Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Fenomena Penutupan Jalan Umum Untuk Acara Kedukaan Di Wilayah Kampung Kei Kota Jayapura (The phenomenon of Closing Public Roads for Grief Events in Kei Village Area Jayapura City) Marwan Sileuw; Siti Komariah Tiflen; Muhamad Yusuf; Muhammad Rusdi Rasyid
Potret Pemikiran Vol 26, No 1 (2022)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/pp.v26i1.1909

Abstract

The road closures were carried out by residents of Kei Abepura Village, Yobe Village, and Abepura District when there was grief, as well as during worship for mourning activities of residents living around Grilyawan Street of Abepura Kei Village, so that the road for vehicles from the direction of Keerom, Abe Pantai and Koya was diverted turn to the direction to the Mental Hospital or through the small alleys in the upper complex of the Kei Abepura village to get to the Abepura circle area, for the opposite direction, namely from the Abepura circle, they have to pass Youtefa to get out to Tanah Hitam, Abe Pantai, Koya, and Keroom. This research purposes to find out the road closure model, the general public’s response, and the occurrence of the road closures carried out by the residents of Kei Village when there is grief in the residents of Kei Village, Abepura District, Jayapura City. This study uses a qualitative research method with the paradigm of social phenomenology. The results show that road closures for mourning activities are an alternative that is taken due to the absence of residents' yards which leads to various perceptions from the general public about the closure of provincial roads for personal activities. It takes clear rules issued by the local government regarding the use of public facilities for personal or group interests. It also requires public awareness about prioritizing the public interest over personal or group interests.
Potret Tradisi Bib Maaf pada Keberangkatan Haji Masyarakat Desa Dullah Laut Kepulauan Kei Maluku Tenggara Fatima Nuhuyanan; Muhamad Yusuf; Suparto Iribaram; Sigit Purwaka; Rachmad Surya Muhandy
Potret Pemikiran Vol 26, No 2 (2022)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/pp.v26i2.2082

Abstract

Artikel ini bertujuan memaparkan secara komprehensif tentang Tradisi Bib Maaf di Desa Dullah Laut Kepulauan Kei Maluku Tenggara. Merupakan penelitian kualitatif, menggunakan paradigma fenomenologi sosial. Melakukan observasi partisipatoris pasif, kedalaman wawancara serta dokumentasi. Menggunakan teknik analisis model alir dari Milles dan Huberman. Hasil penelitian: Tradisi Bib Maaf? yang dilakukan masyarakat Kei di Desa Dullah Laut merupakan tradisi keberangkatan ibadah Haji. Merupakan momentum saling memaafkan dan memanjatkan doa agar menjalankan ibadah Haji dengan selamat. Bib Maaf atau kambing maaf merupakan tradisi lisan yang dikembangkan masyarakat Muslim Kepulauan Kei. Kekeluargaan pada masyarakat Kei bermakna luas mencakup seluruh dimensi kehidupan manusia. Sikap optimis orang Kei dalam tradisi Bib Maaf yaitu: Pertama, Sikap rela menolong. Kedua, Sikap percaya bahwa orang lain akan membantu. Ketiga, Sikap hormat menghormati. Maren atau Hamaren dipahami sebagai tanggung jawab bersama warga dalam menyelesaikan pekerjaan yang dilaksanakan secara spontan dan sukarela. Yellim merupakan rentetan tradisi, berbentuk pemberian untuk meringankan beban pelaksanaan tradisi yang memiliki kebermanfaatan dalam tradisi, menunjukkan kedermawanan masyarakat. Nit Ni Wang, Barzanji dan Dok Mol merupakan rangkaian tradisi dalam bentuk memanjatkan do?a kepada Sang pencipta Allah Subhanahu wa Ta?ala, dan puji-pujian pada Nabi Muhammad, Shallallahu ?Alaihi wa Sallam, serta pada leluhur agar perjalanan Haji memperoleh keselamatan.
Nilai-nilai Pendidikan Islam Dalam Tradisi Bib Ma’af Pada Masyarakat Desa Dullah Laut Di Kepulauan Kei Maluku Tenggara Fatima Nuhuyanan; Muhamad Yusuf; Suparto Iribaram; Sigit Purwaka; Akhmad Kadir
Jurnal Educatio FKIP UNMA Vol. 9 No. 1 (2023): January-March
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/educatio.v9i1.4434

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan secara komprehensif tentang nilai-nilai pendidikan Islam dalam tradisi  Bib Ma’af pada masyarakat Desa Dullah Laut di Kepulauan Kei Maluku Tenggara. Menggunakan metode kualitatif, penggunaan paradigma fenomenologi sosial. Tehnik pengumpulan data dengan melakukan observasi, interview serta dokumentasi. Tehnik analisis data mempergunakan model bagan alir dari Miles. B. Huberman. Hasil penelitian: Dalam tradisi Bib Ma’af terdapat rangkaian kegiatan seperti: Yellim, Nit Ni Wang, Dok Mol, Salawat, Dzikir, dan Barzanji, dan permohonan Ma’af, yang kesemuanya mengandung nilai-nilai pendidikan Islam yaitu: nilai al-Munfiqun, yaitu kebesaran hati dari warga untuk menyumbang, terdapat keikhlasan dalam menyumbang, juga terdapat nilai Al-Ukhuwah dalam melaksanakan kegiatan secara bersama. Nilai Ilahiyah, yang mencakup: Iman, meyakini kebesaran AllahSubhanahu wa Ta’ala. Nilai iman, Islam, Taqwa, Tawakal, dengan iman dan ketaqwaannya serta berserah diri memanjatkan do’a pada AllahSubhanahu wa Ta’ala. Tawakal (Berserah dan Bersabar), yaitu menyerahkan keselamatan serta kesehatan orang yang menunaikan ibadah Haji pada AllahSubhanahu wa Ta’ala, selalu Husnu al-dzan (Berprasangka Baik) pada perjalanan yang dilaksanakan. Sifat ar-rahmi (Kasih Sayang) yang muncul antar warga, Al-Musawah (Kesejajaran atau Kesetaraan) yaitu tidak ada perbedaan dalam undangan, Al-Tawadlu (Rendah Hati) memaafkan antara satu dengan lainnya.
Tas Tradisional “Noken” Solusi Mengatasi Limbah Kantong Plastik Natasya Aulia Husain; Muhamad Yusuf; Akhmad Kadir; Rachmad Surya Muhandy
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 6 No 1 (2023)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/ganaya.v6i1.2249

Abstract

This research tries to completely describe the Mayor of Jayapura's call about the draft regional ordinance on the usage of Noken as an alternative to plastic bags at Jayapura City shopping facilities. It is a qualitative study using the social phenomenology paradigm, involving passive participatory observation, interviews, and documentation. It employs Miles and Huberman's flowchart analysis tools. The Mayor's request for the use of Noken bags in shopping decreases the impact of using plastic bags, which are difficult to degrade with soil in a short period of time. The use of the Noken bag also introduces Papuan culture, which has a straightforward and straightforward philosophy. Rational action in the form of an appeal from the Mayor of Jayapura is looked for, in anticipating the problem of plastic trash that is difficult to degrade by soil and minimizing the accumulation of plastic garbage in rivers in the city of Jayapura, which results in annual flooding. The application of Noken, which sets aims and behaviors through norms, has a philosophical connotation that lies beneath Papuans' common understanding, namely simplicity and transparency. Noken establishes a positive relationship between symbolic arrangements in Papuan society, displaying the forms and patterns of life of the Papuan people, particularly in the city of Jayapura, which reflects the meaning of the simple Papuan people and their openness to others in preserving Papuan culture.
Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Tradisi Damar pada Masyarakat Kampung Patipi Pulau Kabupaten Fak-Fak M. Syukri Nawir; Muhamad Yusuf; Suparto Iribaram; Afan Garamatan; Nining Puji Lestari
Jurnal Pendidikan Humaniora Vol 10, No 3: SEPTEMBER 2022
Publisher : Pascasarjana UM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um011v10i32022p164-178

Abstract

Abstract: The study's goal was to explain Islamic education ideals in the Damar tradition in Patipi Pulau Village, Fak-fak Regency. It is a qualitative study with a social phenomenological method, involving observations, interviews, and recording utilizing Miles and Huberman's flow model analysis technique. The study's findings: The festiveness of the mosque on the night of Lailatul Qadar is a practice carried out by the community in Patipi Pulau Village by participating in religious rituals together, with delight, such as breaking the fast, offering alms, torch procession, and reading the Qur'an. Volunteerism, which is honesty and refraction, is the basis for alms to mosque administrators. People's lives are affected by high kinship values. Culture and religion come together to produce a sense of community among residents, a sense of solidarity that is raised spontaneously by the community in the practice of traditions. Devotion, charity, alms, al-ukhuwah, Khuluqiyah, al-Masuuliyyah, al-Munfiqun, and friendship are among the Islamic educational ideals taught in the tradition. Mosque administrators carry out their duties and obligations with seriousness since caring for the mosque is a noble responsibility that is passed down from generation to generation or passed down via inheritance. The community retains meaningful traditions (beliefs, knowledge, and habits) as a means of organizing, accepting, and creating subsequent interactions and acts based on common understanding.Abstrak: Tujuan penelitian adalah untuk menjabarkan nilai-nilai pendidikan Islam dalam tradisi Damar di Kampung Patipi Pulau Kabupaten Fak-fak. Merupakan penelitian kualitatif, dengan pendekatan fenomenologi social, melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi, dengan menggunakan tehnik analisis model alir dari Miles dan Huberman. Hasil penelitian: Meriahnya Masjid pada malam Lailatul Qadar merupakan pembiasaan yang dilakukan masyarakat di Kampung Patipi Pulau dengan melakukan aktivitas keagamaan bersama, dengan kegembiraannya melalui berbuka puasa, pemberian sedekah, pawai obor, membaca Qur’an. Sedekah pada pengurus Masjid didasarkan kesukarelaan yang merupakan ketulusan serta pembiasan. Nilai-nilai kekerabatan yang tinggi mempengaruhi kehidupan masyarakat. Budaya dan agama menyatu menciptakan kebersamaan diantara warga, merupakan solidaritas yang dimunculkan masyarakat secara spontan dalam pelaksanaan tradisi. Rangkaian kegiatan dalam tradisi mengandung nilai pendidikan Islam seperti: Ketaqwaan, Amaliyah, Sedekah, al-ukhuwah, Khuluqiyah, al-Masuuliyyah, al-Munfiqun, serta silaturahmi. Pengurus Masjid melakukan tugas dan tanggungjawabnya dengan keikhlasan, disebabkan mengurus Masjid adalah tugas mulia yang dilakukan turun temurun atau pewarisan. Masyarakat mempertahankan tradisi yang memiliki makna (keyakinan, pengetahuan serta kebiasaan), sebagai cara mengatur, menerima, berbagai tradisi yang dianggap baik serta mendasari pemahaman bersama dan mengembangkan interaksi dan tindakan lebih lanjut.
Pembiasaan Al-Akhlaq Al-Karimah Melalui Komunikasi Guru PAI (Pendidikan Agama Islam) Yang Efektif di Madrasah Ibtidaiyah (Mi) di Kota Jayapura Zulihi Zulihi; Muhamad Yusuf; Zaenuddin Hudi Prasojo
Edukasi Islami : Jurnal Pendidikan Islam Vol 12, No 01 (2023): Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/ei.v12i01.3947

Abstract

Tujuan artikel ini adalah menjelaskan secara komperhensif komunikasi yang dilakukan guru PAI dianggap belum mampu merealisasikan pembiasaan akhlak mulia pada siswa dan untuk mengetahui strategi yang efektif dalam melakukan komunikasi bagi guru untuk memberikan pembiasaan akhlak mulia di Madrasah Ibtidaiyah di Kota Jayapura. Merupakan penelitian kualitatif dengan paradigma fenomenologi social. Hasil penelitian: Komunikasi aktif yang dilaksanakan guru PAI di Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang ada di Kota Jayapura yaitu memberikan kesempatan yang setara kepada siswa berinteraksi antar siswa maupun guru dalam mengembangkan daya nalar, serta pola berfikir sehingga mampu mengontrol komunikasi yang dilakukan. Mengembangkan komunikasi interpersonal dan komunikasi kelompok, dianggap efektif merangsang siswa berinteraksi. Membiasakan hal-hal yang bersifat teladan agar menimbulkan peniruan dan menjadi kebiasaan. Faktor lingkungan, faktor keluarga, teman sepermainan mampu merubah sikap dan perilaku siswa. Minimnya media komunikasi yang digunakan guru berpengaruh dalam pembentukan akhlakul karimah, dalam mengembangkan imajinasi siswa dalam mentransfer ilmu pengetahuan keagamaan pada siswa. Kurangnya pelatihan guru PAI yang ada di MI Kota Jayapura berpengaruh pada kemampuan berinovasi mengembangkan media komunikasi yang efektif dalam memberikan materi berkaitan Al-akhlaq Al-Karimah.
Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Tradisi Damar Pada Masyarakat Kampung Patipi Pulau Kabupaten Fak-fak M. Syukri Nawir; Muhamad Yusuf; Suparto Iribaram; Afan Garamatan; Nining Puji Lestari
Edukasi Islami : Jurnal Pendidikan Islam Vol 12, No 01 (2023): Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/ei.v12i01.3948

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk menjabarkan nilai-nilai pendidikan Islam dalam tradisi Damar di Kampung Patipi Pulau Kabupaten Fak-fak. Merupakan penelitian kualitatif, dengan pendekatan fenomenologi social, melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi, dengan menggunakan tehnik analisis model alir dari Miles dan Huberman. Hasil penelitian: Meriahnya Masjid pada malam Lailatul Qadar merupakan pembiasaan yang dilakukan masyarakat di Kampung Patipi Pulau dengan melakukan aktivitas keagamaan bersama, dengan kegembiraannya melalui berbuka puasa, pemberian sedekah, pawai obor, membaca Qur’an. Sedekah pada pengurus Masjid didasarkan kesukarelaan yang merupakan ketulusan serta pembiasan. Nilai-nilai kekerabatan yang tinggi mempengaruhi kehidupan masyarakat. Budaya dan agama menyatu menciptakan kebersamaan diantara warga, merupakan solidaritas yang dimunculkan masyarakat secara spontan dalam pelaksanaan tradisi. Rangkaian kegiatan dalam tradisi mengandung nilai pendidikan Islam seperti: Ketaqwaan, Amaliyah, Sedekah, al-ukhuwah, Khuluqiyah, al-Masuuliyyah, al-Munfiqun, serta silaturahmi. Pengurus Masjid melakukan tugas dan tanggungjawabnya dengan keikhlasan, disebabkan mengurus Masjid adalah tugas mulia yang dilakukan turun temurun atau pewarisan. Masyarakat mempertahankan tradisi yang memiliki makna (keyakinan, pengetahuan serta kebiasaan), sebagai cara mengatur, menerima, berbagai tradisi yang dianggap baik serta mendasari pemahaman bersama dan mengembangkan interaksi dan tindakan lebih lanjut.
Strategi Implementasi Program CoE (Center of Excellence) pada Kompetensi Keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik: (Studi Kasus di SMK Negeri 1 Kabupaten Jayapura) Arika Arika; M. Syukri Nawir; A. Ubaidillah; Muhamad Yusuf; Zulihi Zulihi
Cetta: Jurnal Ilmu Pendidikan Vol 6 No 2 (2023)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/cetta.v6i2.2379

Abstract

This research aims to learn about the Center of Excellence (CoE) Program Implementation Strategy on Electrical Power Installation and the factors that influence the Center of Excellence (CoE) program implementation strategy on electrical power installation engineering expertise competencies at SMK Negeri 1 Sentani. This type of research uses a qualitative approach, research data obtained through observation, interviews, and documentation, while data analysis techniques use a flow model, namely: data reduction, data display, coclusion drawing/verification.  Research results: SMK Negeri 1 Sentani has designed a strategy to achieve the success of the CoE program. First, develop a network with PT. PLN Sentani Branch and PT. Kabantaras officially through the signing of the MoU. Second, providing optimal services to students focused on curricular services (learning) Third, improve students' abilities by making improvements and developing learning input components. These three strategies support each other to achieve program success in stages. The factors that influence the implementation strategy of the Center of Excellence program are communication factors and resource factors, which are well established between the school, IDUKA instructors, and students, so that the implementation of the CoE program is guided by the strategy. The factors that influence them are capital, curriculum, and infrastructure with IDUKA standards.
Pemberdayaan Mama-Mama Melalui Produk Abon Ikan Lilinta (ABOLI) Berbasis Industri Rumahan Di Kampung Lilinta, Distrik Misool Barat, Kabupaten Raja Ampat Ahmad Havid Jakiyudin; Muhamad Yusuf; Suparto Iribaram; M. Syukri Nawir; Rachmad Surya Muhandy
Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol 8 No 2 (2023): Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Universitas Mathla'ul Anwar Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30653/jppm.v8i2.258

Abstract

Kampung Lilinta merupakan kampung yang terletak di kawasan Distrik Misool Barat, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Kampung ini identik dengan penghasil ikan berkualitas di Raja Ampat. Namun banyaknya ikan hasil tangkapan nelayan tidak dapat diolah secara maksimal oleh masyarakat setempat, hal ini berdampak pada hasil nilai jual ikan yang rendah. Potensi ikan yang besar ini dapat diolah menjadi sebuah produk hasil oleh-oleh yang selama ini belum ada di kampung Lilinta. Tujuan dari pengabdian ini adalah untuk melakukan pengolahan ikan menjadi abon ikan khas Lilinta yaitu ABOLI (Abon Ikan Lilinta) yang dapat dikelola secara langsung oleh mama-mama di kampung Lilinta untuk menjadi sebuah industry rumahan. Metode pengabdian menggunakan metode PDCA (plan, do, check, action), yang meliputi perencanaan produk, sampai dengan bentuk pendampingan yang dilakukan. Hasil dari bentuk pengabdian yang dilakukan adalah analisa produk, bentuk kemasan produk, pemasaran produk, pendampingan berupa pelatihan pembuatan produk dan strategi dalam berwirausaha, sampai dengan peluncuran produk ABOLI (Abon Ikan Lilinta). Analisis SWOT: Kekuatan (Stregth): Produk satu-satunya di kampung Lilinta, bahan utama berasal dari kampung Lilinta yaitu ikan yang berkualitas, tidak menggunakan pengawet. Kelemahan (Weakness): Sulitnya mencari bahan baku pembuat varian rasa. Terbatasnya jaringan internet menjadi kendala pemasaran menggunakan media sosial. Peluang (Opportunities): ABOLI merupakan produk pertama khas kampung Lilinta. Merupakan daerah wisata menjadi keunggulan dalam pemasaran. Ancaman (Threats): Kedepannya muncul produk abon ikan dari daerah yang sama memunculkan pesaing. Dengan menggunakan kemasan yang menarik serta tehnik pemasaran yang telah disampaikan selama pendampingan pengabdian diharapkan memotivasi mama-mama memproduksi ABOLI menjadi industry rumahan yang lebih besar. Lilinta Village is a village located in the West Misool district, Raja Ampat Regency, West Papua Province. This village is identified with quality fish producers in Raja Ampat. However, the large number of fish caught by fishermen cannot be processed optimally by the local community, this has an impact on the results of the low selling value of fish. This great potential of fish can be processed into a souvenir product, which so far has not existed in Lilinta Village. The purpose of this service is to manage fish to become a typical Candlestick fish shredder, namely ABOLI (Abon Ikan Lilinta) which can be managed directly by mamas in Lilinta Village to become a home industry. The service method used is the PDCA method (plan, do, check, action), which includes product planning, to the form of assistance carried out. The results of the form of service carried out are product analysis, product packaging forms, product marketing, assistance in the form of product manufacturing training and strategies in entrepreneurship, up to the launch of the ABOLI product. SWOT Analysis: Strength: The only product in Lilinta Village, the main ingredient comes from Lilinta Village, namely quality fish, does not use preservatives. Weakness: It’s difficult to find raw materials for flavor variants. Limited internet network is an obstacle to marketing using social media. ABOLI is the first product unique to Lilinta Village. It is a tourist area to be an advantage in marketing. Threats: In the future, shredded fish products from the same region will emerge which will create competition. By using attractive packaging and marketing techniques that have been conveyed during the community service assistance, it is hoped that it will motivate mothers to produce ABOLI to become a bigger home industry.
Portrait of Damar Tradition in Welcoming the Arrival of Lailatul Qadar Night in the Community of Patipi Island Village Muhamad Yusuf; M. Syukri Nawir; Afan Garamatan; Suparto Iribaram; Rachmad Surya Muhandy
Potret Pemikiran Vol 27, No 1 (2023)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/pp.v27i1.2453

Abstract

The purpose of the study was to explain the implementation of the Damar tradition in the community of Patipi, Fak-Fak Island Regency, West Papua Province. The Damar Tradition welcomes the night of Lailatul Qadar by lighting torches using resin sap. The research method used a qualitative model with a social phenomenological paradigm and a flow model analysis technique. This research produced several findings regarding implementing the Damar tradition as follows. The Damar tradition in Patipi Island developed orally from generation to generation. Islam, as a religion with plenty of followers in Patipi Island, adapts to its culture to form a tradition in enlivening the night of Lailatul Qadar. Damar tradition begins in the last ten days of Ramadhan month, exactly in the odd number of fasting days: the 21st day, the 23rd, the 25th and the 27th day of fasting, respectively. The Damar tradition can unite the community and form of joy to welcome the night of Lailatul Qadar. The absence of fixed and given goods is a moral idea and shows the citizen's generosity. The gift belongs to the mosque management, so they carry out their duties and responsibilities properly. There is reciprocity in the form of prayers read by the mosque management, a form of dependence between the community and the mosque management. The symbols in the tradition have meanings that can be interpreted by the Patipi island community, in the form of incense burned while reading prayers, Raun or a gift holder made of woven coconut leaves, torches, gifts, and cleaning and giving sand to the grave.