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari derajat keparahan AV terhadap kejadian resistensi doksisiklin pada C. acnes (p = 0,041). Secara umum, dapat disimpulkan bahwa derajat keparahan AV berpengaruh terhadap timbulnya resistensi doksisiklin pada C. acnes.
PERBANDINGAN PEMBERIAN KRIM SERAMID DAN SHEA BUTTER PADA PENURUNAN TRANSEPIDERMAL WATER LOSS Novriana, Dita Eka; Kusumawardani, Arie
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 50 No 4 (2023): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v50i4.457

Abstract

Pendahuluan: Kulit merupakan organ pelindung tubuh dari mikroorganisme dan bahan-bahan berba- haya lainnya. Kulit terdiri dari beberapa lapisan yaitu epidermis, demis, dan subkutan. Stratum korneum pada epidermis berperan untuk mencegah transepidermal waterloss (TEWL). Seramid dan shea butter merupakan bahan yang dapat berguna untuk membantu memperbaiki fungsi sawar kulit dengan mencegah TEWL. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas pemberian krim seramid dan shea butter terhadap penurunan TEWL. Metode: Penelitian ini dilakukan di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Moewardi pada Februari – Maret 2020 terdiri dari 15 laki-laki dan 15 perempuan berusia 20–30 tahun. Nilai TEWL diperiksa terlebih dahulu sebelum pemberian perlakuan. Krim seramid dioleskan pada sisi volar lengan bawah kanan dan shea butter dioles- kan pada sisi volar lengan bawah kiri, masing-masing sebanyak dua kali sehari selama empat minggu. Uji normalitas data menggunakan Saphiro Wilk dan uji statistik dengan Independent T-Test. Hasil: Penelitian ini menunjukkan adanya perubahan nilai TEWL yang signifikan secara statistik pada penggunaan krim seramid dibandingkan shea butter dengan nilai p=0.000 (p<0.05). Kesimpulan: Penurunan nilai TEWL pada krim seramid lebih bermakna secara statistik dibandingkan dengan shea butter.
Hubungan Derajat Keparahan dengan Status Psikososial Pasien Melasma : Studi Cross-sectional Sambodo, Shelly Lavenia; Ellistasari, Endra Yustin; Kusumawardani, Arie; Irawanto, Muhammad Eko; Mulianto, Nurrachmat
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 4 No. 12 (2025): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v4i12.4993

Abstract

Melasma tidak hanya berdampak pada aspek fisik berupa hiperpigmentasi, tetapi juga menimbulkan gangguan psikososial yang signifikan. Hubungan antara tingkat keparahan klinis melasma dengan derajat gangguan psikososial belum banyak diteliti di populasi Indonesia. Menganalisis hubungan antara tingkat keparahan melasma menggunakan Melasma Area and Severity Index (MASI) dengan derajat status psikososial menggunakan Melasma Quality of Life (MELASQOL). Studi cross-sectional dilakukan pada 15 pasien wanita dengan melasma di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Tingkat keparahan dinilai menggunakan skor MASI, sedangkan status psikososial dinilai menggunakan kuesioner skor MELASQOL. Analisis korelasi Pearson dan regresi linear sederhana digunakan untuk mengevaluasi hubungan antar variabel.  Rerata skor MASI adalah 5,95±1,15 dengan 53,3% pasien memiliki tingkat keparahan sedang dan 46,7% dengan tingkat derajat berat. Rerata skor MELASQOL adalah 40,33±6,22 dengan distribusi yang sama. Terdapat korelasi positif sangat kuat antara skor MASI dan MELASQOL (r=0,988; p<0,001; R²=0,977). Persamaan regresi menunjukkan MELASQOL = 8,62 + 5,33 × MASI. Terdapat hubungan positif yang sangat kuat antara tingkat keparahan melasma dengan derajat gangguan psikososial.