Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Peningkatan Pengetahuan tentang Bahaya Infeksi STH (Soil Transmitted Helminth) serta Penerapan Sanitasi Lingkungan dan Personal Hygiene pada Santri Madrasah Tsanawiyah di Pondok Pesantren Nurul Badri Pasuruan Sasongkowati, Retno; Anita Dwi Anggraini; Amelia, Noer
ABDIKESMAS MULAWARMAN : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol.4 No.1 Mei (2024) : ABDIKESMAS MULAWARMAN
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/abdikesmasmulawarman.v4i1.1032

Abstract

Pondok Pesantren Nurul Badri terletak di Kota Pasuruan, Jawa Timur. Pondok Pesantren ini terletak di Dusun Krajan, Kalipang, Grati,  Pasuruan, East Java 67184, Indonesia Kota Pasuruan, Jawa Timur. Kehidupan pondok yang padat huni dengan kegiatan harian yang padat. Kebanyakan dari santri pondok pesantren hidup bersama dalam satu tempat. Dampak dari tinggal bersama dan dalam waktu yang lama dengan jumlah santri yang cukup banyak akan mempunyai  dampak,  terhadap masalah kesehatan. Perilaku hidup bersih dan sehat dalam pondok pesantren sangat diperlukan. Dampak yang terjadi diakibatkan kurangnya kebersihan diri ialah gangguan fisik seperti gangguan integritas kulit, infeksi pada mata dan telinga, diare, kecacingan, sakit gigi dan gangguan  fisik pada kuku, keputihan. Personal hygiene merupakan kebersihan pada diri sendiri yang dilakukan utuk menjaga kesehatan. Penerapan sanitasi lingkungan dan personal hygine yang buruk, serta didukung oleh keadaan iklim tropis di Indonesia yang memiliki kelembapan tinggi, akan menyebabkan Soil Transmitted Helminth. Permasalahan  yang  terjadi  pada  masyarakat  adalah  Menurut  laporan  dari hasil penelitian  yang dilakukan oleh Carrolyana tahun 2020 dengan judul hubungan sanitasi lingkungan dengan infeksi STH (Soil Transmitted Helminth) pada Santri Madrasah Tsanawiyah di pondok pesantren Nurul Badri Pasuruan  menunjukkan  bahwa  berdasarkan  hasil  dari penelitian  Hubungan  Sanitasi  Lingkungan dengan  Infeksi  STH (Soil Transmitted  Helminth)  pada Santri  di Pondok  Pesantren  Pasuruan didapatkan  hasil positif Soil Transmittd  Helminth  berjumlah  4 santri (16%), sedangkan  dan hasil negative berjumlah 21 (84%) dari semua total sampel 25. Hasil positif 4 terjadi pada jenis kelamin perempuan semua dengan jumlah sampel yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 19 orang, ini sesuai dengan penelitan yang mengatakan bahwa infeksi STH lebih banyak pada anak perempuan  daripada anak laki-laki. Berdasarkan  hasil observasi  yang dilakukan di Pondok Pesantren Pasuruan anak laki-laki dan perempuan memiliki kebiasaan aktivitas diluar atau bermain yang sama. Walaupun jenis permainannya berbeda, aktivitas mereka lebih banyak berkontaminasi dengan tanah. Perbedaan angka kejadian infeksi STH pada anak laki-laki dan perempuan  tidak dpengaruhi oleh faktor jenis kelamin, namun dipengaruhi oleh faktor personal hygene yang kurang baik. Luaran yang ingin dicapai adalah Artikel ilmiah yang dipublikasikan pada jurnal nasional tidak terakreditasi di Jurnal HCE (Health Community Engagement) di Poltekkes  Kemenkes  Surabaya; Video  ; Modul  BerISSBN  ; Peningkatan  pengetahuan  pendidikan  kesehatan  dan pemahaman pengetahuan kesadaran pada siswa terkait mencegah dan memberantas Demam Berdarah Dengue ; Peningkatan kemandirian siswa dalam mencegah, memberantas dan memutus mata rantai penyakit DBD ; Peningkatan pendidikan kesehatan kepada siswa untuk mengenal gejala penyakit Demam Berdarah Dengue.
Analisa Keberadaan Jamur Trichophyton rubrum pada Kuku Kaki Petugas Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup Surabaya Mitra Putri Mandiri; Retno Sasongkowati; Anita Dwi Anggraini
Vitamin : Jurnal ilmu Kesehatan Umum Vol. 2 No. 4 (2024): October : Jurnal ilmu Kesehatan Umum
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/vitamin.v2i4.771

Abstract

Sanitation workers play a vital role in maintaining environmental cleanliness. However, many of them neglect their personal hygiene. Sanitation workers are professions that regularly wear closed shoes for long periods,the humid, hot, and dirty work environment promotes fungal infections in toenails, known as onychomycosis. The purpose of this study is to analyze the presence of the fungus Trichophyton rubrum on the toenails of the sanitation workers of the Surabaya Environmental Service Department. This study is a descriptive laboratory observation. The research was conducted from February 23 to March 13, 2024. Sample collection took place at Surabaya Environmental Service Department, and the study carried out at Mycology Laboratory of the Medical Laboratory Technology Department, Poltekkes Kemenkes Surabaya. The samples in this study consisted of toenails from 30 sanitation workers members. The examination was conducted using the culture method on SDA media, incubated for 7-14 days, followed by macroscopic and microscopic observations. The results showed that 2 samples were positive for Trichophyton rubrum (6.7%), 23 samples were positive for Aspergillus sp., (76.7%), 4 samples were positive for Rhizopus sp., (13.3%), and 1 sample was positive for Penicillium sp., (3.3%). The conclusion is, out of 30 samples, 2 individuals (6.7%) tested positive for Trichophyton rubrum, while the remaining 28 samples (93.3%) tested negative for Trichophyton rubrum.
Deteksi Gen blaTEM Dari Bakteri Klebsiella Pneumoniae Penghasil Extended Spectrum Beta-Lactamase (ESBL) Pada Pasien Infeksi Saluran Kemih Widyawati, Keri Ayu; Suliati; Anggraini, Anita Dwi; Wisnu Istanto
Jurnal Media Analis Kesehatan Vol 15 No 2 (2024): JURNAL MEDIA ANALIS KESEHATAN
Publisher : Potekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/jmak.v15i2.814

Abstract

Infeksi saluran kemih merupakan infeksi yang terjadi pada saluran uretra dan kandung kemih yang disebabkan oleh bakteri Klebsiella pneumoniae salah satunya. Pengobatan atau terapi yang sering digunakan untuk penderita infeksi saluran kemih yakni dengan pemberian antibiotik golongan beta-laktam. Namun, terdapat beberapa bakteri yang memiliki enzim beta-laktamase yang merupakan salah satu penyebab bakteri resisten terhadap antibiotik. Enzim tersebut dikodekan oleh gen salah satunya gen TEM yang dapat menghidrolisis antibiotik golongan beta-laktam. Tujuan studi ini untuk mendeteksi gen blaTEM terhadap bakteri Klebsiella pneumoniae penghasil Extended Spectrum Beta-Lactamase (ESBL) yang diisolasi dari urin pasien infeksi saluran kemih. Metode penelitian memanfaatkan Deskriptif kuantitatif dengan jumlah sampel penelitian 30 pasien infeksi saluran kemih di PSPAL Dr, Ramelan Surabaya. Studi ini dilakukan pada bulan Februari – Mei 2024. Identifikasi dan uji sensitivitas antibiotik memanfaatkan alat Vitek 2 Compact, uji konfirmasi ESBL menggunakan metode DDST, dan deteksi gen blaTEM menggunakan alat PCR Konvensional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 7(23%) sampel yang positif gen blaTEM, ditandai dengan terbentuknya pita DNA dengan panjang basa 445bp pada elektroforesis. Dapat disimpulkan bahwa gen blaTem pada bakteri Klebsiella pneumoniae terdeteksi sebagai produsen ESBL pada pasien infeksi saluran kemih
Gambaran Pemeriksaan Hepatitis B Surface Antigen (HBsAg) pada Ibu Hamil di Puskesmas Wringinanom, Gresik Niswata, Navila Arfianti; Suhariyadi, Suhariyadi; Anggraini, Anita Dwi; Woelansari, Evy Diah
Medica Arteriana (Med-Art) Vol 6, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : University of Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/medart.6.2.2024.50-55

Abstract

Latar Belakang: Penularan virus hepatitis B (VHB) secara vertikal masih menjadi faktor utama dari penularan penyakit hepatitis B di negara dengan tingkat endemisitas infeksi tinggi termasuk Indonesia. Berdasarkan laporan Deteksi Dini Hepatitis B (DDHB) ibu hamil tahun 2022 di Provinsi Jawa Timur, prevalensi dari hepatitis B pada ibu hamil di Kabupaten Gresik adalah 3,24% yang termasuk dalam prevalensi HBsAg 5 tertinggi di Provinsi Jawa Timur. Pada tahun 2023, diketahui 22 ibu hamil dengan hasil pemeriksaan positif HBsAg di Puskesmas Wringinanom, Gresik. Skrining pada ibu hamil adalah cara terbaik untuk mencegah virus hepatitis B menyebar dari ibu ke bayi. Sehingga tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran pemeriksaan HBsAg pada ibu hamil di Puskesmas Wringinanom Gresik.Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif dengan sampel penelitian adalah data primer dari pemeriksaan sampel serum darah pasien ibu hamil dari trimester pertama, kedua, dan ketiga yang berkunjung ke Puskesmas Wringin-anom Gresik untuk melakukan pemeriksaan ANC terpadu (Antenatal Care) dan melakukan pemeriksaan HBsAg. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling sebanyak 30 orang ibu hamil. Metode yang digunakan adalah imunokromatografi dengan strip HBsAg rapid test dengan analisa data menggunakan uji distribusi frekuensi.Hasil: Ibu hamil dengan hasil pemeriksaan positif HBsAg adalah sebanyak 3 orang (10%) dan hasil pemeriksaan negatif HBsAg adalah 27 orang (90%). Ibu hamil dengan positif HBsAg berdasarkan karakteristik ditemukan 67% pada ibu hamil dengan interval umur 26-35 tahun dan pada trimester I. Ditemukan 33% pada interval umur 36-45 tahun dan pada trimester III. Serta ditemukan 100% pada ibu multigravida.Kesimpulan:Terdapat 10% pemeriksaan HBsAg dinyatakan positif pada Ibu hamil di Wilayah Puskesmas Wringinanom Gresik.
Blood Glucose Testing on Blood Donors and Geriatrics in the Area of Mosque Al-Akbar Surabaya museyaroh, museyaroh; Juliana Christyaningsih; Retno Sasongkowati; Suliati; Anita Dwi Anggraini; Deddy Adam; Toni Watoyani; Makruf, Anang; Safrudin, Samsul; Isnaini, Dian; M. Zakarahman; Sugihani; Kristiningsih, Elly; Puspitasari, Erlita; Ersanto, Novi; Novita, Devy; Kuswanto, Muhammad; Trisnania, Iid Dani; Rusmania, Liya; Haqqi, Faishol; Saktiyani, Fisari; Briansky, Sabira Alvayogi
Frontiers in Community Service and Empowerment Vol. 4 No. 2 (2025): June
Publisher : Forum Ilmiah Teknologi dan Ilmu Kesehatan (FORITIKES)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35882/ficse.v4i2.98

Abstract

The Indonesian Red Cross (IRC) is a humanitarian organization that plays an important role in providing assistance to the community, particularly in the fields of health, disaster response, and blood donation services. The volunteer team from Health Polytechnic, Ministry of Health, Surabaya, in collaboration with members of the Indonesian Association of Medical Laboratory Technologists Surabaya city and IRC Surabaya city, conducted free blood glucose level tests for prospective donors and the elderly (geriatric) in Al-Akbar Mosque Surabaya. This examination aims to detect potential health issues early, especially diabetes, which often poses challenges for blood donors and the elderly. Blood donors tend to neglect their health conditions due to the donation routine, so this examination ensures that they remain in optimal condition. Meanwhile, the elderly have a high risk of diabetes, which can affect their quality of life. The strategic location at Al-Akbar Mosque Surabaya facilitates access for the community who are far from the IRC Surabaya city office. The success of this activity is supported by various factors, including the involvement of professional health organizations such as the branch Surabaya City of Indonesian Association of Medical Laboratory Technologists, the support of health infrastructure from IRC Surabaya city, and the active participation of the community and volunteers. The respondents of the community service activity numbered 88 people, conducted on March 15 and 17, 2025, consisting of 59% men and 41% women, with an age range of 20-80 years and the majority of respondents aged 41-60 years (56.8%). From the examination results, it was found that 21% of male respondents and 13.9% of female respondents suffer from diabetes mellitus (DM), thus requiring medical follow-up and lifestyle changes. This activity is expected to raise public awareness about the importance of early diabetes detection and encourage a sustainable healthy lifestyle to prevent serious complications in the future
HUBUNGAN INFEKSI SOIL TRANSMITTED HELMINTH DENGAN ANGKA RETIKULOSIT, KADAR HEMOGLOBIN DAN PERILAKU HIDUP BERSIH & SEHAT PADA ANAK SEKOLAH DASAR Maudita, Nauril; Sasongkowati, Retno; Suliati, Suliati; Anggraini, Anita Dwi
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i2.5710

Abstract

Soil-transmitted helminth (STH) infections are a significant public health problem, especially in tropical and subtropical countries with limited sanitation. Transmission occurs through soil contaminated with the feces of infected individuals, which contain helminth eggs such as Ascaris lumbricoides (roundworm) and Trichuris trichiura (whipworm), as well as hookworm larvae. This study aims to analyze the relationship between STH infection and hematological status (reticulocyte count and hemoglobin level) and Clean and Healthy Living Behavior (PHBS) in vulnerable elementary school students. Using a cross-sectional design, the study involved 44 students at SDN Sobontoro 2. The results showed that 23% of students (10 children) tested positive for STH infection. Statistical analysis using the Spearman test found no significant correlation between STH infection and reticulocyte count (p=0.072) or hemoglobin level (p=0.124). However, a very significant relationship was found between STH infection and PHBS (p=0.000). These findings underline that poor PHBS practices are a major risk factor that directly contributes to high rates of STH infections. ABSTRAKInfeksi cacing usus yang ditularkan melalui tanah, atau Soil Transmitted Helminth (STH), merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, terutama di negara-negara tropis dan subtropis dengan sanitasi terbatas. Penularannya terjadi melalui tanah yang terkontaminasi tinja penderita, yang mengandung telur cacing seperti Ascaris lumbricoides (cacing gelang) dan Trichuris trichiura (cacing cambuk), serta larva cacing tambang (hookworm). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara infeksi STH dengan status hematologis (angka retikulosit dan kadar hemoglobin) serta Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada siswa sekolah dasar yang rentan. Menggunakan desain cross-sectional, penelitian melibatkan 44 siswa di SDN Sobontoro 2. Hasil menunjukkan 23% siswa (10 anak) positif terinfeksi STH. Analisis statistik menggunakan uji Spearman tidak menemukan korelasi signifikan antara infeksi STH dengan angka retikulosit (p=0,072) maupun kadar hemoglobin (p=0,124). Namun, ditemukan hubungan yang sangat signifikan antara infeksi STH dan PHBS (p=0,000). Temuan ini menggarisbawahi bahwa praktik PHBS yang buruk adalah faktor risiko utama yang berkontribusi langsung terhadap tingginya angka infeksi STH.  
Pemanfaatan Teri Jengki (Stolephorus indicus) Dan Layang Deles (Decapterus macrosoma) Sebagai Media Alternatif Pertumbuhan Escherichia coli Nurhasanah, Armelia Gitasari; Pestariati, Pestariati; Anggraini, Anita Dwi; Astuti, Sri Sulami Endah
THE JOURNAL OF MUHAMMADIYAH MEDICAL LABORATORY TECHNOLOGIST Vol 6 No 1 (2023): The Journal Of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jmlt.v6i1.14452

Abstract

ABSTRAK Nutrient agar merupakan jenis media umum yang sering digunakan pada laboratorium, harga media ini relatif mahal. Nutrient agar berbentuk padat, terdiri atas campuran ekstrak daging, pepton serta agar. Ikan teri jengki dan ikan layang deles jumlahnya melimpah di Indonesia. Ikan teri jengki (Stolephorus indicus) mengandung protein 51.54%, sementara ikan layang deles (Decapterus Macrosoma) mengandung protein sebesar 57,89%. Escherichia coli digunakan sebab bakteri ini merupakan salah satu jenis mikroorganisme kontrol positif yang direkomendasikan berdasarkan Data Sheet Nutrient Agar OXOID. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan tiga perlakuan pada masing-masing bahan yaitu variasi massa 3 gram, 4 gram dan 5 gram yang dilakukan di Laboratorium Bakteriologi Jurusan Teknologi Laboratorium Medis Poltekkes Kemenkes Surabaya. Hasil penelitian menunjukkan jumlah koloni rata-rata Escherichia coli yang tumbuh pada kontrol positif sebanyak 118 x 1013, sementara pada media ikan teri jengki variasi massa 3 gram adalah 72 x 1013 CFU/mL, 4 gram sebanyak 85 x 1013 CFU/mL, 5 gram sebanyak 94 x 1013 CFU/mL. Pada media ikan layang deles variasi 3 gram sebanyak 88 x 1013 CFU/mL, 4 gram sebanyak 96 x 1013 CFU/mL, 5 gram 108 x 1013 CFU/mL. Variasi massa yang paling baik dan mendekati hasil kontrol positif (nutriet agar) pada ikan teri jengki dan ikan layang deles adalah variasi massa 5 gram.Kata kunci: ikan teri jengki, ikan layang deles, Escherichia coli, nutrient agar
Deteksi Gen GST (Glutathione S-Transferase ) pada Nyamuk Aedes aegypti Resistensi Insektisida Metomil Metode Real-Time Anggraini, Anita Dwi
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i2.302

Abstract

Latar Belakang: Salah satu masalah kesehatan utama masyarakat Indonesia adalah DBD, penyakit ini terus meningkat setiap tahun. Sehingga, perlu dilakukan pencegahan dengan cara pengendalian vektor yaitu pemberian insektisida yang dilanjut dengan pemeriksaan berbasis molekuler. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi adanya gen GSTpada nyamuk Aedes aegypti yang resisten terhadap insektisida metomil. Metode: Penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif untuk mengetahui adanya gen (Glutathioone S-Transferase) dan pengumpulan data dilakukan secara observasi atau pengambilan secara langsung. Hasil: Pada uji resistensi didapatkan 54,66% yaitu 41 ekor dari 75 ekor nyamuk yang resisten terhadap paparan insektisida metomil. Nyamuk yang resisten dilanjutkan untuk deteksi gen GST dengan hasil yang muncul berupa nilai CT. Hasil yang didapatkan dari 4 sampel uji mununjukkan hasil N/A pada nilai CT. Kesimpulan: Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa 100% sampel uji negatif atau tidak terdeteksi gen GST.
Gen Exfoliatif A (EtA) Staphylococcus aureus Pada Isolat Luka Pasien Diabetes Mellitus Suliati, Suliati; Sasongkowati, Retno; Endarini, Lully Hanni; Anggraini, Anita Dwi
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 12, No 2 (2022): Mei 2022
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/2trik12204

Abstract

Diabetes mellitus is a degenerative disease that has many complications, one of which is diabetic ulcers. People with diabetes mellitus who have open wounds will be more susceptible to infection because an increase in blood sugar can make the wound a nutrient and a place for bacterial growth. One of the bacteria that causes infection in open wounds is Staphylococcus aureus. Toxins released by Staphylococcus aureus can cause Staphylococcal Scaled Skin (SSS). This quantitative descriptive study was conducted at the Diabetes Wound Specialist House, involving patients with diabetes mellitus at the Diabetes Wound Specialist Hospital. Bacterial culture from patient wound swabs was carried out at the Microbiology Laboratory, Poltekkes Kemenkes Surabaya; while the detection of the Staphylococcus aureus EtA gene was carried out at the ITD (Institute of Tropical Diseases) Laboratory. Data were analyzed descriptively. The PCR results showed that from 30 samples of diabetes mellitus wound swabs, 2 samples were found positive for the presence of Staphylococcus aureus bacteria.Keywords: Exfoliative A gene; Staphylococcus aureus; diabetes mellitus  ABSTRAK Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit degeneratif yang punya banyak diikuti dengan komplikasi, salah satu di antaranya adalah ulkus diabetik. Penderita diabetes melitus yang memiliki luka terbuka akan lebih rentan mengalami infeksi karena adanya kenaikan gula darah dapat menjadikan luka tersebut menjadi nutrisi dan tempat pertumbuhan bakteri. Salah satu bakteri yang menyebabkan infeksi pada luka terbuka adalah Staphylococcus aureus. Toksin yang dikeluarkan oleh Staphylococcus aureus dapat menyebabkan Staphylococcal Scaled Skin (SSS). Penelitian deskriptif kuantitatif ini dilaksanakan di Rumah Spesialis Luka Diabetes, dengan melibatkan pasien diabetes mellitus di Rumat Spesialis Luka Diabetes. Kultur bakteri dari usap luka pasien dilakukan di Laboratotium Mikrobiologi, Poltekkes Kemenkes Surabaya; sedangkan deteksi gen EtA bakteri Staphylococcus aureus dilakukan di Laboratorium ITD (Institute of Tropical Diseases). Data dianalisis secara deskriptif. Hasil PCR menunjukkan bahwa dari 30 sampel usap luka diabetes melitus, telah ditemukan 2 sampel positif adanya bakteri Staphyococcus aureus.Kata kunci: gen Exfoliatif A; Staphylococcus aureus; diabetes mellitus
Deteksi Gen nuc (nuclease) Bakteri Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) Pada Sampel Ulkus Diabetikum Metode PCR Lestari, Ari Fajar; Suliati, Suliati; Anggraini, Anita Dwi
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 9, No 1 (2025): November 2025
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v9i1.2133

Abstract

Diabetic ulcers represent a common chronic complication of diabetes mellitus (DM) and are frequently associated with infections caused by Staphylococcus aureus. Staphylococcus aureus possesses multiple virulence factors, including the nuc (nuclease) gene, which encodes a thermonuclease enzyme capable of degrading DNA and destroying phagocytes within the host. Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) is a strain of S. aureus exhibiting resistance to methicillin and other beta-lactam antibiotics. This study used conventional PCR Methode to detect the presence of the nuc (nuclease) gene in MRSA isolates obtained from patients with diabetic ulcers. A descriptive quantitative study with a cross-sectional design was conducted on 30 diabetic ulcer samples collected from Rumah Rawat Luka Surabaya between April and May 2025. Phenotypic identification and antibiotic susceptibility testing were performed, followed by molecular detection of the nuc (nuclease) gene using the conventional PCR method, generating an amplicon of 279 bp. The findings revealed that 19 of the 30 diabetic ulcer swab samples were phenotypically identified as Staphylococcus aureus. Antibiotic susceptibility testing indicated that 6 (31.6%) of these isolates were methicillin-resistant (MRSA). Among the 6 MRSA isolates, 3 (50%) tested positive for the nuc (nuclease) gene. This study emphasizes the application of molecular-based diagnostic methods such as PCR for the rapid detection of MRSA in diabetic ulcers, thereby supporting the selection of appropriate antibiotic therapy and improving the success of clinical management.