Articles
The principle of accountability for the object of the auction held
Abdul Majid;
Habib Adjie
Ekspose: Jurnal Penelitian Hukum dan Pendidikan Vol 21, No 2 (2022)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30863/ekspose.v21i2.3319
This study aims to determine the principles of accountability owned by PT Balai Lelang Serasi. This study uses a normative juridical approach. The data collection technique used is documentation technique (literature study and scientific journal articles). The data analysis technique used is descriptive and critical analysis. The results of this study indicate that the principle of accountability owned by PT Balai Lelang Serasi can be seen from the provision of access to prospective bidders to check the physical condition and completeness of the auction object documents at the open house stage; obliges the prospective bidder to pay a security deposit which will later be returned to the bidder in accordance with what is stated on the registration form (auction participants must deposit a security deposit of Rp 5,000,000 (five million rupiah)/car and auction list as proof of commitment that the prospective bidder guarantees that he or she is willing to participate in the auction); and the auction winner is fully responsible for what he bids, and he wins.
Legal Effects on PPAT That are Involved in the Making of Multiple Certificates
Helend Kasanda;
Habib Adjie
Al-Risalah VOLUME 22 NO 2, NOVEMBER (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/al-risalah.vi.34312
In the implementation of maintaining and protecting the rights of citizens and providing clear legal certainty regarding the registration of a plot of land in order to legalize ownership of land parcels and individual rights in control over land on the basis of PP no. 24 of 1997 concerning Land Registration. PPAT is a public official who is authorized to make a deed of transfer of land rights, deed of assignment of land rights, and deed of power of attorney to impose Mortgage Rights. With this authority, PPAT can take other people's rights by making land deeds for the issuance of other certificates on land owned by other people, so there will be multiple certificates on the same piece of land. In his behavior that violates and abuses his authority and obligations as PPAT, the legal impact of dishonorable dismissal or criminal threats needs to be carried out in order to protect the rights of land owners from crimes committed by PPAT that can harm other parties.
Penyelesaian Sengketa Tanah Mengenai Sertipikat Ganda Akibat Tindak Pidana Mafia Tanah
Prima Novianti Salma;
Habib Adjie
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 5 No. 1 (2023): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jpdk.v5i1.11824
Mafia pertanahan masih tumbuh subur seiring dengan tingginya kebutuhan masyarakat akan ketersediaan lahan pertanahan. Dari sejumlah kasus sengketa tanah yang terjadi, baik di kota besar maupun daerah, diduga kuat selalu melibatkan mafia tanah. Selain itu, permasalahan lain yakni adanya oknum-oknum aparat desa terutama lurah yang mengetahui betul status tanah di lingkungannya yang kemudian tergoda dengan bujuk rayu mafia tanah untuk menerbitkan girik atau perfonding palsu dengan dilengkapi surat-surat pendukung lainnya seperti dari RT/RW sampai ke tingkat kecamatan. Metode penelitian menggunakan metode yuridis normatif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah dilakukan dengan metode analisis deskriptif analitis tentang penyelesaian sengketa tanah berkaitan dengan sertifikat ganda yang timbul akibat tindak pidana mafia tanah. Teknik pengumpulan bahan hukum dilakukan melalui studi kepustakaan dan analisis bahan-bahan kepustakaan, serta studi penelusuran bahan-bahan internet meliputi artikel-artikel dan jurnal ilmiah yang berkaitan dengan penelitian ini. Setelah ke semua bahan hukum terkumpul, selanjutnya dianalisis dengan teknik deskriptif analitis dan kritis terhadap objek pembahasan yaitu penyelesaian sengketa tanah berkaitan dengan sertifikat ganda yang timbul akibat tindak pidana mafia tanah. Dalam upaya memberantas sertipikat ganda dari praktik mafia tanah, Kementerian ATR/BPN membuat aturan tertulis yaitu Petunjuk Teknis Pencegahan Pemberantasan Mafia Tanah Nomor: 01/JUKNIS/D.VII/2018. Selain itu, Kementerian ATR/BPN juga membentuk Tim Satgas Mafia Tanah dalam rangka memberantas praktik mafia tanah yang berpotensi menimbulkan sertipikat ganda yang didasarkan pada itikad tidak baik.
Perjanjian Kemitraan Pada Transportasi Online Terkait Upaya Perlindungan Hukum Bagi Pengemudi Ojek Online
Hendy Wibowo;
Habib Adjie
Matriks Jurnal Sosial dan Sains Vol. 3 No. 2 (2022): Matriks : Jurnal Sosial dan Sains
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Kuningan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1100.285 KB)
|
DOI: 10.59784/matriks.v3i2.92
Perkembangan dunia teknologi dewasa ini semakin berkembang dengan sangat pesat dimana berimbas kepada perkembangan roda kehidupan maupun dunia usaha. Tanpa disadari semua lini kehidupan tidak bisa dijauhkan dari adanya perangkat teknologi atau masyarakat sering menyebut semuanya serba online. Seiring dengan perkembangan teknologi yang diiringi dengan semakin tingginya mobilitas masyarakat, maka transportasi online hadir untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam menunjang aktivitas dan mobilitasnya sehari-hari. Penelitian ditujukan untuk menganalisis dan mendeskripsikan hal yang melatarbelakangi adanya perjanjian kemitraan pada transportasi online dan perlindungan hukum terhadap pengemudi ojek online. Penelitian ini menggunakan metode Yuridis Normatif yang berarti pendekatan yang dilakukan berdasarkan bahan hukum utama dengan cara menelaah teori-teori, konsep-konsep, asas-asas hukum serta peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan penelitian ini. Adapun sumber data yang digunakan adalah pengamatan melalui telaah berbagai peraturan perundang-undangan. Berdasarkan analisa yang dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa pelaksanaan perjanjian kemitraan yang mengandung klausula baku pada transportasi online dilihat dari sudut pandang pengemudi atau calon pengemudi ojek online dimana ketika calon pengemudi tersebut keberatan dengan salah satu syarat, maka perjanjian tersebut tidak terlaksana atau dapat dikatakan bahwa para pengemudi ini dengan terpaksa menerima klausula tersebut serta perlindungan hukum terhadap pengemudi ojek online sebagai mitra dari penyedia aplikasi masih kurang optimal, karena dalam perjanjian antara penyedia aplikasi dengan pengemudi hanya memuat hak-hak yang wajib dimiliki penyedia aplikasi dan belum mengatur mengenai kewajiban-kewajiban pihak perusahaan penyedia aplikasi
THE LOSS OF CREDITORS’ DROIT DE PREFERENCE (PRIORITY PRINCIPLE) DUE TO DEBTOR’S CORRUPT OFFENSES
Habib Adjie
International Journal of Latin Notary Vol. 2 No. 02 (2022): Internasional Journal of Latin Notary, March 2022
Publisher : Magister Kenotariatan Universitas Pasundan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55904/journal.v2i02.45
Creditors, as mortgage holders, are also entitled to the preeminent status of security in accordance with Droit de Preference as stated in the last sentence of Article 1 number 1 of Mortgage Law (UUHT), which gives priority to certain creditors over others. This mortgage characteristic is also mentioned in the last sentence of Article 20 paragraph (1) letter b, which stated that mortgage holders have privilege rights over other creditors. However, this status is disintegrated, assuming the debtors are involved in a corruption offense because their property becomes confiscated by court order despite being guaranteed to the creditor. Therefore, this condition fails to prioritize the Droit de Preference of the creditors with the implementation of the confiscation state, which needs to take precedence. In Article 19 paragraphs (2) and (3) of Law No. 31 regarding Eradication of Criminal Acts and Corruption, the legal remedy provided for creditors is only by submitting an Objection Letter to the court that imposed the confiscation without suspending the court's ruling. Such regulations tend to injure the goodwill creditors as well as abolish Droit the preference ability to provide legal protection and certainty toward creditors’ rights.
AKIBAT HUKUM MUCIKARI DI BAWAH UMUR DENGAN MELIBATKAN ANAK DIBAWAH UMUR SEBAGAI KORBAN DALAM PROSTITUSI ONLINE
Wahyu Vidyaningsih;
Habib Adjie
JURNAL RECTUM: Tinjauan Yuridis Penanganan Tindak Pidana Vol 5 No 1 (2023): EDISI BULAN JANUARI
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Darma Agung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46930/jurnalrectum.v5i1.2950
This increasingly rapid development of technology and information affects the acceleration in every field in the rotation of the activities of the wider community. But not only has a positive impact, but also has a negative impact. For example in the case of prostitution that is carried out online. In the news TribunJabar.Id reported the involvement of minors in online prostitution as operators and pimps. The emergence of legal problems related to the position of children involved in online prostitution cases as pimps is the background of this research with the aim of knowing the legal impact of online prostitution crimes committed by minors. The research will use a normative method with a statutory and bibliographical approach. It was concluded that the sanctions that can be imposed on minors who are involved in online prostitution are by taking action in accordance with Law number 11 of 2012 if they are under 15 years old, and a maximum of ½ (half) of the maximum criminal penalty if they are over 15 years old.
Juridical Analysis For Mediationland Dispute Resolution
Nanin Oktaviani;
Habib Adjie
YURISDIKSI : Jurnal Wacana Hukum dan Sains Vol. 18 No. 4 (2023): March
Publisher : Faculty of Law, Merdeka University Surabaya, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55173/yurisdiksi.v18i4.170
This study aims to find out whether the results of mediation can be accepted as a settlement step and what are the legal consequences of the results of this mediation. The research method used is empirical juridical, namely by comparing legal facts with the theoretical basis of law and applicable legislation. Based on the results of the research, the following results were obtained: 1) As a mediator function, based on Permenag Number 11 of 2016 concerning Settlement of Land Cases, ATR/BPN can resolve land ownership disputes through mediation, only for disputes that do not involve ministries, the results of mediation are taken from dispute resolution can be considered final and binding, and to have legal force, a peace deed is better madein front notary official and afterwards the deed is registered with the District Court; and 2) the legal consequences of the mediation results that have been registered with the District Court are the legal basis for the Head of the local ATR/BPN Office to change or repair the disputed land certificate as an effort to provide protection and legal certainty.
Pembatasan Jumlah Pembuatan Akta Perhari dalam Perspektif Etika Notaris Berfalsafah Pancasila
Amalia Zulfa*;
Habib Adjieb
JIM: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Sejarah Vol 8, No 4 (2023): Agustus, Social Religious, History of low, Social Econmic and Humanities
Publisher : Universitas Syiah Kuala
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24815/jimps.v8i4.26515
Penelitian ini menggali pertimbangan etika notaris dalam membatasi jumlah pembuatan akta per hari dari perspektif falsafah Pancasila. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dimensi etika dan dilema yang dihadapi notaris dalam mengelola beban kerja harian dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip Pancasila dalam praktik profesional mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, dengan menerapkan wawancara mendalam dan analisis konten terhadap peraturan notaris yang relevan dan kode etik yang berlaku. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa notaris menghadapi berbagai tantangan etika dalam mengelola beban kerja mereka, termasuk memastikan akurasi, ketelitian, dan kewaspadaan dalam penyusunan akta sambil tetap mengikuti prinsip etika. Penelitian ini menekankan pentingnya mencapai keseimbangan antara efisiensi dan praktik etika dalam pekerjaan notaris, yang menjadi krusial untuk menjaga kepercayaan publik dan menjunjung tinggi integritas profesi notaris. Penelitian ini menyimpulkan dengan rekomendasi untuk meningkatkan etika notaris melalui pengembangan profesional dan kesadaran terhadap prinsip etika Pancasila dalam praktik notaris.
Urgensi Akta Perjanjian Kerja Sama Notaris dalam Bisnis Waralaba ditinjau dari Pasal 1245 KUH Perdata
Ahmad Naufal Qois;
Habib Adjie
Jurnal HUKUM BISNIS Vol 7 No 1 (2023): Volume 7 No 1 2023
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Narotama
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
The COVID-19 pandemic has had a significant impact on business activities related to logistics access, which had stalled, resulting in potential non-fulfillment of obligations in business contracts. In the franchise business, there are many unilateral agreements that must be obeyed by business partners. Most of the people agree to the agreement that has been made unilaterally by the franchisor or franchisor. This research method uses a normative juridical approach, carried out with analytical descriptive analysis of juridical studies on authentic deeds, notarial cooperation agreements, franchise businesses and overmacht (Article 1245 of the Civil Code). The technique of collecting legal materials is done by studying literature, browsing internet materials in the form of articles and scientific journals. The urgency of the notary cooperation agreement deed in the franchise business is the legal basis to protect the rights and obligations of the parties. Article 1245 of the Civil Code provides legal protection for parties involved in the deed of agreement. An authentic deed becomes a technical step related to legal remedies that are carried out in the event of a compelling situation experienced by one of the parties in a franchise business agreement. Keywords: Urgency, Notarial Cooperation Agreement, Franchise Business, Article 1245 of the Civil Code
Konsep Notaris Mayantara Menghadapi Tantangan Persaingan Global
Adjie, Habib
Jurnal Hukum Respublica Vol. 16 No. 2 (2017): Hukum Bisnis dan Hukum Tata Negara
Publisher : Faculty of Law Universitas Lancang Kuning
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (169.56 KB)
|
DOI: 10.31849/respublica.v16i2.1436
Tujuan penelitian ini menjelaskan konsep notaris mayantara dalam menghadapi tantangan persaingan global. Metode penelitian ini hukum normatif atau penelitian hukum doktrinal dengan pendekatan hukum klinis. Berdasarkan hasil penelitian dapat dijelaskan bahwa selain merujuk pada UUJN-P ditegaskan kewenangan notaris juga berdasarkan undang-undang lainnya. Kewenangan lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan, antara lain kewenangan mensertifikasi transaksi yang dilakukan secara elektronik, membuat akta ikrar wakaf, dan hipotek pesawat terbang. Pengaturan notaris Indonesia berdasarkan UUJN/UUJN-P dan peraturan perundang-undangan lainnya mengatur bahwa penghadap dalam arti fisik kertas (secara fisik tanpa media apapun ada dihadapan notaris). Dengan demikian, dokumen yang diperlukan masih harus diperlihatkan fisiknya. Kesimpulan penelitian ini bahwa konsep notaris mayantara menghendaki notaris dalam menjalankan tugas atau kewenangannya berbasis teknologi informasi khususnya dalam pembuatan akta. Dalam konsep ini, bahwa menghadap secara fisik atau langsung berhadapan tidak diperlukan. Tetapi, bisa menggunakan media pandang dengar, tanpa batas kota/provinsi bahkan tanpa batas wilayah negara (borderless). Dengan konsep ini, tidak perlu menghadap langsung dengan cara datang ke kantor notaris. Dalam pengembangan lebih lanjut, identitas diri penghadap tidak perlu diperlihatkan secara fisik, demikian pula dokumen yang diperlukan cukup dengan cara mengunduhnya. Dalam konsep ini, bukan hanya tanda tangan yang harus dilakukan secara elektronik, tapi juga dokumen dalam membuat akta.