Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search
Journal : WACANA

Pengaruh Pelatihan Syukur terhadap Peningkatan Subjective Well Being pada Ibu yang Memiliki Anak Down Syndrome Nurul Muslikhatul Khoiriyah; Rin Widya Agustin; Arif Tri Setyanto
Wacana Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.633 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v8i1.90

Abstract

Pengaruh Pelatihan Syukur terhadap Peningkatan Subjective Well Being pada Ibu yang Memiliki Anak Down Syndrome     The Effect of Gratitude Training to Increase Subjective Well Being in Mother of Children with Down Syndrome     Nurul Muslikhatul Khoiriyah, Rin Widya Agustin, Arif Tri Setyanto Program Studi Psikologi FakultasKedokteran UniversitasSebelasMaret       ABSTRAK   Keadaan anak down syndrome yang mengalami gangguan, baik fisik, psikologis, maupun sosial membuat ibu merasa tertekan dan kurang bahagia. Kebahagiaan (happiness) mengacu kepada pengalaman subjektif seseorang yang mengarah kepada penilaian terhadap kehidupan yang telah dijalani atau selanjutnya disebut dengan subjective well being. Subjective well being dapat dihasilkan melalui pelatihan yang membentuk karakter individu. Salah satu bentuk intervensi yang dapat digunakan untuk meningkatkan subjective well being adalah pelatihan syukur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh pelatihan syukur terhadap peningkatan subjective well being pada ibu yang memiliki anak down syndrome. Subjek penelitian ini adalah ibu yang memiliki anak down syndrome di SLB B-C dan Autis YBA Surakarta. Desain penelitian ini adalah desain eksperimen pretest-posttest control group design dengan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol masing-masing sebanyak lima orang. Kelompok eksperimen diberikan pelatihan syukur selama dua hari dengan menggunakan  metodesharing, kuliah, games, active communication, mental imagery, simulations, video,relaksasi, instruments, dan writing tasks.Metode pengumpulan data penelitian yaitu modul pelatihan syukur yang dimodifikasi dari Anggarani (2013), Satisfaction With Life Scale (Diener, dkk., 1985) dan Scale of Positive and Negative Experience (Diener dan Biswas-Diener, 2009). Hasil analisis kuantitatif dengan uji 2 Sampel Independen Mann-Whitney untuk kepuasan hidup diperoleh nilai Z -2.694 dan p 0.007< 0.05 pada pretest-posttest, sedangkan pretest-follow up memperoleh nilai Z sebesar -2.703 dan p 0.007< 0.05dan posttest-follow up mendapatkan nilai Z sebesar -2.612 dan  p 0.009< 0.05. Sedangkan perhitungan uji 2 sampel independen Mann-Whitney untuk balance affectdiperoleh nilai Z-2.627 dan p 0,009< 0.05 pada pretest-posttest,nilai Z sebesar -2.643 dan p 0.008< 0.05 untuk pretest-follow updan  nilai Z sebesar -2.635 dan  p 0,008< 0.05 untuk posttest-follow up. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pelatihan syukur memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan subjective well being pada ibu yang memiliki anak down syndrome. Kata kunci: pelatihan syukur, subjective well being, ibu, down syndrome.
Pengaruh Pelatihan Manajemen Diri terhadap Prokrastinasi Akademik Mahasiswa FK UNS dalam Menyelesaikan Skripsi Galih Ratna Puri Palupi; Rin Widya Agustin; Pratista Arya Satwika
Wacana Vol 10, No 2 (2018)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (727.412 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v10i2.124

Abstract

ABSTRAK   Mahasiswa dalam menyelesaikan skripsi mengalami hambatan yang cenderung dihadapi dengan melakukan prokrastinasi akademik. Prokrastinasi akademik dalam menyelesaikan skripsi merupakan persoalan perilaku yang menimbulkan berbagai kerugian, di antaranya membuang waktu dan kesempatan, masa studi menjadi lebih lama, dan keterlambatan kelulusan. Kondisi tersebut membuat mahasiswa dirasa membutuhkan kemampuan manajemen diri yang membantu mereka untuk mengelola diri dalam berbagai setting kehidupan. Metode  yang efektif untuk mengajarkan kemampuan ataupun keterampilan baru adalah pelatihan. Pelatihan manajemen diri merupakan salah satu upaya yang dapat digunakan untuk menurunkan prokrastinasi akademik. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pelatihan manajemen diri terhadap prokrastinasi akademik mahasiswa FK UNS dalam menyelesaikan skripsi. Subjek  penelitian  ini  adalah  mahasiswa  Program  Studi  Kedokteran  dan  Psikologi  Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret yang sedang menyelesaikan skripsi. Desain penelitian ini menggunakan desain eksperimen pretest-posttest control group design dengan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol masing-masing sebanyak delapan orang. Kelompok eksperimen diberikan pelatihan manajemen diri selama dua hari dengan menggunakan metode  lecturrette, simulasi, worksheet, evaluasi, dan menambahkan metode lain yaitu video dan game. Penelitian menggunakan modul Pelatihan Manajemen Diri yang dimodifikasi dari Agustia (2014) berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Yates (1986). Pengumpulan data  penelitian menggunakan skala  Prokrastinasi Akademik yang  disusun  oleh peneliti dengan koefisian reliabilitas (rx = 0.924). Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah tidak ada pengaruh yang signifikan pelatihan manajemen diri terhadap prokrastinasi akademik mahasiswa FK UNS dalam menyelesaikan skripsi ditunjukkan dengan nilai uji signifikansi (p) sebesar 0.063 (p>0.05) yang berarti hipotesis penelitian ditolak. Berdasarkan hasil penelitian subjek mengalami perubahan berupa penurunan prokrastinasi akademik, namun perubahan tersebut tidak bertahan lama. Hasil tersebut mengarahkan pada evaluasi masalah teknis di lapangan selama penelitian.     Kata kunci: Mahasiswa, Pelatihan Manajemen Diri, Prokrastinasi Akademik
HUBUNGAN ANTARA POLA PENGASUHAN DAN POLA KELEKATAN DENGAN PENYESUAIAN SOSIAL PADA REMAJA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 SRAGEN Eki Dwi Maretawati H; . Makmuroch; Rin Widya Agustin
Wacana Vol 1, No 2 (2009)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.971 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v1i2.63

Abstract

Kemampuan penyesuaian sosial yang positif dibutuhkan seorang remaja dalam membantunya mengantisipasi segala perubahan baik yang terjadi dalam diri mereka maupun lingkungan sosialnya yang lebih luas. Namun demikian, tidak semua remaja mampu melakukan penyesuaian sosial dengan baik. Hal ini dapat dilihat dengan semakin meningkatnya jumlah penyimpangan perilaku remaja dalam berbagai bentuk. Salah satu faktor yang mempengaruhi penyesuian sosial seorang remaja adalah lingkungan keluarga, terutama orangtua. Melalui bimbingan, perhatian, kasih sayang, hubungan yang aman serta respon yang diberikan orangtua akan menjadi modal dasar pembelajaran seorang remaja dalam bersosialisasi dan melakukan penyesuaian yang lebih luas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola pengasuhan dan pola kelekatan dengan penyesuaian sosial pada remaja. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri 1 Sragen. Teknik pengambilan sampel dengan cluster random sampling. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah skala pola pengasuhan, skala pola kelekatan dan skala penyesuaian sosial. Analisis data menggunakan teknik analisis berganda variabel dummy. Hasil perhitungan menggunakan teknik analisis berganda variabel dummy, diperoleh p-value 0,000 < 0,05 dan F hitung = 44,114 > dari F tabel = 3,1065 serta R sebesar 0,718. Hal ini berarti pola pengasuhan dan pola kelekatan dapat digunakan sebagai prediktor untuk memprediksi penyesuaian sosial pada remaja. Tingkat signifikansi p-value 0,000 (p<0,005) menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pola pengasuhan dan pola kelekatan dengan penyesuaian sosial pada remaja. Analisis data menunjukkan nilai R Square sebesar 0,515. Angka tersebut mengandung pengertian bahwa dalam penelitian ini, pola pengasuhan dan pola kelekatan memberikan sumbangan efektif sebesar 51,5% terhadap penyesuaian sosial pada remaja, dengan sumbangan efektif masing-masing variabel adalah 3,1% untuk variabel pola pengasuhan dan 48,4% untuk variabel pola kelekatan. Hal ini berarti masih terdapat 48,5% faktor lain yang mempengaruhi penyesuaian sosial pada remaja.   Kata kunci: Pola Pengasuhan, Pola Kelekatan, Penyesuaian Sosial pada Remaja
Pelatihan Mental Imagery Untuk Menurunkan Kecemasan Bertanding pada Atlet Taekwondo di Dojang Patriot Wonosobo Ayuningtyas Sekar A P; Suci Murti Karini; Rin Widya Agustin
Wacana Vol 7, No 2 (2015)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.696 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v7i2.87

Abstract

Pelatihan Mental Imagery Untuk Menurunkan Kecemasan Bertanding pada Atlet Taekwondo di Dojang Patriot Wonosobo Mental Imagery Training For Reducing Anxiety in Competition on Taekwondo Athletes at Dojang Patriot Wonosobo Ayuningtyas Sekar Asmara Putri, Suci Murti Karini, Rin Widya Agustin Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebalas Maret ABSTRAK Setiap atlet pasti mempunyai keinginan tampil secara maksimal agar dapat mencapai hasil yang terbaik. Tuntutan yang dialami oleh atlet tidak hanya dari dalam dirinya sendiri namun juga biasa diperoleh dari lingkungan disekitarnya.Tekanan-tekanan baik dari dalam diri dan dari lingkungan atlet itu sendiri menyebabkan atlet mengalami kecemasan, jika tidak dapat dikontrol maka akan mempengaruhi performa sehingga tidak dapat tampil dengan maksimal. Pelatihan mental imagery merupakan suatu proses pendidikan jangka pendek yang bertujuan membantu atlet taekwondo untuk dapat mengontrol kecemasan bertanding yang dialami sehingga dapat memberikan performa yang terbaik dalam bertanding. Pelatihan mental imagery menggunakan metode ceramah, diskusi, role play dan simulasi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperiment dengan desain penelitian pretest-posttest control group design. Jumlah subjek penelitian sebanyak 10 orang atlet taekwondo yang mempunyai kecemasan sedang dan tinggi berdasarkan skala kecemasan dari peneliti yang kemudian dibagi menjadi dua kelompok yaitu lima subjek untuk kelompok eksperimen dan lima untuk kelompok kontrol dengan menggunakan teknik matching. Pelatihan mental imagery diberikan oleh dua orang fasilitator sebanyak tiga kali pertemuan dengan materi hari pertama ketajaman, materi hari kedua keterkendalian, dan materi hari ketiga evaluasi. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan skala kecemasan dengan indeks korelasi bergerak dari 0,011 sampai dengan 0,751 dan koefisian reliabilitas (α) 0,741. Berdasarkan analisis kualitatif masing-masing subjek kelompok eksperimen mengalami penurunan skor kecemasan bertanding setelah diberi perlakuan berupa pelatihan mental imagery. Sedangkan uji hipotesis dengan menggunakan uji Mann-Whitney U-test diperoleh nilai probabilitas (p) 0,094 (uji dua sisi) (p>0,05), maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan skor kecemasan bertanding antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol setelah diberikan perlakuan berupa pelatihan mental imagery. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pelatihan mental imagery tidak efektif untuk menurunkan kecemasan bertanding pada atlet taekwondo, perbedaan skor kecemasan bertanding yang dialami oleh subjek dimungkinkan terjadi karena faktor-faktor lain dan bukan karena pengaruh dari pelatihan mental imagery. Kata kunci : kecemasan bertanding, atlet taekwondo, pelatihan mental imagery.
Perbedaan Penyesuaian Diri Ditinjau dari Konsep Diri dan Tipe Kepribadian antara Mahasiswa Lokal dan Perantau di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Afina Naharindya Vidyanindita; Rin Widya Agustin; Arif Tri Setyanto
Wacana Vol 9, No 2 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.838 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v9i2.110

Abstract

Perbedaan Penyesuaian Diri Ditinjau dari Konsep Diri dan Tipe Kepribadian antara Mahasiswa Lokal dan Perantau di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret     Self-Adjustment Difference Viewed from Self-Concept and Personality Types among Local and Sojourner Students of Faculty of Medicine Sebelas Maret University       Afina Naharindya Vidyanindita 1, Rin Widya Agustin 2, Arif Tri Setyanto 3 Program Studi Psikologi FakultasKedokteran UniversitasSebalasMaret       ABSTRAK   Mahasiswa baru umumnya menghadapi berbagai permasalahan, sepertimasalah komunikasi, tuntutan akademis, hubungan sosial, masalah keuangan, serta masalah-masalah lain dalam kehidupan sehari-hari yang berasal dari dalam maupun luar individu, yang bisa berujung pada kecemasan dan stres. Oleh karena itu, diperlukan penyesuaian diri yang baik bagi mahasiswa agar terwujud hubungan yang selaras antara individu dengan lingkungan.Proses penyesuaian diri dapat dipengaruhi oleh konsep diri dan kepribadian. Individu dengan konsep diri positif cenderung lebih mudah menyesuaikan diri dibandingkan individu dengan konsep diri negatif, begitu pula individu yang memiliki kepribadian ekstrovert cenderung lebih mudah menyesuaikan diri dibandingkan individu yang memiliki kepribadian introvert.   Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan penyesuaian diri antara mahasiswa lokal dan perantau, perbedaan penyesuaian diri ditinjau dari konsep diri, perbedaan penyesuaian diri ditinjau dari tipe kepribadian, dan perbedaan penyesuaian diri ditinjau dari konsep diri dan tipe kepribadian antara mahasiswa lokal dan perantau. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa tahun pertama Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Sampel penelitian berjumlah 104 mahasiswa yang diambil melalui teknik purposive random sampling. Alat ukur yang digunakan adalah skala penyesuaian diri, skala konsep diri, dan skala tipe kepribadian. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan Three Way Anova.   Dari hasil perhitungan dengan menggunakan Three Way Anova, diperoleh kesimpulan bahwa untuk faktor daerah asal (lokal dan perantau) F hitung 11,558 (> F tabel 2,70) menunjukkan bahwa ada perbedaan penyesuaian diri ditinjau dari daerah asal. Untuk faktor konsep diri F hitung 9,134 (> F tabel 2,70), menunjukkan bahwa ada perbedaan penyesuaian diri ditinjau dari konsep diri. Untuk faktor tipe kepribadian F hitung 11,286 (> F tabel 2,70), menunjukkan bahwa ada perbedaan penyesuaian diri ditinjau dari tipe kepribadian. Hasil Three Way Anova untuk interaksi tiga faktor menunjukkan tidak ada interaksi antara daerah asal, konsep diri, dan tipe kepribadian.   Kata kunci: Penyesuaian diri, konsep diri, tipe kepribadian, mahasiswa perantau.  
PERBEDAAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING DITINJAU DARI STRATEGI SELF-MANAGEMENT DALAM MENGATASI WORK-FAMILY CONFLICT PADA IBU BEKERJA Dias Tri Handayani; Salmah Lilik; Rin Widya Agustin
Wacana Vol 3, No 2 (2011)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.887 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v3i2.37

Abstract

Peran ganda yang dimiliki ibu bekerja sebagai wanita karir sekaligus ibu rumah tangga mengarahkan ibu bekerja pada permasalahan work-family conflict (selanjutnya disebut WFC) yang disebabkan oleh pertentangan dua peran atau lebih sekaligus.   WFC dapat menyebabkan terganggunya psychological well-being (selanjutnya disebut PWB) pada ibu bekerja, jika tidak diatasi dengan benar.  Dengan membangun self-management dalam diri ibu bekerja, dapat membantu ibu bekerja mengatasi WFC, sehingga lebih mengarahkan mereka pada proses pencapaian  PWB.  PWB  adalah kehidupan yang positif, seimbang dan berkelanjutan pada individu dalam menghadapi tantangan menuju kondisi terbaik meliputi fisik, mental dan sosialnya.  Terdapat empat strategi self-management, yaitu positive self-talk, time management, task delegation dan role compartmentalization, yang nantinya masing-masing strategi self-management akan mengarahkan ibu bekerja pada kondisi PWB yang berbeda-beda pula. Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah terdapat perbedaan PWB ditinjau dari strategi self-management dalam mengatasi WFC pada ibu bekerja.  Populasi adalah ibu bekerja di 4 Bank Persero (BUMN) di Surakarta.  Sampel berjumlah 72 orang dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling dengan kriteria wanita sudah menikah, pada saat ini memiliki anak berusia 0 – 13 tahun, suami masih hidup dan pendidikan minimal lulusan SMA/ SMK.  Pengumpulan data menggunakan Skala PWB dan Skala Strategi Self-Management dalam Mengatasi WFC. Teknik analisis data yang digunakan adalah One-Way ANOVA dengan bantuan program SPSS 14. Hasil analisis dengan menggunakan teknik One-Way ANOVA diperoleh  = 1,165 lebih kecil dari   = 2,739.  Dari hasil analisis tersebut, dapat dimaknai bahwa tidak ada perbedaan PWB ditinjau dari strategi self-management dalam mengatasi WFC pada ibu bekerja.  Hal ini dikarenakan masing-masing strategi berperan sebagai fungsi afek, tingkah laku dan kognisi dalam diri individu yang sistem bekerjanya saling terpisah tetapi saling mempengaruhi, sehingga ketiganya sama-sama diperlukan untuk mengatasi work-family conflict dan sama-sama berkontribusi dalam mengarahkan psychological well-being pada ibu bekerja.   Kata kunci: psychological well-being, strategi self-management dalam mengatasi work-family conflict, ibu bekerja
HUBUNGAN ANTARA KEMATANGAN EMOSI DAN PENERIMAAN DIRI DENGAN KETERAMPILAN SOSIAL PADA MAHASISWA ORGANISATORIS Hiemma Tiar Kusuma Umbara; Salmah Lilik; Rin Widya Agustin
Wacana Vol 4, No 1 (2012)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.917 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v4i1.28

Abstract

Keterampilan mental seseorang berkembang salah satunya melalui keterampilan sosial. Keterampilan sosial menjadi modal yang mengarahkan seseorang pada pembentukan mental yang optimal. Kematangan emosi berperan dalam pengendalian emosi dan penerimaan diri membuat seseorang nyaman berinteraksi yang berdampak pada keberalngsungan interaksi seseorang dengan lingkungan. Mahasiswa organisatoris dalam menjalani dinamika organisasi memiliki kesempatan yang besar untuk mendapatkan pengalaman interaksional. Berkembangnya kematangan emosi dan penerimaan diri positif pada seorang mahasiswa organisatoris dapat menjaga keberlangsungan interaksi, sehingga pengalaman interaksional semakin banyak dan keterampilan sosial menjadi semakin berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kematangan emosi dan penerimaan diri dengan keterampilan sosial pada mahasiswa organisatoris. Responden penelitian ini adalah mahasiswa UNS yang menjadi pengurus organisasi BEM tingkat universitas dan fakultas dengan usia keanggotaan minimal satu tahun. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive incidental sampilng. Pengumpulan data menggunakan Skala Keterampilan Sosial, Skala Kematangan Emosi, dan Skala Penerimaan Diri. Analisis data menggunakan teknik regresi linear berganda. Hasil penelitian menghasilkan nilai F-test = 70,310, p<0,05, dan R=791, sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis I dapat diterima. Hasil penelitian juga menunjukkan nilai rx1y=0,290; p<0,05, sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan positif dan lemah yang signifikan antara kematangan emosi dan keterampilan sosialNilai rx2y=0,386; p<0,05; dapat disimpulkan terdapat hubungan positif dan lemah yang signifikan antara penerimaan diri dan keterampilan sosial. Hasil penelitian ini menunjukkan secara parsial kematangan emosi dan penerimaan diri memiliki hubungan yang lemah dengan keterampilan sosial, jika hanya salah satu diantara kematangan emosi atau penerimaan diri yang dimiliki seseorang kurang menunjang berkembangnya keterampilan sosialnya. Nilai R2 dalam penelitian ini sebesar 0,6260 atau 62,60%, terdiri atas sumbangan efektif kematangan emosi terhadap keterampilan sosial sebesar 25,91% dan sumbangan efektif penerimaan diri terhadap keterampilan sosial sebesar 36,69%. Hal ini berarti masih terdapat 37,4% variabel lain yang mempengaruhi perkembangan keterampilan sosial selain kematangan emosi dan penerimaan diri. Kata kunci: keterampilan sosial, kematangan emosi, penerimaan diri
Perbedaan Psychological Well Being pada Waria Pekerja Seks Komersial (PSK) dan Waria Bukan Pekerja Seks Komersial Ditinjau dari Harga Diri Andini Dwi Yudhanti; Rin Widya Agustin; Arif Tri Setyanto
Wacana Vol 9, No 1 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.178 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v9i1.106

Abstract

Perbedaan Psychological Well Being pada Waria Pekerja Seks Komersial (PSK) dan Waria Bukan Pekerja Seks Komersial Ditinjau dari Harga Diri     Psychological Well Being Comparison between Transsexual Prostitute and Transsexual Non Prostitute Based on Self Esteem     Andini Dwi Yudhanti, Rin Widya Agustin, Arif Tri Setyanto Program Studi Psikologi FakultasKedokteran UniversitasSebelasMaret       ABSTRAK   Psychological well being merupakan kondisi psikologis dimana individu mampu menjalani peran-peran dalam kehidupannya berdasarkan pengalaman-pengalaman sehingga melahirkan sikap positif dalam hidupnya. Perbedaan perlakuan masyarakat terhadap status pekerjaan waria (waria PSK dan waria Non PSK) menjadi salah satu faktor penting dalam pembentukan penghargaan diri waria kemudian mengarahkan pada kondisi psychological well being yang berbeda pula. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan psychological well being pada waria pekerja seks komersial (PSK) dan waria bukan pekerja seks komersial (Non PSK) ditinjau dari harga diri, perbedaan psychological well being pada waria pekerja seks komersial (PSK) dan waria bukan pekerja seks komersial (Non PSK), dan perbedaan harga diri pada waria pekerja seks komersial (PSK) dan waria bukan pekerja seks komersial (Non PSK). Populasi dalam penelitian ini adalah waria (waria PSK dan waria Non PSK) yang terdapat pada komunitas waria lokal Kota Surabaya yang bernama PERWAKOS dengan rentang usia 18-40 tahun. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 60 orang yang terdiri dari 30 orang waria pekerja seks komersial (PSK) dan 30 orang waria bukan pekerja seks komersial (Non PSK). Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala psychological well being (r=0,883) dan skala harga diri (r=0,902). Hasil analisa data menggunakan uji two way anova menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada psychological well being waria pekerja seks komersial (PSK) dan waria bukan pekerja seks komersial (Non PSK) ditinjau dari harga diri (Fhitung = 19,291, p < 0,05). Analisis data selanjutnya menggunakan uji t. Hasil analisia data tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan psychological well being pada waria pekerja seks komersial (PSK) dan waria bukan pekerja seks komersial (Non PSK) (thitung =-0,597, p > 0,05); serta tidak terdapat perbedaan harga diri waria pekerja seks komersial (PSK) dan waria bukan pekerja seks komersial (Non PSK) (thitung = 0,521, p > 0,05).   Kata kunci:psychological well being, harga diri, waria
PERBEDAAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING DITINJAU DARI DUKUNGAN SOSIAL PADA REMAJA TUNARUNGU YANG DIBESARKAN DALAM LINGKUNGAN ASRAMA SLB-B DI KOTA WONOSOBO Ratna Widyastutik; Suci Murti Karini; Rin Widya Agustin
Wacana Vol 3, No 1 (2011)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.909 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v3i1.42

Abstract

Berbagai kesulitan karena keterbatasan pendengaran maupun kesulitan-kesulitan masa remaja dihadapi remaja tunarungu mengarahkan pada kondisi ketertekanan. Dukungan sosial sangat membantu remaja tunarungu untuk menghadapi kesulitan tersebut dan membangun kondisi psychological well-being. Melihat adanya korelasi antara dukungan sosial dengan psychological well-being, maka tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui bentuk dukungan sosial yang efektif untuk membangun psychological well-being pada remaja tunarungu. Perbedaan bentuk dukungan yang paling banyak diterima oleh remaja tunarungu akan mengarahkan pada psychological well-being yang berbeda pula. Populasi penelitian ini ialah remaja tunarungu Lembaga Pendidikan Anak Tunarungu Don Bosco dan Dena Upakara, Wonosobo, masing-masing sebanyak 62 dan 58 siswa. Sampel diambil dengan kriteria Remaja dengan usia 13-18 tahun, laki-laki dan perempuan, memiliki kemampuan baca dan tulis, serta memiliki kecerdasan normal atau di atas rata-rata. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Seluruh populasi masuk ke dalam kriteria yang dibutuhkan oleh peneliti. Pengumpulan data menggunakan skala psychological well-being dan skala dukungan sosial. Teknik analisis data yang digunakan ialah analisis varians klasifikasi satu arah (One Way Anova). Hasil analisis dengan menggunakan teknik One Way Anava diperoleh F hitung (11,478 ) > F tabel (2,725) serta taraf sigifikansi 0,000 < 0,05. Dari hasil analisis tersebut, maka dapat dikemukakan ada perbedaan yang sangat signifikan psychological well-being ditinjau dari bentuk dukungan sosial pada remaja runarungu. Selain itu, hasil analisis deskriptif menunjukkan adanya perbedaan rata-rata psychological well-being ditinjau dari dukungan sosial. Rata-rata psychological well-being tertinggi berada pada bentuk dukungan emosional dan terendah berada pada bentuk dukungan instrumental.   Kata kunci: psychological well-being, dukungan sosial, remaja tunarungu