Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Efektivitas intervensi edukasi mobile phone terhadap penurunan tekanan darah pada pasien stroke Prasetya, Ganjar Kundi; Yunitri, Ninik; Agung, Rizki Nugraha; Rayasari, Fitrian
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 5 (2025): Volume 19 Nomor 5
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i5.1128

Abstract

Background: Stroke is one of the causes of death, most of which is caused by high blood pressure. There are still many patients who are less concerned about hypertension cases resulting in strokes when being treated, it is felt that continuous education is needed regarding knowledge and compliance. Purpose: To determine the effect of mobile phone educational intervention on reducing blood pressure in stroke patients. Method: A literature study of meta-analyze articles using the AMSTAR checklist Based on the scimago journal ranking, it entered Q1 with an impact factor of 3.593. With the G Power application, 6 samples were obtained and Jamovi 2.3.28 software was used for data processing. There were 12 educational themes based on SHEMA delivered via WhatsApp Messenger for 5 days. Results: This education was able to reduce systolic from 182 to 171, diastolic 98 to 91 and mean arterial pressure (MAP) 127 to 121. This education at least increased confidence and had productivity in controlling high blood pressure. Conclusion: The changes in systolic, diastolic and MAP reduction rates were not significant, but could control the occurrence of no increase or readmission.   Keywords: Hypertension; Mobile Phone; Stroke.   Pendahuluan: Stroke salah satu penyebab kematian yang sebagian besar disebabkan oleh tekanan darah tinggi. Masih banyaknya pasien kurang peduli kasus hipertensi berakibat stroke saat dirawat dirasa perlu edukasi terus menerus terkait pengetahuan maupun kepatuhan. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh intervensi edukasi mobile phone terhadap penurunan tekanan darah pada pasien stroke. Metode: Studi literatur dari artikel meta analysis menggunakan AMSTAR checklist, berdasarkan scimago journal ranking masuk Q1 dengan impact factor 3,593.  Melalui aplikasi G Power mendapat 6 sampel dan software jamovi 2.3.28 untuk olah data. Ada 12 tema edukasi berdasar SHEMA yang disampaikan melalui whatsapp messenger selama 5 hari. Hasil: Edukasi mobile phone mampu menurunkan sistolik dari 182 menjadi 171, diastolik 98 menjadi 91, dan mean arterial pressure (MAP) 127 menjadi 121. Edukasi ini setidaknya menambah keyakinan dan memiliki produktivitas dalam pengendalian tekanan darah tinggi. Simpulan: Perubahan angka penurunan sistolik, diastolik, dan MAP tidak signifikan, tetapi dapat mengendalikan untuk tidak terjadinya peningkatan atau readmisi.   Kata Kunci: Hipertensi; Mobile Phone; Stroke.
Poor Sleep Quality Related to Impaired Cognitive Function Following Stroke: A Comparative Cross-Sectional Study Sofiani, Yani; Rahim Kamil, Abdu; Puspitasari, Nia Ayu; Hadi, Muhammad; Agung, Rizki Nugraha; Kurwiyah, Neneng
Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 7, No 1: March, 2022
Publisher : Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (632.781 KB) | DOI: 10.30604/jika.v7i1.672

Abstract

Sleep deprivation is a common concern among stroke patients. There was a connection between sleep deprivation and poor cognitive function. Few studies, however, have compared sleep and cognitive variations in older adults with and without stroke, as well as explored the relationship between sleep quality and cognitive function. The objective of this study was to explore the quality and feature of sleep between patients with and without a stroke. To assess the association between sleep quality and cognitive dysfunction in older adults. A cross-sectional analysis was carried out. 156 participants completed this research. The study was carried out in 90 stroke patients and 66 of non-stroke patients. The patient was given a sleep quality questionnaire and took a cognitive test. In addition, a multivariate linear regression statistical analysis was used to determine the relationship between two variables. The global mean PSQI in patients with stroke was 7.12±3.96 versus 4.98±2.86, respectively, higher than the non-stroke group. Around 56.7 percent of stroke patients complained of poor sleep quality. Stroke patients scored lower than those who did not get a stroke on the memory and executive function test. Sleep quality affects memory by 28.6 percent. Poor sleep quality was strongly associated with memory dysfunction in stroke patients. To prevent patients with stroke from experiencing cognitive loss, health care providers should develop effective interventions to improve sleep quality.  Kurang tidur adalah masalah umum di antara pasien stroke. Ada hubungan antara kurang tidur dan fungsi kognitif yang buruk. Beberapa penelitian, bagaimanapun, telah membandingkan variasi tidur dan kognitif pada orang dewasa yang lebih tua dengan dan tanpa stroke, serta mengeksplorasi hubungan antara kualitas tidur dan fungsi kognitif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi kualitas dan fitur tidur antara pasien dengan dan tanpa stroke. Untuk menilai hubungan antara kualitas tidur dan disfungsi kognitif pada orang dewasa yang lebih tua. Sebuah analisis cross-sectional dilakukan. 156 peserta menyelesaikan penelitian ini. Penelitian dilakukan pada 90 pasien stroke dan 66 pasien non stroke. Pasien diberi kuesioner kualitas tidur dan menjalani tes kognitif. Selain itu, analisis statistik regresi linier multivariat digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel. Rata-rata PSQI global pada pasien stroke masing-masing adalah 7,12±3,96 versus 4,98±2,86, lebih tinggi daripada kelompok non-stroke. Sekitar 56,7 persen pasien stroke mengeluhkan kualitas tidur yang buruk. Pasien stroke mendapat skor lebih rendah daripada mereka yang tidak terkena stroke pada tes memori dan fungsi eksekutif. Kualitas tidur mempengaruhi memori sebesar 28,6 persen. Kualitas tidur yang buruk sangat terkait dengan disfungsi memori pada pasien stroke. Untuk mencegah pasien stroke mengalami kehilangan kognitif, penyedia layanan kesehatan harus mengembangkan intervensi yang efektif untuk meningkatkan kualitas tidur.
Penerapan Evidence Based Practice Chin Tuck Againts Resistance (CTAR) dalam Penanganan Disfagia pada Pasien Stroke Rinawati, Rinawati; Jumaiyah, Wati; Yunitri, Ninik; Agung, Rizki Nugraha; Nurhayati, Elis
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 4 (2024): Volume 4 Nomor 4 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i3.14130

Abstract

ABSTRACT The Chin Tuck Against Resistance (CTAR) intervention is rarely utilized by nurses in treating dysphagia among stroke patients. Symptoms arising from a stroke can differ based on the affected brain area, encompassing speech disorders, chewing and swallowing difficulties (dysphagia), limb paralysis or weakness, personality alterations, emotional disturbances, diminished cognitive abilities, impaired urinary function, and others. The use of Evidence-Based Nursing Practice (EBNP) is conducted to comprehend the impact of implementing chin tuck against resistance (CTAR) on improving swallowing muscle strength in stroke patients with dysphagia. In this study, the data were analyzed using univariate data analysis to evaluate the demographic characteristics and swallowing ability profiles of each respondent. Furthermore, the statistical test of influence was conducted using a paired t-test to assess changes in swallowing ability after undergoing CTAR rehabilitation exercises. Sampling in this study utilized the total sample method, involving 8 respondents. The CTAR intervention has been shown to significantly improve swallowing ability in stroke patients. The results indicate a meaningful increase from an average of 84.3 to 91.7 post-intervention, with an effect size of 4.59 and a p-value of 0.022, demonstrating the statistical effectiveness of this therapy. Furthermore, CTAR exercises are convenient to implement, time-efficient, and can be performed by patients without disrupting their daily routines. To enhance its effectiveness, it is recommended to involve patients and their families in the education process, enabling them to continue the exercises independently. The simplicity of these exercises facilitates nurses in providing interventions during nursing care for stroke patients experiencing dysphagia. Keywords: Evidence Based Practice Chin Tuck Against Resistance (CTAR), Dysphagia, Stroke Patients  ABSTRAK Intervensi Chin Tuck Exercise (CTAR) jarang digunakan oleh perawat untuk mengatasi disfagia pada pasien stroke. Gejala yang muncul akibat stroke dapat bervariasi tergantung pada area otak yang terkena, termasuk gangguan berbicara, kesulitan mengunyah dan menelan (disfagia), kelumpuhan atau kelemahan anggota gerak, perubahan kepribadian, gangguan emosi, penurunan fungsi kognitif, gangguan fungsi berkemih, dan lainnya. Penggunaan Praktik Keperawatan Berbasis Bukti (EBNP) dilakukan untuk memahami dampak dari penerapan chin tuck against resistance (CTAR) terhadap peningkatan kekuatan otot menelan pada pasien stroke dengan disfagia. Pada penelitian ini, data dianalisis menggunakan analisis data univariat untuk mengevaluasi karakteristik demografi dan gambaran kemampuan menelan pada setiap responden. Selanjutnya, uji statistik pengaruh dilakukan dengan uji paired t-test untuk menilai perubahan kemampuan menelan setelah menjalani latihan rehabilitasi CTAR. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode total sampel dengan melibatkan 8 responden. Intervensi CTAR terbukti secara signifikan meningkatkan kemampuan menelan pada pasien stroke. Hasil menunjukkan peningkatan yang berarti dari rata-rata 84.3 menjadi 91.7 setelah intervensi, dengan besaran efek sebesar 4.59 dan nilai p-value sebesar 0.022, menunjukkan keefektifan terapi ini secara statistik. Lebih lanjut, latihan CTAR memberikan kemudahan dalam pelaksanaan, tidak memakan waktu lama, dan dapat dilakukan oleh pasien tanpa mengganggu rutinitas harian. Untuk meningkatkan efektivitasnya, disarankan untuk melibatkan pasien dan keluarganya dalam proses edukasi, sehingga mereka dapat melanjutkan latihan secara mandiri. Kesederhanaan latihan ini memudahkan perawat dalam memberikan intervensi selama asuhan keperawatan pada pasien stroke yang mengalami disfagia. Kata Kunci: Praktek Berbasis Bukti Chin Tuck Melawan Resistensi (CTAR), Disfagia, Pasien Stroke 
Penerapan Evidence Based Nursing Practice Pemberian Head Up 30 Derajat Terhadap Peningkatan Saturasi Oksigen Pasien Stroke Iskemik Wahyudin, M. Didin; Agung, Rizki Nugraha; Yunitri, Ninik
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 3 (2024): Volume 4 Nomor 3 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i3.14084

Abstract

ABSTRACT Stroke is a neurological disorder that appears suddenly, lasts for more than 24 hours, and is caused by cerebrovascular disease. Providing a 30◦ head position for stroke patients has significant benefits, namely that it can improve hemodynamic conditions by facilitating increased blood flow to the brain and optimizing oxygenation of brain tissue. The application of Evidence-Based Nursing Practice (EBNP) to overcome nursing problems in stroke patients who experience hypoxia is carried out by providing 30 degrees head up or head elevation interventions. The aim of this study was to evaluate the impact of 30 degrees of head elevation on oxygenation levels in patients experiencing stroke. This research is cross-sectional. The sample consisted of 12 patients who were undergoing treatment in the stroke unit. Sample collection was carried out using the proportional stratified random sampling method, and data analysis was carried out using the Jamovi application via the Paired T-Test test. Implementation of Evidence Based Nursing Practice (EBNP) by providing a 30° head up position showed an increase in SPO2 values after intervention. At an onset of less than 24 hours, the average SPO2 increased from 88% to 93%, while at an onset of less than 48 hours, the average SPO2 increased from 91% to 95%. In addition, at onset of more than 7 days, the average SPO2 increased from 95% to 99% with P-Value = 0.01. From these results, it can be concluded that the application of evidence-based nursing practices, especially providing a 30° head up position, has proven effective in increasing oxygen saturation levels in stroke patients at Hospital in DKI Jakarta. Keywords: Ischemic Stroke, Head Up 300, Oxygen Saturation  ABSTRAK Stroke adalah gangguan neurologis yang muncul secara tiba-tiba, berlangsung selama lebih dari 24 jam, dan disebabkan oleh penyakit serebrovaskular. Memberikan posisi kepala naik 300 pada pasien stroke memiliki manfaat signifikan, yaitu dapat meningkatkan kondisi hemodinamik dengan memfasilitasi peningkatan aliran darah ke otak serta mengoptimalkan oksigenasi jaringan otak. Penerapan Praktik Keperawatan Berbasis Bukti (EBNP) untuk mengatasi masalah keperawatan pada pasien stroke yang mengalami hipoksia dilakukan dengan memberikan intervensi head up atau elevasi kepala sebanyak 300. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi dampak dari peninggian kepala sebanyak 300 terhadap tingkat oksigenasi pada pasien yang mengalami stroke.  Penelitian ini bersifat potong lintang (cross-sectional). Sampel terdiri dari 12 pasien yang sedang menjalani perawatan di unit stroke. Pengumpulan sampel dilakukan menggunakan metode proportional stratified random sampling, dan analisis data dilakukan dengan menggunakan aplikasi jamovi melalui uji Paired T-Test. Penerapan Praktik Keperawatan Berbasis Bukti (EBNP) dengan memberikan posisi head up 30° menunjukkan peningkatan nilai SPO2 setelah intervensi. Pada onset kurang dari 24 jam, rata-rata SPO2 meningkat dari 88% menjadi 93%, sedangkan pada onset kurang dari 48 jam, rata-rata SPO2 meningkat dari 91% menjadi 95%. Selain itu, pada onset lebih dari 7 hari, rata-rata SPO2 meningkat dari 95% menjadi 99% dengan P-Value = 0.01. Dari hasil ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan praktik keperawatan berbasis bukti, khususnya pemberian posisi head up 30°, terbukti efektif dalam meningkatkan kadar saturasi oksigen pada pasien stroke di Rumah Sakit di DKI Jakarta. Kata Kunci: Stroke Iskemik,  Head Up 300, Saturasi Oksigen
Pengaruh Intervensi Terapi Musik terhadap Tingkat Kecemasan pada Pasien Stroke Murtini, Sri; Agung, Rizki Nugraha; Yunitri, Ninik; Sofiani, Yani; Silistyorini, Cahyo Ismawati
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 5 (2024): Volume 4 Nomor 5 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i5.14372

Abstract

ABSTRACT Stroke often leads to psychological impacts, including high levels of anxiety in patients. Uncontrolled anxiety can worsen health and hinder recovery. Music therapy, a non-pharmacological intervention, has been proven effective in reducing anxiety in stroke patients. Untreated post-stroke anxiety can affect long-term treatment processes. Music therapy uses music to achieve psychological effects on individuals. Implementing evidence-based nursing practice (EBNP) involves developing standard operating procedures (SOPs) to reduce anxiety in stroke patients through music therapy. The data analysis method used was RM ANOVA. Pre-tests and post-tests were conducted on all respondents, and then the results were compared. The number of respondents involved in the music therapy implementation was 20 respondents plus 10% for dropout risk, making a total of 22 stroke patients at the National Brain Center Prof. Dr. Mahar Mardjono East Jakarta. The EBNP implementation was carried out for 20 days, with instrumental music therapy being listened to once a day for two weeks, with a duration of 30 minutes. The health workers involved were seventh-floor nurses who were responsible for patient data collection in the E-Record Medical Records of RS PON, for patients who met the inclusion and exclusion criteria that had been determined beforehand. Music therapy significantly reduces anxiety levels (p-Value <0.001) in stroke patients with a large effect (Cohen’s d = 0.86). Posthoc analysis using the Tukey method showed a significant difference in anxiety levels in stroke patients between baseline measurements, mid-intervention, and immediate post-treatment (p-Value <0.001). The highest average change occurred between baseline measurements and immediate post-treatment (MD 7.35; p-Value <0.001). Keywords: Stroke, Music Therapy, Anxiety  ABSTRAK Stroke seringkali menyebabkan dampak psikologis, termasuk kecemasan yang tinggi pada pasien. Kecemasan yang tidak terkontrol dapat memperburuk kesehatan dan menghambat pemulihan. Terapi musik, intervensi non-farmakologis, telah terbukti efektif mengurangi kecemasan pada pasien stroke. Kecemasan pasca stroke yang tidak diatasi dapat mempengaruhi proses pengobatan jangka panjang. Terapi musik digunakan untuk mencapai pengobatan  efek-efek psikologis pada individu. Melakukan perawatan berbasis bukti (EBNP) melibatkan pembuatan standar prosedur operasional (SPO) untuk mengurangi kecemasan pada pasien stroke melalui terapi musik. Metode analisis data yang digunakan adalah RM ANOVA. Pre test dan post test dilakukan pada seluruh responden, kemudian hasilnya dibandingkan. Jumlah responden yang terlibat dalam penerapan terapi musik adalah 20 responden ditambah 10% untuk risiko dropout, sehingga total 22 pasien Stroke di RS Pusat Otak Nasional Prof. Dr. Mahar Mardjono Jakarta Timur. Penerapan EBNP dilakukan selama 20 hari, dengan mendengarkan musik instrumental yang diberikan sekali sehari selama dua minggu, dengan durasi 30 menit. Tenaga kesehatan yang terlibat adalah perawat lantai tujuh yang berperan dalam pendataan pasien di E-Rekam Medik RS PON, untuk pasien yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan sebelumnya. Terapi musik secara signifikan mengurangi tingkat kecemasan (p-Value <0,001) pada pasien stroke dengan efek yang besar (Cohen’s d = 0,86). Analisis posthoc menggunakan metode Tukey menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam tingkat kecemasan pada pasien stroke antara pengukuran baseline, mid intervention, dan immediate post-treatment (p-Value <0,001). Perubahan rata-rata tertinggi terjadi antara pengukuran baseline dan immediate post-treatment (MD 7,35; p-Value <0,001). Kata Kunci: Stroke, Terapi Musik, Kecemasan 
Penyuluhan Peran Kader dan Remaja dalam Pencegahan Penyakit Katastropik di Ragajaya Bogor Jumaiyah, Wati; Agung, Rizki Nugraha; Siswandi, Iyar; Hanifah, Siti; Purnawati, Dewi; Kamil, Abdu Rahim; Rinawati, Rinawati; Firdaus, Nuzula; al Hasbi, Sulthan Dzahir; Triantono, Bayu; Fawwaz, Achmad Daffa
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 2 (2024): Volume 7 No 2 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i2.13189

Abstract

ABSTRAK Penyakit tidak menular (PTM) merupakan penyakit katastropik yang dapat menimbulkan terjadinya peningkatan beban sosial ekonomi bagi penderita, keluarga maupun pemerintah, karena penanganannya membutuhkan waktu yang tidak sebentar, beberapa penyakit yang pada tingkat rumah tangga tergolong katastropik adalah Hipertensi, Diabetes Melitus (DM) dan Stroke. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberi pemahaman hingga pencegahan terhadap penyakit Katastropik pada Kader dan Remaja Ragajaya Bojong Gede, Bogor. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu dimulai dengan penyuluhan, pemeriksaan deteksi dini faktor risiko PTM, konseling serta pelatihan Tekanan Darah dan Pengukuran Tinggi Badan. Pasca kegiatan ini diketahui telah terjadi peningkatan pengetahuan peserta terkait Penyakit Katastropik pada kader dan remaja RW 007 Ragajaya Bogor. Kegiatan Pelatihan penting dijalankan untuk dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit tidak menular melalui deteksi dini, early treatment serta mengendalikan faktor risiko sehingga dapat menurunkan tingkat kesakitan dan kematian. Kata Kunci: Pencegahan, Katastropik, Hipertensi, Diabetes, Stroke  ABSTRACT Non-communicable diseases (NCDs) are catastrophic diseases that can cause an increase in the socio-economic burden for sufferers, families and the government, because treatment requires a long time, some diseases that are classified as catastrophic at the household level are hypertension, diabetes mellitus (DM ) and Strokes. This community service activity aims to provide understanding and prevention of catastrophic diseases in Ragajaya Bojong Gede Cadres and Youth, Bogor. This community service activity is carried out through several stages, starting with counseling, early detection of NCD risk factors, counseling and training on Blood Pressure and Height Measurement. After this activity, it was discovered that there had been an increase in participants' knowledge regarding Catastrophic Diseases among cadres and teenagers of RW 007 Ragajaya Bogor. Training activities are important to carry out to increase public awareness of non-communicable diseases through early detection, early treatment and controlling risk factors so as to reduce morbidity and mortality rates. Keywords: Prevention, Catastrophe, Hypertension, Diabetes, Stroke
Evidence based nursing in practice penerapan breating relaxation exercise untuk mengurangi nyeri selama pemasangan chest tube dan thoracotomy Tampubolon, Briefman; Rayasari, Fitrian; Yunitri, Ninik; Agung, Rizki Nugraha; Anggraini, Dewi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1670

Abstract

Background: Chest tube placement in post-thoracostomy patients often causes pain, which impacts the healing process. Pharmacological therapies such as analgesics are commonly used but have limitations. Therefore, non-pharmacological interventions such as Breathing Relaxation Exercise (BRE) are needed to help reduce pain. Purpose: To determine the effect of breathing relaxation exercises on pain reduction during chest tube placement and thoracotomy. Method: A pre-experimental one-group pretest-posttest design with a sample size of 13 participants determined using the G*Power calculation. The pain measurement instrument used was the Visual Analogue Scale (VAS). Data analysis was performed using the Shapiro-Wilk normality test and a paired sample t-test. Results: Before BRE, most patients experienced severe pain (69.2%). After the intervention, the pain scale decreased to moderate (38.5%) and mild (46.2%) pain categories. The paired sample t-test results showed a significant difference (p<0.05), with an average pain reduction of 1.615. Conclusion: There was a significant decrease in the pain scale before BRE was implemented.   Keywords: Breathing Relaxation Exercise; Chest Tube; Evidence Based Nursing In Practice; Painful; Thoracotomy.   Pendahuluan: Pemasangan chest tube pada pasien pasca torakostomi sering menimbulkan nyeri yang berdampak pada proses penyembuhan. Terapi farmakologis seperti analgetik umum digunakan, namun memiliki keterbatasan. Oleh karena itu, diperlukan intervensi nonfarmakologis seperti Breathing Relaxation Exercise (BRE) untuk membantu menurunkan nyeri. Tujuan: Mengetahui pengaruh penerapan breating relaxation exercise untuk mengurangi nyeri selama pemasangan chest tube dan thoracotomy. Metode: Desain pre-eksperimental one group pretest-posttest dengan jumlah sampel 13 partisipan yang ditentukan melalui perhitungan G*Power. Instrumen pengukuran nyeri menggunakan Visual Analogue Scale (VAS). Analisis data dilakukan dengan uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji Paired Sample t-Test. Hasil: Sebelum diberikan BRE, sebagian besar pasien mengalami nyeri berat (69.2%). Setelah intervensi, skala nyeri menurun menjadi kategori nyeri sedang (38.5%) dan ringan (46.2%). Hasil uji Paired Sample t-Test menunjukkan terdapat perbedaan bermakna (p<0.05), dengan rata-rata penurunan nyeri sebesar 1.615. Simpulan: Adanya penurunan signifikan skala nyeri sebelum dilakukan dilakukan penerapan BRE.   Kata Kunci: Breating Relaxation Exercise; Evidence Based Nursing In Practice; Chest Tube; Nyeri; Thoracotomy.
Penerapan evidence-based practice nursing program intradialytic flexsibility exercise range of mation terhadap fatigue pada pasien chronic kidney disease yang menjalani hemodialisa Barus, Sada Ukur; Agung, Rizki Nugraha; Septiawantari, Rani; Siswandi, Iyar; Sofiani, Yani
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1671

Abstract

Background: Chronic Kidney Disease (CKD) is one of the leading causes of global morbidity and mortality. Patients undergoing hemodialysis often experience fatigue, which significantly affects their quality of life, productivity, and psychological well-being. One of the non-pharmacological interventions that can be applied is intradialytic flexibility exercise in the form of range of motion (ROM). Purpose: To determine the effect of intradialytic flexibility exercise range of motion on fatigue levels among CKD patients undergoing hemodialysis. Method: A quasi-experimental study using a one-group pre-post test design was conducted from May to July 2025 at Al Ihsan Regional General Hospital, West Bandung. Purposive sampling was used to select 18 participants. The independent variable in this study was the Intradialytic Flexibility Exercise Range of Motion Program, while the dependent variable was the level of fatigue. Data analysis was performed using univariate analysis in the form of frequency distribution and bivariate analysis using the Cochran test. Translated with DeepL.com (free version) Results: Before the intervention, 77.8% of participants experienced severe fatigue. After 8 weeks of intervention, all participants (100%) showed a decrease in fatigue to a mild category. Statistical analysis indicated a significant difference in fatigue levels before and after the intervention (p < 0.05). Conclusion: Intradialytic flexibility exercise range of motion is effective in reducing fatigue levels among CKD patients undergoing hemodialysis. This intervention can be considered a non-pharmacological nursing strategy to improve patients’ quality of life.   Keywords: Chronic Kidney Disease; Fatigue; Hemodialysis; Intradialytic Exercise; Range of Motion.   Pendahuluan: Penyakit ginjal kronis (CKD) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas global. Pasien CKD yang menjalani hemodialisis sering mengalami kelelahan (fatigue) yang berdampak pada kualitas hidup, produktivitas, dan kesehatan mental. Salah satu intervensi non-farmakologis yang dapat diterapkan adalah intradialytic flexibility exercise berupa range of motion (ROM). Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh penerapan intradialytic flexibility exercise range of motion terhadap tingkat kelelahan pada pasien CKD yang menjalani hemodialisa. Metode: Penelitian quasi experimental dengan metode one group pre-posttest design, dilaksanakan pada Mei-Juli 2025 di RSUD Al Ihsan, Bandung Barat. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposivel sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 18 partisipan. Variabel independen dalam penelitian ini adalah Program Intradialytic Flexibility Exercise Range of Motion, sedangkan variabel dependen ialah tingkat kelelahan. Analisis data yang digunakan univariate dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariate menggunakan uji Cochran. Hasil: Sebelum intervensi, 77.8% partisipan mengalami fatigue berat. Setelah 8 minggu intervensi, seluruh partisipan (100%) mengalami penurunan tingkat fatigue menjadi kategori ringan. Hasil uji statistik menunjukkan adanya perbedaan signifikan tingkat fatigue sebelum dan sesudah intervensi (p < 0.05). Simpulan: Penerapan intradialytic flexibility exercise range of motion efektif menurunkan tingkat kelelahan pada pasien CKD yang menjalani hemodialisa.   Kata Kunci: Chronic Kidney Disease; Fatigue; Hemodialisa; Intradialytic Exercise; Range of Motion.
Pengaruh nostril breathing terhadap depresiasi tekanan darah pada orang dengan hipertensi usia produktif Zaki, Muhamad; Sofiani, Yani; Agung, Rizki Nugraha; Rayasari, Fitrian; Kurniasih, Dian Noviati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.2043

Abstract

Background: Uncontrolled hypertension over a long period of time can lead to heart attacks, strokes, chronic heart failure (CHF), and chronic renal failure (CRF). The prevalence of hypertension in Indonesia's productive-age population is 13.2%, 20.1%, 31.6%, 45.3%, and 55.2%, among those aged 25-34. One non-pharmacological treatment that can be used to lower blood pressure in hypertensive patients is Nostril Breathing. Purpose: To determine the effect of nostril breathing on blood pressure depression in people with hypertension of productive age. Method: This quantitative quasi-experimental study, with pre- and post-tests without a control group, used a cross-sectional approach. This study was conducted at Astra Insurance Jakarta in August 2025 for 5 days, measuring blood pressure before and after the intervention in 40 participants with hypertension. Data analysis used repeated measures ANOVA at a p-value of 0.002 (<0.05). Results: The average systolic blood pressure before the intervention on day 1 was 151.18 ± 7.26, while the average diastolic blood pressure on day 1 before the intervention on the first day was 85.28 ± 6.91. In the next measurement, the average systolic blood pressure after the intervention on day 5 was lower than the previous days, at 133.63 ± 6.13. Meanwhile, the average diastolic blood pressure after the intervention on day 5 was lower than the previous days, at 82.63 ± 4.08. Conclusion: There is an effect of nostril breathing on blood pressure in people with hypertension, marked by a decrease in blood pressure with a p-value = 0.000 (<0.05). Suggestion: For future researchers, to further examine risk factors that influence the degree of hypertension, such as age and obesity, develop nursing interventions through experimental research, for example, the effect of health education on sleep quality on reducing blood pressure, employee behavior such as lack of physical activity, obesity, smoking, coffee consumption, and personality type.   Keywords: Blood Pressure; Hypertension; Nostril Breathing.   Pendahuluan: Hipertensi yang tidak terkontrol dalam waktu yang lama akan menyebabkan serangan jantung, stroke, chronic heart failure (CHF), dan chronic renal failure (CRF). Prevalensi hipertensi penduduk usia produktif di Indonesia pada umur 18-24 tahun sebesar 13.2%, umur 25-34 tahun sebesar 20.1%, umur 35-44 tahun sebesar 31.6%, umur 45-54 tahun sebesar 45.3%, dan umur 55-64 tahun sebesar 55.2%. Salah satu penatalaksanaan non farmakologis yang dapat dilakukan untuk menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi adalah Nostril Breathing. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh nostril breathing terhadap depresiasi tekanan darah pada orang dengan hipertensi usia produktif. Metode: Penelitian kuantitatif quasy experiment dengan pre and post without control group menggunakan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini dilakukan di Asuransi Astra Jakarta pada bulan Agustus 2025 selama 5 hari dengan mengukur tekanan darah sebelum dan sesudah intervensi kepada 40 partisipan dengan hipertensi. Analisis data yang digunakan adalah menggunakan repeated measure ANOVA pada ketetapan p-value 0.002 (< 0.05). Hasil: Rata-rata tekanan darah sistole sebelum intervensi pada hari ke-1 adalah 151.18 ± 7.26, sedangkan rata-rata tekanan darah diastole hari ke-1 sebelum intervensi pada hari pertama adalah sebesar 85.28 ± 6.91. Pada pengukuran berikutnya didapatkan hasil rata-rata tekanan darah sistole sesudah intervensi pada hari ke-5 lebih rendah dari hari-hari sebelumnya, sebesar 133.63 ± 6.13. Sementara itu, rata-rata tekanan darah diastole sesudah intervensi pada hari ke-5 lebih rendah dari hari-hari sebelumnya, sebesar 82.63 ± 4.08. Simpulan: Terdapat pengaruh nostril breating terhadap tekanan darah pada orang dengan hipertensi, ditandai adanya penurunan tekanan darah dengan p-value = 0.000 (<0.05). Saran: Bagi peneliti selanjutnya untuk meneteliti lebih lanjut faktor risiko yang memengaruhi derajat hipertensi, seperti usia dan obesitas kembangkan intervensi keperawatan melalui penelitian eksperimen, misalnya pengaruh penyuluhan kesehatan tentang kualitas tidur terhadap penurunan tekanan darah. perilaku pegawai seperti kurangnya aktivitas fisik, obesitas, merokok, konsumsi kopi, dan tipe kepribadian.   Kata Kunci: Hipertensi; Nostril breathing; Tekanan darah.
Terapi musik efektif menurunkan kecemasan pada pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani pemasangan akses vena Budianto, Apri; Agung, Rizki Nugraha; Siswandi, Iyar; Sofiani, Yani; Andini, Sandra
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2417

Abstract

Background: Anxiety in patients with chronic kidney disease (CKD) is not only a psychological problem but also a serious clinical threat because it triggers hemodynamic instability. When patients experience intense anxiety before an invasive procedure such as double-lumen catheter (DLU) placement, the sympathetic nervous system is activated, increasing blood catecholamine levels, leading to spikes in blood pressure and tachycardia. This condition is particularly risky for CKD patients who already have cardiovascular complications. Several factors can trigger anxiety and depression in hemodialysis patients, including frequent comorbidities, frequent hospitalizations, new experiences with invasive procedures, chronic pain, sleep disturbances, chronic inflammation, increased fatigue, decreased sexual function, uremia, and lack of family support in daily life. Purpose: To determine the effectiveness of music therapy in reducing anxiety in patients with chronic kidney disease undergoing venous access placement. Method: This study used an evidence-based nursing practice (EBNP) approach with a quasi-experimental pre-post-test design, conducted on 14 participants selected through purposive sampling based on inclusion criteria. Music therapy was administered during the venous access/CDL surgical procedure for 30 minutes. Anxiety was measured using the HARS and VAS questionnaires. Data were analyzed using univariate and bivariate tests, including paired t-tests and Wilcoxon tests. Results: The prevalence of anxiety decreased from 60% to 40%, with HARS and VAS measurements decreasing from 48% to 43% after the intervention. The paired t-test and Wilcoxon test showed p-values ​​of 0.01 and 0.00, respectively. Conclusion: Music therapy can reduce anxiety in hemodialysis participants. Applied systematically and supported by scientific evidence, music therapy has a positive effect on anxiety in patients with chronic kidney disease (CKD) undergoing venous access. Suggestion: Further exploration of the physiological and psychological mechanisms of music therapy is needed, as well as consideration of other factors, such as pain, sleep quality, depression levels, and medication adherence, which may influence anxiety levels in hemodialysis patients undergoing first-time venous access.   Keywords: Anxiety; Chronic Kidney Disease Patients; Music Therapy; Venous Access Insertion.   Pendahuluan: Kecemasan pada pasien Penyakit Ginjal Kronis (PGK) bukan sekadar masalah psikologis, melainkan ancaman klinis yang serius karena memicu instabilitas hemodinamik. Saat pasien mengalami kecemasan hebat menjelang tindakan invasif seperti pemasangan catheter dual lumen (CDL), sistem saraf simpatis akan teraktivasi, meningkatkan kadar katekolamin dalam darah yang berujung pada lonjakan tekanan darah dan takikardia. Kondisi ini sangat berisiko bagi pasien PGK yang sudah memiliki komplikasi kardiovaskular. Beberapa faktor yang bisa memicu kecemasan dan depresi pada pasien hemodialisis, antara lain penyakit penyerta yang sering timbul, seringnya dirawat di rumah sakit, pengalaman baru terhadap tindakan invasif, nyeri kronik, gangguan tidur, peradangan kronik, peningkatan kelelahan, penurunan fungsi seksual, uremia, dan kegagalan dukungan keluarga dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan: Untuk menerapkan terapi musik efektif menurunkan kecemasan pada pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani pemasangan akses vena. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan evidence-based nursing practice (EBNP) dengan desain quasi-experiment pre-posttest, dilakukan pada 14 partisipan terpilih berdasarkan purposive sampling sesuai kriteria inklusi. Terapi musik diberikan selama proses operasi pemasangan akses vena/CDL selama 30 menit, kecemasan diukur menggunakan kuesioner HARS dan VAS. Data dianalisis menggunakan uji univariat dan bivariat dengan uji paired t-test dan uji Wilcoxon. Hasil: Prevelansi tingkat kecemasan 60% menurun menjadi 40% dengan pengukuran HARS dan VAS 48% menurun menjadi 43% setelah intervensi. Uji paired t-test dan Uji wilcoxon menunjukkan nilai p=0.01 dan p=0.00. Simpulan: Terapi musik dapat menurunkan kecemasan pada partisapan hemodialisis, diaplikasikan secara sistematis dan didukung oleh bukti ilmiah untuk menurunkan kecemasan terapi musik memiliki efek positif terhadap kecemasan pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani pemasangan akses vena. Saran: Perlu mengeksplorasi lebih jauh mekanisme fisiologis maupun psikologis dari penerapan terapi musik, serta mempertimbangkan faktor-faktor lain, seperti nyeri, kualitas tidur, tingkat depresi, dan kepatuhan terhadap pengobatan yang mungkin berpengaruh terhadap tingkat kecemasan pada pasien hemodialis yang akan menjalani pemasangan akses vena pertama kali.   Kata Kunci: Kecemasan; Pasien Penyakit Ginjal Kronis; Pemasangan Akses Vena; Terapi Musik.