Claim Missing Document
Check
Articles

REFORMULASI PEMIKIRAN ASWAJA: UPAYA MEMPERKECIL SIKAP IDIOLOGI KEAGAMAAN MUSLIM NAHDHIYIN Syahrul Khoiron; Reza Ahmad Zahid; Ahmad Ali Riyadi
Ar-Rasyid: Jurnal Publikasi Penelitian Ilmiah Vol. 1 No. 5 (2025): Ar-Rasyid: Jurnal Publikasi Penelitian Ilmiah (Bulan November 2025)
Publisher : PT. Saha Kreasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64788/ar-rasyid.v1i5.44

Abstract

Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) is a classical religious concept that has deeply rooted itself in the life of the Nahdliyin Muslim community. Initially, Aswaja was regarded as an exclusive doctrine belonging solely to the Nahdliyin group; however, over time, awareness has grown that Aswaja is also recognized and practiced by various other Islamic groups with diverse interpretations and approaches. This diversity of interpretation has led to differences in theological, political, and practical aspects of religious life, which at times have caused fragmentation among Muslims themselves. Historically, Aswaja emerged as a response to the dynamic development of Islamic thought and evolved through the contributions of figures such as al-Ash’ari, al-Maturidi, al-Ghazali, and al-Junaid. These scholars laid the foundation for a moderate, inclusive, and accommodative religious worldview. Nevertheless, in practice, some Nahdliyin Muslims still tend to understand Aswaja normatively and dogmatically, without engaging in a progressive intellectual dialectic. As a result, the scholarly tradition within the Nahdliyin community tends to stagnate and become trapped in sectarian fanaticism. To revive a dynamic intellectual spirit, it is necessary to reconstruct the understanding of Aswaja from a normatively moderate model toward a progressively moderate one. This transformation can be achieved by opening space for critical reflection, innovation, and the development of knowledge relevant to contemporary challenges. Ontological, epistemological, and axiological studies of Nahdliyin’s intellectual tradition are therefore essential in rebuilding an adaptive, critical, and human-oriented scientific awareness that contributes to the broader welfare of the Muslim community.
Innovative Agriculture Based on Islamic Economics in the Development of Farmer Groups Towards a Green Economy Muhamad Aqim Adlan Muhamad Aqim Adlan; Reza Ahmad Zahid; Labib Muzaki Shobir
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman Vol. 36 No. 2 (2025): Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman
Publisher : Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/tribakti.v36i2.6731

Abstract

This research aims to examine Islamic economics as a driver of creativity among farming groups in response to the green economy era. This is because the link between the agricultural sector and the green economy is relevant to achieving the balance of nature and the environment, which are fundamental values of Islamic economics. Islamic economics is intended to guide every policy and activity in the economic sector. Furthermore, the relationship between the economic sector and agriculture is inextricable when the agricultural sector's primary objective is to generate profit. This research uses a qualitative approach, drawing on primary and secondary data collected from farmer groups in the districts of Tulungagung, Trenggalek and Blitar, to examine their efforts to be creative. The collected data is presented descriptively and analysed using the concept of content analysis through the lens of Islamic economics. The findings of this study indicate that: (1) Strategies to increase the creativity of farmer groups in the Tulungagung, Trenggalek and Blitar regencies when facing green economy policies include implementing various innovative sustainable agricultural practices. (2) Implementing Islamic economic concepts to strengthen the creativity of farmer groups in these districts in the face of green economy policies has led to a significant transformation in agricultural practices. This research suggests the potential integration of Islamic economic principles as a normative basis for formulating sustainable agricultural policies, particularly in enhancing the creative capacity of farming communities to adapt to the challenges of the green economy era.
INTERNALISASI NILAI-NILAI MODERASI MELALUI KITAB AT-TAḤLIYYAH (STUDI KASUS DI MADRASAH DINIYAH HM AL-MAHRUSIYAH) Muhammad Ullin Nuha; Reza Ahmad Zahid; Abbas Sofwan M.F.
Jurnal Studi Pesantren Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Studi Pesantren
Publisher : Pascasarjana Universitas Al-Qolam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35897/studipesantren.v6i1.2228

Abstract

This study explores the process of internalizing the values of religious moderation through the learning of the At-Taḥliyyah book at Madrasah Diniyah HM Al-Mahrusiyah Lirboyo Kediri as part of character formation for moderate-minded students. The increasing trend of exclusivism and intolerance among certain groups forms the background of this research. As traditional Islamic educational institutions, pesantrens play a strategic role in instilling balance and tolerance through cultural and exemplary approaches. This research adopts a qualitative descriptive method with data collected through observation, in-depth interviews, and documentation of the At-Taḥliyyah  learning process. The data were analyzed using the Miles and Huberman model, including reduction, presentation, and conclusion drawing. The results reveal that the internalization of moderation values occurs through three main stages: value transformation, value transaction, and value transinternalization. Through these stages, students not only understand moderation cognitively but also apply it in social behavior that reflects tawassuṭh (moderation), i‘tidāl (justice), tasāmuh (tolerance), syūrā (consultation), iṣlāḥ (reform), and muwāṭanah (patriotism). This study concludes that the At-Taḥliyyah book serves as an effective educational medium for strengthening student character in line with national values, humanism, and the Ministry of Religious Affairs’ vision of religious moderation.
Moderasi Beragama Pesantren dalam setiap Modernisasi Pendidikan: Telaah Kaidah Maslahat Ushul Fiqh Anton Mukarrom; Reza Ahmad Zahid
Mujalasat: Multidiciplinary Journal of Islamic Studies Vol. 1 No. 1 (2023): Jurnal Mujalasat: Multidiciplinary Journal of Islamic Studies, Maret
Publisher : Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagaimana yang telah diketahui, bahwa pesantren di Indonesia memiliki akar sejarah yang panjang, pendidikan yang khas dan unik, bahkan menjadi subkultur masyarakat yang berbeda dari masyarakat umum disekitarnya. Namun lebih dari itu ada pola khas pesantren setiap menghadapi hal baru, yang merupakan bentuk nyata dari moderasi dalam beragama, pola itu adalah implementasi sebuah kaidah ushul fiqh yang berbunyi المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح (menjaga tradisi lama yang masih layak dan sekaligus mengambil tradisi baru yang lebih baik, dengan bahasa Izzudin bin Abdissalam disebut dengan mengambil atau “mengadopsi” kebaikan (جلب المصالح). Pola ini tercermin dalam penerapan pendidikan madrasah dan pendidikan formal oleh pesantren sebagai bentuk sikap adaptif terhadap nilai kebaikan (مصلحة) dalam kemajuan sistem pendidikan, meskipun harus dengan melakukan modernisasi dalam sistem pendidikannya. Pendidikan pesantren yang di masa awal hanya berpegang pada metode pendidikan klasik yang disebut sorogan (murid mengaji dihadapan guru), dan bandongan (guru membacakan kitab dihadapan para santri), saat ini mau beradaptasi dengan sistem pendidikan modern dalam bentuk Madrasah.
Fenomena Kebakaran Hutan Jati di Bojonegoro Perspektif Sains dan Agama Islam S Sulistiyani; Reza Ahmad Zahid
Prosiding Seminar Nasional Program Doktor Ilmu Hukum 2025: Prosiding Seminar Nasional Program Doktor Ilmu Hukum
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebakaran hutan jati di wilayah kabupaten Bojonegoro merupakan fenomena yang dapat dianalisis dari dua perspektif utama, yaitu sains dan agama. Dari sisi ilmiah, kebakaran ini sebabkan oleh kombinasi faktor alam, seperti musim kemarau panjang yang meningkatkan suhu sehingga menyebabkan daun dan ranting mengering. Gesekan antara daun dan ranting menyebabkan percikan api sehingga terjadi kebakaran hutan. Namun, peran manusia dalam eksploitasi hutan, membuang putung rokok sembarangan, pembakaran sampah kering dan kegiatan api unggun anak pramuka tanpa pengawasan juga penyebab kebakaran hutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kepustakaan (library research). Data yang digunakan diperoleh dari berbagai sumber, termasuk jurnal ilmiah, laporan resmi lembaga lingkungan, buku-buku, serta artikel. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui analisis dokumen yang mencakup penelitian ilmiah dan data statistik terkait kebakaran hutan, surat kabar, media sosial, kajian literatur Islam dengan mengumpulkan serta menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis yang relevan. Proses analisis dilakukan dengan pendekatan kontekstual dan komparatif. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji dan memberikan pemahaman tentang wawasan yang komprehensif terkait fenomena kebakaran hutan jati di Bojonegoro perspektif ilmu pengetahuan (sains) dan agama (Islam), sehingga dapat berjalan beriringan dalam upaya pencegahan dan penanggulangannya. Manusia menjadi lebih bijaksana dalam mengolah alam serta bertanggung jawab menjaga keseimbangan alam dan ekosistemnya. Manusia dapat memetik hikmah dibalik fenomena ini melalui pemahamannya terkait korelasinya dengan sains dan agama. Manusia didorong untuk tidak sekadar memandang tragedi sebagai sanksi, melainkan juga sebagai momen untuk mengevaluasi diri, meningkatkan keimanan, serta memperbaiki koneksi dengan orang lain dan lingkungan hidup. Bencana alam menurut Islam diartikan sebagai ujian, teguran, akibat dari tindakan manusia yang tidak menjaga keseimbangan alam. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surat. Ar-Rum: 41 yang berhubungan dengan kebakaran hutan bukan hanya peristiwa alamiah semata, tetapi juga memiliki dimensi spiritual. Islam menekankan bahwa manusia bertanggung jawab sebagai khalifah di bumi untuk menjaga lingkungan dan tidak hanya bersikap pasrah terhadap bencana. Oleh karena itu, pendekatan terbaik dalam menghadapi kebakaran hutan adalah dengan menggabungkan pemahaman ilmiah dan nilai-nilai agama. Solusi yang ditawarkan mencakup upaya pencegahan berbasis sains, seperti pengelolaan hutan yang berkelanjutan dan penerapan kebijakan mitigasi kebakaran, serta kesadaran spiritual untuk lebih menghargai dan menjaga alam sebagai amanah dari Allah SWT.